Posisi Imam Wanita dalam Shalat dan Shalat Berjamaah Dua Orang

Posisi imam dalam shalat berjamaah pada dasarnya sama antara jamaah laki-laki dan jamaah khusus perempuan, yaitu di depan makmum dengan posisi di tengah, sebagaimana hadis berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : وَسِّطُوا الْإِمَامَ ، وَسُدُّوا الْخَلَلَ. رَوَاهُ أَبُو دَاوُد

Dari Abu Hurairah r.a. ia berkata, “Rasulullah Saw. bersabda, ‘Jadikanlah Imam di depan, di tengah-tengah, dan isilah kekosongan shaf.” HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I:182, No. 681

Ketentuan ini berlaku juga bagi jamaah perempuan karena contoh Nabi Saw. berlaku bagi laki-laki dan perempuan.

Adapun hadis-hadis yang menerangkan posisi imam wanita sejajar dengan makmum atau di tengah shaf ternyata semuanya dlaif (keterangan terlampir). Karena itu, Kaifiat shalat berjamaah, baik bagi laki-laki maupun wanita adalah sama.

Begitu pula sekiranya berjamaah hanya dua orang, maka posisi imam di sebelah kiri, dan makmum di sebelah kanan, sebagaimana hadis dari Ibnu ‘Abbas  berikut:

عَنْ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ بِتُّ عِنْدَ مَيْمُونَةَ فَقَامَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ – … فَصَلَّى فَقُمْتُ فَتَمَطَّيْتُ كَرَاهِيَةَ أَنْ يَرَى أَنِّي كُنْتُ أَتَّقِيهِ فَتَوَضَّأْتُ فَقَامَ يُصَلِّي فَقُمْتُ عَنْ يَسَارِهِ فَأَخَذَ بِأُذُنِي فَأَدَارَنِي عَنْ يَمِينِهِ فَتَتَامَّتْ صَلَاتُهُ ثَلَاثَ عَشْرَةَ رَكْعَةً ثُمَّ اضْطَجَعَ … – رواه البخاري

Dari Ibnu Abbas radhiyallahu ‘anhuma dia berkata; “Aku pernah bermalam di rumah Maimunah, lalu Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bangun (untuk membuang hajat)… sempurna. Kemudian beliau melaksanakan shalat, aku pun berdiri dan berjinjit khawatir beliau akan melihat bahwa aku memperhatikannya, lalu aku berwudhu dan berdiri untuk shalat. Maka aku berdiri di sebelah kiri beliau lalu beliau meraih telingaku dan menggeserku ke sebelah kanannya. Shalat beliau pun selesai hingga tiga belas rakaat. Kemudian beliau berbaring…” HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, V: 2328, No. 5957

Dalam riwayat lain dengan redaksi:

عَنْ عَمْرِو بْنِ دِينَارٍ أَنَّ كُرَيْبًا أخْبَرَهُ أَنَّ ابْنَ عَبَّاسٍ قَالَ أَتَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ آخِرِ اللَّيْلِ فَصَلَّيْتُ خَلْفَهُ فَأَخَذَ بِيَدِي فَجَرَّنِي فَجَعَلَنِي حِذَاءَهُ – رواه أحمد

Dari Amr bin Dinar bahwa Kuraib telah mengabarkan kepadanya bahwa Ibnu Abbas berkata, “Aku mendatangi Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam pada akhir malam, lalu aku shalat di belakang beliau, kemudian beliau meraih tanganku hingga menempatkanku sejajar dengan beliau. …” HR. Ahmad, Musnad Ahmad, I: 330, No. 3061

Ketentuan posisi ini berlaku baik pada laki-laki maupun wanita yang shalat berdua sesama wanita.

Penulis, Ustadz Amin Muchtar

Lampiran : Kedhaifan Hadis Soal Imam wanita sejajar dengan makmum

Hadis-hadis yang berkaitan dengan posisi imam bagi perempuan (di dalam tengah-tengah shaf) pada salat berjama’ah, berasal dari dua sumber riwayat Amal (Fi’il) yang dinisbatkan kepada Ummu Salamah dan Aisyah

A.Riwayat Ummu Salamah

أَخْبَرَنَا أَبُو زَكَرِيَّا بْنُ أَبِى إِسْحَاقَ الْمُزَكِّى حَدَّثَنَا أَبُو الْعَبَّاسِ مُحَمَّدُ بْنُ يَعْقُوبَ أَخْبَرَنَا الرَّبِيعُ بْنُ سُلَيْمَانَ أَخْبَرَنَا الشَّافِعِىُّ أَخْبَرَنَا ابْنُ عُيَيْنَةَ عَنْ عَمَّارٍ الدُّهْنِىِّ عَنِ امْرَأَةٍ مِنْ قَوْمَهِ يُقَالُ لَهَا حُجَيْرَةُ عَنْ أُمِّ سَلَمَةَ أَنَّهَا أَمَّتْهُنَّ فَقَامَتْ وَسَطًا

Abu Zakaria bin Abu Ishaq Al-Muzaki mengabarkan kepada kami, Abu Al-Abbas Muhamad bin Yaqub menceritakan kepada kami, Ar-Rabi bin Sulaiman mengabarkan kepada kami, As-Syafii mengabarkan kepada kami, Ibnu ‘Uyainah mengabarkan kepada kami, dari ‘Ammar Ad-Duhni, dari seorang perempuan termasuk kaumnya yang disebut Hujairah dari Ummu Salamah, bahwa ia mengimami mereka (perempuan) ia berdiri di tengah-tengah.” HR. Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, III: 131, No. 5140

Hadis itu diriwayatkan oleh Al-Baihaqi dan As-Syafi’I melalui rawi bernama Amar Ad-Duhni yang menerima dari seorang perempuan dari kaumnya bernama Hujairah binti Hushain. Rawi ini termasuk rawi yang majhul (tidak dikenal) di kalangan ulama hadis.

B.Riwayat Aisyah

حَدَّثَنَا عَلِيُّ بْنُ هَاشِمٍ عَنِ ابْنِ أَبِي لَيْلَى عَنْ عَطَاءٍ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا كَانَتْ تَؤُمُّ النِّسَاءَ تقوم مَعَهُنَّ فِي الصَّفِّ

Ali bin Hasyim menceritakan kepada kami, dari Ibnu Abu Laila, dari Atha, dari Aisyah, bahwasanya ia mengimami perempuan, ia berdiri bersama mereka di dalam satu shaf.” HR. Ibnu Abu Syaibah, Musnad Ibnu Abu Syaibah, II : 89.

Hadis ini dinilai dhaif karena rawi Ibnu Abu Laila, namanya Muhamad bin Abdurrahman bin Abu Laila. Abu Hatim mengatakan,’Mahalluhu As-Shidqu (Ia rawi yang jujur), tetapi buruk hapalan. Ia tidak tertuduh dusta sedikitpun namun tidak diakui riwayatnya  tiada lain karena banyak keliru” (Tahdzibul Kamal, XXVII : 622). Jadi, rawi ini dinilai dh’aif dari segi hapalannya (dhabt).

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *