Persis dan Literasi

BANDUNG (sigabah.com)—Bertujuan memperkenalkan khazanah dakwah dan intelektual Persis, Pesantren Sastra (Pesat) melalui kegiatan bulanannya menggelar kajian yang ke-17 dengan menghadirkan Anggota Dewan Tafkir PP. Persis, Ustaz Hadi Nur Ramadhan sebagai pemateri dengan membawakan judul “Persis dan Literasi: Membangun Kejayaan Turats Nusantara” pada Senin (11/3/19), di Kafe Kopi Bray, Jl. Talaga Bodas, Bandung.

Selaku ketua Pesat, Kang Aldy Itanzia Wiguna menyampaikan bahwa ruh dari sebuah pergerakan adalah intelektualitasnya. Inilah yang menjadi dasar awal mengapa kekayaan turats Persis perlu digali secara mendalam. Terlebih, sejak awal didirikannya Persis sudah terfokus ke bidang pemikiran dan dakwah.

Sejalan dengan yang diungkapkan oleh Kang Aldy, Ustaz Hadi Nur Ramadhan menyampaikan bahwa Persis punya sejarah yang cukup gemilang dalam melahirkan karya-karya, mulai dari tahun 1930 sampai tahun 1960.

“Persis punya masa sejarah yang cukup gemilang dalam melahirkan karya-karya, khazanah Islam di Indonesia. Dan itu perlu dibangkitkan lagi oleh Jam’iyyah Persatuan Islam sebagaimana yang disampaikan oleh Dr. Deliar Noer, ‘Persatuan Islam tidak akan besar secara organisasi. Tetapi secara pemikiran, Persatuan Islam mempunyai dampak dan pengaruh luar biasa,” tutur beliau.

Ustaz Hadi juga menyampaikan bahwa tidak salah jika generasi Persis saat ini melanjutkan jati diri generasi Persis dulu sebagai generasi pembaca yang pada akhirnya berdampak kepada produktivitas Persis di dunia tulis-menulis.

“Ada majalah Pembela Islam, majalah At-Taqwa, ada Aliran Islam, ada majalah Al-Ballagh, ada majalah Iber, ada majalah Risalah, ada majalah Al-Muslimun, dan majalah-majalah Persis lainnya yang tentunya diterbitkan di berbagai daerah masing-masing,” lanjut Ustaz Hadi.

Mengenai kontribusi Persis di dunia literasi, sambung Ustaz Hadi, tujuh dari sepuluh penulis terbesar dan terfavorit di nusantara menurut lembaga Himpunan Pengarang Indonesia adalah tokoh-tokoh Persis. Ketujuh tokoh tersebut adalah Ahmad Hassan, Isa Anshari, KH. Munawar Cholil, KH. Firdaus AN, Tamar Djaja, Muhammad Natsir, dan Hasby As-Shiddiqy. Hal ini menandakan bahwa kontribusi Persis di dunia litersasi nusantara memiliki pengaruh yang sangat besar.

Ustaz Hadi berharap, kecintaan terhadap buku dan kerinduan terhadap madrasah-madrasah ilmu di Persis kembali digelorakan di tiap-tiap pimpinan, mulai dari Pimpinan Pusat sampai Pimpinan Jamaah sekalipun. Selain itu, Persis bukanlah organisasi biasa, tetapi merupakan gerakan tajdid, gerakan intelektual yang suaranya ditunggu oleh umat. “Maka Persis harus mendominasi budaya literasi di alam nusantara ini,” tutup beliau. (/IF)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *