PERISTIWA (KANG PRAWOTO) YANG TAK MASUK AKAL

Kamis, 1 Pebruari 2018, kenyamanan perjalanan pulang dari Bangil, Jawa Timur, bersama para ulama Dewan Hisbah Persis pasca sidang lengkap tentang Thuruq al-Istinbath (Metode Penetapan Hukum) sempat terinterupsi oleh berita musibah yang menimpa shahabat kami, Kang Prawoto, Asisten Operasi Brigade Pimpinan Pusat Persatuan Islam (Persis).

Di atas kereta api Argo Wilis jurusan Surabaya-Bandung, sekitar daerah antara Tasikmalaya dan Cipeundeuy, Garut, secara refleks kami langsung melacak informasi peristiwa itu dari berbagai media online via “Abah Google”, namun saat itu belum ada satu pun media resmi yang meliputnya. Berita apa yang sebenarnya kami cari? Tak lain adalah kesahihan kronologis peristiwa yang menyebabkan syahidnya shahabat kami tersebut.

Beberapa jam kemudian, liputan kronologis itu mulai ditayangkan dengan kemasan headline dan gaya bahasa yang agak berbeda namun dengan substansi yang sama bahwa:

“Ustadz Prawoto tewas dianiaya tetangganya sendiri. Tetangga yang melakukan penganiayaan itu adalah seorang pria bernama Asep Maftuh.  Penganiayaan itu bermula sekitar pukul 07.00 pagi saat pelaku yang disapa Mang Cas mendatangi rumah mereka di  di Blok Sawah, RT 1/5, Kelurahan Cigondewah Kidul, Kecamatan Bandung Kulon, Kota Bandung. Pelaku yang datang dengan merusak rumah lalu ditanya oleh Ustadz Prawoto. Saat ditanya, pelaku malah menyerang balik dengan memukulkan besi linggis yang dibawa ke tubuh ustadz Prawoto. Ustadz Prawoto kemudian menyelamatkan diri dari amukan pelaku dengan cara lari keluar rumah. Namun pelaku malah mengejarnya dan kembali memukulnya dengan linggis di bagian kepala, tangan dan seluruh badan. Setelah dianiaya, ustadz Prawoto yang mengalami luka parah kemudian dilarikan ke rumah sakit.” Demikian kronologis peristiwa versi beberapa media online yang diklaim bersumber dari penuturan istri Ustadz Prawoto, Hj. Ernawaty.

Sementara itu versi kepolisian, yang bersumber dari beberapa saksi di lokasi kejadian, “Pelaku penganiayaan, Asep Maftuh menganiaya korban dengan pipa besi. Kejadian itu berawal saat pelaku menggedor-gedor rumah korban. Korban yang merasa rumahnya digedor-gedor kemudian menegur pelaku. Mendapat teguran dari korban, pelaku malah menyerang korban dengan pipa besi yang dibawanya. Korban kemudian lari menyelamatkan diri namun dikejar oleh pelaku yang kembali memukulkan pipa besi yang dibawanya hingga korban jatuh tersungkur di depan warung milik Eni yang berjarak 500 meter dari rumah. Saat korban telah terjatuh, pelaku kembali memukuli korban hingga korban mengalami luka serius di tangan kiri dan luka terbuka di kepala.”

Dari penuturan kedua versi di atas terdapat adegan kisah yang sama, bahwa seakan-akan Ustadz Prawoto tidak berdaya di hadapan penganiaya yang konon dinyatakan “tidak waras” itu. Dari kisah itu tampak jelas terlihat tidak ada perlawanan sama sekali dari Ustadz Prawoto. Mungkinkah hal itu terjadi?

Dari perspektif ini, sangat mungkin ustadz Prawoto tidak berdaya ketika itu. Namun, sebagai seorang sahabat yang kenal cukup lama dengan beliau, bukan hanya lima tahun, adegan peristiwa itu tidaklah masuk akal.  Kang Prawoto yang populer dengan sebutan “Awak Baja, Urat Kawat” (Tubuh Sekeras Baja dan Urat Sekuat Kawat) bagaikan “kardus” tak berdaya mendapatkan serangan bertubi-tubi dari pelaku ketika itu. Padahal, kami mengetahui secara persis ketangguhan fisik dan kemahiran bela diri beliau, seperti ungkapan masyarakat sunda: “3 nepi ka 5 jelema wae mah pasti ditambul ku Kang Prawoto (3 sampai 5 orang saja pasti dapat diatasi oleh kemampuan Kang Prawoto)”. Lebih tak masuk akal lagi, ketika diketahui bahwa sang pelaku “yang dinilai” tengah mengalami depresi itu dalam keadaan mulus, seakan tak tersentuh sama sekali oleh perlawanan Kang Prawoto.

Peristiwa tak masuk di akal itu mengharuskan kami untuk berta’ziyah lebih mendalam bahwa peristiwa ini bukanlah “kasus kriminal” biasa, dan hanya bisa dilakukan oleh orang professional, bahkan boleh jadi pelakunya tidaklah munfarid. Tidak menutup kemungkinan pula bahwa Ustadz Prawoto bukanlah sasaran utama.

Coretan yang tertuang di sini hanyalah opini pribadi dan curahan hati dari seorang sahabat, baik selama belajar di Pesantren persis No. 19 Bentar, Garut, Pesantren Takhasus Tahdzibul Washiyyah, Jl. Gumuruh Bandung, maupun sebagai mitra jihad di Jam’iyyah Persatuan Islam.

Semoga jejak langkah kebaikan yang telah diayunkan oleh beliau menjadi keran amal shaleh bagi beliau dan keluarganya sekaligus menjadi nutrisi dan energi bagi generasi selanjutnya dalam mengawal izzul Islam wal Muslimin melalui wadah amal shaleh Jam’iyyah Persatuan Islam. Kita semua tentu “iri hati” saat mengetahui beliau meninggal dalam keadaan yang paling mulia (mati syahid). Insya Allah.

Bandung, 03 Februari 2018 M

By Amin Muchtar, Sigabah.com/beta

1 thought on “PERISTIWA (KANG PRAWOTO) YANG TAK MASUK AKAL

  1. Mari kalau begitu, perdalam kasus tsb supaya terkuak gimana yg sebenarnya, bagusnya dibuat tean pencari fakta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *