PENGHAYATAN MAKNA: “DIBUKA PINTU SURGA”

Sebagaimana telah kita maklumi bahwa menurut Nabi saw., apabila bulan Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan dibelenggu. Sekilas, keterangan Nabi ini memberi kesan bahwa di luar bulan Ramadhan terjadi “peristiwa” kebalikannya. Artinya, di luar bulan Ramadhan pintu surga ditutup, pintu neraka dibuka, dan setan bebas berkeliaran tanpa dibelenggu. Apakah demikian maksud Nabi saw.?

Hadis: “Dibuka Pintu Surga”

Keterangan tentang pintu surga dibuka pada bulan Ramadhan kita peroleh dari beberapa hadis dengan beragam redaksi sebagai berikut:

Pertama, dengan kalimat Futtihat Abwaab al-Jannah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : إِذَا كَانَ أَوَّلُ لَيْلَةٍ مِنْ شَهْرِ رَمَضَانَ صُفِّدَتْ الشَّيَاطِينُ وَمَرَدَةُ الْجِنِّ ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ النَّارِ فَلَمْ يُفْتَحْ مِنْهَا بَابٌ ، وَفُتِّحَتْ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ فَلَمْ يُغْلَقْ مِنْهَا بَابٌ ، وَيُنَادِي مُنَادٍ يَا بَاغِيَ الْخَيْرِ أَقْبِلْ ، وَيَا بَاغِيَ الشَّرِّ أَقْصِرْ ، وَلِلَّهِ عُتَقَاءُ مِنْ النَّارِ وَذَلكَ كُلُّ لَيْلَةٍ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Rasulullah saw. bersabda, ‘Pada malam pertama bulan Ramadhan setan-setan dan jin-jin yang jahat dibelenggu, pintu-pintu neraka ditutup, tidak ada satupun pintu yang terbuka dan pintu-pintu surga dibuka, tidak ada satupun pintu yang tertutup, serta penyeru menyeru, wahai yang mengharapkan kebaikan bersegeralah (kepada ketaatan), wahai yang mengharapkan keburukan/maksiat berhentilah, Allah memiliki hamba-hamba yang selamat dari api neraka pada setiap malam di bulan Ramadlan’.” HR. At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Malik, al-Baihaqi, Ad-Darimi, Ibnu Hiban, Ibnu Khuzaimah, Al-Hakim, Ath-Thabrani. [1]

Hadis di atas diriwayakan pula dengan sedikit perbedaan redaksi, sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ لَمَّا حَضَرَ رَمَضَانُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَدْ جَاءَكُمْ رَمَضَانُ شَهْرٌ مُبَارَكٌ افْتَرَضَ اللَّهُ عَلَيْكُمْ صِيَامَهُ تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ وَيُغْلَقُ فِيهِ أَبْوَابُ الْجَحِيمِ وَتُغَلُّ فِيهِ الشَّيَاطِينُ فِيهِ لَيْلَةٌ خَيْرٌ مِنْ أَلْفِ شَهْرٍ مَنْ حُرِمَ خَيْرَهَا قَدْ حُرِمَ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Ketika datang bulan Ramadhan Rasulullah saw. bersabda, ‘Telah datang kepada kalian bulan Ramadhan, bulan yang penuh berkah, padanya Allah mewajibkan kalian shaum, padanya pintu-pintu surga dibuka lebar dan pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu. Pada bulan Ramadhan ada satu malam yang lebih baik daripada seribu bulan, dan barangsiapa tidak mendapati malam itu maka ia telah kehilangan pahala seribu bulan.” HR. Ahmad, Ibnu Abu Syaibah, Abd bin Humaid, Ishaq bin Rahawaih. [2]

Kedua, dengan kalimat “Futihat abwaab ar-Rahmah

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا كَانَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

Dari Abu Hurairah, dia berkata, “Apabila  datang bulan Ramadhan pintu-pintu rahmat akan dibuka , pintu-pintu neraka ditutup rapat, dan setan-setan dibelenggu’.” HR. Muslim, Ahmad, An-Nasai, Abdurrazaq, Abd bin Humaid. [3]

Ketiga, dengan kalimat Futihat abwaab As-Samaa’i

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ أَبِي أَنَسٍ مَوْلَى التَّيْمِيِّينَ أَنَّ أَبَاهُ حَدَّثَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أَبَا هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ إِذَا دَخَلَ شَهْرُ رَمَضَانَ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ وَسُلْسِلَتْ الشَّيَاطِينُ

Dari Ibnu Syihab, ia berkata, “Ibnu Abu Anas mawla at-Taymiyyiin telah mengabarkan kepada saya, bahwa bapaknya menceritakan kepadanya bahwa dia mendengar Abu Hurairah Ra. berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda, ‘Apabila masuk bulan Ramadhan, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” HR. Al-Bukhari[4] dan Abu ‘Awanah, dengan redaksi:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِّحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ، وَغُلِّقَتْ أَبْوَابُ جَهَنَّمَ، وَسُلْسِلَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila bulan Ramadhan datang, pintu-pintu langit dibuka, pintu-pintu jahanam ditutup dan setan-setan dibelenggu.” [5]

Dalam riwayat ad-Darimi dengan redaksi:

إِذَا جَاءَ رَمَضَانُ فُتِحَتْ أَبْوَابُ السَّمَاءِ وَغُلِّقَتْ أَبُوابُ النَّارِ وَصُفِّدَتِ الشَّيَاطِينُ

“Apabila bulan Ramadhan datang, pintu-pintu langit dibuka, sedangkan pintu-pintu neraka ditutup dan setan-setan dibelenggu.” [6]

Semua riwayat di atas, dengan ragam variasi teksnya, menggunakan kata kerja yang menunjukkan telah berlangsung (fi’il maadhi), yaitu futihat (فُتِحَتْ). Namun, dalam riwayat Ahmad, An-Nasai, dan al-Baihaqi, digunakan kata kerja yang menunjukkan sedang berlangsung (fi’il mudhaari’), yaitu tuftahu (تُفْتَحُ) sebagai berikut:

تُفْتَحُ فِيهِ أَبْوَابُ السَّمَاءِ

“Pada bulan itu pintu-pintu langit sedang dibuka.” [7]

Penjelasan tentang Variasi Kalimat

Variasi kalimat dalam hadis di atas telah menarik perhatian para ulama, sehingga mereka memandang perlu untuk memberikan penjelasan, antara lain:

قَالَ الزَّيْن بْن الْمُنَيِّرِ : …وَأَمَّا الرِّوَايَةُ الَّتِي فِيْهَا أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَأَبْوَابُ السَّمَاءِ فَمِنْ تَصَرُّفِ الرُّوَاةِ  وَالْأَصْلُ أَبْوَابُ الْجَنَّةِ بِدَلِيلِ مَا يُقَابِلُهُ وَهُوَ غَلْقُ أَبْوَابِ النَّارِ

Az-Zain bin al-Munir berkata, “…dan adapun riwayat yang menerangkan (dengan kalimat) Abwaab ar-rahmah dan Abwaab as-Samaa’ maka itu bersumber dari perubahan para rawi, dan aslinya adalah dengan kalimat Abwaab al-jannah, dengan dalil keterangan sebaliknya, yaitu ditutup pintu neraka.” [8]

Kata Ibnu Bathal:

الْمُرَادُ مِنَ السَّمَاءِ الْجَنَّةُ بِقَرِيْنَةِ ذِكْرِ جَهَنَّمَ فِيْ مُقَابَلَةٍ

“Yang dimaksud dengan kata as-samaa’ (pada riwayat itu) adalah al-jannah (surga) dengan qarinah (indikasi) penyebutan jahannam (neraka) dalam keterangan sebaliknya.” [9]

Kata al-‘Aini:

جَاءَ فِيْ رِوَايَةٍ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ وَلاَ تَعَارُضَ فِيْ ذلِكَ فَأَبْوَابُ السَّمَاءِ يَصْعَدُ مِنْهَا إِلَى الْجَنَّةِ لِأَنَّهَا فَوْقَ السَّمَاءِ وَسَقَفُهَا عَرْشُ الرَّحْمنِ كَمَا ثَبَتَ فِي ( الصَّحِيْحِ ) وَ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ تُطْلَقُ عَلَى أَبْوَابِ الْجَنَّةِ لِقَوْلِ النَّبِيِّ فِي الْحَدِيْثِ الصَّحِيْحِ

“Terdapat keterangan dalam satu riwayat dengan kalimat: Abwaab ar-rahmah. Maka dalam hal itu tidak bertentangan, karena akan naik dari abwaab as-samaa’ (pintu langit) ke surga, karena surga berada di atas langit, dan atapnya Arsy ar-Rahman, sebagaimana diterangkan dalam hadis shahih. Sedangkan Abwaab ar-rahmah digunakan untuk pintu-pintu surga berdasarkan sabda Nabi dalam hadis shahih:

احْتَجَّتِ الْجَنَّةُ وَالنَّارُ

Surga dan neraka berhujjah.” [10]

Penjelasan Makna “Dibuka Pintu Surga”

Dalam memahami makna “Dibuka Pintu Surga” para ulama berbeda kecenderungan, sehingga melahirkan pendapat yang berbeda. Dalam hal ini terbagi menjadi dua pandapat:

Pertama, sebagian ulama cenderung memaknai kalimat itu secara hakiki, sesuai dengan zhahir hadis. Menurut pendapat ini, hadis itu menunjukkan bahwa ketika bulan Ramadhan pintu-pintu surga itu dibuka dalam makna yang sebenarnya.

فَقَالَ الْقَاضِي عِيَاض – رَحِمَهُ اللَّه تَعَالَى – : يَحْتَمِلُ أَنَّهُ عَلَى ظَاهِرِهِ وَحَقِيْقَتِهِ وَأَنَّ تَفْتِيْحَ أَبْوَابِ الْجَنَّةِ وَتَغْلِيْقَ أَبْوَابِ جَهَنَّمَ وَتَصْفِيدَ الشَّيَاطِيْنِ عَلَامَةٌ لِدُخُولِ الشَّهْرِ وَتَعْظِيمٌ لِحُرْمَتِهِ وَيَكُوْنُ التَّصْفِيْدُ لِيَمْتَنِعُوْا مِنْ إِيذَاءِ الْمُؤْمِنِينَ وَالتَّهْوِيْشِ عَلَيْهِمْ

Maka al-Qadhi Iyadh berkata, “Hadis itu mengandung makna sesuai dengan zhahir dan hakikatnya, dan sungguh dibuka pintu-pintu surga, ditutup pintu-pintu jahannam dan setan-setan dibelenggu adalah tanda masuk bulan Ramadhan dan mengagungkan kehormatannya, dan dibelenggu menunjukkan bahwa mereka (setan) terhalang untuk menyakiti orang-orang mukmin dan mengganggu mereka.” [11]

Kedua, sebagian ulama cenderung memaknai kalimat itu secara majazi (kiasan)

Masih menurut al-Qadhi Iyadh:

وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُوْنَ الْمُرَادُ الْمَجَازَ وَيَكُوْنَ إِشَارَةً إِلَى كَثْرَةِ الثَّوَابِ وَالْعَفْوِ وَأَنَّ الشَّيَاطِيْنَ يَقِلُّ إِغْوَاؤُهُمْ وَإِيذَاؤُهُمْ فَيَصِيْرُوْنَ كَالْمُصَفَّدِيْنَ وَيَكُوْنُ تَصْفِيْدُهُمْ عَنْ أَشْيَاءَ دُوْنَ أَشْيَاءَ ، وَلِنَاسٍ دُوْنَ نَاسٍ وَيُؤَيِّدُ هَذِهِ الرِّوَايَةُ الثَّانِيَةُ : ( فُتِّحَتْ أَبْوَابُ الرَّحْمَةِ ) وَجَاءَ فِي حَدِيْثٍ آخَرَ : ( صُفِّدَتْ مَرَدَةُ الشَّيَاطِينِ ) قَالَ الْقَاضِي : وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُوْنَ فَتْحُ أَبْوَاِب الْجَنَّةِ عِبَارَةً عَمَّا يَفْتَحُهُ اللَّهُ تَعَالَى لِعِبَادِهِ مِنَ الطَّاعَاتِ فِي هَذَا الشَّهْرِ الَّتِي لَا تَقَعُ فِي غَيْرِهِ عُمُوْمًا كَالصِّيَامِ وَالْقِيَامِ وَفِعْلِ الْخَيْرَاتِ وَالِانْكِفَافِ عَنْ كَثِيْرٍ مِنَ الْمُخَالَفَاتِ وَهَذِهِ أَسْبَابٌ لِدُخُولِ الْجَنَّةِ وَأَبْوَابٌ لَهَا

 “Hadis itu mengandung makna kiasan dan isyarat kepada banyak pahala dan pengampunan, dan setan-setan sedikit menggoda dan menyakiti orang-orang beriman sehingga keadaannya seperti dibelenggu, dan dibelenggu mereka itu dari beberapa perkara, sedangkan pada perkara lain tidak demikian, begitu pula  dalam menggoda beberapa manusia, sedangkan pada manusia lain tidak demikian. Makna ini dikuatkan oleh riwayat kedua (dengan kalimat) dibuka pintu-pintu rahmat, dan diterangkan dalam hadis lain: setan-setan durhaka  dibelenggu. al-Qadhi Iyadh berkata pula, “Dibuka pintu-pintu surga dapat dimaknai pula sebagai ungkapan tentang sesuatu yang dibukakan oleh bagi hamba-hamba-Nya, yaitu berupa berbagai ketaatan secara umum, pada bulan ini yang tidak didapati pada bulan lain, seperti shaum, qiyam Ramadhan, perbuatan berbagai kebaikan dan meninggalkan berbagai perbuatan yang menyimpang. Dan berbagai ketaatan ini menjadi sebab masuknya surga dan menjadi pintu menuju surga.” [12]

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1] Lihat, HR. At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, III:67, No. 682; An-Nasai, Sunan An-Nasai, IV:126, No. 2097; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:526, No. 1642; Malik, al-Muwatha, I:311, No. 684; al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV:304, No. 8284; Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi, II:42, No. 1775;  Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VIII:222, No. 3435; Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, III:188, No. 1882; Al-Hakim, al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I:582, No. 1532; Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, XVII:133, No. 326, Al-Mu’jam al-Awsath, II:157, No. 1563.

[2] Lihat, HR. Ahmad, Musnad Ahmad, II:425, No. 9493; Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, II:270, No. 8867; Abd bin Humaid, Musnad Abd bin Humaid, I:418, No. 1429; Ishaq bin Rahawaih, Musnad Ishaq bin Rahawaih, I:73, No. 1.

[3] Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, II:758, No. 1079; Ahmad, Musnad Ahmad, II:281, No. 7767, II:401, No. 9193; An-Nasai, as-Sunan al-Kubra, II:65, No. 2409, II:66, No. 2413, Sunan an-Nasai, IV:127, No. 2100; Abdurrazaq, al-Mushannaf, IV:176, No. 7384; Abd bin Humaid, Musnad Abd bin Humaid, I:420, No. 1439.

[4] Lihat, Shahih Al-Bukhari, II:672, No. 1800.

[5] Lihat, Musnad Abu ‘Awanah, IV:7, No. 2172.

[6] Lihat, Sunan ad-Darimi, II:12, No. 1829.

[7] Lihat, HR. Ahmad, Musnad Ahmad, II:230, No. 7148, An-Nasai, Sunan An-Nasai, IV:129, No. 2106, al-Baihaqi, Syu’ab al-Iman, III:301, No. 3600.

[8] Sebagaimana dikutip oleh Ibnu Hajar al-Aqalani. Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, IV:114.

[9] Sebagaimana dikutip oleh Badruddin al-‘Aini. Lihat, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, XVI:265.

[10] Lihat, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, XVI:265.

[11] Lihat, Tanwir al-Hawalik Syarh ‘ala Muwatha’ Malik, I:295.

[12] Lihat, Syarh Shahih Muslim An-Nawawi, IV:46.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *