PEMAKNAAN HADIS AISYAH: “MENAMBAH RAKAAT SALAT DHUHA SEKEHENDAKNYA” (TELAAH THURUQUL ISTINBATH IMAM MUSLIM BIN AL-HAJJAJ)

Berkaitan dengan hukum, jumlah rakaat, dan anjuran untuk tetap mengerjakannya, Imam Muslim bin al-Hajjaj telah membuat kesimpulan hokum berdasarkan isyarat bab dalam kitab Shahih-nya dengan judul:

باب اسْتِحْبَابِ صَلاَةِ الضُّحَى وَأَنَّ أَقَلَّهَا رَكْعَتَانِ وَأَكْمَلَهَا ثَمَانِ رَكَعَاتٍ وَأَوْسَطَهَا أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ أَوْ سِتٌّ وَالْحَثِّ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَيْهَا.

“Bab Sunahnya salat dhuha, dan sungguh minimalnya dua rakaat, maksimalnya delapan rakaat, dan pertengahannya empat atau enam rakaat, dan bab anjuran agar tetap melakukannya.” (No. bab 13)

Judul di atas merupakan hasil istidlal (pengambilan dalil) dari sekitar 15 hadis, dengan wajhul istidlal (aspek pengambilan dalil) sebagai berikut:

Pertama, kalimat judul bab

باب اسْتِحْبَابِ صَلاَةِ الضُّحَى

Merupakan wajhul istidlal dari hadis-hadis berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ شَقِيقٍ قَالَ قُلْتُ لِعَائِشَةَ هَلْ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى الضُّحَى قَالَتْ لاَ إِلاَّ أَنْ يَجِىءَ مِنْ مَغِيبِهِ.

Dari Abdullah bin Syaqiq, ia berkata, “Aku bertanya kepada Aisyah, ‘Apakah Nabi saw. pernah salat dhuha?’ Aisyah menjawab, ‘Tidak pernah, kecuali jika beliau tiba dari safarnya’.”

عَنْ عُرْوَةَ عَنْ عَائِشَةَ أَنَّهَا قَالَتْ مَا رَأَيْتُ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى سُبْحَةَ الضُّحَى قَطُّ. وَإِنِّى لأُسَبِّحُهَا وَإِنْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- لَيَدَعُ الْعَمَلَ وَهُوَ يُحِبُّ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ خَشْيَةَ أَنْ يَعْمَلَ بِهِ النَّاسُ فَيُفْرَضَ عَلَيْهِمْ.

Dari Urwah, dari Aisyah, bahwa ia berkata, “Sama sekali aku belum pernah melihat Rasulullah saw. melakukan salat dhuha, namun aku melakukan salat dhuha. Dan jika Rasulullah saw. meninggalkan amalan yang sebenarnya beliau suka melakukannya, karena beliau khawatir para sahabat menirunya sehingga amal itu diwajibkan atas mereka.”

Kedua, kalimat judul bab

وَأَنَّ أَقَلَّهَا رَكْعَتَانِ

Merupakan wajhul istidlal dari 2 hadis di akhir bab, yaitu dengan redaksi:

وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

“dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha”

Dan redaksi:

وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى

“Dan dua rakaat dhuha”

Ketiga, kalimat judul bab

وَأَكْمَلَهَا ثَمَانِ رَكَعَاتٍ

Merupakan wajhul istidlal dari hadis-hadis berikut:

عَنْ عَبْدِ الرَّحْمَنِ بْنِ أَبِى لَيْلَى قَالَ مَا أَخْبَرَنِى أَحَدٌ أَنَّهُ رَأَى النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى الضُّحَى إِلاَّ أُمُّ هَانِئٍ فَإِنَّهَا حَدَّثَتْ أَنَّ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- دَخَلَ بَيْتَهَا يَوْمَ فَتْحِ مَكَّةَ فَصَلَّى ثَمَانِىَ رَكَعَاتٍ مَا رَأَيْتُهُ صَلَّى صَلاَةً قَطُّ أَخَفَّ مِنْهَا غَيْرَ أَنَّهُ كَانَ يُتِمُّ الرُّكُوعَ وَالسُّجُودَ

Dari Abdurrahman bin Abu Laila, ia berkata, “Tidak ada seorangpun yang mengabariku bahwa ia melihat Nabi saw. melakukan salat dhuha, selain Ummu Hani, sungguh dialah yang menceritakan bahwa Nabi pernah masuk rumahnya ketika Penaklukan kota Mekah, lalu beliau salat delapan rakaat, dan aku belum pernah melihat beliau melakukan shalat yang lebih ringan daripada salat ketika itu, beliau menyempurnakan rukuk dan sujudnya.”

عَنِ ابْنِ شِهَابٍ قَالَ حَدَّثَنِى ابْنُ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ الْحَارِثِ أَنَّ أَبَاهُ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ الْحَارِثِ بْنِ نَوْفَلٍ قَالَ سَأَلْتُ وَحَرَصْتُ عَلَى أَنْ أَجِدَ أَحَدًا مِنَ النَّاسِ يُخْبِرُنِى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- سَبَّحَ سُبْحَةَ الضُّحَى فَلَمْ أَجِدْ أَحَدًا يُحَدِّثُنِى ذَلِكَ غَيْرَ أَنَّ أُمَّ هَانِئٍ بِنْتَ أَبِى طَالِبٍ أَخْبَرَتْنِى أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- أَتَى بَعْدَ مَا ارْتَفَعَ النَّهَارُ يَوْمَ الْفَتْحِ فَأُتِىَ بِثَوْبٍ فَسُتِرَ عَلَيْهِ فَاغْتَسَلَ ثُمَّ قَامَ فَرَكَعَ ثَمَانِىَ رَكَعَاتٍ لاَ أَدْرِى أَقِيَامُهُ فِيهَا أَطْوَلُ أَمْ رُكُوعُهُ أَمْ سُجُودُهُ كُلُّ ذَلِكَ مِنْهُ مُتَقَارِبٌ – قَالَتْ – فَلَمْ أَرَهُ سَبَّحَهَا قَبْلُ وَلاَ بَعْدُ.

Dari Ibnu Syihab, ia berkata, “Ibnu Abdullah bin Al-Harits telah menceritakan kepadaku bahwa ayahnya yaitu Abdullah bin Al-Harits bin Nawfal mengatakan, ‘Aku bertanya dan memang aku sangat antusias mendapatkan seseorang mengabariku, bahwa Rasulullah saw. pernah melakukan salat dhuha, ternyata aku tidak mendapatkan seorang pun mengabarkan hal itu, selain Ummu Hani binti Abu Thalib yang mengabariku bahwa Rasulullah saw. pernah datang ketika siang agak meninggi, yaitu hari ketika penaklukan kota Mekah. Beliau diberi kain dan beliau pun ditutupi, kemudian beliau mandi. Setelah itu beliau berdiri dan salat sebanyak delapan rakaat, saya tidak tahu apakah berdirinya lebih lama ataukah rukuknya, ataukah sujudnya, semua itu sepertinya hampir sama.’ Kata Ummu Hani selanjutnya, ‘Padahal sebelum dan sesudah itu, aku belum pernah melihat beliau melakukan salat dhuha’.”

عَنْ أَبِى النَّضْرِ أَنَّ أَبَا مُرَّةَ مَوْلَى أُمِّ هَانِئٍ بِنْتِ أَبِى طَالِبٍ أَخْبَرَهُ أَنَّهُ سَمِعَ أُمَّ هَانِئٍ بِنْتَ أَبِى طَالِبٍ تَقُولُ ذَهَبْتُ إِلَى رَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَامَ الْفَتْحِ فَوَجَدْتُهُ يَغْتَسِلُ وَفَاطِمَةُ ابْنَتُهُ تَسْتُرُهُ بِثَوْبٍ – قَالَتْ – فَسَلَّمْتُ فَقَالَ « مَنْ هَذِهِ ». قُلْتُ أُمُّ هَانِئٍ بِنْتُ أَبِى طَالِبٍ. قَالَ  مَرْحَبًا بِأُمِّ هَانِئٍ. فَلَمَّا فَرَغَ مِنْ غُسْلِهِ قَامَ فَصَلَّى ثَمَانِىَ رَكَعَاتٍ مُلْتَحِفًا فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ. فَلَمَّا انْصَرَفَ قُلْتُ يَا رَسُولَ اللَّهِ زَعَمَ ابْنُ أُمِّى عَلِىُّ بْنُ أَبِى طَالِبٍ أَنَّهُ قَاتِلٌ رَجُلاً أَجَرْتُهُ فُلاَنُ بْنُ هُبَيْرَةَ. فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم-  قَدْ أَجَرْنَا مَنْ أَجَرْتِ يَا أُمَّ هَانِئٍ. قَالَتْ أُمُّ هَانِئٍ وَذَلِكَ ضُحًى.

Dari Abu an-Nazhr bahwa Abu Murrah Mawla Ummu Hani binti Abu Thalib mengabarinya, bahwa ia pernah mendengar Ummu Hani binti Abu Thalib mengatakan, “Aku pergi menemui Rasulullah saw. ketika tahun penaklukan kota Mekah, lalu aku mendapatinya beliau tengah mandi, sementara Fathimah, putri beliau menutupinya dengan sehelai kain, maka aku mengucapkan salam, beliau lalu bertanya, ‘Siapakah itu?’ Aku menjawab, ‘Aku, Ummu Hani binti Abu Thalib.’ Beliau bersabda, ‘Selamat datang wahai Ummu Hani.’ Selesai mandi, beliau berdiri dan salat delapan rakaat dengan memakai satu kain. Seusai salat, aku berkata, ‘Wahai Rasulullah, Saudaraku, yaitu Ali bin Abu Thalib beranggapan bahwa ia hendak membunuh seseorang yang aku lindungi, yaitu fulan bin Hubairah.’ Rasulullah saw. Bersabda, ‘Aku melindungi siapa saja yang engkau lindungi wahai Ummu Hani.’ Kata Ummu Hani, ‘Peristiwa itu terjadi ketika waktu dhuha’.”

عَنْ أُمِّ هَانِئٍ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- صَلَّى فِى بَيْتِهَا عَامَ الْفَتْحِ ثَمَانِىَ رَكَعَاتٍ فِى ثَوْبٍ وَاحِدٍ قَدْ خَالَفَ بَيْنَ طَرَفَيْهِ.

Dari Ummu Hani, bahwa Rasulullah saw. pernah salat delapan rakaat di rumahnya, yaitu ketika penaklukan kota Mekah dengan menyelempangkan kedua ujung kainnya.

Keempat, kalimat judul bab

وَأَوْسَطَهَا أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ أَوْ سِتٌّ

Merupakan wajhul istidlal dari hadis-hadis berikut:

حَدَّثَنَا شَيْبَانُ بْنُ فَرُّوخَ حَدَّثَنَا عَبْدُ الْوَارِثِ حَدَّثَنَا يَزِيدُ – يَعْنِى الرِّشْكَ – حَدَّثَتْنِى مُعَاذَةُ أَنَّهَا سَأَلَتْ عَائِشَةَ – رضى الله عنها – كَمْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى صَلاَةَ الضُّحَى قَالَتْ أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ.

Syaiban bin Farukh telah menceritakan kepada kami, Abdul Warits telah menceritakan kepada kami, Yazid, yaitu Yazid Ar-Risyk telah menceritakan kepada kami, Mu’adzah telah menceritakan kepadaku, bahwa ia pernah bertanya kepada Aisyah Ra, “Berapa rakaatkah Rasulullah saw. melakukan salat dhuha?” Aisyah menjawab, “Empat raka’at, dan beliau menambah sekehendaknya.” Pada riwayat lain:

عَنْ يَزِيدَ بِهَذَا الإِسْنَادِ. مِثْلَهُ وَقَالَ يَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ.

Dari Yazid dengan sanad seperti ini, Yazid mengatakan dengan redaksi ” beliau menambah sekehendak Allah.”

عَنْ سَعِيدٍ حَدَّثَنَا قَتَادَةُ أَنَّ مُعَاذَةَ الْعَدَوِيَّةَ حَدَّثَتْهُمْ عَنْ عَائِشَةَ قَالَتْ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- يُصَلِّى الضُّحَى أَرْبَعًا وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ.

Dari Said, Qatadah telah menceritakan kepada kami, bahwa Mu’adzah Al-‘Adawiyah menceritakan kepada mereka dari Aisyah, ia berkata, “Rasulullah saw. pernah melakukan salat dhuha sebanyak empat rakaat, dan beliau menambah sekehendak Allah.”

Kelima, kalimat judul bab

وَالْحَثِّ عَلَى الْمُحَافَظَةِ عَلَيْهَا

Merupakan wajhul istidlal dari hadis-hadis berikut:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ عَنِ النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- أَنَّهُ قَالَ  يُصْبِحُ عَلَى كُلِّ سُلاَمَى مِنْ أَحَدِكُمْ صَدَقَةٌ فَكُلُّ تَسْبِيحَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَحْمِيدَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَهْلِيلَةٍ صَدَقَةٌ وَكُلُّ تَكْبِيرَةٍ صَدَقَةٌ وَأَمْرٌ بِالْمَعْرُوفِ صَدَقَةٌ وَنَهْىٌ عَنِ الْمُنْكَرِ صَدَقَةٌ وَيُجْزِئُ مِنْ ذَلِكَ رَكْعَتَانِ يَرْكَعُهُمَا مِنَ الضُّحَى

Dari Abu Dzar, dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, “Setiap pagi dari persendian masing-masing kalian ada sedekahnya, setiap tasbih adalah sedekah, setiap tahmid adalah sedekah, dan setiap tahlil adalah sedekah, setiap takbir sedekah, setiap amar ma’ruf nahyi munkar sedekah, dan semuanya itu tercukupi dengan dua rakaat dhuha.”

عَنْ أَبِى هُرَيْرَةَ قَالَ أَوْصَانِى خَلِيلِى -صلى الله عليه وسلم- بِثَلاَثٍ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَرَكْعَتَىِ الضُّحَى وَأَنْ أُوتِرَ قَبْلَ أَنْ أَرْقُدَ.

Dari Abu Hurairah, ia berkata, “Sahabat karibku saw. mewasiatkan kepadaku untuk melakukan tiga hal: shaum tiga hari tiap bulan, dua rakaat dhuha, dan melakukan shalat witir sebelum tidur.”

عَنْ أَبِى الدَّرْدَاءِ قَالَ أَوْصَانِى حَبِيبِى -صلى الله عليه وسلم- بِثَلاَثٍ لَنْ أَدَعَهُنَّ مَا عِشْتُ بِصِيَامِ ثَلاَثَةِ أَيَّامٍ مِنْ كُلِّ شَهْرٍ وَصَلاَةِ الضُّحَى وَبِأَنْ لاَ أَنَامَ حَتَّى أُوتِرَ.

Dari Abu Darda, ia berkata, “Sahabat karibku mewasiatkan kepadaku untuk melakukan tiga hal, yaitu agar aku tidak meninggalkan selama hidupku: shaum tiga hari tiap bulan, salat dhuha dan tidak tidur sebelum shalat witir.”

Analisa

Yang perlu diperhatikan, dalam konteks masalah yang kita bicarakan adalah fragmen judul bab bagian keempat, yaitu kalimat judul bab

وَأَوْسَطَهَا أَرْبَعُ رَكَعَاتٍ أَوْ سِتٌّ

Dilihat dari 15 hadis yang dimuat di dalam bab ini, tidak satu pun yang menyebutkan sitta raka’atin (enam rakaat). Jadi, dari  hadis mana Imam Muslim mengambil wajhul istidlal bahwa rakaat pertengahan salat dhuha itu 4 rakaat atau 6 rakaat?

Setelah memperhatikan:

  • siyaqul kalam (susunan kalimat) judul bab, bahwa 4 rakaat dan 6 rakaat ditempatkan pada posisi yang sama, yaitu jumlah rakaat pertengahan.
  • Dalil yang digunakan untuk penetapan posisi itu adalah sama, yaitu kalimat:

أَرْبَعَ رَكَعَاتٍ وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ

Maka hemat kami, Imam Muslim mengambil wajhul istidlal bahwa 6 rakaat dikategorikan sebagai rakaat pertengahan tiada lain dari kalimat:

وَيَزِيدُ مَا شَاءَ اللَّهُ

Karena itu, hemat kami, kalimat tersebut menurut Imam Muslim mengandung arti: “dan beliau menambah rakaat sesuai dengan syariat Allah.”, bukan dalam makna “sekehendaknya” atau “Sebebasnya”

Dalam pandangan Imam Muslim, syariat Allah tentang jumlah rakaat salat dhuha: 2, 4, dan 8 rakaat ditetapkan berdasarkan mantuq nash (keterangan secara tersurat). Sedangkan untuk menetapkan 6 rakaat, Imam Muslim menggunakan metode Isyaarah nash (keterangan secara tersirat) dan istiqra’i (induktif).

Yang dimaksud al-Istiqra’ adalah pengambilan dalil hukum dengan cara metode induktif, yaitu meneliti permasalahan-permasalahan cabang (juz-i) dengan mendetail guna menemukan sebuah hukum yang diterapkan pada seluruh permasalahan (kulli).

Dengan metode ini, Imam Muslim berkesimpulan bahwa jumlah rakaat salat dhuha itu “bentuknya” selalu genap, tidak ganjil. Kesimpulan ini berdasarkan perbuatan Nabi saw. yang melakukan salat dhuha 2 rakaat, 4 rakaat, (6 rakaat bila hadisnya shahih), dan 8 rakaat. Maka, berdasarkan istqra’ kalimat yaziidu (menambah rakaat) yang disebut setelah 4 rakaat, menunjukkan 6 rakaat.

Sehubungan dengan itu, kalimat tersebut tidak tepat dimaknai bahwa Nabi salat Dhuha dengan jumlah rakaat maksimal tidak terbatas atau sekehendaknya, dengan alasan:

Pertama, keterangan Aisyah itu sebagai hikaayat haal atau hikaayat fi’lin, yaitu Aisyah menjelaskan fi’il Nabi sesuai dengan persaksiannya. Sementara hikaayat haal atau fi’il tidak menunjukkan makna umum. (Lihat, Al-Asybah wa An-Nazha’ir, II:146)

Karena itu, bila perkataan Aisyah itu dimaknai tidak terbatas atau sekehendaknya harus didapatkan data factual (riwayat) menurut Aisyah bahwa Nabi saw. pernah melakukan salat dhuha, misalnya lebih dari 8 rakaat. Sementara fakta itu tidak ada.

Kedua, Aisyah sendiri sebagai orang yang menjelaskan amal Nabi itu melaksanakan salat dhuha dengan jumlah maksimal 8 rakaat, sebagaimana diterangkan dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ عَائِشَةَ : أَنَّهَا كَانَتْ تُصَلِّي الضُّحَى ثَمَانِىَ رَكَعَاتٍ، ثُمَّ تَقُولُ : لَوْ نُشِرَ لِي أَبَوَاىَ مَا تَرَكْتُهُنَّ

Dari Aisyah bahwa ia salat dhuha 8 rakaat, lalu ia berkata, “Seandainya kedua orang tua saya dihidupkan, niscaya saya tidak akan meninggalkan 8 rakaat itu.” HR. Malik, al-Muwatha, I:112, No. 420; Ishaq bin Rahawaih, Musnad Ishaq bin Rahawaih, III:771, No. 1392 dengan sedikit berbeda redaksi

Keterangan:

Kata nusyira, dalam kalimat:

أنشر الله الميت ونشره : إذا أحياه ، ونشر الميت : إذا عاش

Ansyarallaahu al-mayyita wa nasyarahu, artinya Allah mengidupkannya. Dan kalimat nasyara al-mayyit artinya hidup. (Lihat, Jami’ al-Ushul fii Ahadits ar-Rasul, VI:112)

قَوْلُهُ أَنَّهَا كَانَتْ تُصَلِّي الضُّحَى ثَمَانِيَ رَكَعَاتٍ يَحْتَمِلُ أَنَّهَا كَانَتْ تَفْعَلُ ذَلِكَ بِخَبَرٍ مَنْقُولٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم كَخَبَرِ أُمِّ هَانِئٍ وَلِذَلِكَ اقْتَصَرَتْ عَلَى هَذَا الْأَمْرِ وَيَحْتَمِلُ أَنْ يَكُونَ هَذَا الْمِقْدَارُ هُوَ الَّذِي كَانَ يُمْكِنُهَا الْمُدَاوَمَةُ عَلَيْهِ

Perkataannya: “bahwa ia salat dhuha 8 rakaat” mengandung makna bahwa ia melakukan hal itu berdasarkan khabar yang diriwayatkan dari Nabi, seperti khabar Ummu Hani, karena itu ia membatasi pada perkara ini (tidak akan meninggalkan 8 rakaat). Dan dapat dimaknai pula bahwa ukuran ini adalah yang dapat dilakukannya secara kontinu.” (Lihat, al-Muntaqa Syarh al-Muwatha, I:370)

Catatan Akhir:

  1. Perkataan Aisyah: “Nabi Menambah Rakaat Salat Dhuha Maa Syaa’a Allaah” dalam pemahaman Imam Muslim tidak dapat dimaknai ‘sekehendaknya’ atau tidak terbatas
  2. Batasan rakaat shalat dhuha: 2, 4, 6, dan 8 Rakaat. Semuanya dilakukan dengan satu kali salam. Adapun hadis yang menerangkan salam pada setiap dua rakaat (HR. Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ibnu Khuzaimah) statusnya dhaif, karena terdapat rawi bernama ‘Iyadh bin Abdullah bin Abdurrahman. Dia Munkar Al-Hadits dalam pandangan Imam Al-Bukhari.
  3. Hadis yang menerangkan 12 rakaat statusnya dhaif. Dalam riwayat At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ath-Thabrani dari Anas bin Malik, terdapat rawi bernama Musa bin Fulan bin Anas, dia Majhul (tidak dikenal oleh ahli hadis). Sedangkan dalam riwayat Ath-Thabrani dan Al-Bazzar dari Abu Darda, terdapat rawi bernama Husain bin Atha, dia Munkar al-Hadits dalam pandangan Imam Abu Hatim, dan rawi lain bernama Musa bin Ya’qub dinilai buruk hapalan. (Lihat buku Risalah Shalat karya Dewan Hisbah, Cet. VII, Pebruari 2019, hlm. 214-216)

Bandung, 1 Rabi’ul Akhir 1441 H/28 November 2019

Penulis, Ustadz Amin Muchtar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *