PANDUAN LENGKAP IBADAH GERHANA

Sebagaimana telah dimaklumi bahwa saat terjadi peristiwa gerhana, baik matahari maupun bulan, umat Islam disyariatkan untuk menyambutnya dengan pelaksanaan ibadah, meliputi: (1) berdoa kepada Allah dan beristigfar, (2) bertakbir, (3) Salat gerhana sebanyak 2 rakaat. Keistimewaan shalat gerhana karena pada setiap rakaat disyariatkan membaca surat Al-Fatihah dan surat lainnya sebanyak 2 kali, begitu pula dengan ruku. Jadi, dalam 2 rakaat itu terdapat 4 fatihah, 4 surat, 4 ruku, 4 I’tidal, dan 4 sujud, (4) Khutbah gerhana, dan (5) bersedekah.

Di sini perlu disampaikan catatan bahwa tertib urutan pelaksanaan bentuk-bentuk ibadah di atas, selain khutbah setelah shalat, bukanlah kemestian. Sebab hasil penelusuran terhadap hadis-hadis tentang itu menunjukkan urutan yang bervariasi. [1]

I. Bertakbir

Berkenaan dengan takbir gerhana kita mendapatkan petunjuk dari sejumlah riwayat yang menjelaskan perintah takbir pada saat kejadian itu semuanya menggunakan kalimat yang sama: Kabbiruu (bertakbirlah). Adapun redaksi Takbir gerhana dan teknis pelaksanaanya sama dengan takbir iedul fitri dan iedul adha. Penjelasan lengkap baca di sini.

II. Berdoa dan Istigfar

Berkenaan dengan berdoa ketika terjadi gerhana kita mendapatkan petunjuk dari sejumlah riwayat yang menjelaskan perintah berdoa pada saat kejadian itu menggunakan kalimat yang tidak sama. [2] Intinya kita diperintahkan untuk berdoa, berdzikir, dan beristigfar. Ketika berdoa disyariatkan sambil mengangkat tangan. [3]

III.Shalat Gerhana

3.1. Ketentuan Shalat Gerhana

  • Waktu melakukan shalat gerhana adalah selama terjadinya gerhana, apabila gerhana telah selesai sedang shalatnya belum selesai maka hendaklah shalatnya dipendekkan dan tetap disempurnakan, namun tidak lagi dipanjangkan. Apabila shalat selesai namun gerhana belum selesai maka tidak disyari’atkan untuk mengulang shalatnya, tapi memperbanyak dzikir dan do’a sampai gerhana selesai. [4]
  • Disyari’atkan untuk melakukannya secara berjama’ah di masjid, namun dibolehkan untuk melakukannya di tempat selain masjid, namun tetap dengan berjamaah. [5]
  • Disunnahkan menyeru manusia untuk shalat dengan ucapan: “Ash-Shalaatu Jaami’ah.” Tidak ada adzan dan iqomah untuk shalat gerhana selain seruan tersebut, dan boleh diserukan berulang-ulang. [6]

3.2. Tatacara Shalat

Adapun tatacara pelaksanaan shalat itu dapat dijelaskan secara singkat sebagai berikut

  • Berniat dalam hati untuk shalat gerhana karena Allah ta’ala
  • Takbiratul ihram.
  • Membaca doa iftitah dan ta’awwudz secara pelan (sir).
  • Membaca Al-Fatihah dan surat lain secara keras, dan hendaklah memanjangkan bacaan, yaitu memilih surat yang panjang.
  • Bertakbir lalu ruku’ dan memanjangkan ruku’, yaitu membaca bacaan ruku’ dengan mengulang-ngulangnya.
  • Kemudian bangkit dari ruku’ seraya mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah,” jika badan sudah berdiri tegak membaca, ”Rabbana walakal hamdu,” dengan posisi tangan menjulur (irsal) tidak langsung sedekap.
  • Setelah itu tidak turun sujud, namun kembali membaca Al-Fatihah dan surat panjang, akan tetapi lebih pendek dari yang pertama, dengan posisi tangan bersedekap.
  • Bertakbir lalu ruku’ dengan ruku’ yang panjang, namun lebih pendek dari ruku’ yang pertama.
  • Kemudian bangkit dari ruku’ seraya mengucapkan, ”Sami’allahu liman hamidah,” jika badan sudah berdiri tegak membaca, ”Rabbana walakal hamdu.” Dan hendaklah memanjangkan berdiri I’tidal ini
  • Bertakbir lalu sujud dengan sujud yang panjang, yaitu dengan mengulang-ngulang bacaan sujud dan berdoa.
  • Kemudian bangkit untuk duduk di antara dua sujud seraya bertakbir, lalu duduk iftirasy dan hendaklah memanjangkan duduknya.
  • Kemudian sujud kembali seraya bertakbir dan hendaklah memanjangkan sujud, namun lebih pendek dari sujud sebelumnya.
  • Bangkit ke raka’at kedua seraya bertakbir, setelah berdiri untuk rakaat kedua maka lakukanlah seperti pada raka’at yang pertama, namun lebih pendek dari raka’at yang pertama
  • Kemudian duduk tasyahhud, membaca shalawat, dan salam ke kanan dan ke kiri.

IV. Khutbah dan Anjuran menyimaknya

Setelah itu disunnahkan bagi imam berkhutbah kepada jamaah untuk mengingatkan mereka bahwa gerhana matahari dan bulan adalah tanda-tanda kebesaran dan keagungan Allah untuk mempertakuti hamba-hamba-Nya dan agar mereka memperbanyak dzikir dan sedekah. Baca khutbah Nabi selengkapnya di sini

V. Bershadaqah

Berkenaan dengan shadaqah gerhana kita mendapatkan petunjuk dari sejumlah riwayat yang menjelaskan perintah bershadaqah pada saat kejadian itu semuanya menggunakan kalimat yang sama: watashadduu (bershadaqahlah), tanpa penjelasan tanpa batasan mustahiq atau dikhususkan pada fakir dan miskin. Jadi, distribusi atau penyaluran shadaqah gerhana tidak dibatasi untuk mustahiq tertentu dan diusahakan pelaksanaanya selama waktu gerhana berlangsung atau tidak lama setelahnya.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Baca Menyambut Gerhana Teristimewa di sini

Baca Analisa Takbiran Gerhana di sini

Baca Analisa Posisi Tangan Ketika Shalat Gerhana di sini

Baca Khutbah Nabi saat Gerhana di sini

[1]Misalnya, dalam riwayat al-Bukhari disebutkan dengan urutan sebagai berikut: “Berdoa kepada Allah, bertakbir, salat, dan bersedekah.” (Lihat, Shahih Al-Bukhari, I:354, No. 997) Dalam riwayat Muslim, Ahmad, al-Baihaqi disebutkan dengan urutan sebagai berikut: “Takbir, Berdoa kepada Allah, salat, dan bersedekah.” (Lihat, Shahih Muslim, II:618, No. 901, Musnad Ahmad, VI:164, No. 25.351, As-Sunan al-Kubra, III:340, No. 6157). Sementara dalam riwayat Ibnu Khuzaimah disebutkan dengan urutan sebagai berikut: “Salat, dzikir kepada Allah, berdoa kepada Allah, dan bersedekah.” (Lihat, Shahih Ibnu Khuzaimah, II:329, No. 1400)

[2]Misalnya, satu versi menyebutkan: berdzikirlah kepada Allah, tanpa perintah berdoa. (Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, I:357, No. 1004, III:1171, No. 3030; Muslim, Shahih Muslim, II:626, No. 907; Ahmad, Musnad Ahmad, VI:354, No. 27.037; al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, III:321, No. 6096. Versi lain menyebutkan perintah berdoa, tanpa berdzikir kepada Allah. (Lihat, HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I:310, No. 1191; al-Hakim, al-Mustadrak ‘Alaa ash-Shahihain, I:480, No. 1234. Sementara versi ketiga menyebutkan: berdzikirlah kepada Allah dan berdoa. (Lihat, HR. Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, II:328, No. 1400; Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, 24:90, No. 240)

[3]HR. Muslim, Shahih Muslim, II : 269, Al Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, III : 332, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, I : 264

[4]HR. Ath-Thahawi, Syarh Ma’ani al-Atsar, I:331, dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, III:325, No. 6.111

[5]Dewan Hisbah PP Persis, pada sidangnya di di PC Persis Soreang, 27 Sya’ban  1431 H/8  Agustus  2010 M, setelah menimbang: (1) Terdapat hadis-hadis yang menyatakan bahwa Rasulullah saw. melaksanakan salat ‘Idain dan gerhana secara berjamaah.(2) Tidak adanya hadis yang menjelaskan bahwa Rasulullah saw. melaksanakan salat ‘Idain dan gerhana secara munfarid (sendirian).(3) Belum adanya kesepakatan mengenai salat ‘Idain dan gerhana secara munfarid (sendirian). (4) Adakalanya terjadi masbuk (ketinggalan) dalam salat ‘Idain dan gerhana.(5) Perlu adanya kejelasan dan ketegasan tentang hukum melaksanakan salat ‘Idain dan gerhana secara munfarid (sendirian), serta hukum masbuk dalam salat tersebut, Dewan Hisbah menetapkan hukum: (1) Salat ‘Idain dan gerhana disyariatkan berjamaah.(2) Bagi yang masbuk pada salat Idain dan gerhana berlaku sebagaimana pada salat wajib.

[6]Lihat, Syarah an-Nawawi ‘ala Shahih Muslim, VI:203-204

Lampiran Surat Edaran Gerhana

4 thoughts on “PANDUAN LENGKAP IBADAH GERHANA

    1. Terima kasih atas komentarnya. Bacaan atau do’a untuk memanjangkan ruku’ adalah do’a ketika ruku’ yang diulang-ulang. Misalkan, bisa sampai 20, 15, 10 dsb. Ini juga sesuai dengan hadis Nabi yang menganjurkan kita memperbanyak mengagungkan Allah dalam ruku’ dan juga memperbanyak do’a dalam sujud. Terima kasih.

  1. ustadz, ana minta tolong dijelaskan lebih rinci terkait (1) berdo’a dengan mengangkat tangan saat gerhana (2) memanjangkan bacaan duduk diantara dua sujud. hatur nuhun…

    1. 1. Terkait mengangkat tangan ketika berdo’a, terjemah hadisnya seperti ini:
      Dari Abdurrahman bin Samurah, ia mengatakan,’Ketika saya sedang main lempar panah pada masa Rasulullah Saw. tiba-tiba terjadi gerhana matahari, lalu saya meninggalkanya dan saya berkata,’Saya akan melihat apa yang dilakukan oleh Rasulullah Saw. ketika terjadi gerhana pada hari itu. Kemudian saya menjumpai beliau, pada saat itu Rasulullah Saw. sedang mengangkat kedua tanganya berdoa, bertakbir, bertahmid, dan bertahlil sampai terang kembali. Maka beliau membaca dua surat dan salat dua rakaat”. (H.R. Muslim Juz II Hal 269, Abu Daud, Juz I : 264, Al-Baihaqi, Juz III Hal 332). Di sini ada syariat mengangkat tangan ketika berdo’a pada saat terjadi gerhana.
      2. Memanjangkan bacaan pada saat duduk, rukuk dan sujud. Yang dimaksud adalah bahwa Nabi ketika melakukan rukuk, sujud dan duduk di shalat gerhana, rentang waktunya tidak seperti ketika shalat biasa. Dan hal ini bisa kita lakukan dengan cara membaca do’a dalam rukuk berulang-ulang, misal 10 kali. Begitu pula dalam sujud dan duduk antara dua sujud. Terimakasih atas komentarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *