NILAI KEAGUNGAN 9 DZULHIJJAH

Pada bulan Dzulhijjah terdapat salah satu di antara sepuluh hari pertama yang dinilai istimewa oleh Allah Swt. Hari yang dimaksud jatuh pada tanggal 9 Dzulhijjah, dan lebih popular dengan sebutan hari Arafah. Nilai keistimewaan hari itu telah dinyatakan oleh Nabi saw. melalui berbagai sabdanya. Tulisan ini sebagai salah satu usaha menyelami berbagai keistimewaan hari tersebut.

Penamaan 9 Dzulhijjah dengan Arafah

Imam Ibnu Abidin menjelaskan:

عَرَفَةُ إِسْمُ اليَوْمِ وَعَرَفَاتٌ إِسْمُ المَكَانِ

“Arafah adalah nama hari (ismul yaum) dan Arafaat adalah nama tempat (ismul makan). [1]

Menurut Imam ar-Raghib, al-Baghawi, dan al-Kirmani, Arafah adalah

إِسْمٌ لِلْيَوْمِ التَّاسِعِ مِنْ ذِي الحِجَّةِ

Nama hari ke-9 dari bulan Dzulhijjah. [2]

Hari tersebut dinamakan Arafah berkaitan dengan peristiwa mimpinya Nabi Ibrahim yang diperintah untuk menyembelih anaknya. Pada pagi harinya, Ibrahim mengetahui bahwa mimpi itu benar-benar (datang) dari Allah

فَسُمِّيَ يَوْمَ عَرَفَةَ

“Maka (hari itu) dinamakan hari Arafah. [3]

Sementara Arafaat (عَرَفَات) bentuk jamak dari ‘Arafah, menurut Imam al-‘Aini dan ar-Raghib, adalah

عَلَمٌ لِهذَا المَكَانِ المَخْصُوْصِ

Nama bagi tempat yang khusus ini. [4]

Adapun tempat tersebut dinamakan Arafat berkaitan dengan peristiwa pertemuan antara Nabi Adam dan Hawa ditempat itu, sebagaimana dijelaskan Ibnu Abas:

وَتَعَارَفَا بِعَرَفَاتٍ فَلِذلِكَ سُمِّيَتْ عَرَفَاتٍ

Dan keduanya ta’aruf di Arafat, karena itu dinamai ‘Arafat.[5]

Keterangan Ibnu Abas itu dijadikan pinjakan oleh para ulama generasi selanjutnhya, antara lain Yaqut bin Abdullah al-Hamuwi,[6] Ahmad bin Yahya bin al-Murtadha, [7] dan ar-Raghib al-Ashfahani.[8]

Meski demikian, untuk menunjuk tempat yang dimaksud terkadang digunakan pula kata ‘Arafah, dalam bentuk kata tunggal (mufrad). Penggunaan kata ‘Arafah (tunggal), untuk makna tempat, bukanlah bahasa orang Arab tulen. Karena itu Imam al-Jauhari (w. 393 H) mengatakan:

وَعَرَفَاتٌ: مَوْضِعٌ بِمِنًى وَهُوَ إِسْمٌ فِي لَفْظِ الْجَمْعِ فَلاَ يُجْمَعُ. قَالَ الْفَرَّاءُ وَلاَ وَاحِدَ لَهُ بِصِحَّةٍ وَقَوْلُ النَّاسِ نَزَلْنَا عَرَفَةَ شَبِيهٌ بمُوَلَّدٍ وَلَيْسَ بِعَرَبيٍّ مَحْضٍ

“Arafat adalah tempat di Mina, ia nama dalam lafal jamak, maka tidak dijamakkan. Al-Farra berkata, kata Arafat sebenarnya tidak memiliki kata tunggal, sedangkan perkataan orang-orang: ‘Kami singgah di Arafah” adalah serupa dengan bahasa peranakan Arab, bukan bahasa orang Arab tulen.”[9]

Penjelasan Imam al-Jauhari itu dikukuhkan pula oleh Zainuddin Abu Abdullah Muhammad bin Abu Bakar bin Abdul Qadir ar-Razi (w. 666 H). [10]

Keterangan pakar bahasa di atas menunjukkan bahwa kata ‘Arafah mengalami “perkembangan makna”, dari “makna tunggal: “nama waktu (isim zaman)”, menjadi dwi makna:  “nama waktu (isim zaman)” dan  “nama tempat (isim makaan)”.

Karena itu, untuk menentukan salah satu makna yang dimaksud (waktu atau tempat) diperlukan indikator (qarinah). Hal ini berbeda dengan penggunaan kata ‘Arafat (bentuk kata jamak), karena sudah pasti menunjukkan “nama tempat”.

Secara praktik, penggunaan kata itu dapat kita telusuri dari sejumlah riwayat, baik berasal dari Nabi (marfu’) maupun shahabat (mauquf). Sebut saja dalam al-Kutub as-Sittah[11] (tujuh kitab hadis yang standar), kita temukan penggunaan kata ‘Arafah sekitar 262 kali. Sementara penggunaan kata Arafat, sebagai nama tempat, ditemukan sekitar 47 kali. Penggunaan kata ‘Arafah dapat disampaikan contoh hadis berikut ini:

عَنْ كُرَيْبٍ مَوْلَى ابْنِ عَبَّاسٍ عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ أَنَّهُ سَمِعَهُ يَقُولُ دَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ عَرَفَةَ حَتَّى إِذَا كَانَ بِالشِّعْبِ نَزَلَ فَبَالَ ثُمَّ تَوَضَّأَ …

“Dari Kuraib Mawla Ibnu Abbas, dari Usamah bin Zaid, bahwa ia (Kuraib) mendengarnya (Usamah) berkata, “Rasulullah saw. Kembali dari ‘Arafah, hingga ketika berada di Syi’ib, beliau singgah lalu kencing, kemudian berwudhu…”HR. Al-Bukhari.[12]

Pada hadis di atas terdapat penggunaan kata ‘Arafah (bentuk tunggal). Kata Imam al-‘Aini (w. 855 H/1451 H):

دَفَعَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مِنْ عَرَفَةَ أَيْ رَجَعَ مِنْ وُقُوْفِ عَرَفَةَ بِعَرَفَاتٍ لِأَنَّا قُلْنَا أَنَّ عَرَفَةَ إِسْمُ الْيَوْمِ التَّاسِعِ مِنْ ذِيْ الْحِجَّةِ فَحِيْنَئِذٍ يَكُوْنُ الْمُضَافُ فِيْهِ مَحْذُوْفًا وَعَلَى قَوْلِ مَنْ يَقُوْلُ أَنَّ عَرَفَةَ إِسْمٌ لِلْمَكَانِ أَيْضًا لاَ حَاجَةَ إِلَى التَّقْدِيْرِ وَقَدْ مَرَّ أَنَّهُ لُغَةٌ بَلَدِيَّةٌ

“Rasulullah saw. bertolak dari Arafah, yaitu beliau kembali dari wukuf hari Arafah di Arafat, karena kami berpendapat bahwa Arafah adalah nama hari ke-9 bulan Dzulhijjah. Karena itu, kata yang disandarkan (wuquuf) tidak disebut. Sementara berdasar pendapat bahwa Arafah juga nama tempat tidak perlu penetapan (kata yang tidak disebut), dan sungguh telah berlalu bahwa kata itu adalah bahasa kedaerahan.” [13]

Penjelasan senada juga disampaikan Imam al-Qashthalani (w. 923 H) [14] dan Imam az-Zarqani (w. 1122 H). [15]

Setelah dianalisa, baik dari sisi asal muasal kata maupun latar belakang penamaannya, maka dapat diambil kesimpulan bahwa:

  • Penamaan Arafah, baik sebagai nama hari (ismul yaum) maupun nama tempat (ismul makaan), sudah digunakan sebelum disyariatkan ibadah haji.
  • Penamaan hari ke-9 Dzulhijjah dengan Arafah bukan karena pelaksanaan wukuf dalam ibadah haji (fi’lun). Dengan perkataan lain, fi’lun (wukuf dalam ibadah haji) bukan sebab dan syarat penamaan hari

Di balik Keagungan Hari Arafah

Keagungan hari Arafah dapat diketahui dari hadis umum yang menerangkan sepuluh hari pertama bulan Dzulhijjah (Ayyaam al-‘Asyr), maupun dari hadis khusus yang berkenaan dengan hari Arafah. Hadis umum yang dimaksud adalah sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ عَنِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهُ قَالَ مَا الْعَمَلُ فِي أَيَّامِ الْعَشْرِ أَفْضَلَ مِنَ الْعَمَلِ فِي هَذِهِ قَالُوا وَلاَ الْجِهَادُ قَالَ وَلاَ الْجِهَادُ إِلاَّ رَجُلٌ خَرَجَ يُخَاطِرُ بِنَفْسِهِ وَمَالِهِ فَلَمْ يَرْجِعْ بِشَيْءٍ

Dari Ibnu Abbas, dari Nabi saw. bahwa beliau bersabda, Tidak ada amal pada hari-hari sepuluh yang lebih utama daripada hari-hari ini (10 hari awal Dzulhijjah).” Para sahabat bertanya, ‘(apakah) jihad fi Sabilillah juga tidak termasuk? Rasul menjawab, ‘Tidak pula jihad, kecuali seseorang yang berkorban dengan jiwa dan hartanya, lalu dia tidak mengharapkan apapun dari hal itu.” HR. Al-Bukhari, At-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, Ahmad, Ad-Darimi, Ibnu Abi Syaibah, Abdurrazaq, Abu Dawud Ath-Thayalisi, al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, Ibnu Hiban, Ath-Thabrani, dengan perbedaan redaksi. Redaksi di atas versi al-Bukhari. [16]

Para ulama mengomentari hadis di atas, antara lain Imam Al-‘Ainiy berkata:

فِيْهِ تَعْظِيْمُ قَدْرِ الْجِهَادِ وَتَفَاوُتُ دَرَجَاتِهِ وَأَنَّ الْغَايَةَ الْقُصْوَى فِيْهِ بَذْلُ النَّفْسِ لِلّهِ تَعَالَى وَفِيْهِ تَفْضِيْلُ بَعْضِ الْأَزْمِنَةِ عَلَى بَعْضٍ كَالْأَمْكِنَةِ وَفَضْلُ أَيَّامِ عَشْرِ ذِيْ الْحِجَّةِ عَلَى غَيْرِهَا مِنْ أَيَّامِ السَّنَةِ وَتَظْهَرُ فَائِدَةُ ذَلِكَ فِيْمَنْ نَذَرَ الصِّيَامَ أَوْ عَلَّقَ عَمَلًا مِنَ الْأَعْمَالِ بِأَفْضَلِ الْأَيَّامِ فَلَوْ أَفْرَدَ يَوْمًا مِنْهَا تَعَيَّنْ يَوْمَ عَرَفَةَ لِأَنَّهُ عَلَى الصَّحِيْحِ أَفْضَلُ أَيَّامِ الْعَشْرِ

“Pada hadis itu terdapat petunjuk: (1) pengagungan kadar jihad dan perbedaan derajatnya dan sesungguhnya tujuan akhir dalam jihad adalah mencurahkan diri karena Allah Ta’ala; (2) pengutamaan sebagian waktu di atas yang lain, seperti halnya pengutamaan sebagian tempat, dan keutamaan sepuluh hari Dzulhijjah di atas hari-hari lain dalam satu tahun, dan faidah itu tampak jelas terlihat pada orang yang bernazar shaum atau menghubungan suatu amal dengan hari paling utama. Karena itu, sekiranya ia memisahkan (memilih) suatu hari dari hari-hari itu, maka tentukanlah hari Arafah, karena hari itu—berdasarkan pendapat yang benar—adalah hari teragung di antara sepuluh hari Dzulhijjah.” [17]

Sedangkan dalam hadis khusus, keagungan Hari Arafah dinyatakan lebih tegas oleh Nabi saw. dalam sabdanya:

مَا مِنْ يَوْمٍ أَكْثَرَ مِنْ أَنْ يَعْتِقَ اللهُ عَبْدًا مِنَ النَّارِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ وَإِنَّهُ لَيَدْنُو ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ المَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

“Tiada hari yang Allah lebih  banyak membebaskan hamba-Nya dari neraka melebihi hari Arafah, dan sesungguhnya Allah akan mendekat, lalu Allah merasa bangga  dengan mereka di hadapan para malaikat, lalu Allah berfirman, ‘Apa gerangan yang diinginkan mereka?’.” HR. Muslim, an-Nasai, Ibnu Majah, ad-Daraquthni, al-Baihaqi, Ibnu Khuzaimah, dan al-Hakim. [18]

فِيْهِ : فَضْلُ يَوْمَ عَرَفَةَ وَأَنَّهُ يُرْجَى فِيْهِ اسْتِجَابَةُ الدُّعَاءِ وَغُفْرَانُ الذُّنُوْبِ

“Pada hadis itu terdapat petunjuk akan keutamaan hari Arafah, dan pada hari itu diharapkan ijabah doa dan pengampunan dosa.”[19]

Pemaknaan “Allah mendekat (yadnuu)”

Para ulama menjelaskan beragam makna “Allah mendekat (yadnuu)” pada hari Arafah. Sebagian memaknainya dengan “mendekat rahmat dan karamah Allah”. Ada pula yang menjelaskan bahwa maksudnya “Para malaikat turun ke langit atau bumi membawa rahmat”. Namun tidak sedikit yang memaknainya bahwa “Allah turun ke langit dunia”.

Beragam pemaknaan ini diungkap oleh Imam An-Nawawi, dengan merujuk penjelasan sejumlah ulama, sebagai berikut:

قَالَ الْقَاضِي عِيَاضٌ: قَالَ الْمَازِرِيُّ: مَعْنَى (يَدْنُوْ) فِي هَذَا الْحَدِيْثِ: أَيْ تَدْنُوْ رَحْمَتُهُ وَكَرَامَتُهُ، لَا دُنُوَّ مَسَافَةٍ وَمُمَاسَّةٍ. قَالَ الْقَاضِي: يُتَأَوَّلُ فِيْهِ مَا سَبَقَ فِي حَدِيْثِ النُّزُوْلِ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، كَمَا جَاءَ فِي الْحَدِيْثِ الْآخَرِ مِنْ غَيْظِ الشَّيْطَانِ يَوْمَ عَرَفَةَ لِمَا يَرَى مِنْ تَنَزُّلِ الرَّحْمَةِ، قَالَ الْقَاضِي: وَقَدْ يُرِيْدُ دُنُوَّ الْمَلَائِكَةِ إِلَى الْأَرْضِ أَوْ إِلَى السَّمَاءِ بِمَا يَنْزِلُ مَعَهُمْ مِنَ الرَّحْمَةِ وَمُبَاهَاةَ الْمَلَائِكَةِ بِهِمْ عَنْ أَمْرِهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى، قَالَ: وَقَدْ وَقَعَ الْحَدِيْثُ فِي صَحِيْحِ مُسْلِمٍ مُخْتَصَرًا، وَذَكَرَهُ عَبْدُ الرَّزَّاقِ فِي مُسْنَدِهِ مِنْ رِوَايَةِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ: إِنَّ اللّهَ يَنْزِلُ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا فَيُبَاهِيْ بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ يَقُوْلُ: هَؤُلَاءِ عِبَادِيْ جَاؤُوْنِيْ شُعْثًا غُبْرًا يَرْجُوْنَ رَحْمَتِيْ وَيَخَافُوْنَ عَذَابِيْ وَلَمْ يَرَوْنِيْ، فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْنِيْ؟ وَذَكَرَ بَاقِيَ الْحَدِيْثِ

“Al-Qadhi Iyadh berkata, ‘Al-Maziri berkata, ‘Arti yadnuu (mendekat) pada hadis ini, yaitu mendekat Rahmat dan Karamah-Nya, bukan mendekat jarak dan menyentuh. Al-Qadhi berkata, ‘Pada kata itu ditakwil dengan makna yang telah lewat dalam hadis turun ke langit dunia, sebagaimana diterangkan pula dalam hadis lain, ‘Setan murka pada hari Arafah karena melihat turunnya rahmat.’ Al-Qadhi berkata, ‘Dan terkadang maksudnya para malaikat mendekat ke bumi atau langit membawa rahmat dan para malaikat bangga dengan mereka dari perintah Allah Swt.’ Ia berkata, ‘Dan hadis itu berada pada shahih Muslim secara ringkas, dan Abdurrazaq menyebutkannya dalam musnadnya dari riwayat Ibnu Umar, ia berkata, ‘Sesungguhnya Allah akan turun ke langit dunia, maka Allah merasa bangga dengan mereka di hadapan para malaikat, Allah berfirman, ‘Mereka itu adalah hamba-Ku yang datang kepadaku dengan rambut kusut lagi berdebu mengharapkan rahmat-Ku dan takut akan azab-Ku, padahal mereka tidak melihat-Ku, maka bagaimana sekiranya mereka melihat-Ku? Dan ia menyebutkan sisa hadis itu.”[20]

Pemaknaan “Allah merasa bangga dengan mereka”

Maksud ungkapan:

ثُمَّ يُبَاهِي بِهِمُ المَلاَئِكَةَ فَيَقُولُ: مَا أَرَادَ هَؤُلاَءِ ؟

“lalu Allah merasa bangga dengan mereka di hadapan para malaikat, lalu Allah berfirman, ‘Apa gerangan yang diinginkan mereka?’.”

Dijelaskan oleh para ulama, antara lain Syekh Abul Abbas Ahmad bin Umar Al-Anshari Al-Qurthubi berkata:

قَوْلُهُ: (ثُمَّ يُبَاهِيْ بِهِمُ الْمَلَائِكَةَ)؛ أَيْ: يُثْنِيْ عَلَيْهِمْ عِنْدَهُمْ، وَيُعَظِّمُهُمْ بِحَضْرَتِهِمْ، كَمَا قَالَ فِي الْحَدِيْثِ الْآخَرِ: يَقُوْلُ لِلْمَلَائِكَةِ: (اُنْظُرُوْا إِلَى عِبَادِيْ جَاؤُوْنِي شُعْثًا غُبْرًا، أَشْهَدُكُمْ أَنِّيْ قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ)…

“Perkataanya: ‘lalu Allah merasa bangga dengan mereka kepada para malaikat.’ Yaitu Allah memuji mereka di sisi para malaikat dan mengagungkannya di hadapan mereka, sebagaimana sabda beliau pada hadis lain: ‘Allah berfirman kepada para malaikat, ‘Perhatikanlah hamba-hamba-Ku, mereka mendatangi-Ku dengan rambut kusut lagi berdebu, Aku bersaksi di hadapan kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka…”

وَقَوْلُهُ: مَا أَرَادَ هَؤُلَاءِ؛ أَيْ: إِنَّمَا حَمَلَهُمْ عَلَى ذَلِكَ، حَتَّى خَرَجُوْا عَنْ أَوْطَانِهِمْ، وَفَارَقُوْا أَهْلِيْهِمْ وَلَذَّاتِهِمْ، اِبْتِغَاءُ مَرْضَاتِيْ، وَامْتِثَالُ أَمْرِيْ. والله أعلم.

“Perkataanya: ‘lalu Allah berfirman, ‘Apa gerangan yang diinginkan mereka?’ Yaitu, yang membawa mereka pada yang demikian itu, sehingga pergi dari negeri-negeri mereka, meninggalkan keluarga dan berbagai kelezatan mereka, tiada lain mengharap keridhaan-Ku dan mengerjakan perintah-Ku.” [21]

Hadis dan berbagai penjelasan ulama di atas menunjukkan keutaman hari Arafah dan keutamaan orang yang wukuf di Arafah dalam pelaksanaan ibadah haji. Sementara bagi kaum muslim yang tidak beribadah haji, keutamaan ini dapat diperoleh melalui beberapa amal shalih lainnya, sebagai berikut:

Pertama, pelaksanaan shaum 9 Dzulhijjah, yang disebut Shaum Arafah, sebagaimana disabdakan Nabi saw. berikut ini:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ يُكَفِّرُ سَنَتَيْنِ مَاضِيَةً وَمُسْتَقْبِلَةً ، وَصَوْمُ عَاشُوْرَاءَ يُكَفِّرُ سَنَةً

“Shaum Hari Arafah itu akan mengkifarati (menghapus dosa) dua tahun, yaitu setahun yang telah lalu dan setahun kemudian. Sedangkan shaum Asyura akan mengkifarati setahun yang lalu.” HR. Al-Jama’ah kecuali Al-Bukhari dan At-Tirmidzi, dari Abu Qtadah. [22] Dalam riwayat Muslim dengan redaksi:

صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللّهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِي قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِي بَعْدَهُ

“Shaum Hari Arafah, yang aku harap dari Allah,  akan mengkifarati (menghapus dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya.” [23]

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ath-Thabrani dari Sahabat Zaid bin Arqam, Sahl bin Saad, Qatadah bin Nu’man, Ibnu Umar, dan Abu Sa’id Al-Khudriy. Dalam versi Abu Sa’id Al-Khudriy dengan redaksi:

صَوْمُ يَوْمِ عَرَفَةَ كَفَّارَةُ السَّنَةِ المَاضِيَةِ وَالسَّنَةِ المُسْتَقْبِلَةِ

“Shaum Arafah itu merupakan kifarat tahun yang telah lalu dan tahun yang akan datang.” HR. Ath-Thabrani. [24]

Terhadap hadis keutamaan shaum Arafah di atas, para ulama memberikan komentar, antara lain sebagai berikut:

Mengenai jenis dosa dimaksud, Imam An-Nawawi berkata:

مَعْنَاهُ: يُكَفِّرُ ذُنُوْبَ صَائِمِهِ فِي السَّنَتَيْنِ، قَالُوْا: وَالْمُرَادُ بِهَا الصَّغَائِرُ، وَسَبَقَ بَيَانُ مِثْلِ هَذَا فِي تَكْفِيْرِ الْخَطَايَا بِالْوُضُوءِ، وَذَكَرْنَا هُنَاكَ أَنَّهُ إِنْ لَمْ تَكُنْ صَغَائِرُ يُرْجَى التَّخْفِيْفُ مِنَ الْكَبَائِرِ، فَإِنْ لَمْ يَكُنْ رُفِعَتْ دَرَجَاتٌ

“Artinya, menghapus dosa orang yang shaum dalam dua tahun. Mereka berkata, ‘Yang dimaksud dengan dosa (pada hadis ini) adalah dosa-dosa kecil.’ Keterangan semisal ini telah disampaikan sebelumnya pada penghapusan dosa kesalahan dengan wudhu, dan telah kami terangkan di sana bahwa jika bukan dosa-dosa kecil (maksudnya) diharapkan peringanan dari dosa-dosa besar. Maka jika bukan peringanan, (maksudnya) diangkat beberapa derajat.” [25]

Mengenai penghapusan dosa masa mendatang, Imam Al-‘Aini berkata:

فَإِنْ قُلْتَ تَكْفِيْرُ الذُّنُوْبِ الْمَاضِيَةِ بِالْحَسَنَاتِ وَبِالتَّوْبَةِ وَبِتَجَاوُزِ اللهِ تَعَالَى فَكَيْفَ يُعْقَلُ تَكْفِيْرُ الذَّنْبِ قَبْلَ وُقُوْعِهِ قُلْتُ اَلْمُرَادُ عَدَمُ الْمُؤَاخَذَةِ بِهِ إِذَا وَقَعَ وَمِنْهُ مَا وَرَدَ فِي مَغْفِرَةِ مَا تَقَدَّمَ مِنَ الذَّنْبِ وَمَا تَأَخَّرَ وَمِنْهُ حَدِيْثُ أَبِيْ قَتَادَةَ فِي (صَحِيْحِ مُسْلِمٍ) صِيَامُ يَوْمِ عَرَفَةَ أَحْتَسِبُ عَلَى اللهِ أَنْ يُكَفِّرَ السَّنَةَ الَّتِيْ قَبْلَهُ وَالسَّنَةَ الَّتِيْ بَعْدَهُ

“Jika Anda bertanya, ‘Penghapusan dosa tahun lalu dengan berbagai kebaikan, taubat, dan ampunan Allah Ta’ala, maka bagaimana akan dimengerti penghapusan dosa sebelum kejadiannya (tahun mendatang)?’ Saya jawab, ‘Yang dimaksud adalah tidak disiksa karena dosa apabila terjadi (di tahun depan), dan darinya diambil pengertian keterangan tentang mengampuni dosa yang telah lalu dan akan datang. Dan darinya pula diambil pengertian hadis Abu Qatadah dalam Shahih Muslim: ‘Shaum Hari Arafah, yang aku harap dari Allah, akan mengkifarati (menghapus dosa) setahun sebelumnya dan setahun sesudahnya’.” [26]

Pada hadis itu terdapat petunjuk keutamaan shaum Arafah dibandingkan dengan shaum Asyura dilihat dari penghapusan dosa. Sehubungan dengan itu, Imam Abdurra’uf Al-Munawi berkata:

لِأَنَّ يَوْمَ عَرَفَةَ سُنَّةُ الْمُصْطَفَى صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ وَيَوْمَ عَاشُوْرَاءَ سُنَّةُ مُوْسَى فَجُعِلَ سُنَّةُ نَبِيِّنَا صلى الله عليه وعلى آله وسلم تُضَاعَفُ عَلَى سُنَّةِ مُوْسَى فِي الْأَجْرِ

“Karena hari Arafah adalah syariat Nabi Muhammad saw. sedangkan hari Asyura syariat Nabi Musa As., maka syariat Nabi kita saw. dilipatgandakan pahalanya dibanding syariat Nabi Musa.”[27]

Kedua, takbiran

Pada hari Arafah (9 Dzulhijjah) disyariatkan bertakbir sejak subuh. Takbiran ini terus berlangsung hingga Ashar 13 Dzulhijjah. Ketentuan takbir demikian itu merujuk kepada hadis Nabi saw. berikut ini:

عَنْ جَابِرٍ قَالَ كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُكَبِّرُ يَوْمَ عَرَفَةَ صَلاَةَ الْغَدَاةِ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ

“Dari Jabir, ia berkata, ‘Nabi saw. bertakbir sejak hari Arafah setelah salat shubuh hingga salat Ashar di akhir hari tasyriq (13 Dzulhijjah)’.” HR. Al-Baihaqi. [28]

Dalam riwayat lain disebutkan oleh Ali bin Abu Thalib dan ‘Ammar bin Yasir:

أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَجْهَرُ فِي الْمَكْتُوبَاتِ بِبِسْمِ اللهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ ، وَكَانَ يَقْنُتُ فِي صَلاَةِ الْفَجْرِ ، وَكَانَ يُكَبِّرُ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ صَلاَةَ الْغَدَاةِ ، وَيَقْطَعُهَا صَلاَةَ الْعَصْرِ آخِرَ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.

“Sesungguhnya Nabi saw. menjaharkan basmalah pada shalat-shalat wajib dan beliau berqunut pada shalat shubuh, dan beliau bertakbir sejak hari Arafah setelah salat shubuh dan menghentikannya pada salat Ashar di akhir hari tasyriq.” HR. Al-Hakim dan ad-Daraquthni. [29]

Al-Hakim (w.405 H) berkata:

هَذَا حَدِيثٌ صَحِيحُ الإِسْنَادِ ، وَلاَ أَعْلَمُ فِي رُوَاتِهِ مَنْسُوبًا إِلَى الْجَرْحِ وَقَدْ رُوِيَ فِي الْبَابِ عَنْ جَابِرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ وَغَيْرِهِ ، فَأَمَّا مِنْ فِعْلِ عُمَرَ وَعَلِيٍّ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ عَبَّاسٍ وَعَبْدِ اللهِ بْنِ سَعِيدٍ فَصَحِيحٌ عَنْهُمُ التَّكْبِيرُ مِنْ غَدَاةِ عَرَفَةَ إِلَى آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ

“Ini hadis shahih sanadnya, dan saya tidak mengetahui pada rawi-rawinya nisbat jarah (celaan) dan dalam topic ini telah diriwayatkan dari Jabir bin Abdullah dan lainnya. Adapun amal Umar, Ali, Abdullah bin Abbas, dan Abdullah bin Sa’id maka shahih bersumber dari mereka bertakbir sejak pagi pada hari Arafah hingga akhir hari tasyriq.” [30]

Takbir Iedul Adha seperti pengamalan Nabi saw. di atas dipraktikan pula oleh para shahabat sebagai berikut:

Pertama, Umar bin Khatab

عَنْ عُبَيْدِ بْنِ عُمَيْرٍ ، قَالَ : كَانَ عُمَرُ بْنُ الْخَطَّابِ يُكَبِّرُ بَعْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ مِنْ يَوْمِ عَرَفَةَ إِلَى صَلاَةِ الظُّهْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.

“Dari Ubaid bin Umar, ia berkata, ‘Umar bin Khatab bertakbir setelah shalat shubuh pada hari Arafah hingga shalat Zuhur di akhir hari tasyriq.”HR. Al-Hakim. [31]

Kedua, Ali bin Abu Thalib

عَنْ شَقِيقٍ قَالَ : كَانَ عَلِيٌّ يُكَبِّرُ بَعْدَ صَلاَةِ الْفَجْرِ غَدَاةَ عَرَفَةَ ، ثُمَّ لاَ يَقْطَعُ حَتَّى يُصَلِّيَ الإِمَامُ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ ثُمَّ يُكَبِّرُ بَعْدَ الْعَصْرِ

“Dari Syaqiq, ia berkata, ‘Ali bertakbir setelah shalat shubuh pada pagi hari Arafah kemudian tidak menghentikannya hingga imam shalat di akhir hari tasyriq, lalu bertakbir setelah Ashar.”HR.Al-Hakim dan al-Baihaqi. [32]

Ketiga, Abdullah bin Abbas

أَنَّهُ كَانَ يُكَبِّرُ مِنْ غَدَاةِ عَرَفَةَ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ

“Sesungguhnya Ibnu Abbas, bertakbir sejak pagi pada hari Arafah hingga shalat Ashar di akhir hari tasyriq.” HR.Al-Hakim dan al-Baihaqi. [33]

Keempat, Abdullah bin Mas’ud

عَنْ عُمَيْرِ بْنِ سَعِيدٍ قَالَ : قَدِمَ عَلَيْنَا ابْنُ مَسْعُودٍ فَكَانَ يُكَبِّرُ مِنْ صَلاَةِ الصُّبْحِ يَوْمَ عَرَفَةَ إِلَى صَلاَةِ الْعَصْرِ مِنْ آخِرِ أَيَّامِ التَّشْرِيقِ.

“Dari Umair bin Sa’id, ia berkata, ‘Ibnu Mas’ud datang menemui kami, maka ia bertakbir sejak shalat shubuh pada hari Arafah hingga shalat Ashar di akhir hari tasyriq.” HR. Al-Hakim. [34]

Berbagai keterangan di atas, baik marfu’ (hadis Nabi) maupun mauquf (hadis shahabat) menunjukkan takbiran Iedul Adha dilakukan sejak subuh 9 Dzulhijjah hingga Ashar 13 Dzulhijjah. Karena pada hadis-hadis itu tidak diterangkan teknis pelaksanaanya maka kita dapat mengaturnya sedemikian rupa, baik ketika berkumpul di masjid maupun di rumah masing-masing, karena pada prinsipnya selama lima hari itu (9-13 Dzulhijjah) tidak “kosong” dari gema takbir.  Sunah Rasul pada Iedul Adha ini perlu kita hidupkan kembali saat “ditinggalkan” oleh mayoritas kaum muslimin, khususnya di Indonesia.

Semoga saja kita termasuk orang-orang yang mendapatkan keagungan nilai Arafah melalui pengamalan berbagai ibadah di atas.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1] Lihat, Hasyiah Radd al-Mukhtar, II:192.

[2] Lihat, Hasyiah asy-Syihab ‘Ala Tafsir al-Baidhawi, II:290.

[3] Lihat, al-Mughni, III:58.

[4] Lihat, Umdah al-Qari, I:263. Dalam redaksi ar-Raghib: “buq’ah makhshushah.” [tanah atau daerah yang khusus]. Lihat, al-Mufradat fi Gharib al-Quran, hlm. 969.

[5] Lihat, al-Kamil fii at-Tarikh, I:12.

[6] Lihat, Mu’jam al-Buldan, IV:104.

[7] Lihat, at-Taj al-Madzhab li Ahkam al-Madzhab, II:89.

[8] Lihat, al-Mufradat fi Gharib al-Quran, hlm. 969.

[9] Lihat, Ash-Shihaah Taaj al-Lughah wa Shihaah al-‘Arabiyyah, IV:1401.

[10] Lihat, Mukhtaar ash-Shihaah, I:203.

[11] Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, Sunan Abu Dawud, Sunan at-Tirmidzi, Sunan an-Nasai, Sunan Ibnu Majah, dan Musnad Ahmad.

[12] Lihat, Shahih al-Bukhari, I:65, No. 139.

[13] Lihat, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, II:259

[14] Lihat, Irsyad as-Syari Syarh Shahih al-Bukhari, III:203

[15] Lihat, Syarh az-Zarqani ‘ala Muwatha al-Imam Malik, II:477

[16] Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, I:330, No. 926, At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi,  III: 130, No. 757, Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:325, No. 2438, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah I:551, No. 1727, Ahmad, Musnad Ahmad, I:224, No. 1968, I:339, No. 3139, II:167, No. 6559, Ad-Darimi, Sunan Ad-Darimi, II:41, No. 1773, Ibnu Abi Syaibah, al-Mushannaf, IV:376, No, 8121, Abdurrazaq, al-Mushannaf, IV:228, No. 19.540, Abu Dawud Ath-Thayalisi, al-Musnad, I:344, No. 2631, al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:284, No. 8175, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV:273, No. 2865, Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, II:31, No. 324,  Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, XI:450, No. 12.278, XII:14, No.12.327 & 12.328, XII:48, No. 12.436, al-Mu’jam al-Ausath, VII:9, No. 6696, dengan perbedaan redaksi. Redaksi di atas versi al-Bukhari. Hadis ini diriwayatkan pula oleh (1) Ahmad, Musnad Ahmad, II:162, No. 6505, II:223, No. 7079, Abu Dawud Ath-Thayalisi, al-Musnad, I:301, No. 2283, dari Abdullah bin Amr. (2) Abu Ya’la, al-Musnad, IV:70, No. 2090, dan Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, IX:166, No. 3853, dari Jabir bin Abdullah. (3) Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Kabir, X:200, No. 10.455, dan al-Mu’jam al-Ausath, X:200, No. 10.455. (4) Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:551, No. 1728, dari Abu Huraerah.

[17] Lihat, Umdah Al-Qari Syarh Shahih Al-Bukhari, VI:291

[18] Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, I:982, an-Nasai, as-Sunan al-Kubra, II:420, No. 3996, Sunan an-Nasai, V:251, No. 3003, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:1003, No. 3014, ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, II:301, No. 291, al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, V:118, No. 9263, Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, IV:259, No. 2827, al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, I:636, No. 1705.

[19] Lihat, Tathriiz Riyadh As-Shalihiin, II:199

[20] Lihat, Syarh An-Nawawi ‘Ala Muslim, V:11.

[21] Lihat, Al-Mufhim limaa Asykala Min Talkhish Kitaab Muslim, XI:13.

[22] Redaksi di atas dikutip oleh Syekh Majdudin Ibnu Taimiyyah dalam kitabnya, Muntaqa Al-Akhbar dan Syarhnya oleh Imam Asy-Syawkani dalam Nail Al-Awthar. Lihat, Bustan Al-Ahbar Mukhtashar Nail Al-Awthar, II:250. Bandingkan dengan redaksi aslinya dalam Ahmad, Musnad Ahmad, XXXVII:222, No. hadis 22.535,  An-Nasai, As-Sunan Al-Kubra, II:150, No. hadis 2796, Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, II:340, 343.

[23] Lihat, Shahih Muslim, I:520.

[24] Lihat, Al-Mu’jam Al-Awsath, III:45, No. hadis 2086. Bandingkan dengan Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Awsath, VI:300, No. hadis 5642.

[25] Lihat, Syarh An-Nawawi ‘Ala Muslim, IV:179.

[26] Lihat, Umdah Al-Qari Syarah Shahih Al-Bukhari, VI:176.

[27] Lihat, Faidh Al-Qadir Syarh al-Jami’ ash-Shagir, IV:211

[28]Lihat, as-Sunan al-Kubra, III:312, No. 6501

[29]Lihat, HR. Al-Hakim, al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I:439, No. 1111,  ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, II:49, No. 26

[30]Lihat, HR. Al-Hakim, al-Mustadrak ‘Ala ash-Shahihain, I:439, No. 1111,  ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, II:49, No. 26

[31]Lihat, HR. Al-Hakim, al-Mustadrak, I:439, No. 1112.

[32]Lihat, HR. Al-Hakim, al-Mustadrak, I:440, No. 1113, as-Sunan al-Kubra, III:314, No. 6069

[33]Lihat, HR. Al-Hakim, al-Mustadrak, I:440, No. 1114, as-Sunan al-Kubra, III:314, No. 6070

[34]Lihat, HR. Al-Hakim, al-Mustadrak, I:440, No. 1115.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *