Neraca Dagang RI Mengecewakan, Di Mana Masalahnya?

Jakarta – Defisit neraca perdagangan April 2018 menjadi yang terburuk sejak 2014. Pemerintah Indonesia harus berbenah agar upaya memacu pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi tak melulu dibarengi dengan lonjakan pertumbuhan impor.

Ekonom Universitas Indonesia Fithra Faisal Hastadi menilai, memperluas produk ekspor non migas Indonesia ke pasar baru menjadi pekerjaan penting bagi pemangku kepentingan ke depan. Indonesia, kata dia, tak bisa lagi mengandalkan negara-negara yang ssudah ada.

“Kekurangan kita selama ini adalah kurang agresif membuka pasar baru, jadi hanya mengandalkan pasar tradisional seperti AS dan China,” kata Fithra saat berbincang dengan CNBC Indonesia, Selasa (15/5/2018).

Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), pangsa pasar ekspor non migas Indonesia masih didominasi oleh tiga negara yaitu AS, China, dan Jepang. Selama periode Januari – April 2018, ketiga negara tersebut memegang hampir separuh pangsa ekspor non migas domestik.

Selain itu. sambung Fithra, adalah persalan struktural. Menurut dia, masalah deindustrialisasi yang dialami Indonesia sudah mengakar. Tidak cukup dalam waktu singkat, untuk menggeliatkan kembali industri dalam negeri.

“Produksi kita juga terbatas, karean kita mengalami deindustrialisasi. Ini persoalannya lebih kepada kinerja industri itu sendiri,” katanya.

Ekonom Bank BCA David Sumual menyebut, belum pulihnya industri manufaktur menjadi penyebab ekspor dalam beberapa bulan terakhir kurang bergairah. Pemerintah maupun regulator lainnya, perlu mencermati hal ini secara serius.

“Proses transisi manufaktur masih lambat dan lemah. Masalah kita bertahun-tahun masih itu-itu saja, struktural,” jelasnya.

sigabah.com | cnbcindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *