MUNGKINKAH SYI’AH & SUNNAH BERSATU? (Bagian Ke-4)

Celaan Syi’ah Kepada Sahabat Nabi

Al-Jibt & At-Thaghut: Abu Bakar & Umar

Kaum Syi’ah senantiasa mengutuk sahabat Abu Bakar, Umar dan Usman radhiyallaahu ‘anhum dan setiap orang yang menjadi penguasa dalam sejarah Islam selain sahabat Ali bin Abi Thalib radhiyallaahu ‘anhu. Sungguh mereka telah berdusta atas nama Imam Abul Hasan Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa, bahwa beliau telah membenarkan para pengikutnya menjuluki Abu Bakar dan Umar dengan sebutan Al-Jibt & At-Thaghut (Al-Jibt & At-Thaghut ialah segala sesuatu yang disembah atau menjadikan manusia menyeleweng dari agama Allah. -pent).

1Disebutkan dalam kitab Al-Jarh wa At-Ta’dil (salah satu disiplin ilmu hadis yang membahas tentang kredibilitas dan biografi para perawi hadis dan tarikh. -pent) terbesar dan terlengkap yang mereka miliki, yaitu Tanqiih Al-Maqaal Fi Ahwaal Ar-Rijaal[1] karya pemimpin sekte Ja’fariyyah Ayatullah Al Mamaqani, pada juz 1 hlm. 207, edisi Pustaka Al Murtadhowiyyah, Najf tahun 1352 H., terdapat suatu kisah yang dinukilkan oleh Syaikh besar Muhammad Idris Al-Hilli, pada akhir kitab “As Sara’ir” dari kitab “Masa’il Ar-Rijal Wa Mukatabaatihim” kepada Maulana Abil Hasan Ali bin Muhammad bin Ali bin Musa ‘alaihissalaam dari sebagian pertanyaan Muhammad bin Ali bin ‘Isa, ia berkata, “Aku menulis surat kepadanya menanyakan perihal seseorang yang memusuhi keluarga Nabi, apakah ketika mengujinya diperlukan kepada hal-hal lain selain sikapnya yang lebih mendahulukan Al-Jibt & At-Thaghut? Maksudnya ia mendahulukan dua orang pemimpin dan sekaligus dua sahabat Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam  dan dua pembantu kepercayaan beliau, yaitu Abu Bakar dan Umar radhiyallaahu ‘anhumaa. Kemudian jawabannya datang sebagai berikut, ‘Barang siapa yang meyakini hal ini, maka ia adalah seorang yang memusuhi keluarga Nabi.’ Maksudnya, cukup bagi seseorang untuk disebut sebagai orang yang memusuhi keluarga Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, bila ia mendahulukan Abu Bakar dan Umar (dibanding sahabat Ali bin Abi Thalib) dan meyakini keabsahan kepemimpinan mereka berdua.

2Kata-kata Al-Jibt & At-Thaghut senantiasa digunakan oleh kaum Syi’ah dalam bacaan doa mereka yang disebut dengan Doa Dua Berhala Quraisy (shanamay Quraisy). Yang mereka maksudkan dari dua berhala dan dari kata Al-Jibt & At-Thaghut ialah Abu Bakar dan Umar radhiyallahu ‘anhumaa. Doa ini disebutkan dalam kitab mereka yang berjudul “Mafaatih Jinaan” hlm. 114, kedudukan kitab ini bagaikan kitab “Dalaa’il al-Khairaat” yang telah menyebar luas di tengah-tengah berbagai negeri Islam. Bunyi doa ini sebagai berikut:

“اللهم صل على محمد وعلى آل محمد، والعن صنمي قريش وجبتيهما وطاغوتيهما وابنتيهما..الخ”

“Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, dan kutuklah dua berhala, dua sesembahan, dua tukang sihir Quraisy, dan kedua anak wanita mereka berdua…”!![2]

Yang mereka maksud dengan kedua anak wanita mereka ialah Ummul Mukminin ‘Aisyah dan Ummul Mukminin Hafshah semoga Allah meridhai mereka dan seluruh sahabat.

3Fakta Kebencian Syiah terhadap Abu Bakar dan Umar

 

Hari Pembunuhan Al Faruq Sebagai Hari ‘Ied Terbesar

Kebencian mereka kepada tokoh yang berhasil memadamkan api kaum Majusi di Iran dan yang berhasil mengislamkan nenek moyang penduduknya, yaitu Sayyidina Umar bin Al-Khatthab radhiyallaahu ‘anhu tiada batas, sampai-sampai mereka menamakan pembunuhnya, yaitu Abu Lu’lu’ah Al Majusi—semoga kutukan Allah menimpanya—dengan sebutan Baaba Syuja’uddin (Ayah Sang Pemberani). Ali bin Muzhahir—salah seorang tokoh mereka—meriwayatkan dari Ahmad bin Ishaq Al-Qummi Al-Ahwash, Syaikh kaum Syi’ah dan pemuka mereka, bahwa hari pembunuhan Umar bin Al-Khatthab adalah hari ‘ied terbesar, hari kebesaran, hari pengagungan, hari kesucian terbesar, hari keberkahan, dan hari hiburan.

4Kuburan Abu Lu`luah al-Majusi (Pembunuh Khalifah Umar) yang Dimuliakan di Iran

Dimulai dari sahabat Abu Bakar, Umar—semoga Allah meridhai keduanya—Shalahuddin Al- Ayyuby rahimahullaah dan seluruh tokoh yang telah berhasil menundukkan berbagai dinasti dunia, dan memasukkannya ke pangkuan agama Allah, dan yang telah memerintahnya dengan nama Islam hingga hari kita ini—mereka semua itu menurut ideologi Syi’ah—para penguasa perampas, lalim dan termasuk penghuni neraka, karena kepemimpinan mereka tidak sesuai dengan syariat, sehingga mereka tidak berhak menerima loyal, kepatuhan, dan dukungan dalam kebaikan dari kaum Syi’ah, kecuali sebatas tuntutan penerapan ideologi At-Taqiyyah dan sebatas upaya menarik simpati mereka dan menyembunyikan kebencian kepada mereka.

By Maman Rukmana, diadaptasi dari buku: Mungkinkah Syi’ah & Sunnah Bersatu?” karya Syekh Muhibbuddin terbitan Pustaka Muslim.

 

[1] Dalam terbitan Mu’assasah Ali al-Bayt li Ihyaa at-Turats, tertulis dengan judul Tanqiih Al-Maqaal Fi ‘ilm Ar-Rijaal

[2] Doa ini juga dimuat dalam buku “Tuhfatul ’Awam Maqbul” yang memuat tanda tangan Ayatullah Al-Khumaini, Ayatullah Syariatmudari, Ayatullah Abul Qasim Al-Khu’i, Sayyid Muhsin Al Hakim At Thabathaba’i, dan lain-lain, padahal dari mereka itu terdapat orang-orang yang dikatakan moderat, di antaranya Ayatullah Al-Khu’i dan Sayyid Muhsin Al-Hakim.

4 thoughts on “MUNGKINKAH SYI’AH & SUNNAH BERSATU? (Bagian Ke-4)

  1. Assalaamu Alaikum wr wb
    Ustadz Amin Ana usul dengan usulan yg syadid,!!! untuk kajian sigabah membahas dengan detail tentang syubhat yang sering dijadikan senjata oleh kaum syiah dan susyi yaitu bahwa Imam bukhory dan Muslim mengam,bil riwayat hadist dari rowi yang ditenggari sebagai kaum syiah..sudah banyak bantahan disampaikan tapi ana kira belum jelas dan detail….ana berharap sigabah bisa melengkapi agar umat tidak terombang ambing karena kebodohan…

    hatur nuhun
    Rudy Cijawura

    1. Insyaa Allah, segala usulan akan ditampung dan di lain kesempatan akan kita adakan diskusi langsung dengan pihak terkait agar berbagai informasi yang diterima lebih objektif dan tidak “katanya”. Terima kasih atas usulan syadidnya.

  2. Bismillaah..
    Ustadz untuk mendapat makalah lengkap kajian ustadz terkait fikh adah apakah ada kolom khusus? Terutama pada masalah ketika sujud posisi kaki rapat apa renggang. Dan duduk iftirosy pada sholatdua rokaat.

    1. Sementara bisa di Copas saja di website kami ini terutama di kolom Fiqih. Terimakasih telah berkomentar

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *