MISTERI “BUKU MISTERI” KANG JALAL (Bagian ke-9)

Ramadhan telah usai, saya kira banyak nasehat telah kita dengar selama bulan itu yang layak kita ingat agar tetap melekat dan terlihat dalam ucapan dan perbuatan. Berbekal nasehat itu, mari kita lanjutkan kembali penelusuran misteri “kenakalan” Kang Jalal pada disertasi doktornya, yang telah diterbitkan dengan judul: “MISTERI WASIAT NABI, Asal Usul Sunnah Sahabat Studi Historiografis Atas Tarikh Tasyri’.”

Masih (5 x) di Tabir (3) “Misteri 1”

Tuduhan rafidhah versi Abu Ismail terhadap al-Hakim—yang sengaja dipilih kang Jalal—telah dibungkam oleh para ulama—yang sengaja tidak dipilih kang Jalal—hingga tidak layak dijadikan pijakan dalam menilai al-Hakim sebagai penganut Syiah Rafidhah. Dengan demikian, kang Jalal telah melakukan manipulasi—untuk tidak menyebut: korupsi, seperti digunakan DR. Syiah Vulgar, Babul Ulum—atas nama Abu Ismail (pemilik kalimat) dan al-Shafadi (sebagai informan) saat kang Jalal menyatakan: Gelar Rafidhi dinisbatkan kepadanya karena kejujurannya dalam menyampaikan keutamaan Nabi saw dan keluarganya.”

Sekarang tinggal satu persoalan lagi, mengapa al-Hakim dinilai agak tasyayyu’? Sebelum melacak akar persoalan al-Hakim dinilai tasyayyu’, saya ingin mengingatkan kembali pembaca, kalau-kalau lupa, perbedaan tasyayyu’ dan raafidhiy.

الشِّيْعِيُّ إِذَا قِيْلَ: فِيْهِ تَشَيُّعٌ أَوْ شِيْعِيٌّ فِي عَصْرِ السَّلَفِ هُوَ الَّذِيْ يُقَدِّمُ عَلِيًّا عَلَى عُثْمَانَ فِي الْخِلاَفَةِ أَوْ يُقَدِّمُ عَلِيًّا عَلَى أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ فِي الْفَضْلِ دُوْنَ طَعْنٍ فِي أَحَدٍ مِنَ الصَّحَابَةِ رضي الله عنهم

Asy-Syi’iy apabila dikatakan: ‘Padanya tasyayyu’ atau syi’iy, pada masa salaf, yaitu orang yang mendahulukan kekhalifahan Ali daripada Usman, atau mendahulukan Ali daripada Abu Bakar dan Umar dalam hal keutamaan. Namun tanpa disertai pencelaan pada salah seorang pun di antara sahabat, semoga Allah meridhai mereka. Adapun asy-Raafidhiy adalah orang yang mencela Abu Bakar dan Umar. [1]

Jika kita merujuk kepada fakta sikap al-Hakim terhadap tiga khalifah (Abu Bakar, Umar, Usman), sebagaimana telah disebutkan pada edisi sebelumnya, tampak jelas bahwa penilaian tasyayyu’ terhadap al-Hakim merupakan kasus khusus, sehingga analisa persoalannya tidak dapat menggunakan kriteria tasyayyu’ di atas.

 

Menimbang Penilaian Tasyayyu’ Terhadap al-Hakim

Pada edisi sebelumnya telah disampaikan bahwa al-Khatib al-Baghdadi, yang diikuti oleh adz-Dzahabi dan as-Subki, menilai al-Hakim dengan tasyayyu’, hati-hati bukan raafidhiy yach !!! Apa tasyayyu’ yang dimaksud?

Cover MantsuratKita cermati kembali penilaian Ibnu Thahir terhadap al-Hakim. Ibnu Thahir berkata:

كَانَ شَدِيْدَ التَّعَصُّبِ لِلْشِّيْعَةِ فِي البَاطِنِ وَكَانَ يُظْهِرُ التَّسَنُّنَ فِي التَّقَدِيْمِ وَالخِلاَفَةِ وَكَانَ مُنْحَرِفاً غَالياً عَنْ مُعَاوِيَةَ – رَضِيَ اللهُ عَنْهُ – وَعَنْ أَهْلِ بَيْتِهِ، يَتَظَاهَرُ بِذَلِكَ وَلاَ يَعْتَذِرُ مِنْهُ

“Dia (Al-Hakim) sangat fanatik kepada Syi’ah dalam batinnya dan dia menampakkan tasannun (ke-sunni-an) dalam hal taqdim (pendahuluan shahabat paling utama) dan khilafah. Dia adalah orang yang amat berpaling (menjauh) dari Mu’awiyyah dan keluarganya. Ia memperlihatkan hal itu dan tidak mengemukakan alasannya. [2]

Ibnu Thahir melanjutkan perkataannya:

وَسَمِعْتُ أَبَا الفَتْحِ سَمْكُوَيْهِ الأَصْبَهَانِيَّ بهَرَاةَ يَقُوْلُ سَمِعْتُ عَبْدَ الوَاحِدِ المَلِيْحِيّ يَقُوْلُ سَمِعْتُ أَبَا عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيّ يَقُوْلُ:دَخَلتُ عَلَى الحَاكِمِ أَبِي عَبْدِ اللهِ وَهُوَ فِي دَارِهِ لاَ يُمْكِنُهُ الخُرُوْجُ إِلَى المَسْجَدِ مِنْ جِهَةِ أَصْحَابِ أَبِي عَبْدِ اللهِ بنِ كَرَّامٍ ، وَذَلِكَ أَنَّهُمْ كَسَرُوْا مِنْبَرهُ وَمَنَعُوْهُ مِنَ الخُرُوْجِ فَقُلْتُ لَهُ: لَوْ خَرَجْتَ وَأَمْلَيْتَ فِي فَضَائِلِ هَذَا الرَّجُلِ حَدِيْثاً، لاَسْتَرَحْتَ مِنَ الْمِحْنَةِ. فَقَالَ:لاَ يَجِيْءُ مِنْ قَلْبِي لاَ يَجِيْءُ مِنْ قَلْبِي لاَ يَجِيْءُ مِنْ قَلْبِي

“Saya mendengar Abu al-Fath Samkuwayh al-Asbahani di Herat berkata, ‘Aku mendengar Abdul Wahid Al-Malihiy berkata, ‘Aku mendengar Abu Abdirrahman As-Sulamiy berkata, Aku masuk menemui Al-Hakim Abu Abdillah, dan beliau berada di rumahnya. Beliau tidak dapat keluar menuju Masjid dari arah para sahabat Abu Abdillah bin Karram. Demikian itu karena mereka merusak mimbar beliau dan mencegah beliau keluar, maka aku berkata kepada beliau, Seandainya engkau keluar dan mendiktekan suatu hadis tentang keutamaan orang ini niscaya engkau akan dapat istirahat/bebas dari ujian ini. Namun beliau berkata,Itu tidak datang dari hatiku, tidak datang dari hatiku, tidak datang dari hatiku.

المنتظم في تاريخ الملوك والأممPernyataan Abu Abdirrahman As-Sulamiy dengan perantara Ibnu Thahir di atas dilaporkan oleh Imam adz-Dzahabi (673-748 H/1274-1347 M),[3] Shalahuddin ash-Shafadi (696-764 H/1296-1363 M) ,[4] Tajuddin as-Subki (727-771 H/1327-1370 M)[5] dengan sedikit perbedaan redaksi.

Sementara tanpa perantara Ibnu Thahir dilaporkan pula oleh Ibnu al-Jauzi (508-597 H/1114-1201 M)[6] dan Ibnu Katsir (701-774 H/1302-1373 M).[7]

Perkataan: “keutamaan orang ini yang dimaksud oleh Abu Abdurrahman as-Sulami adalah Mu’awiyah bin Abu Sufyan, sebagaimana tersebut dalam riwayat yang dikutip oleh Ibnu al-Jauzi, dan Ibnu Katsir.

 

Dari perkataan Ibnu Thahir di atas, paling tidak, kita dapatkan dua indikator:

 

Pertama, menurut Ibnu Thahir, Al-Hakim seolah-olah berpura-pura Sunni, secara lahiriah menampakkan sikap taqdiim (mendahulukan Abu Bakar, Umar, dan Usman di atas Ali), tetapi batinnya berkata lain, yaitu ia sangat fanatik terhadap Syi’ah.

Kedua, menurut Ibnu Thahir, Al-Hakim berpaling dari Mu’awiyyah. Alasannya, karena penolakan Al-Hakim ketika diminta untuk mendiktekan suatu hadis tentang keutamaan Mu’awiyyah dengan mengatakan “Itu tidak datang dari hatiku”.

Jika karena dua indikator di atas lantas al-Hakim dituduh Syi’ah rafidhah, seperti disampaikan Abu Ismail dan muridnya, Ibnu Thahir, maka tuduhan itu telah dibungkam oleh para ulama, antara Imam adz-Dzahabi—yang sengaja tidak dipilih kang Jalal—hingga tidak layak dijadikan pijakan dalam menilai al-Hakim sebagai penganut Syiah Rafidhah.

Cover Tadzkirah HufazhIndikator pertama telah ditanggapi oleh Imam adz-Dzahabi sebagai berikut:

قُلْتُ أَمَّا انْحِرَافُهُ عَنْ خُصُوْمِ عَلِىٍّ فَظَاهِرٌ وَأَمَّا أَمْرُ الشَّيْخَيْنِ فَمُعَظِّمٌ لَهُمَا بِكُلِّ حَالٍ فَهُوَ شِيْعِيٌّ لاَ رَافِضِيٌّ وَلَيْتَهُ لَمْ يُصَنِّفِ الْمُسْتَدْرَكَ فَإِنَّهُ غَضَّ مِنْ فَضَائِلِهِ بِسُوْءِ تَصَرُّفِهِ

“Aku (Adz-Dzahabi) berkata, Adapun sikap berpalingnya dari lawan-lawan (yang memerangi) Ali maka itu jelas. Sedangkan mengenai Syaikhain (Abu Bakar dan Umar) maka dia adalah orang yang mengagungkan keduanya di setiap keadaan. Jadi, dia adalah Syi’iy, bukan rafidhiy. Andai saja dia (Al-Hakim) tidak menyusun Mustadraknya, karena dia mengabaikan keutamaan-keutamaannya (Mu’awiyyah) dengan perlakuan yang buruk.” [8]

Perkataan di atas menunjukkan bahwa Imam adz-Dzahabi membantah indikator pertama dengan argumen bahwa Al-Hakim benar-benar, bukan pura-pura, mengagungkan Abu Bakar dan Umar pada setiap keadaan, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya sikap Al-Hakim yang mendahulukan Abu Bakar, Umar, dan Usman di atas Ali dalam kitabnya al-Mustadrak. Jadi, terlalu mengada-ada jika sikap al-Hakim itu dinilai sebagai sikap pura-pura, apalagi dengan menduga-duga batin al-Hakim fanatik kepada Syi’ah. Dengan demikian, indikator pertama sebagai pijakan Ibnu Thahir gugur dan tertolak.

Sementara terhadap indikator kedua, Imam adz-Dzahabi, meski membantah dijadikan landasan penilaian Syi’ah rafidhah terhadap al-Hakim, namun ia tidak membantah pernyataan Ibnu Thahir bahwa al-Hakim berpaling dari Mu’awiyyah. Bahkan, dia menyatakan: “sikap berpalingnya dari lawan-lawan (yang memerangi) Ali maka itu jelas.” Secara tersirat pernyataannya ini menunjukkan bahwa “Al-Hakim dianggap berpaling dari Mu’awiyyah karena tidak memuat topik pembahasan tentang manaaqib (sifat-sifat terpuji) Mu’awiyyah dalam kitabnya al-Mustadrak.”

Atas dasar inilah—Al-Hakim berpaling dari Mu’awiyyah dengan tidak membahas manaaqib (sifat-sifat terpuji)nya—tampaknya Imam adz-Dzahabi menyimpulkan bahwa al-Hakim bertasyayyu’, hati-hati bukan raafidhiy yach !!! Benarkah kesimpulan adz-Dzahabi demikian adanya? Jika benar, berarti istilah tasyayyu’ yang dinisbatkan kepada al-Hakim harus dimaknai khusus—bukan dalam makna lazim sebagaimana telah disebutkan di atas—yaitu dinilai tasyayyu’ karena tidak memuat topik pembahasan tentang manaaqib (sifat-sifat terpuji) Mu’awiyyah dalam kitabnya al-Mustadrak. Sikap ini diartikan oleh adz-Dzahabi sebagai bentuk berpalingnya al-Hakim dari Mu’awiyyah.

Sangat disayangkan, “kasus menarik” Imam adz-Dzahabi ini tidak menarik perhatian kang Jalal, untuk tidak menyebut: “sengaja diabaikan.” Namun, sejenak kita biarkan Kang Jalal berada di ring sudut berwarna merah untuk mengambil nafas, sebelum kita kembali kepada “kesimpulan adz-Dzahabi.” 🙂

 

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

 

Lampiran Teks Asli laporan (Ibnu Thahir) Abu al-Fadhl Muhammad bin Thahir al-Maqdisi (W. 507 H/1113 M)

 1

Bukti Scan Kitab al-Mantsur min al-Hikayat wa as-Su’alat, Karya Abu al-Fadhl Muhammad bin Thahir al-Maqdisi, hlm. 25, No. 6, terbitan Maktabah Dar al-Minhaj, Cet. 1 1430 H, dengan pentahqiq DR. Jamal ‘Azzun.

Lampiran Teks Asli Abu Abdirrahman As-Sulamiy via Ibnu Thahir

A. Versi Imam adz-Dzahabi (673-748 H/1274-1347 M)

2

Bukti Scan Kitab Siyar A’lam an-Nubala, Juz 17, hlm. 175, terbitan Muassasah ar-Risalah, Cet. I 1403 H/1983, dengan pentahqiq Syekh DR. Syu’aib al-Arnauth, dkk

 

B. Versi Shalahuddin ash-Shafadi (696-764 H/1296-1363 M)

3

Bukti Scan Kitab al-Waafiy bi al-Wafayaat, Juz 3, hlm. 260, terbitan Dar Ihya at-Turats al-‘Arabiy, Cet. I 1420 H/2000 M, pentahqiq Ahmad al-Arnauth

 

C. Versi Tajuddin as-Subki (727-771 H/1327-1370 M).

 4

Bukti Scan Kitab Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, Juz 4, hlm. 163, terbitan Dar Ihya al-Kutub al-‘Arabiyyah, dengan pentahqiq Mahmud Muhammad ath-Thanahi

Lampiran Teks Asli Abu Abdirrahman As-Sulamiy tanpa perantara Ibnu Thahir

Versi Ibnu al-Jauzi (508-597 H/1114-1201 M)

 5

Bukti Scan Al-Muntazham fii Tarikh al-Muluk wa al-Umam, Juz 15, hlm. 110. Terbitan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t., dengan pentahqiq Syekh Muhammad Abdul Qadir ‘Atha dan Mushtafa Abdul Qadir ‘Atha.

Lampiran Teks Asli Bantahan Imam adz-Dzahabi

 6

Bukti Scan Kitab Tadzkirah al-Huffazh, 3, hlm. 1045, terbitan Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, t.t., dengan pentahqiq Syekh Abdurrahman bin Yahya al-Mu’limiy.

Lampiran “kutipan” Kang Jalal (1)

7

Bukti scan Disertasi doktor Kang Jalal: Asal Usul Sunnah ShahabatStudi Historiografis atas Tarikh Tasyri, hlm. V.

 8

Bukti scan Disertasi doktor Kang Jalal: Asal Usul Sunnah ShahabatStudi Historiografis atas Tarikh Tasyri, hlm. VI.

Lampiran “kutipan” Kang Jalal (2)

9

Bukti scan Buku kang Jalal: Misteri Wasiat Nabi, hlm. 5.

[1]Lihat, Syarh al-Muqidhah fii ‘Ilm Mushthalah al-Hadits, hlm. 200

[2]Lihat, al-Mantsur min al-Hikayat wa as-Su’alat, hlm. 25. Dikutip pula oleh Imam adz-Dzahabi dengan sedikit perbedaan redaksi. Lihat, Siyar A’lam An-Nubala, Juz 17, hlm. 174-175

[3] Dalam kitabnya Siyar A’lam an-Nubala, Juz 17, hlm. 175; Tarikh al-Islam wa Wafayat al-Masyahir wa al-A’lam, Juz 28, hlm. 131.

[4]Dalam kitabnya al-Waafiy bi al-Wafayaat, Juz 3, hlm. 260, terbitan Dar Ihya at-Turats al-‘Arabiy, Cet. I 1420 H/2000 M, pentahqiq Ahmad al-Arnauth.

[5]Dalam kitabnya Thabaqat asy-Syafi’iyyah al-Kubra, Juz 4, hlm. 163

[6] Dalam kitabnya Al-Muntazham fii Tarikh al-Muluk wa al-Umam, Juz 15, hlm. 110.

[7]Dalam kitabnya Al-Bidayah wa an-Nihayah, Juz 15, hlm. 561-562.

[8]Lihat, Tadzkirah al-Huffazh, 3, hlm. 1045

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *