MISTERI “BUKU MISTERI” KANG JALAL (Bagian ke-5)

Masih Tabir (3) “Misteri 1”

Setelah menyimak edisi sebelumnya, saya yakin pembaca telah mengetahui bahwa istilah raafidhah (رافضة), menurut para ahli dari kalangan Syiah, sebagai sebutan positif bagi Syiah Itsna ‘Asyariyah alias Syiah Imamiyyah alias Syiah Jakfariyyah. Jadi, bukan untuk seluruh sekte Syi’ah.

Dengan begitu, pembaca pun jadi tahu di mana letak “kenakalan” kang Jalal dalam “permainan” makna kata, hingga terlihat di permukaan bahwa kang Jalal “sengaja berbeda” dengan para ulama Syiah. Apakah dengan cara pemaknaan kang Jalal demikian itu—kata Raafidhiy dimaknai Syiah saja” atau secara umum—beliau sengaja berbeda juga dengan ulama Islam ? Mari kita telusuri jejaknya.

 

Pemaknaan Rafidhah menurut Ulama Islam

Kata Raafidhah (رافضة) secara bahasa diambil dari kata Rafdh (رفض) bermakna (الترك) atau meninggalkan. [1]

Ibnu Manzhur (w. 711 H) mengatakan:

وَالرَّوَافِضُ: جُنُوْدٌ تَرَكُوْا قَائِدَهُمْ وَ انْصَرَفُوْا فَكُلُّ طَائِفَةٍ مِنْهُمْ رَافِضَةٌ، وَ النِّسْبَةُ إِلَيْهِمْ رَافِضِيٌّ.

“Rawafidh adalah prajurit-prajurit yang meninggalkan pemimpin mereka dan berpaling darinya. Maka setiap kelompok dari mereka disebut Rafidhah. Sedangkan nisbat untuk mereka adalah Rafidhiy.” [2]

Fairuzabadi (w. 820 H/1417 M) mengatakan:

وَالرَّوَافِضُ كُلُّ جُنْدٍ تَرَكُوْا قَائِدَهُمْ ، وَالرَّافِضَةُ الْفِرْقَةُ مِنْهُمْ

“Rawafidh adalah setiap prajurit yang meninggalkan pemimpin mereka. Rafidhah adalah sekelompok dari mereka.” [3]

Sedangkan secara istilah, kata Raafidhah (رافضة) dapat digunakan dalam dua makna, namun satu sama lain saling melengkapi:

Pertama, kelompok Syiah yang menolak imamah (kepemimpinan) Zaid bin Ali dan menyempal (menyimpang) darinya.

Al-Asma’i[4] (122-216 H/740-831 M) berkata:

15

سُمُّوْا بِذَلِكَ لِتَرْكِهِمْ زَيْدَ بْنَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ

 “Mereka disebut Rafidhah karena mereka telah meninggalkan Zaid bin Ali Ra.” [5]

Perkataan Al-Asma’I ini, jika kita baca sepintas dan sebatas redaksi di atas, juga menutup mata—sebagaimana kebiasaan orang Syiah di Indonesia—terhadap redaksi lain yang lebih komplit, tentu saja kata Raafidhah (رافضة) sebagai sebutan Syi’ah Imamiyyah akan dianggap netral tidak berkonotasi negatif.

Kita ambil contoh perilaku “nakal” salah seorang penulis Syiah—entah awam atau seorang ahli—yang mengatakan: “Sebagian orang Syiah itu disebut Rawafidh karena mereka telah meninggalkan Zaid bin Ali. Bukan karena mereka bermazhab Syiah atau alasan apa pun selainnya, melainkan murni karena mereka meninggalkan Zaid selaku komandan pasukan perang.” Selanjutnya dia berdalih, bahwa kata Rafidhah yang semula netral menjadi punya konotasi negatif. [6] Semoga “nakal”nya orang ini bukan karena “meneladani kenakalan” kang Jalal.

Padahal, jika kita membuka mata terhadap redaksi lain yang lebih komplit, lalu dibaca utuh dan jernih, kita akan memahami bahwa kata Raafidhah (رافضة) itu berkonotasi negatif karena faktanya memang perilaku mereka yang negatif (menyimpang). Jadi, bukan sebagai tuduhan.

14

Bukti Scan Kitab ash-Shihah Taj al-Lughah fi al-Lughah, karya al-Jawhari (w. 393 H), Juz 1, hlm. 455. Terbitan Dar al-Hadits, Kairo, tahun 1430 H/2009 M, muraja’ah oleh DR. Muhammad Muhammad Tamir

Sehubungan dengan itu, para pakar generasi selanjutnya—saat merujuk kepada al-Asma’I— mereka mencantumkan variasi redaksi seutuhnya, hingga diketahui latar belakang masalah yang sebenarnya. Misalnya, Abu Manshur al-Azhari (w. 370 H) mengatakan:

وَالرَّوَافِضُ: جُنُوْدٌ تَرَكُوْا قَائِدَهُمْ وَ انْصَرَفُوْا فَكُلُّ طَائِفَةٍ مِنْهُمْ رَافِضَةٌ، وَ النَّسَبُ إِلَيْهِمْ رَافِضِيٌّ.

“Rawafidh adalah prajurit-prajurit yang meninggalkan pemimpin mereka dan berpaling darinya. Maka setiap kelompok dari mereka disebut Rafidhah. Sedangkan nisbat untuk masing-masing prajurit itu adalah Rafidhiy.”

Setelah itu, ia mencantumkan perkataan al-Asma’I sebagai berikut:

وَذَكَرَ عُمَرُ بْنُ شَبَّةَ عَنِ الأَصْمَعِيِّ أَنَّهُ قَالَ : سُمُّوا رَافِضَةً لِأَنَّهُمْ كَانُوْا بَايَعُوْا زَيْدَ بْنَ عَلِيٍّ ثُمَّ قَالُوْا لَهُ إِبْرَأْ مِنَ الشَيْخَيْنِ نُقَاتِلْ مَعَكَ فَأَبَى وَقَالَ كَانَا وَزِيْرَيْ جَدِّي فَلاَ أَبْرَأُ مِنْهُمَا فَرَفَضُوهُ وارْفَضُّوا عَنْهُ فَسُمُّوا رَافِضَةً

 “Dan Umar bin Syabbah menerangkan dari al-Asma’I bahwa ia berkata, ‘Mereka dinamakan rafidhah karena mereka (sekelompok Syiah di Kufah) setelah berbaiat kepada Zaid bin Ali bin Husen,  lalu mereka berkata kepadanya, ‘Berlepas dirilah Anda dari kedua Syekh itu (Abu Bakar ash-Shidiq dan Umar bin Khatab) niscaya kami akan berperang bersama Anda.’ Namun Zaid menolak, dan ia berkata, ‘Keduanya wazir (pembantu penolong) kakek saya, maka saya tidak akan berlepas diri keduanya.’ Maka mereka meninggalkan Zaid dan menyempal darinya. Karena itulah mereka dinamai Rafidhah.” [7]

Sikap amanah ilmiah diperlihatkan  pula oleh Ibnu al-Jawzi [8] (w. 508-597 H/1114-1201 M), tapi saya tidak menyebut kang Jalal tidak ilmiah loh. Ibnu al-Jawzi mencantumkan keterangan al-Asma’I sebagai berikut:

قَالَ الأَصْمَعِيُّ سُمِّيَتِ الرَّافِضَةُ لِأَنَّهُمْ كَانُوْا بَايَعُوْا زَيْدَ بْنَ عَلِيٍّ ثُمَّ قَالُوْا لَهُ إِبْرَأْ مِنَ الشَيْخَيْنِ نُقَاتِلْ مَعَكَ فَأَبَى وَقَالَ كَانَا وَزِيْرَيْ جَدِّيْ فَلاَ أَبْرَأُ مِنْهُمَا فَرَفَضُوهُ وارْفَضُّوا عَنْهُ فَسُمُّوا رَافِضَةً

“al-Asma’I berkata, ‘Dinamakan rafidhah karena mereka (sekelompok Syiah di Kufah) setelah berbaiat kepada Zaid bin Ali bin Husen,  lalu mereka berkata kepadanya, ‘Berlepas dirilah Anda dari kedua Syekh itu (Abu Bakar ash-Shidiq dan Umar bin Khatab) niscaya kami akan berperang bersama Anda.’ Namun Zaid menolak, dan ia berkata, ‘Keduanya pembantu kakek saya, maka saya tidak akan berlepas diri keduanya.’ Maka mereka meninggalkan Zaid dan menyempal darinya. Karena itulah mereka dinamai Rafidhah.” [9]

Sikap yang sama diperlihatkan pula oleh Ibnu Manzhur (w. 711 H). Ia mengatakan:

وَ الرَّوَافِضُ: قَوْمٌ مِنَ الشِّيْعَةِ، سُمُّوْا بِذَلِكَ لِأَنَّهُمْ تَرَكُوْا زَيْدَ بْنَ عَلِيٍّ

“Rawafidh adalah suatu kaum Syiah. Mereka disebut Rawafidh karena mereka telah meninggalkan Zaid bin Ali.”

Setelah itu, ia mencantumkan perkataan al-Asma’I sebagai berikut:

قَالَ الأَصْمَعِيُّ كَانُوْا بَايَعُوُهْ ثُمَّ قَالُوْا لَهُ إِبْرَأْ مِنَ الشَيْخَيْنِ نُقَاتِلْ مَعَكَ فَأَبَى وَقَالَ كَانَا وَزِيْرَيْ جَدِّيْ فَلاَ أَبْرَأُ مِنْهُمَا فَرَفَضُوهُ وارْفَضُّوا عَنْهُ فَسُمُّوا رَافِضَةً

“al-Asma’I berkata, ‘Mereka (sekelompok Syiah di Kufah) setelah berbaiat kepadanya (Zaid bin Ali bin Husen),  lalu mereka berkata kepadanya, ‘Berlepas dirilah Anda dari kedua Syekh itu (Abu Bakar ash-Shidiq dan Umar bin Khatab) niscaya kami akan berperang bersama Anda.’ Namun Zaid menolak, dan ia berkata, ‘Keduanya wazir (pembantu atau penolong) kakek saya, maka saya tidak akan berlepas diri keduanya.’ Maka mereka meninggalkan Zaid dan menyempal darinya. Karena itulah mereka dinamai Rafidhah.” [10]

Latar belakang penamaan Syiah Imamiyyah dengan Rafidhah, disebutkan pula oleh Abu al-Fath Nashiruddin bin Abd as-Sayyid bin Ali bin al-Mathrazi (w. 610). Ia berkata:

( الرَّفْضُ ) التَّرْكُ وَهُوَ مِنْ بَابَيْ طَلَبَ وَضَرَبَ ( وَمِنْهُ ) الرَّافِضَةُ لِتَرْكِهِمْ زَيْدَ بْنَ عَلِيٍّ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ حِينَ نَهَاهُمْ عَنِ الطَّعْنِ فِي الصَّحَابَةِ

“Kata ar-Rafdh artinya meninggalkan (at-tark), kata itu termasuk dalam dua bab thalaba dan dharaba. Dari kata itu diambil istilah Rafidhah karena mereka meninggalkan Zaid bin Ali ketika mereka dilarang oleh Zaid dari mencela shahabat.” [11]

Perkataan al-Mathrazi:

( الرَّفْضُ ) التَّرْكُ وَهُوَ مِنْ بَابَيْ طَلَبَ وَضَرَبَ

“Kata ar-Rafdh artinya meninggalkan (at-tark), kata itu termasuk dalam dua bab thalaba dan dharaba.”

Maksudnya kata rafadha berpola kata sama dengan ThalabaYathlubu dan dharabaYadhribu. Jadi pola kata itu dapat  rafadhayarfudhu (pola kata fa’alayaf’ulu ) atau rafadhayarfidhu (pola kata fa’alayaf’ilu)

Sikap serupa disampaikan pula oleh Ahmad bin Muhammad bin Ali al-Fayumi al-Hamawi (w. 770 H). Ia berkata:

وَالرَّافِضَةُ فِرْقَةُ مِنْ شِيعَةِ الْكُوفَةِ سُمُّوا بِذَلِكَ لِأَنَّهُمْ رَفَضُوا أَيْ تَرَكُوا زَيْدَ بْنَ عَلِيٍّ عَلَيْهِ السَّلَامُ حِينَ نَهَاهُمْ عَنْ الطَّعْنِ فِي الصَّحَابَةِ فَلَمَّا عَرَفُوا مَقَالَتَهُ وَأَنَّهُ لَا يَبْرَأُ مِنْ الشَّيْخَيْنِ رَفَضُوهُ ثُمَّ اُسْتُعْمِلَ هَذَا اللَّقَبُ فِي كُلّ مَنْ غَلَا فِي هَذَا الْمَذْهَبِ وَأَجَازَ الطَّعْنَ فِي الصَّحَابَةِ

“Rafidhah adalah golongan Syiah Kufah. Dinamai demikian karena mereka rafadha, yaitu meninggalkan Zaid bin Ali As. ketika mereka dilarang oleh Zaid dari mencela shahabat. Ketika mereka mengetahui ucapan Zaid bahwa ia tidak akan berlepas diri dari kedua Syekh itu (Abu Bakar ash-Shidiq dan Umar bin Khatab), mereka meninggalkan Zaid. Kemudian julukan ini digunakan untuk setiap orang yang ekstrem pada madzhab Syi’ah ini dan membolehkan celaan pada shahabat.”[12]

Atau dalam redaksi Syekh Muhammad Abdurrauf al-Munawi (w. 1030 H):

وَمِنْهُ الرَّافِضَةُ تَرَكُوْا زَيْدَ بْنَ عَلِيٍّ حِيْنَ نَهَاهُمْ عَنْ سَبِّ الصَّحَابَةِ فَلَمَّا عَرَفُوْا مَقَالَتَهُ وَأَنَّهُ لاَ يَبْرَأُ مِنَ الشَيْخَيْنِ رَفَضُوْهُ ثُمَّ اسْتُعْمِلَ هذَا اللَّقَبُ فِيْ كُلِّ مَنْ غَلاَ فِيْ هذَا الْمَذْهَبِ

Dari kata itu diambil istilah Rafidhah karena mereka meninggalkan Zaid bin Ali ketika dilarang oleh Zaid dari mencaci maki shahabat. Ketika mereka mengetahui ucapan Zaid bahwa ia tidak akan berlepas diri dari kedua Syekh itu (Abu Bakar ash-Shidiq dan Umar bin Khatab), mereka meninggalkan Zaid. Kemudian julukan ini digunakan untuk setiap orang yang ekstrem pada madzhab Syi’ah ini.”[13]

Keterangan para ulama Islam dalam bidang bahasa dan sejarah di atas cukup sebagai bukti, bahwa sebutan Raafidhah (رافضة) pada awalnya ditujukkan bagi penganut Syi’ah di Kufah. Mereka memisahkan diri dari komunitas Syiah yang telah membaiat Zaid bin Ali bin Husen, karena perbuatan mereka mencela Abu Bakar dan Umar ditegur dan diingkari oleh Zaid. Kemudian julukan ini digunakan pula untuk orang Syi’ah yang bersikap sama di mana saja berada.

Keterangan mereka sejalan dengan para ulama Islam dalam bidang ilmu kalam (akidah), meski berbeda redaksi, misalnya Imam Abu al-Hasan al-Asy’ari (260-324 H/874-936 M), Abdul Qahir al-Baghdadi (w. 429 H/1037 M), [14] asy-Syahrastani (479-548 H/1086-1153 M), [15] Fakhruddin ar-Razi (544-606 H/1150-1210 M), [16] dan Ibnu Taimiyyah (661-728 H/1263-1328 M).

Imam Abul Hasan al-Asy’ari mengatakan:

فَلَمَّا ظَهَرَ فِي الْكُوْفَةِ فِيْ أَصْحَابِهِ الَّذِيْنَ بَايَعُوْهُ سَمِعَ مِنْ بَعْضِهِمْ الطَّعْنَ عَلَى أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ فَأَنْكَرَ ذلِكَ عَلَى مَنْ سَمِعَهُ مِنْهُ فَتَفَرَّقَ عَنْهُ الَّذِيْنَ بَايَعُوْهُ فَقَالَ لَهُمْ : رَفَضْتُمُوْنِيْ ، فَيُقَالُ إِنَّهُمْ سُمُّوْا رَافِضَةً لِقَوْلِ زَيْدٍ لَهُمْ رَفَضْتُمُوْنِيْ

“Ketika telah berkumpul orang-orang yang membaiat beliau (Zaid bin Ali bin Husen) di Kufah, tiba-tiba beliau mendengar sebagian di kalangan mereka mencela Abu Bakar dan Umar. Beliapun mengingkari orang yang mencela itu. Lalu mereka memisahkan diri dari jamaah yang telah membaiat beliau. Hingga beliau mengatakan kepada mereka:

رَفَضْتُمُوْنِيْ

‘Kalian menolakku?’

Maka dikatakan bahwa mereka digelari Rafidhah karena perkataan Zaid bin Ali: رفضتموني (kalian menolakku?) kepada mereka.” [17]

Keterangan yang sama juga disampaikan Ibnu Taimiyah:

وَإِنَّمَا سُمُّوْا رَافِضَةً وَصَارُوْا رَافِضَةً لَمَّا خَرَجَ زَيْدُ بْنُ عَلِيِّ بْنِ الْحُسَيْنِ بِاْلكُوْفَةِ فِي خِلاَفَةِ هِشَامٍ فَسَأَلَتْهُ الشِّيْعَةُ عَنْ أَبِيْ بَكْرٍ وَعُمَرَ فَتَرَحَّمَ عَلَيْهِمَا فَرَفَضَهُ قَوْمٌ فَقَالَ رَفَضْتُمُوْنِيْ ، رَفَضْتُمُوْنِيْ فَسُمُّوْا رَافِضَةً

“Mereka dinamakan rafidhah dan menjadi rafidhah (sang penentang) karena ketika Zaid bin Ali bin Husain memberontak di Kufah di masa kekhalifahan Hisyam, orang-orang syiah bertanya kepada beliau, bagaimana komentar beliau terhadap Abu Bakar dan Umar. Kemudian Zaid bin Ali mendoakan kebaikan untuk Abu Bakar dan Umar. Sehingga sekelompok kaum menolak beliau, lalu Imam Zaid mengatakan kepada mereka, ‘Rafadhtumuunii, Rafadhtumuunii  (apakah kalian menolakku?) Maka mereka disebut rafidhah.” [18]

Nah, setelah pembaca tahu makna pertama Raafidhah (رافضة) menurut ulama Islam,  mari kita buka kembali “kenakalan” kang Jalal dalam memaknai perkataan Abu Isma’il al-Anshari: “raafidhiy (رافضي)”dengan “Syiah”.

Untuk mempermudah pemahaman, saya buatkan kembali format perbandingan sebagai berikut:

  • Versi Abu Isma’il al-Anshari: “al-Hakim raafidhiy (رافضي)”
  • Versi kang Jalal, menurut Abu Isma’il al-Anshari: “al-Hakim Syiah.”

Lalu kang Jalal menyebutkan latar belakang al-Hakim disebut raafidhiy: Gelar Rafidhi dinisbatkan kepadanya karena kejujurannya dalam menyampaikan keutamaan Nabi saw dan keluarganya.” [19]

“Opini pribadi penarik simpati” kang Jalal di atas dirasa cukup efektif menggiring opini pembaca untuk menerima ide kang Jalal bahwa sebutan Raafidhah (رافضة)   diberikan bagi “orang Syiah karena kejujurannya dalam menyampaikan keutamaan Nabi saw dan keluarganya.” Artinya, Kang Jalal hendak menggiring para membaca agar meyakini bahwa yang menggunakan label Raafidhah (رافضة)   adalah para musuh Nabi dan Ahlul Baitnya.

Namun pembaca, lagi-lagi tidak akan “termakan” —untuk tidak menyebut tertipu—retorika kang Jalal, karena pembaca sudah tahu dari penjelasan para ahli—tapi saya tidak menyebut kang Jalal tidak ahli loh—bahwa julukan  raafidhah (رافضة) disematkan kepada Syiah yang mencaci Abu Bakar dan Umar, lalu mereka membangkang saat ditegur Zaid dari perbuatan itu.

Dengan demikian, pembaca pun tahu bahwa kang Jalal “nakal”  saat memaknai kata Raafidhiy dengan Syiah saja” atau secara umum. Semoga saja para ulama Islam itu mengampuni “kenakalan” kang Jalal. 🙂

By Amin Muchtar, sigabah.com


Lampiran Teks Asli Imam Abu Hasan al-Asy’ari (260-324 H/874-936 M)

13

Bukti Scan Kitab Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, Juz 1, hlm. 137, terbitan al-Maktabah al-‘Ashriyyah, Beirut, tahun 1411 H/1990 M, pentahqiq Muhammad Muhyiddin Abdul Hamid

 

 

Lampiran “kutipan” Kang Jalal (1)

22

Bukti scan Disertasi doktor Kang Jalal: Asal Usul Sunnah ShahabatStudi Historiografis atas Tarikh Tasyri, hlm. v;

 

Lampiran “kutipan” Kang Jalal (2)

11

Bukti scan Buku kang Jalal: Misteri Wasiat Nabi, hlm. 5.

 

[1] Lihat, Ahmad bin Faris (w. 395 H) dalam Mu’jam Maqaayiis al-Lughah, Juz 2, hlm. 422; Muhammad ar-Razi (w. 666 H), dalam Mukhtar ash-Shihah, hlm. 250.

[2] Lihat, Lisan al-‘Arab, Juz 7, hlm. 157.

[3] Lihat, al-Qamus al-Muhith, hlm. 830

[4] Namanya Abdul Malik bin Quraib bin Ali bin Asma’ al-Bahili, Abu Sa’id al-Asma’i. Salah seorang pakar ilmu bahasa, Sya’ir, dan berbagai negeri (al-Buldan).

[5] Lihat, al-Jawhari (w. 393 H) dalam ash-Shihah Taj al-Lughah, Juz 1, hlm. 455.

[6] Silahkan diakses http://www.titisan.net/ngaji/2014/12/10/syiah-rafidhah/

[7] Lihat, Tahdzib al-Lughah, Juz 12, hlm. 13

[8]Namanya Abdurrahman bin Ali bin Muhammad, Abu al-Faraj al-Jawzi al-Baghdadi

[9] Lihat, Gharib al-Hadits, Juz 1, hlm. 406

[10] Lihat, Lisan al-‘Arab, Juz 7, hlm. 157.

[11] Lihat, Al-Mugrib fi Tartib al-Mu’rib, Juz 1, hlm. 338

[12] Lihat, Al-Mishbah al-Munir fi Gharib asy-Syarh al-Kabir, Juz 4, hlm. 442

[13] Lihat, At-Tawqif ‘ala Muhimmat at-Ta’aarif, hlm. 369

[14] Lihat, Al-Farqu bayna al-Firaq wa Bayan al-Firqah an-Najiyah, hlm. 25.

[15] Lihat, Al-Milal wa an-Nihal, Juz 1, hlm. 155.

[16] Lihat, I’tiqadat Firaq al-Muslimin wa al-Musyrikin, hlm. 52.

[17] Lihat, Maqalat al-Islamiyyin wa Ikhtilaf al-Mushallin, Juz 1, hlm. 137

[18] Lihat, Minhaj as-Sunah an-Nabawiyah, Juz 2, hlm. 96.

[19]Lihat, Disertasi Asal Usul Sunnah ShahabatStudi Historiografis atas Tarikh Tasyri, hlm. v-vi; Misteri Wasiat Nabi, hlm. 5-6.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *