Mentertawakan Survei Denny JA

TERTAWA itu sehat, begitu kata sebuah survei kesehatan. Maka, mentertawakan hasil survei Denny JA (DJA), tampaknya akan jauh lebih sehat. Untuk itu, tertawalah kita semua, hahaha.

Djajang Nurdjaman, pemerhati media dan ruang publik sudah menuliskan secara rinci terkait hasil survei LSI karya DJA.

Menikmati Publikasi Survei Denny JA, kalau Denny membaca tulisan itu, tapi tidak menimbulkan rasa malu, saya dan kita patut mempertanyakan nuraninya. Namun begitu, kita pun tidak bisa menuntut apa pun, semua berpulang pada dirinya sendiri.

Saya tidak ingin masuk pada masalah fakta-fakta yang dipaparkan oleh Djajang, begitu rinci, jelas dan tegas. Jika melihat data (hasil kerja) yang disandingkan antara Pilkada DKI dan Jabar dengan faktanya, sekali lagi harusnya DJA malu. Jika selisihnya sedikit, mungkin masih oke. Selisihnya fantastis, artinya, orang sudah bisa meminta pertanggung jawabannya. Atau paling sedikit, DJA minta maaf.

Alih-alih mengakui kesalahan hasil kerjanya, eee dia bikin lagi survei yang patut dapat diduga hasilnya tidak sesuai dengan faktanya. Mengapa begitu?

DJA saat bekerja sepertinya mengabaikan banyak hal. Salah satunya, maaf, dia atau timnya pasti tidak mendatangi masyarakat yang jelas-jelas akan memilih Prabowo-Sandi. Terus terang kecurigaan itu muncul bukan tanpa dasar.

Mari kita tengok (jejak digitalnya pasti ada), di hampir setiap pemunculannya, di mana saja, baik Prabowo maupun Sandiaga Uno, masa yang menyambut sangat luar biasa. Artinya, paslon nomer dua pasti akan menerima dukungan yang angkanya pasti tidak seperti yang dirilis LSI.

Sengaja

Lalu, DJA juga patut dapat diduga (sengaja) tidak mau melihat kerja ustadz-ustadz besar seperti Ustadz Abdul Somad dan lain-lain (tidak saya sebut namanya, untuk menghindari klaim sepihak) yang demikian dahsyat umatnya. Para ustadz dan jutaan umatnya juga tidak ragu untuk memperlihatkan dukungan mereka pada Prabowo-Sandi. Malah di acara UAS di sebuah lapangan pacuan kuda di Sumbar, jemaah rela merogoh sakunya untuk menyumbangkan dana bagi tim pemenangan paslon no-02 itu. Berkarung-karung uang sumbangan umat dihasilkan di sana. Selain itu, sumbangan demi sumbangan dengan mudah dikumpulkan. Umat, khususnya emak-emak ikhlas menyisihkan uang belanjanya juga untuk disumbangkan bagi kemenangan Prabowo-Sandi.

Dampak dari fakta ini tentu tidak mau dijadikan sebagai kenyataan. Mengapa? Jawabnya sangat mudah, jika itu dilakukannya, maka jawabannya akan menyakitkan hati DJA. Artinya lagi, jika ia berani melakukan hal itu, maka angka yang akan diperoleh sangat mungkin menjadi 58% Prabowo-Sandi 36% Jokowi-Maruf dan sisanya 6% masih ngambang.

Pertanyaannya mengapa saya yakin begitu? Jawabnya juga sederhana: Hidup makin susah, emak-emak sangat merasakan hal itu. Dan, jika emak-emak sudah bergerak, siapa yang bisa tahan?

Jadi, sekali lagi, kita tertawa saja ketika membaca hasil rilis DJA dengan LSInya. Dan, sambil bisik-bisik, saya mau bertanya: “Bagaimana hasil survei Denny JA dan LSI di Pilkada DKI dan Jabar yang gagal total?”
Ya, pertanyaan saya, tidak perlu dijawab, fakta yang sudah ada dan tersebar di mana-mana itulah jawabnya.

Yuuuk, mari kita tertawa lebar-lebar. Hahahaha…..

Oleh M. Nigara (Penulis adalah Wartawan Senior)

swamedium.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *