MENIMBANG SYI’AH (Bagian ke-44)

Syiah Melaknat Istri-Istri Nabi (Tamat)

Pada edisi sebelumnya telah ditayangkan bentuk-bentuk caci-maki Syiah terhadap istri-istri Nabi Muhammad saw. serta beragam kata kotor yang dilontarkan kepada Ummahât al-Mu’minîn, seperti pelacur, pendusta dan lain sebagainya. Meski begitu, ajaran Islam yang bersumber dari Ummahât al-Mu’minin tidak akan mentah sebab mereka dicaci-maki. Karena itu dari stigma-stigma negatif yang dilontarkan Syiah pada para istri Nabi saw., hanya ada dua poin yang penting untuk ditanggapi.

Pertama, adakah istri-istri Nabi bukan termasuk Ahlul Bait? Kedua, bagaimana sebetulnya kronologi terjadinya Waq’at al-Jamal (Insiden Unta)?

Pertama, pernyataan orang-orang Syiah bahwa Ahlul Bait hanya tertentu pada Sayyidina Ali, Sayyidah Fatimah, Sayyidina Hasan dan Husain Ra. saja, adalah dengan berlandaskan ayat berikut:

(إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (الأحزاب [33]: 33

Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. (QS. Al-Ahzab [33]: 33)

Melaluli ayat al-Qur’an ini, Syiah kemudian melakukan eksplorasi terhadap dalil-dalil pendukungnya, baik dari asbâb an-nuzûl maupun dari hadis Nabi saw. Dalam hal ini, antara lain dikemukakan riwayat sebagai berikut:

Dari Shafiyah binti Shafiyah, ia berkata, Aisyah berkata, “Pada suatu pagi, Rasulullah saw. keluar dengan mengenakan selimut wol warna hitam, lalu Hasan datang maka beliau memasukannya ke dalam selimut, kemudian datanglah Husain dan ia pun masuk ke dalamnya, kemudian datanglah Fatimah, dan beliau memasukkan puterinya itu, kemudian datanglah Ali, dan beliau pun memasukkannya juga ke dalam selimut sambil membaca ayat innamâ yurîdullâh...[1]

Dengan menyimak sekilas terhadap hadis yang dijadikan dasar oleh Syiah di atas, sebagaimana tertuang dalam buku tanggapan untuk Majalah Sabili, Mengapa Kita Memilih Syiah (terbitan LSM OASE—Organization of Ahlulbayt for Social Support and Education), seakan tidak boleh tidak kita harus menerima doktrin Syiah begitu saja. Padahal, jika kita sedikit menelisik ke dalam, maka akan dengan mudah terungkap, bahwa betapa Syiah telah melakukan berbagai kecurangan ilmiah:

Pertama, Syiah hanya mengambil dari referensi Ahlussunnah terhadap hadis yang (menurut mereka) cocok untuk faham mereka, padahal hadis yang memberikan penjelasan serupa amat banyak, dengan beberapa sumber yang berbeda. Namun cukup disayangkan, Syiah mengabaikan hadis-hadis itu, karena dapat meruntuhkan doktrin yang mereka percaya.

Berikut akan kami tampilkan beberapa riwayat yang mereka abaikan, dan dapat mematahkan argumen mereka. Di antaranya adalah:

قال الطبري: حَدَّثَنَا ابْنُ حُمَيْدٍ، قَالَ: ثَنَا يَحْيَى بْنُ وَاضِحٍ، قَالَ : ثَنَا الأَصْبَغُ عَنْ عَلْقَمَةَ، قَالَ : كَانَ عِكْرِمَةُ يُنَادِي فِي السُّوقِ : (إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا) قَالَ : نَزَلَتْ فِي نِسَاءِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَاصَّة

Ath-Thabari berkata, “Ibnu Humaid telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Yahya bin Wadhih telah menceritakan kepada kami.” Ia berkata, “Al-Asbag telah menceritakan kepada kami, dari Alqamah, ia berkata, “Suatu ketika Ikrimah berseru di dalam pasar (seraya membaca ayat): innamâ yurîdullâhu…” Ikrimah selanjutnya berkata,Ayat ini turun khusus terhadap para istri Nabi saw.[2]

Dalam riwayat lain dijelaskan:

… فَخَرَجَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَانْطَلَقَ إِلَى حُجْرَةِ عَائِشَةَ فَقَالَ السَّلَامُ عَلَيْكُمْ أَهْلَ الْبَيْتِ وَرَحْمَةُ اللَّهِ فَقَالَتْ وَعَلَيْكَ السَّلَامُ وَرَحْمَةُ اللَّهِ كَيْفَ وَجَدْتَ أَهْلَكَ بَارَكَ اللَّهُ لَكَ فَتَقَرَّى حُجَرَ نِسَائِهِ كُلِّهِنَّ يَقُولُ لَهُنَّ كَمَا يَقُولُ لِعَائِشَةَ وَيَقُلْنَ لَهُ كَمَا قَالَتْ عَائِشَةُ ثُمَّ رَجَعَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ (الحديث(

Kemudian Nabi Muhammad saw. pergi ke kamar Saayyidah ‘Aisyah seraya beliau berkata “Assalamu ‘Alaikum…” kemudian ‘Aisyah menjawab “wa alaika…” bagaimana anda menemukan keluarga anda, mudah-mudahan keberkahan Allah saw. selalu menyertai anda. Kemudian Nabi saw. berkeliling kamar-kamar para istrinya, beliau mengucapkan sebagaimana yang diucapkan kepada ‘Aisyah, dan para istri beliau menjawab sebagaimana yang telah di jawabkan oleh ‘Aisyah. [3]

Maka, dapat kita lihat dengan jelas, sebagaimana dinyatakan oleh sahabat Ikrimah, bahwa surat al-Ahzab ayat 33 tersebut diturunkan hanya kepada istri-istri Nabi saw. Selain itu, Rasulullah saw. juga menyebut “Ahlul Bait” kepada istri-istri beliau, sebagaimana hadis riwayat Anas Ra.

Kemudian, dalam Sunan Abi Dawud dikemukakan suatu penjelasan, bahwa barang siapa yang ingin memperoleh kebaikan yang sempurna ketika membaca shalawat kepada Ahlul Bait, maka bacalah shalawat sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَأزْوَاجِهِ أمَّهَاتِ الْمُؤْمِنِيْنَ وَذُرِّيَّاتِهِ وَأهْلِ بَيْتِهِ كَمَا صَلَّيْتَ عَلَى آل إبْرَاهِيْمَ إنَّكَ حَمِيْدٌ مَجِيْدٌ.

“Ya Allah, semoga Engkau memberikan rahmat kepada Muhammad dan para istri beliau Ummahat al-Mukminin dan turunan serta ahlu bait beliau sebagaimana Engkau memberikan rahmat kepada keluarga Ibrahim sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.” [4]

Kedua, sabab an-nuzûl-nya beragam.[5] Jadi bukan hanya seperti yang dikemukakan Syiah. Syiah hanya mencantumkan sebagian sabab an-nuzûl ayat ini, yakni yang searah dengan doktrin mereka, dan mengabaikan yang lain karena berseberangan dengan doktrin mereka. Sabab an-nuzûl dari ayat ini antara lain:

  • Ummu Salamah berkata, “Rasulullah saw. datang ke rumahku, lalu beliau bersabda, ‘Jangan kau mengizinkan siapa pun (untuk masuk).’ Lalu Fathimah datang, dan aku tidak bisa menghalanginya untuk menemui ayahnya, kemudian Hasan juga datang, aku juga tidak bisa mencegahnya untuk masuk berkumpul bersama Kakek dan Ibunya, lalu Husain juga datang, lagi-lagi aku tidak bisa menghalanginya, selanjutnya mereka berkumpul satu tikar bersama Nabi, lalu Rasulullah saw. memakaikan selimut yang beliau kenakan kepada mereka. Kemudian Nabi saw. bersabda, ‘Mereka adalah Ahlul Bait-ku, maka hilangkanlah dosa dari mereka dan bersihkanlah sebesih-bersihnya.’ Lalu turunlah ayat ini ketika mereka berkumpul di atas tikar. Ummu Salamah berkata, ‘Aku berkata, ‘wahai Rasulullah, dan saya (masukanlah)? Demi Allah, alangkah nikmatnya.’ Nabi bersabda, ‘Sesungguhnya kamu berada dalam kebaikan’.”[6]
  • Ibnu Katsir mengatakan, “Ayat ini merupakan nash yang sangat tegas menunjukan bahwa para istri Nabi saw. memang termasuk Ahlul Bait, karena mereka (para istri Nabi) merupakan sabab an-nuzûl dari turunnya ayat innamâ yurîdullâh…” Ibnu Katsir menambahkan, jika yang dikehendaki adalah bahwa para istri Nabi saw. saja yang menjadi sabab an-nuzûl dari ayat itu, bukan yang lain, maka benar. Namun jika dinyatakan bahwa yang dikehendaki dengan Ahlul Bait adalah para istri Nabi saw. saja, maka pernyataan ini masih perlu ditinjau ulang, sebab banyak hadis yang menunjukan bahwa yang dimaksud Ahlul Bait itu bukan terbatas pada para istri Nabi saja (antara lain hadis pertama yang kami cantumkan di atas).[7]
  • Ibnu Abi Syaibah, Imam Ahmad, Ibnu Jarir, Ibnu Abi Hatim, ath-Thabrani, al-Hakim dan al-Baihaqi dalam Sunan-nya, meriwayatkan hadis dari Watsilah bin al-Asqa’,[8] ia berkata, “Rasulullah saw. mendatangi Sayyidah Fathimah, sedang yang bersama beliau (Rasulullah saw.) adalah Sayyidina Ali, Sayyidina Hasan, dan beliau pun masuk. Kemudian Rasulullah saw. mendekatkan Sayyidina Ali dan Sayyidah Fathimah lalu mendudukan keduanya di hadapan beliau, serta mendudukan Sayyidina Hasan dan Sayyidina Husain di atas kedua paha beliau, kemudian melipatkan baju beliau pada mereka, sedangkan saya berada di belakang mereka. Kemudian Rasulullah saw. membaca ayat ini (innamâ yurîdu Allâhu liyudzhiba ‘ankum ar-rijsa ahla al-bait…).” Rasulullah saw. juga berdo’a, “Ya Allah, mereka adalah keluargaku, ya Allah, hilangkanlah dosa dari mereka dan sucikanlah mereka sesuci-sucinya.” Lalu aku berkata, “Ya Rasulullah, adakah aku juga termasuk keluargamu?” Beliau menjawab, “Kamu juga termasuk keluargaku.” Watsilah berkata, “Inilah sebetulnya yang aku harapkan.”[9]

Dengan demikian, berarti jelaslah bahwa para istri Rasulullah saw. juga termasuk Ahlul Bait, sebagaimana Sayyidina Ali, Sayyidah Fathimah az-Zahra’, Sayyidina Hasan dan Husain Ra. Dalil-dalil yang ada, baik dari al-Qur’an maupun hadis, dengan sendirinya telah berbicara kepada Syiah, meluruskan kegagalan mereka dalam memahami ayat at-Tathhîr (al-Ahzab ayat 33) ini.

Ketiga, Syiah tidak memperhatikan siyâq (konteks) ayat. Jadi, mereka hanya mengambil potongan dari ayat ke 33 dalam surat al-Ahzab, serta mengasumsikan bahwa ayat itu tertentu pada Ahlul Bait menurut versi mereka. Padahal sudah jelas jika sasaran khitâb ayat ke 32 dari surat al-Ahzab itu mengarah pada para istri Nabi saw. (yâ nisâ’ an-Nabi…, wahai para istri Nabi…). Demikian pula halnya dengan ayat selanjutnya (ayat 33) yang masih mengarah pada para istri Nabi saw., di mana Allah Swt. memerintahkan mereka agar tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah jika zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya.

Lalu mengapa para istri Nabi saw. diperintahkan sedemikian? Bukankah Ummahât al-Mu’minin adalah orang-orang yang selalu berbuat kebaikan, mengikuti perintah dan menjauhi larangan? Di sini, al-Biqa’i (ketika membahas keserasian ayat) menjelaskan, bahwa hal itu dimaksudkan untuk memuliakan para istri Nabi saw., agar mereka lebih gemar menetap di dalam rumah, tidak berhias dan bertingkah laku sebagaimana orang jahiliyah, semakin giat melakukan shalat dan menunaikan zakat, serta semakin taat pada Allah dan Rasul-Nya. Nah, untuk menyangkal praduga buruk, bahwa perintah itu diturunkan karena para istri Nabi saw. berbuat keburukan-keburukan, maka ayat itu dilengkapi dengan alasan, mengapa para istri Nabi saw. diperintah sedemikian? Yakni bahwa “sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait, dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.”[10]

Untuk lebih jelasnya, berikut kami cantumkan kelengkapan dari ayat 32 dan 33 dari surat al-Ahzab:

يَانِسَاءَ النَّبِيِّ لَسْتُنَّ كَأَحَدٍ مِنَ النِّسَاءِ إِنِ اتَّقَيْتُنَّ فَلَا تَخْضَعْنَ بِالْقَوْلِ فَيَطْمَعَ الَّذِي فِي قَلْبِهِ مَرَضٌ وَقُلْنَ قَوْلًا مَعْرُوفًا (32) وَقَرْنَ فِي بُيُوتِكُنَّ وَلَا تَبَرَّجْنَ تَبَرُّجَ الْجَاهِلِيَّةِ الْأُولَى وَأَقِمْنَ الصَّلَاةَ وَآتِينَ الزَّكَاةَ وَأَطِعْنَ اللَّهَ وَرَسُولَهُ إِنَّمَا يُرِيدُ اللَّهُ لِيُذْهِبَ عَنْكُمُ الرِّجْسَ أَهْلَ الْبَيْتِ وَيُطَهِّرَكُمْ تَطْهِيرًا (33) وَاذْكُرْنَ مَا يُتْلَى فِي بُيُوتِكُنَّ مِنْ آيَاتِ اللَّهِ وَالْحِكْمَةِ إِنَّ اللَّهَ كَانَ لَطِيفًا خَبِيرًا (34

Hai istri-istri Nabi, kamu sekalian tidaklah seperti wanita yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk dalam berbicara sehingga berkeinginanlah orang yang ada penyakit dalam hatinya dan ucapkanlah perkataan yang baik. Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang Jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah shalat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan Rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa dari kamu, hai Ahlul Bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya. Dan ingatlah apa yang dibacakan di rumahmu dari ayat-ayat Allah dan hikmah (sunnah nabimu). Sesungguhnya Allah adalah Maha Lembut lagi Maha Mengetahui.” (QS. Al-Ahzab [33]: 32-34)

Kedua, Kebencian Syiah yang paling memuncak terhadap para istri Rasulullah saw. diarahkan kepada Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ. Hal itu tak lain karena Sayyidah Aisyah pernah terlibat konflik dengan Sayyidina Ali Ra. pada saat insiden Jamal.

Dari sini tentu dapat diduga, bahwa dalam hal ini Syiah hanya berangkat dari kebencian dan prasangka tak berdasar. Tuduhan mereka tidak memiliki rujukan ilmiah apa pun dalam studi sejarah. Padahal dalam sejarah dikemukakan bahwa Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ keluar bersama Thalhah dan az-Zubair bin al-Awam ke Bashrah dalam rangka mempersatukan kekuatan mereka bersama Ali bin Abi Thalib dan untuk menegakkan hukum qishash terhadap para pembunuh Sayyidina Utsman bin Affan Ra. Hanya saja Ali bin Abi Thalib meminta penundaan untuk menunaikan permintaan qishash tersebut. Ini semua mereka lakukan berdasarkan ijtihâd.[11]

Tawaran Sayyyidina Ali bin Abi Thalib Ra. kepada Sayyidah Aisyah radhillâhu ‘anhâ semata-mata untuk menyatukan cara pandang bahwa hukum qishash baru bisa ditegakkan setelah keadaan negara tenang. Beliau pun sangat mengetahui bahwa Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ bersama Thalhah dan az-Zubair datang ke Bashrah tidak dalam rangka memberontak kakhilafahannya. Karenanya mereka hampir membentuk kesepakatan bersama.[12]

Akan tetapi melihat keadaan seperti ini, beberapa kaum Saba’iyah (pengikut faham Abdullah bin Saba’, pendiri Syiah) mulai memancing konflik di antara pasukan Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ dan Sayyidina Ali Ra. hal ini menimbulkan dugaan bahwa salah satu pasukan telah berkhianat. Maka terjadilah insiden Jamal.[13]

Untuk menutup sub bagian ini, barangkali juga perlu dikemukakan, bahwa hubungan antara Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. dengan Sayyidah Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ tak seburuk seperti apa yang digambarkan oleh Syiah. Ath-Thabari meriwayatkan, bahwa di saat insiden jamal, Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra. pernah berkata, “Wahai kaum Muslimin! Dia (Aisyah) adalah seorang yang jujur dan demi Allah di aseorang yang baik. Sesungguhnya tidak ada antara kami dengan dia kecuali yang demikian itu. Dan dia adalah istri Nabi kalian di dunia dan di akhirat.”[14] Umm al-Mu’minîn Aisyah radhiyallâhu ‘anhâ menerima bahkan memerintahkan kaum Muslimin untuk berbai’at kepada Sayyidina Ali bin Abi Thalib Ra.[15]

By Apad Ruslan, diadaptasi dari buku: Mungkinkah SUNNAH-SYIAH DALAM UKHUWAH? Jawaban Atas Buku Dr. Quraish Shihab (Sunnah-Syiah Bergandengan Tangan, Mungkinkah?)

 

[1] Lihat, Shahîh Muslim, No. Hadis 4450

[2] Lihat, Tafsir Ath-Thabari, juz 20, hlm. 267, atau Tafsir Ibnu Katsir, juz 6, hlm. 410, lebih lanjut Ibnu Katsir mengatakan bahwa riwayat yang sambung kepada ‘Ikrimah ini juga di riwayatkan oleh Ibnu Abi Hatim yang lebih memperkuat atas keabsahan riwayat ini.

[3] Lihat, Shahîh Bukhari, No. Hadis 4419, riwayat yang sama bisa dilihat dalam Mustakhraj Abî ‘Awânah, juz 8, hlm. 433, Musnad Abî Ya’lâ, juz 8, hlm. 440 dan Musnad Abd bin Humaid, juz 4, hlm. 233.

[4] Lihat, Sunan Abî Dâwud, juz 3, hlm. 136, No. Hadis 832.

[5] Dalam ilmu al-Qur’an dikemukakan, bahwa bisa jadi asbâb an-nuzûl untuk satu ayat ada beberapa macam, sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya dalam pembahasan imâmah untuk satu ayat ada beberapa macam, sebagaimana telah kami kemukakan sebelumnya dalam pembahasan imâmah untuk tanggapan hadis pertama (Lebih lanjut, lihat as-Suyuthi dalam al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, hlm. 34, atau Al-Maliki dalam Zubdat al-Itqân fî ‘Ulûm al-Qur’ân, hlm. 22).

[6] Lihat, Tafsir ath-Thabarî, juz 20, hlm. 267.

[7] Lihat, Tafsîr Ibn Katsîr, juz 3, hlm. 486.

[8] Nama lengkapnya adalah Watsilah bin al-Asqa’ bin Ka’b bin ‘Amir bin Laits bin Abd Manat bin al-Asqa’ bin Abdillah bin Abd Yalil bin Nasyib bin Ghirah bin Sa’d bin Laits Abu al-Asqa’. Beliau disebut Abu Qarshafah, Abu Muhammad, Abu al-Khaththab dan Abu Syadad al-Laitsi. Beliau masuk Islam sebelum perang Tabuk dan sempat ikut serta dalam perang tersebut. Ibnu Sa’d mengatakan, Watsilah bin al-Asqa’ termasuk Ahl as-Suffah (penghuni teras Masjid Nabawi). Ketika Rasulullah saw. berpulang ke Rahmatullah, beliau keluar ke Syam. Abu Hatim mengatakan, Watsillahbin al-Asqa’ menetap di Syam dan ikut berpartisipasi dalam peperangan di Damaskus dan Himsha. Abu al-Hasan bin Sami’ menerima riwayat dari Duhaim, bahwa Watsilah bin al-Asqa’ meninggal dunia di Damaskus pada masa kekhilafahan Abdul Malik. Abu al-Mughirah meriwayatkan dari Ibn ‘Iyash dari Sa’id bin Khalid, bahwa Watsilah bin al-Asqa’ meninggal dunia pada tahun 83 (delapan puluh tiga) H. Beliau berumur 105 tahun. Informasi yang sama juga dimuculkan oleh ad-Dauri dan yang lain, dari Ibn Ma’in. Sa’id bin Basyir meriwayatkan dari Qatadah, bahwa Watsilah bin al-Asqa’ merupakan sahabat terakhir yang wafat di Damaskus. Lihat antara lain dalam Tahdzib at-Tahdzib (entri Watsilah bin al-Atsqa’) dan Taqrîb at-Tahdzîb.

[9] Lihat antara lain asy-Syaukani dalam Fath al-Qadîr, juz 6, hlm. 42-43. Al-Bukhari dalam Tarîkh al-Kabîr (entri Watsilah bin al-Asqa’) juga memeberikan riwayat yang persis sama. Kesimpulan yang paling sederhana dari riwayat ini adalah, bahwa sekalipun bukan termasuk kerabat beliau, akan tetapi Rasulullah saw. juga menganggap beliau sebagai Ahlul Bait.

[10] Lihat, Nazhm ad-Durar li al-Biqa’i , juz 6, hlm. 425.

[11] Lihat, Daf’ al-Kadzb, hlm. 216-217 dan 190-194.

[12] Lihat, Tarikh ath-Thabari, juz 5, hlm. 195-220.

[13] Ibid.

[14] Ath-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, juz 5 hlm. 225.

[15] Ibn Abi Syaibah, al-mushannaf, juz 7 hlm. 540.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *