Menguak Aroma Busuk di Balik Kredit Perbankan China untuk UKM

Bank Sentral China (People’s Bank of China/ PBOC) melonggarkan kebijakan moneter tahun ini. Sejumlah langkah pun diambil seperti memangkas giro wajib minimum (GWM) sebanyak empat kali sejak Januari 2018.

Kemudian pada 15 Oktober 2018, pengurangan rasio cadangan wajib alias (reserve requirement ratio/RRR) mulai efektif berlaku. Sebuah langkah yang akan menambah lebih dari US$100 miliar ke dalam sistem keuangan.

Pemerintah China ingin menunjukkan kebijakan itu berdampak kepada roda perekonomian. Bank-bank besar Cina pun turut serta dengan cara mendorong pinjaman ke perusahaan kecil yang membutuhkan uang, menawarkan pengabaian jaminan dan menetapkan target pinjaman.

Namun, fakta menunjukkan persyaratan kelayakan pinjaman bank untuk usaha kecil dan menengah (UKM) tetap ketat. Alhasil, mereka kesulitan mendapatkan pinjaman, menurut para eksekutif perbankan dan perusahaan.

Hal itu memaksa sejumlah perusahaan kecil, termasuk pengekspor, menyerah dalam meminjam dan menunda rencana investasi mereka. Demikian laporan yang dilansir dari Reuters, Rabu (17/10/2018).

Kesehatan jutaan UKM yang sebagian besar adalah milik pribadi penting bagi China dalam menghindari penurunan tajam dan pemutusan hubungan kerja massal, sembari di saat yang sama menghadapi perang dagang dengan Amerika Serikat (AS).

Guna mengarahkan pinjaman ke perusahaan-perusahaan kecil, otoritas telah menerbitkan petunjuk untuk bank, mengadakan pertemuan antara eksekutif bank dan perusahaan swasta, serta memberikan keringanan pajak untuk “pinjaman mikro” milik bank.

Industrial and Commercial Bank of China (ICBC), bank terbesar yang dikendalikan pemerintah, berkata ICBC telah membuka 230 pusat layanan di seluruh negeri yang didedikasikan untuk melayani peminjaman dari UKM.

Suku bunga pinjaman ICBC untuk bisnis kecil berada di rata-rata 4,64% di bulan Agustus. Angka tersebut berada di bawah rata-rata bunga pinjaman korporasi, yakni 5,97% di kuartal kedua.

“Mekanisme transmisi kebijakan moneter China berfungsi saat bunga pinjaman korporasi turun secara bulanan (month-on-month/mom) sejak bulan Juni,” kata Gubernur PBOC Yi Gang dalam wawancara dengan majalah keuangan China, Caixin yang dipublikasikan Sabtu (13/10/2018).

Agricultural Bank of China (AgBank), bank terbesar ketiga di negara itu, telah menetapkan kapitalisasi bunga pinjaman pada 7,5% di atas acuan suku bunga pinjaman di Wenzhou, menurut pejabat bank lokal.

AgBank juga sudah menetapkan target penerbitan pinjaman untuk perusahaan-perusahaan kecil di Wenzhou. Sementara beberapa perusahaan tidak perlu mengajukan jaminan jika catatan pajak mereka kuat, kata pejabat tersebut.

Wenzhou, kota pelabuhan yang sibuk di provinsi Zhejiang, terkenal karena keberadaan para wirausaha. Provinsi lain dengan konsentrasi jumlah perusahaan kecil milik pribadi yang tinggi termasuk Guangdong, Jiangsu dan Fujian. Semua provinsi tersebut terletak di pesisir.

Meskipun begitu, banyak perusahaan kecil yang berkata persyaratan keuangan tetap ketat. Data resmi pun menunjukkan 5,04 juta bisnis gulung tikar di semester pertama tahun ini.

“Ada banyak cara yang bisa dilakukan sebuah bank untuk terlihat seakan-akan pinjaman ke UKM memenuhi target. Misalnya memberi pinjaman ke berbagai anak perusahaan yang lebih kecil dengan perusahaan induk yang besar atau meminjamkan ke pemasok material perusahaan besar,” kata seorang banker senior.

Tidak cukup, tidak diinginkan
Data resmi memang menunjukkan pinjaman baru di bank melonjak. Total pinjaman baru selama delapan bulan melesat nyaris 19% dari setahun sebelumnya menjadi 11,76 triliun yuan (Rp 25.829 triliun), menurut data bank sentral yang terbaru.

Jumlah tersebut berada di jalur yang tepat untuk menciptakan rekor setahun penuh yang baru, yaitu melampaui 13,53 triliun yuan tahun lalu.

Namun kenaikan pinjaman hampir tidak mengompensasi penyusutan pinjaman “bayangan” yang menjadi salah satu target utama regulator, seraya mencoba membatasi risiko keuangan sistemis.

Neraca pinjaman sempat menjadi sumber utama pendanaan untuk perusahaan-perusahaan kecil yang secara tradisional dijauhi oleh bank negara yang besar.

Pertumbuhan tahunan dalam total pendanaan sosial (total social financing/TSF) luar biasa, ukuran kredit meluas yang mencakup bentuk pendanaan neraca pinjaman, melambat menjadi 10,1% di bulan Agustus.

Level tersebut merupakan rekor terendah dalam sejarah. “Kami memang menerbitkan lebih banyak pinjaman sekarang [ke perusahaan kecil], tetapi kenyataannya, mayoritas dari mereka masih belum memenuhi persyaratan kami,” kata seorang pejabat AgBank.

Lemahnya permintaan domestik dan proyeksi ekspor yang semakin tidak pasti juga mengurangi minat korporasi dalam mencari pendanaan.

Seorang pemilik pabrik lampu di Guangdong bermarga Cai mengatakan kepada Reuters bahwa dia tidak mempertimbangkan untuk mengambil utang yang lebih banyak karena perlambatan ekonomi, bahkan ketika bank menawarkan bunga jauh lebih rendah.

“Bank ingin kami meminjam lebih banyak ketika mereka kebanjiran uang, tetapi mereka akan mengingatkan pinjaman sebelumnya dalam waktu kurang dari setahun,” kata Cai. “Apa gunanya itu untuk pemilik bisnis? Tidak ada industri yang bisa menghasilkan laba dalam satu tahun. Utang adalah momok.”

Pada Agustus lalu, PBOC mendesak bank untuk tidak mengingatkan utang secara membabi buta, khususnya kepada perusahaan kecil yang menghadapi kesulitan operasional.

UKM dipandang berisiko oleh bank karena mereka memiliki kualitas jaminan maupun sokongan pemerintah yang terbatas jika terjadi default. Aliran dana terkadang tidak cukup stabil untuk menutup pembayaran bunga.

“Dulu, bagi bank besar seperti China Construction Bank [CCB] dan ICBC, cukup sulit untuk menyediakan 10 atau 20 miliar yuan ke bisnis kecil,” kata Direktur CCB Tian Guoli dalam sebuah acara industri di Beijing pekan lalu.

“Hal itu muncul dengan ongkos yang besar, dengan rasio kredit macet 5-6%, atau 7-8%, atau bahkan lebih tinggi. Jadi bank tidak memiliki sumber daya ataupun motivasi untuk melakukannya,” kata Tian.

Keterbatasan efektivitas
Proyeksi ekonomi China semakin terancam dengan memanasnya perang dagang dengan AS.

“Sebagian besar UKM China berorientasi ekspor dan ekspor mereka akan terdampak oleh perselisihan dagang China-AS,” kata Cao Yuanzheng, Kepala Ekonom Bank of China di Beijing. “Artinya kemungkinan mereka tidak berinvestasi, sehingga kemungkinan tidak meminjam uang,” lanjutnya.

Beberapa ekonom berkata pemangkasan RRR PBOC mungkin telah mencapai batas efektivitasnya. Untuk itu pemangkasan pajak yang besar mungkin lebih efektif dalam mendorong pertumbuhan.

Para analis mengatakan ada cakupan yang cukup seraya pertumbuhan pemasukan pajak tetap tinggi, naik 13,4% selama delapan bulan tahun 2018 menurut data Kementerian Keuangan China.

“Menurunkan RRR itu baik, tetapi tidak menyembuhkan semua penyakit,” tulis Financial News, sebuah surat kabar yang dikelola oleh PBOC, dalam editorial terbarunya.

Menguak Aroma Busuk di Balik Kredit Perbankan China untuk UKMFoto: infografis/Musuh-musuh Perang Dagang Trump/Aristya Rahadian Krisabella

(miq/prm)

sigabah.com | cnbcindonesia.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *