MENGGAPAI KEAGUNGAN LAILATUL QADAR (Bagian Ke-3-Tamat)

Kapan Lailatul Qadar “Jilid 2 itu terjadi?

Hadis-hadis yang berhubungan dengan “waktu terjadinya Lailatul Qadar” cukup banyak, baik dilihat dari aspek variasi sumber periwayatan maupun dari aspek variasi redaksi. Hadis-hadis itu sebagai berikut:

Hadis Pertama

عَنْ عُقْبَةَ وَهُوَ ابْنُ حُرَيْثٍ قَالَ سَمِعْتُ ابْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

Dari Uqbah, yaitu bin Huraits, ia berkata, “Saya mendengar Ibnu Umar Ra. Berkata, ‘Rasulullah saw. bersabda, ‘Carilah ia pada sepuluh terakhir (Ramadhan), yakni Lailatul Qadar. Maka jika salah seorang dari kalian tidak sempat atau tidak mampu, maka jangan sampai terlewatkan tujuh malam terakhir’.” HR. Muslim dan Ibnu Khuzaimah. [1]  Hadis di atas diriwayatkan pula dari Aisyah sebagai berikut:

 عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا قَالَتْ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Dari Aisyah Ra. bahwasannya Nabi saw. bersabda, Carilah Lailatul Qadar itu pada sepuluh terakhir terakhir bulan Ramadhan.” HR. Muslim dan At-Tirmidzi. [2]

Pemahaman hadis

Maksudnya, cari dari malam 21 sampai 29 atau 30 Ramadhan. Hadis ini tidak menginformasikan ketentuan harinya secara pasti, bisa jadi ke-21, 22, 23, dan seterusnya. Karena itu hadis ini kami kategorikan sebagai hadis mujmal (keterangan secara umum) atau mutlaq (tanpa batasan).

Hadis Kedua

عَنْ عَائِشَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهَا أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْوِتْرِ مِنْ الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

Dari Aisyah bahwasannya Nabi saw. bersabda, Carilah Lailatul Qadar itu pada malam-malam ganjil dari sepuluh terakhir terakhir bulan Ramadhan.” HR. Al-Bukhari dan Al-Baihaqi. [3]

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ahmad dengan sedikit perbedaan redaksi. [4]

Dalam riwayat lain dijelaskan oleh Ibnu Umar

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ رَأَى رَجُلٌ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لَيْلَةُ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَقَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فَاطْلُبُوهَا فِي الْوِتْرِ مِنْهَا

Dari Ibnu Umar, ia berkata, “Seseorang bermimpi bahwa Lailatul Qadr terdapat pada malam kedua puluh tujuh bulan Ramadhan. Maka Nabi saw. bersabda, ‘Aku bermimpi seperti mimpimu, yaitu pada sepuluh malam yang akhir. Karena itu, carilah ia pada malam-malam yang ganjil.” HR. Muslim. [5]

Pemahaman hadis

Pada hadis ini terdapat qayyid (pembatas) dengan kalimat fii al-witr (pada malam-malam ganjil) di sepuluh malam terakhir itu. Maksudnya, carilah pada malam 21, 23, 25, 27, atau 29.

Dengan demikian, maka hadis-hadis kedua menjadi pembatas atau keterangan terperinci dari hadis-hadis pertama yang mutlaq.

Hadis Ketiga

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

Dari Ibnu Umar Ra., dari Nabi saw. beliau bersabda, “Carilah Lailatul Qadar itu pada 7 terakhir (bulan Ramadhan). HR. Muslim, Malik, Abu Dawud, dan Al-Baihaqi. [6]

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Ahmad dengan tambahan kalimat akhir: “Min Ramadhaan (dari bulan Ramadhan).” [7]

Pemahaman hadis

Hadis di atas mengandung pengertian kalau Ramadhan 30 hari, carilah dari malam 24 hingga 30 = 7 hari. Kalau Ramadhan 29 hari, cari dari 23 hingga 29 = 7 hari.

Hadis Keempat:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ الْتَمِسُوهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي تَاسِعَةٍ تَبْقَى فِي سَابِعَةٍ تَبْقَى فِي خَامِسَةٍ تَبْقَى

Dari Ibnu Abas Ra. bahwa Nabi saw. bersabda, Carilah dia (Lailatul Qadar) pada 10 terakhir bulan Ramadhan. Lailatul Qadar itu tetap (ada) pada malam ke-9, malam ke-7, malam ke-5.” HR. Al-Bukhari dan Al-Baihaqi. [8]

Hadis ini diriwayatkan pula dengan sedikit perbedaan redaksi oleh Ahmad, Abu Dawud, dan Abu Dawud Ath-Thayalisi. [9]

Pemahaman hadis

Ungkapan yang ke-9 dari 10 akhir itu maksudnya malam ke-21. Ungkapan yang ke-7 dari 10 akhir maksudnya malam ke-23. Ungkapan yang ke-5 dari 10 akhir maksudnya malam ke-25.

Dengan demikian, hadis di atas mengandung pengertian: “Carilah pada malam 21, 23, 25”. Keterangan ini tidak bertentangan dengan hadis-hadis yang memberi petunjuk umum, karena tidak membatasi hanya pada tanggal-tanggal tersebut saja yang harus dicari itu.

Hadis Kelima

عَنْ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا أَنَّ رِجَالًا مِنْ أَصْحَابِ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُرُوا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْمَنَامِ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرَى رُؤْيَاكُمْ قَدْ تَوَاطَأَتْ فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ فَمَنْ كَانَ مُتَحَرِّيهَا فَلْيَتَحَرَّهَا فِي السَّبْعِ الْأَوَاخِرِ

Dari Ibnu Umar Ra. bahwa beberapa orang dari sahabat Nabi saw. menyaksikan Lailatul Qadar dalam mimpi terjadi pada tujuh hari terakhir. Maka Rasulullah saw. bersabda, Aku memandang bahwa mimpi kalian tentang Lailatul Qadar tepat terjadi pada tujuh malam terakhir, maka siapa yang mau mencarinya, lakukanlah pada tujuh malam terakhir. HR. Al-Bukhari dan Muslim. [10]

Hadis di atas diriwayatkan pula dengan redaksi:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ كَانَ مُتَحَرِّيَهَا فَلْيَتَحَرَّهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ وَقَالَ تَحَرَّوْهَا لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Dari Ibnu Umar, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa mencarinya, maka carilah ia (Lailatul Qadar) pada malam ke27, dan beliau bersabda, “Carilah ia pada malam ke27, yakni lailatul qadar. HR. Ahmad, Al-Baihaqi, dan Abu Dawud Ath-Thayalisi. [11]

Hadis ini tidak membatasi bahwa terjadinya Lailatul Qadar itu hanya pada malam 27 saja, namun keterangan ini termasuk salah satu bayan (penjelas) bagi petunjuk umum.

 Kesimpulan

Berdasarkan hasil analisa di atas, maka kita mengetahui bahwa meskipun berbeda redaksi namun pada dasarnya hadis-hadis itu menunjukkan makna yang sama, bahwa Lailatul Qadar itu akan terjadi di antara malam-malam berikut: 21, 23, 25, 27, atau 29.

Selain itu, hadis-hadis di atas juga menunjukkan bahwa setiap tahun “posisi” Lailatul Qadar itu tidak selalu berada pada tanggal yang sama. Sehubungan dengan itu, Ibnu Hibban telah membuat judul bab:

ذِكْرُ الْخَبَرِ الدَّالِّ عَلَى أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ تَنْتَقِلُ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ فِي كُلِّ سَنَةٍ دُونَ أَنْ يَكُونَ كَوْنُهَا فِي السِّنِينَ كُلِّهَا فِي لَيْلَةٍ وَاحِدَةٍ

“Keterangan khabar yang menunjukkan bahwa Lailatul Qadar di sepuluh malam terakhir itu akan berpindah pada setiap tahun, dan keadaannya pada tiap tahun tidak tetap di malam yang sama.”[12]

Mengapa Nabi saw. tidak Menjelaskan Secara detail?

عَنْ عُبَادَةَ بْنِ الصَّامِتِ قَالَ : خَرَجَ نَبِـيُّ اللهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَقَالَ : خَرَجْتُ ِلأُخْبِرَكُمْ بِلَيْلَةِ القَدْرِ، فَتَلاَحَى رَجُلاَنِ مِنَ اْلمُسْـلِمِينَ فَتَلاَحَى فُلاَنٌ وَفُلاَنٌ فَرُفِعَتْ،وَعَسَى أَنْ يَكُونَ خَيْرًا لَكُمْ فَالتَمِسُوهَا فِي التَّاسِعَةِ وَالسَّابِعَةِ وَالخَامِسَةِ

Dari Ubadah bin Shamit ra, ia mengatakan, “Nabi Allah saw. keluar untuk memberi tahu kami tentang lailatul Qadar, namun dua orang dari muslimin bertengkar. Beliau bersabda, ’Saya keluar untuk memberi tahu kalian tentang lailatul qadr, tetapi si fulan dan si fulan bertengkar. Maka diangkatlah dariku, tetapi mudah-mudahan jadi lebih baik bagi kamu. Maka carilah pada malam kesembilan, ketujuh dan kelima.” HR. Al-Bukhari, Ath-Thahawi, dan Ibnu Hibban. [13]

Lailatul Qadar yang dimaksud tidak sempat dijelaskan dengan lebih terperinci oleh Rasulullah saw. sehinggga hal itu senantiasa dipertanyakan. Tetapi yang jelas mengenai fadhilah dan keutamaannya tergambar pada sikap beliau ketika menghadapi sepuluh malam terakhir bulan Ramadan, yang padanya terdapat Lailatul Qadar. Maka dapat disimpulkan bahwa Rasululah saw. sendiri tidak diberitahu kapan tepatnya terjadi Lailatul Qadar.

Informasi tentang Lailatul Qadar diangkat kembali dengan sebab perkelahian antara dua orang laki-laki di hadapan Rasululah saw. Hal ini menunjukkan bahwa Lailatul Qadr tidak layak hadir di antara orang yang sedang berbuat maksiat. Sehubungan dengan itu, Al-Bukhari menetapkan judul di dalam kitab shahihnya:

بَاب رَفْعِ مَعْرِفَةِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لِتَلَاحِي النَّاسِ

Bab diangkatnya pengetahuan tentang (waktu terjadinya) Lailatul Qadr disebabkan pertengkaran manusia.” [14]

Dengan demikian kita dapat mengambil pelajaran bahwa dengan tidak dijelaskannya kepastian waktu terjadi Lailatul Qadr, Rasulullah saw. berharap bahwa hal itu akan lebih baik untuk kita. Apa kebaikan yang dimaksud? Menurut sebagian ulama, agar kita bersungguh-sungguh dalam menyambutnya dengan beribadah di setiap malam pada malam-malam terakhir itu. Andaikata waktu terjadinya itu langsung disebutkan pada malam tertentu, tentu saja setiap orang akan bersungguh-sungguh hanya di malam itu, sementara untuk malam-malam lainnya akan kehilangan “gairah” dan “antusias” dalam beribadah.

Orang Yang memperoleh Keagungan Lailatul Qadar

Rasulullah saw. menyebutkan syarat-syarat dan tanda-tanda orang yang akan memperoleh “keutamaan” Lailatul Qadar sebagai berikut:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ وَمَنْ صَامَ رَمَضَانَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah, dari Nabi saw., beliau bersabda, “Barangsiapa menghidupkan Lailatul Qadar (mengisi dengan ibadah) karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya, dan barangsiapa melaksanakan shaum Ramadhan karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala (hanya dariNya) maka akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya.” HR. Al-Bukhari.[15]

Imam al-Bukhari meriwayatkan pula dengan redaksi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ قَالَ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِهِ

Dari Abu Hurairah, ia berkata, Rasulullah saw. bersabda, “Barangsiapa menegakkan Lailatul Qadar karena iman dan mengharap pahala, maka diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” HR. Al-Bukhari. [16]

Hadis di atas diriwayatkan pula dengan redaksi:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَيُوَافِقُهَا أُرَاهُ قَالَ إِيمَانًا وَاحْتِسَابًا غُفِرَ لَهُ

Dari Abu Hurairah dari Nabi saw., beliau bersabda, “Barangsiapa menegakkan (shalat dengan mengharap) malam Lailatul Qadar, lalu ia mendapatinya—menurutku ia mengatakan—dengan penuh keimanan dan pengharapan (akan pahala dari Allah), maka ia akan diampuni.” HR. Muslim dan Al-Baihaqi. [17]

Penjelasan Kalimat

مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ

Kalimat: Qaama Lailatal Qadri berarti menghidupkan malam itu dengan beribadah atau dapat dimaknai pula menaati Allah pada malam itu. [18]

 

Kata Imam an-Nawawi

( مَنْ قَامَ لَيْلَةَ الْقَدْرِ ) : هَذَا مَعَ الْحَدِيْثِ الْمُتَقَدِّمِ مَنْ قَامَ رَمَضَانَ قَدْ يُقَالُ إِنَّ أَحَدَهُمَا يُغْنِي عَنِ الْآخَرِ وَجَوَابُهُ أَنْ يُقَالَ قِيَامُ رَمَضَانَ مِنْ غَيْرِ مُوَافَقَةِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ وَمَعْرِفَتِهَا سَبَبٌ لِغُفْرَانِ الذُّنُوبِ ، وَقِيَامُ لَيْلَةِ الْقَدْرِ لِمَنْ وَافَقَهَا وَعَرَفَهَا سَبَبٌ لِلْغُفْرَانِ وَإِنْ لَمْ يَقُمْ غَيْرَهَا

“Hadis: ‘Barangsiapa menegakkan (shalat dengan mengharap) malam Lailatul Qadar.’ Ini bersama hadis yang telah lalu: ‘Barangsiapa menegakkan (shalat) di bulan Ramadhan.’ Terkadang dinyatakan bahwa salah satu di antara kedua hadis itu cukup mewakili satu sama lain. Dan jawabannya dapat dikatakan, ‘Menegakkan (shalat) di bulan Ramadhan tanpa mendapati malam Lailatul Qadar dan tidak mengetahuinya adalah penyebab diampuninya dosa, dan menegakkan (shalat dengan mengharap) malam Lailatul Qadar bagi orang yang mendapatinya dan juga mengetahuinya adalah penyebab diampuninya dosa meskipun tidak menegakkan salat di luar malam itu.” [19]

Penjelasan Kalimat

مَنْ يَقُمْ لَيْلَة الْقَدْر فَيُوَافِقُهَا

“Barangsiapa menghidupkan malam Lailatul Qadar dengan ibadah, lalu dia mendapatinya”

Kata Imam an-Nawawi, “Kalimat

فَيُوَافِقُهَا

Maknanya

يَعْلَمُ أَنَّهَا لَيْلَةُ الْقَدْرِ

“Dia mengetahui bahwa malam itu adalah Lailatul Qadar.” [20]

Imam al-Iraqi berkata:

قُلْتُ إِنَّمَا مَعْنَى تَوْفِيْقِهَا لَهُ أَوْ مُوَافَقَتِهِ لَهَا أَنْ يَكُوْنَ الْوَاقِعُ أَنَّ تِلْكَ اللَّيْلَةَ الَّتِيْ قَامَهَا بِقَصْدِ لَيْلَةِ الْقَدْرِ هِيَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِي نَفْسِ الأَمْرِ وَإِنْ لَمْ يَعْلَمْ هُوَ ذلِكَ

“Menurut saya, makna menjumpainya ialah bahwa pada hakikatnya malam itu yang ia menghidupkannya dengan tujuan mencari Lailatul Qadar benar-benar Lailatul Qadar, meskipun ia tidak mengetahuinya.” [21]

Al-Faqih Abu Hafsh Umar bin Ibrahim al-Hafizh berkata:

وَقَوْلُهُ: مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ القَدْرِ فَيُوَافِقُهَا

وَيَقُمْ فِي هذِهِ الرِّوَايَةِ يَعْنِيْ بِهِ يَطْلُبُ بِقِيَامِهِ لَيْلَةَ الْقَدْرِ وَحِيْنَئِذٍ يَلْتَئِمُ مَعَ قَوْلِهِ: يُوَافِقُهَا لِأَنَّ مَعْنَى يُوَافِقُهَا: يُصَادِفُهَا، وَمَنْ صَلَّى فِيْهَا فَقَدْ صَادَفَهَا وَيَحْتَمِلُ أَنْ تَكُوْنَ الْمُوَافَقَةُ هُنَا عِبَارَةً عَنْ قَبُوْلِ الصَّلاَةِ فِيْهَا وَالدُّعَاءِ أَوْ يُوَافِقُ الْمَلاَئِكَةَ فِي دُعَائِهَا أَوْ يُوَافِقُهَا حَاضِرُ الْقَلْبِ مُتَأَهِّلاً لِحُصُوْلِ الْخَيْرِ وَالثَّوَابِ إِذْ لَيْسَ كُلُّ دُعَاءٍ يُسْمَعُ وَلاَ كُلُّ عَمَلٍ يُقْبَلُ فَإِنَّهُ : { إِنَّمَا يَتَقَبَّلُ اللَّهُ مِنَ الْمُتَّقِينَ }

“Dan sabdanya:

مَنْ يَقُمْ لَيْلَةَ القَدْرِ فَيُوَافِقُهَا

‘Barangsiapa menegakkan (shalat dengan mengharap) malam Lailatul Qadar, lalu ia mendapatinya.’

Dan kata yaqum pada riwayat ini bermakna ‘siapa yang mencari Lailatul Qadar dengan salatnya.’ Dan ketika itu bersatu dengan perkataannya yuwafiquhaa, karena kalimat yuwafiquhaa bermakna menjumpainya, dan siapa yang melaksanakan salat pada malam Lailatul Qadar sungguh ia telah menjumpainya. Dan kalimat yuwafiquhaa itu dapat dimaknai pula (a) bahwa salat dan doanya maqbul (diterima), (b) sesuai dengan malaikat dalam berdoa di malam itu, (c) menjumpainya dengan kehadiran hati yang pantas untuk memperoleh kebaikan dan pahala, sebab tidak setiap doa diijabah dan tidak setiap amal diterima, karena Allah hanya akan menerima dari orang-orang bertakwa.” [22]

Berbagai penjelasan di atas menunjukkan bahwa orang yang menghidupkan Lailatul Qadar dengan ibadah akan diampuni dosa-dosa yang telah dikerjakannya. Pencapaian ini setelah memenuhi persyaratan: karena iman kepada Allah dan mengharapkan pahala hanya dari-Nya.

Adapun tanda-tanda orang yang mendapatkan kemuliaan malam itu, kata Imam ath-Thabari, tidak mesti melihat atau mendengar sesuatu. Karena tanda-tanda fisik seperti itu, kata beliau, bukanlah suatu kemestian. [23]

Menurut sebagian ahli ilmu, tanda-tanda itu berupa “tanda” batin atau rohani, yaitu pada malam tersebut orang mukmin yang shaleh akan merasakan lapang hati dan memiliki kecenderungan dalam menetapi ibadah kepada Allah. Demikian itu sebagai bagian dari taufik Allah kepada hamba-Nya yang shaleh. Wallahu A’lam. [24]

By Amin Muchtar, sigabah.com./beta

[1]Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, II:823, No. hadis 1165; Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, III:327, No. hadis 2183.

[2]Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, II:828, No. hadis 1169; At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, III:158, No. hadis 792

[3]Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:710, No. hadis 1913; Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, IV:308, No. hadis 8314.

[4]Lihat, Musnad Ahmad, VI:73, No. hadis 24.489.

[5]Lihat, Shahih Muslim, II:823, No. hadis 1165.

[6]Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, II:823, No. hadis 1165; Malik, Al-Muwatha, I:320, No. hadis 694; Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:53, No. hadis 1385; Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, IV:311, No. hadis 8330.

[7]Lihat, Musnad Ahmad, II:113, No. hadis 5932.

[8]Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:711, No. hadis 1917; Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, IV:308, No. hadis 8316.

[9]Lihat, HR. Ahmad, Musnad Ahmad, I:231, No. hadis 2052; I:279, No. hadis 2520; I:365, No. hadis 3456; III:234, No. hadis 13.477; V:36, No. hadis 20.392; Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:52, No. hadis 1381; Abu Dawud Ath-Thayalisi, Musnad Ath-Thayalisi, I:118, No. hadis 881.

[10]Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, I:388, No. hadis 1105, II:709, No. hadis 1911; Muslim, Shahih Muslim, II:822, No. hadis 1165.

[11]Lihat, HR. Ahmad, Musnad Ahmad, II:27, No. hadis 4808; Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, IV:311, No. hadis 8331; Abu Dawud Ath-Thayalisi, Musnad Ath-Thayalisi, I:257, No. hadis 1888.

[12]Lihat, Shahih Ibnu Hiban, VIII:443.

[13]Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, I:27, No. 49, II:711, No. hadis 1919; Ath-Thahawi, Syarh Ma’aani Al-Atsaar, III:89; Ibnu Hibban, Shahih Ibnu Hibban, VIII:435, No. hadis 3679.

[14]Lihat, Shahih al-Bukhari, V:158.

[15]Lihat, Shahih al-Bukhari, II:672, No. 1802.

[16]Lihat, Shahih al-Bukhari, I:22, No. 35.

[17]Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, I:524, No. 760; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV:306, No. 8307.

[18]Lihat, Dalil al-Falihin Li Thariq Riyadh ash-Shalihin, VII:13; Mir’ah al-Mafatih, XIV:302.

[19]Lihat, Ad-Dibaj ‘ala Muslim, II:336.

[20]Lihat, Syarh Shahih Muslim, III: 104.

[21]Lihat, Tharh at-Tatsrib fii Syarh at-Taqrib, IV:157.

[22]Lihat, al-Mufham limaa Asykala Min Talkhis Kitab Muslim, VII:24.

[23]Lihat, Fath al-Bari Syarh Shahih al-Bukhari, VI:306.

[24]Lihat, Syarh Kitab Ash-Siyam Min Bulugh al-Maram, I:102.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *