MENGGAPAI KEAGUNGAN LAILATUL QADAR (Bagian Ke-2)

Makna Kedua: Lailatul Qadar Pada Setiap Bulan Ramadhan

Dalam makna kedua, Lailatul Qadar adalah salah satu malam yang terjadi pada setiap bulan Ramadhan. Pemaknaan ini kita peroleh dari jawaban Nabi terhadap pertanyaan yang diajukan oleh seseorang, sebagaimana diterangkan Ibnu Umar sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عُمَرَ قَالَ : سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- وَأَنَا أَسْمَعُ عَنْ لَيْلَةِ الْقَدْرِ فَقَالَ : هِىَ فِى كُلِّ رَمَضَانَ

Dari Abdullah bin Umar, ia berkata, “Rasulullah saw. ditanya tentang Lailatul Qadar dan aku mendengarnya. Beliau bersabda, ‘Ia (Lailatul Qadar itu) ada pada tiap bulan Ramadhan.” HR. Abu Dawud, Al-Baihaqi, dan Ath-Thahawi. [1]

Dalam konteks inilah Rasulullah menganjurkan umatnya untuk mempersiapkan diri menyambut malam yang mulia itu. Nabi saw. bersabda:

إِلْتَمِسُوْهَا فِي العَشْرِ الأَوَاخِرِ

“Maka carilah oleh kalian pada sepuluh (malam) terakhir.” HR. Al-Bukhari, Ahmad, al-Baihaqi, al-Hakim, Ibnu Hiban, dan Ath-Thahawi. [2]

Dalam riwayat lain dengan redaksi:

فَلْيَلْتَمِسْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ

“Maka carilah oleh kalian pada sepuluh (malam) terakhir.” HR. Muslim. [3]

Juga dengan redaksi:

تَحَرَّوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ

“Selidikilah oleh kalian lailatul Qadar pada sepuluh (malam) terakhir di bulan Ramadhan.” HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, al-Baihaqi, Malik, dan Ibnu Abu Syaibah. [4]

Berdasarkan keterangan di atas kita mengetahui bahwa Lailatul Qadar yang dianjurkan untuk dicari itu terdapat pada setiap bulan Ramadhan, lebih tepatnya pada sepuluh hari terakhir bulan itu. Meski demikian, Rasululullah tidak menerangkan secara pasti tanggal berapa, hanya menganjurkan agar lebih diperhatikan malam-malam setelah tanggal 20 Ramadhan. (Baca keterangan detail tanggal kemunculannya pada edisi selanjutnya)

Allah sengaja tidak memberitahukan kepada Nabi secara pasti tanggal berapa Lailatul Qadar itu terjadi, dalam hal ini terkandung nilai pendidikan (tarbiyyah) yang amat mulia, yakni agar tiap malam kaum muslimin mengisi malamnya dengan ibadah dan doa, terutama pada malam-malam ganjil setelah berlalu 20 Ramadhan. Hal itu tampak jelas dari sikap Rasululah saw. pada sepuluh hari terakhir setiap bulan Ramadan, dengan mengajak keluarganya untuk bangun menghidupkan malam itu lebih giat dari malam-malam sebelumnya. Aisyah menjelaskan:

كَانَ النَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم، إِذَا دَخَلَ الْعَشْرُ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَأَحْيَا لَيْلَهُ، وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“Nabi saw. apabila memasuki sepuluh terakhir bulan Ramadhan, beliau mengencangkan sarungnya dan tidak tidur serta membangunkan keluarganya.” HR. Al-Bukhari dan Al-Baghawi.[5]

Dalam riwayat lain dengan redaksi:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم – اذَا بَقِىَ عَشْرٌ مِنْ رَمَضَانَ شَدَّ مِئْزَرَهُ وَاعْتَزَلَ اهْلَهُ

“Rasulullah saw. apabila tersisa sepuluh hari bulan Ramadhan, beliau mengencangkan ikat pinggangnya dan menjauhi istrinya.” HR. Ahmad. [6]

Juga dengan redaksi:

كَانَ رَسُولُ اللَّهِ – صلى الله عليه وسلم يَجْتَهِدُ فِى الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مَا لاَ يَجْتَهِدُ فِى غَيْرِهِ

“Rasulullah saw. bersungguh-sungguh pada sepuluh hari akhir bulan Ramadhan, yang tidak beliau lakukan hal itu pada waktu lainnya.” HR. Muslim, Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasai, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, Al-Baihaqi, dan Ibnu Abu Syaibah. [7]

Penjelasan Makna Hadis

Para ulama berbeda pendapat dalam memaknai kalimat:

شَدَّ مِئْزَرَهُ

“beliau mengencangkan sarungnya”

Sebagian ulama memahami kalimat itu secara kinayah (kiasan) dari makna bersiap siaga untuk ibadah. Sementara ulama yang lain mengartikannya secara hakiki juga kiasan, yaitu menggunakan sarung dan tidak melepaskannya, menjauhi istrinya (tidak bercampur) dan bersiap siaga untuk ibadah. Namun kata Imam ash-Shan’ani, “Kalimat itu dimaknai ‘menjauhi istrinya’ tidak tepat sebab di dalam riwayat lain disebutkan dengan redaksi:

فَشَدَّ مِئْزَرَهُ وَاعْتَزَلَ النِّسَاءَ

“beliau mengencangkan sarungnya dan menjauhi istri-istrinya.” Penggunaan huruf waw (dan) menunjukkan makna perbedaan. Adapun kalimat:

وَأَحْيَا لَيْلَهُ

“Dan menghidupkan malamnya.” Menunjukkan makna majazi (kiasan), yaitu tidak tidur di malam itu. Sedangkan kalimat:

وَأَيْقَظَ أَهْلَهُ

“serta membangunkan keluarganya.” Maksudnya, untuk salat dan ibadah yang lain.

Sikap keseriusan ini lebih dikhususkan oleh Rasulullah di sepuluh malam terakhir karena waktu untuk ibadah demikian di bulan Ramadhan akan segera berakhir. [8]

Bagaimana dengan orang yang tidak sanggup melakukan itu di sepuluh malam terakhir secara terus menerus? Sehubungan dengan itu, Rasulullah saw. bersabda:

إِلْتَمِسُوْهَا فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ يَعْنِي لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَإِنْ ضَعُفَ أَحَدُكُمْ أَوْ عَجَزَ فَلَا يُغْلَبَنَّ عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

“Carilah ia pada sepuluh terakhir (Ramadhan), yakni Lailatul Qadr. Maka jika salah seorang dari kalian lemah atau tidak mampu, maka jangan sampai terlewatkan tujuh malam terakhir.” HR. Muslim dan Ibnu Khuzaimah. [9]

Dalam riwayat lain dengan redaksi:

أُطْلُبُوْا لَيْلَةَ الْقَدْرِ فِي الْعَشْرِ الْأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ فَإِنْ غُلِبْتُمْ فَلَا تُغْلَبُوا عَلَى السَّبْعِ الْبَوَاقِي

“Carilah Lailatul Qadar di sepuluh hari terakhir bulan Ramadhan. Jika kalian tidak mampu maka jangan terlewatkan pada tujuh hari yang tersisa.” HR. Ahmad. [10]

Sikap demikian itu tampak lebih jelas lagi dari ajakan dan pengumuman yang dilakukan beliau pada sore hari setelah salat Ashar, kepada khalayak untuk berjamaah salat Tarawih di malam-malam ganjil, sebagaimana diterangkan oleh Abu Dzar sebagai berikut:

عَنْ أَبِى ذَرٍّ قَالَ لَمَّا كَانَ العَشْرُ الأَوَاخِرُ إِعْتَكَفَ رَسُولُ اللهِ صلى الله عليه وسلم فِى الْـمَسْجِدِ فَلَمَّا صَلَّى الـنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم صَلاَةَ العَصْرِ مِنْ يَوْمِ اثْـنَـيْنِ وَعِشْرِينَ قَالَ : إِنَّا قَائِمُونَ اللَيْلَةَ إِنْ شَاءَ اللهُ، مَنْ شَاءَ مِنْكُمْ أَنْ يَقُومَ فَلْيَقُمْ وَهِيَ لَيْلَةُ ثَلاَثٍ وَعِشْرِينَ فَصَلاَّهَا الـنَّبِيُّ صلى الله عليه وسلم جَمَاعَةً بَعْدَ العَتَمَةِ حَتَّى ذَهَبَ ثُلُثُ اللَيْلِ ثُمَ انْصَرَفَ، فَلَمَّا كَانَ لَيْلَةَ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا وَلَمْ يَقُمْ فَلَمَّا لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ قَامَ بَعْدَ صَلاَةِ العَصْرِ يَوْمَ أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ ، فَقَالَ إِنَّا قَائِمُونَ اللَّـيْلَةَ إِنْ شَاءَ اللهُ يَعْنِى لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ فَمَنْ شَاءَ فَلْيَقُمْ فَصَلَّى بِالنَّاسِ حَتَّي ذَهَبَ ثُلُثُ اللَيْلِ ثُمَّ انْصَرَفَ فَلَمَّا كَانَ لَيْلَةَ سِتٍّ وَعِشْرِينَ لَمْ يَقُلْ شَيْئًا وَلَمْ يَقُمْ فَلَمَّا كَانَ عِنْدَ صَلاَةِ العَصْرِ مِنْ يَوْمِ سِتٍّ وَعِشْرِينَ قَامَ فَقَالَ إِنَّا قَائِمُونَ إِنْ شَاءَ اللهُ يَعْنِى لَيْلَةَ سَبْعٍ وَعِشْرِينَ فَمَنْ شَاءَ أَنْ يَقُومَ فَلْيَقُمْ قَالَ أَبُو ذَرٍّ فَـتَجَلَّدْنَا لِلْقِيَامِ فَصَلَّى بِنَا النَّبِيُّ e حَتَّى ذَهَبَ ثُلُـثَا اللَيْلِ ثُمَّ انْصَرَفَ اِلَى قُـبَّتِهِ فِى الْـمَسْجِدِ فَقُلْتُ لَهُ إِنْ كُنَّا لَقَدْ طَمِعْنَا يَا رَسُولَ اللهِ أَنْ تَقُومَ بِنَا حَتَّى تُصْبِحَ، فَقَالَ يَا أَبَا ذَرٍّ إِنَّكَ إِذَا صَلَّيْتَ مَعَ إِمَامِكَ وَانْصَرَفْتَ إِذَا انْصَرَفَ كُتِبَ لَكَ قُنُوتُ لَيْلَتِكَ

Dari Abu Dzar, ia berkata, ”Tatlaka sepuluh hari terakhir Ramadhan, Rasulullah saw. itikaf di masjid, ketika salat ashar pada hari ke 22, ia bersabda, ‘Insya Allah kita akan berjamaah malam ini, siapa di antara kamu yang akan salat pada malam itu silahkan ia salat, yakni malam ke 23, kemudian Nabi salat malam itu dengan berjamaah setelah salat isya sampai lewat sepertiga malam. Kemudian beliau pulang. Pada malam ke 24, ia tidak berkata apapun dan tidak mengimami, pada malam ke 25 beliau berdiri setelah salat ashar, yaitu pada hari ke 24, kemudian bersabda, ‘Kita akan berjamaah malam ini Insya Allah yakni pada malam ke 25, Siapa pun yang mau ikut berjamaah silahkan’ Kemudian ia mengimami orang-orang sampai lewat sepertiga malam. Kemudian ia pulang. Tatkala malam ke 26 ia tidak berkata apa pun dan tidak mengimami kami, tatkala malam ke 27, beliau berdiri setelah salat ashar pada hari ke 26, kemudian berdiri dan bersabda, ‘Insya Allah kita akan berjamaah malam ini yakni pada malam ke 27, siapa yang akan mengikuti berjamaah silahkan ‘Abu Dzar berkata, ‘Maka kami berusaha keras untuk ikut salat berjamaah itu, lalu Nabi saw. mengimami kami sampai lewat dua pertiga malam. Kemudian beliau pergi menuju Qubahnya di masjid (karena sedang I’tikaf). saya berkata padanya, ‘Bagaimana jika kami sangat menginginkan tuan mengimami kami sampai subuh. Beliau bersabda, ‘Wahai Abu Dzar jika engkau salat beserta imammu, dan engkau selesai (salat) ketika imam itu selesai, telah ditetapkan (pahala) untukmu ketaatanmu pada malam itu.” HR. Ahmad dan Ath-Thabrani. [11]

Berbagai keterangan di atas menunjukkan bahwa, keagungan Lailatul Qadar dan kebesaran nilainya tidak ada artinya bagi kaum muslimin bila pada malam itu tidur atau bangun tapi tidak melakukan amal ibadah, sebab pada malam itu Allah memberikan kesempatan bagi kaum muslimin untuk bangun melakukan ibadah. Karena itu, keagungan Lailatul Qadar akan menemui orang-orang yang mempersiapkan diri dan menyucikan jiwa dalam menyambutnya. Hal itu tak ubahnya tamu agung yang berkunjung ke satu tempat, ia tidak akan datang menemui setiap orang di lokasi itu, walaupun setiap orang di tempat itu mendambakannya. Demikian juga halnya dengan Lailatul Qadar.

Apabila jiwa telah siap, kesadaran telah mulai bersemi, dan Lailatul Qadar datang menemuinya, maka malam kehadirannya menjadi saat menentukan bagi perjalanan sejarah hidupnya di masa-masa mendatang. Saat itu, bagi yang bersangkutan adalah titik tolak guna meraih kemuliaan dan kejayaan hidup di dunia dan di akhirat kelak. Dan sejak saat itu malaikat akan turun guna menyertai dan membimbingnya menuju kebaikan sampai terbitnya fajar kehidupannya yang baru kelak di kemudian hari.

Inilah inti dari keagungan Lailatul Qadar yang akan terjadi setiap bulan Ramadhan. Mudah-mudahan Allah swt. senantiasa mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya kepada kita, sehingga kita menjadi salah seorang yang layak ditemui oleh Tamu Agung Tersebut.

By Amin Muchtar, sigabah.com./beta

[1] Lihat, HR. Abu Dawud, Sunan Abu Dawud, II:53, No. 1387; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV:307, No. 8309; Ath-Thahawi, Syarh Ma’ani al-Atsar, III:84.

[2] Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:714, No. 1923; Ahmad, Musnad Ahmad, VI:50, No. 24.279; al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV:307, No. 8307; al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala Ash-Shahihain, I:604, No. 1596; Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, VIII:434, No. 3676; Ath-Thahawi, Syarh Ma’ani al-Atsar, III:88.

[3] Lihat, Shahih Muslim, II:824, No. 1165; Ahmad, Musnad Ahmad, II:75, No. 5443

[4] Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:714, No. 1923; Muslim, Shahih Muslim, II:828, No. 1169; Ahmad, Musnad Ahmad, VI:50, No. 24.279; At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, III:160, No. 792; al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV:307, No. 8310; Malik, al-Muwatha, I:319, No. 693; Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, II:325, No. 9525.

[5] Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih Al-Bukhari, II:711, No. 1920; Al-Baghawi, Syarh as-Sunnah, VI:389, No. 1829.

[6] Lihat, Musnad Ahmad, VI:66, No. 24.422.

[7] Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, II:832, No. 1175; Ahmad, Musnad Ahmad, VI:255, No. 26.231; At-Tirmidzi, Sunan At-Tirmidzi, III:161, No. 796; An-Nasai, As-Sunan al-Kubra, II:270, No. 3390; Ibnu Majah, Sunan Ibnu Majah, I:562, No. 1767; Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, III:342, No. 2215; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IV:313, No. 8344; Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, II:252, No. 8691.

[8] Lihat, Subul as-Salam Syarh Bulugh al-Maram, III:383.

[9] Lihat, HR. Muslim, Shahih Muslim, II:823, No. 1165; Ibnu Khuzaimah, Shahih Ibnu Khuzaimah, III:327, No. 2183.

[10] Lihat, Musnad Ahmad, I:133, No. 1111.

[11] Lihat, HR. Ahmad, Musnad Ahmad, V:172, No. 21.549; Ath-Thabrani, al-Mu’jam al-Awsath, I:141, No. 442, Musnad asy-Syamiyin, II:92, No. 972.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *