MENGEPALKAN KEDUA TANGAN KETIKA AKAN BERDIRI (Bagian ke-3)

A. Status Hadis ‘Ajin versi Ibnu Umar

عَنِ الْأَزْرَق بنِ قَيْسٍ : رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَعْجِنُ فِي الصَّلَاةِ يَعْتَمِدُ عَلَى يَدَيْهِ إِذَا قَامَ. فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ يَفْعَلُهُ.

Dari Al-Azraq bin Qais, “Aku melihat Ibnu Umar melakukan ‘ajn saat shalat ketika hendak berdiri. Aku bertanya kepadanya (mengenai hal tersebut), dan ia menjawab, ‘Aku melihat Rasulullah saw. melakukannya’.” HR. Abu Ishaq al-Harbi (w. 285 H) dan at-Thabrani (w. 360 H), dan redaksi di atas versi al-Harbi.

Abu Ishaq al-Harbiy meriwayatkan hadis di atas melalui rawi Ubaidullah bin Umar, dari Yunus bin Bukair, dari al-Haitsam, dari ‘Athiyyah bin Qais, dari al-Azraq bin Qais, dari Ibnu Umar. [1]

Sementara ath-Thabrani meriwayatkan hadis di atas melalui dua jalur:

  • Ja’far, dari al-Hasan bin Sahl al-Hannath, dari Abdul Hamid al-Himmani, dari al-Haitsam bin ‘Ulayyah al-Bashri. [2] dari al-Azraq bin Qais, dari Ibnu Umar.
  • Ali bin Sa’id ar-Razi, dari Abdullah bin Umar bin Aban, dari Yunus bin Bukair, dari al-Haitsam bin ‘Alqamah bin Qais bin Tsa’labah.[3]

Selanjutnya, al-Haitsam bin ‘Ulayyah dan al-Haitsam bin ‘Alqamah, keduanya menerima dari al-Azraq bin Qais, dari Ibnu Umar.

“Bank data” di atas menunjukkan bahwa jalur periwayatan Abu Ishaq al-Harbi dan ath-Thabrani bersanad tunggal, karena semuanya melalui al-Azraq bin Qais, dari Ibnu Umar. Dengan demikian, hadis Ibnu Umar ini disebut gharib atau fard mutlaq (benar-benar bersanad tunggal).

 

B. Sikap Ulama Terhadap Hadis ‘Ajin versi Ibnu Umar

Sebagaimana telah disebutkan pada edisi sebelumnya, para ulama berbeda pendapat dalam menilai status hadis Ibnu Umar. Misalnya, Syekh al-Albani menilainya sahih. Sedangkan Syekh Bakr Abu Zaid menilainya dhaif. Perbedaan itu hemat kami disebabkan dua faktor: Pertama, penetapan rawi bernama al-Haitsam, apakah bin ‘Alqamah bin Qais bin Tsa’labah ataukah bin Imran ad-Dimasyqi? Kedua, para ulama yang menetapkan bahwa rawi itu al-Haitsam bin Imran ad-Dimasyqi pun berbeda pendapat tentang sifat rawi itu antara majhul (tidak dikenal) dan tsiqah (kredibel).

 

B.1. Pihak yang menerima kehujahan hadis itu

Dalam menyikapi perkataan Imam ath-Thabrani:

لَمْ يَرْوِ هَذَا الْحَدِيثَ عَنِ الأَزْرَقِ إِلا الْهَيْثَمُ ، تَفَرَّدَ بِهِ : يُونُسُ بن بُكَيْرٍ

Tidak ada yang meriwayatkan hadis ini dari al-Azraq selain al-Haitsam. Yunus bin Bukair sendirian dengan hadis itu.” [4]


Syekh al-Albani berkata:

قلت : و هو صدوق حسن الحديث من رجال مسلم ، و فيه كلام لا ينزل حديثه عن مرتبة الحسن إن شاء الله تعالى . لكن شيخه الهيثم بن علقمة بن قيس بن ثعلبة لم أعرفه ، و لم أر أحدا ذكره ، فأخشى أن يكون وقع في الرواية شيء من التحريف

Menurut saya, ‘Dia (Yunus bin Bukair) shaduq, hadisnya hasan, termasuk rawi Muslim. Padanya terdapat penilaian yang tidak akan menurunkan hadisnya dari derajat hasan, insya Allah Ta’ala. Namun, gurunya Yunus, al-Haitsam bin ‘Alqamah bin Qais bin Tsa’labah, tidak saya kenal. Tidak seorang pun ulama yang menyebutkannya. Saya khawatir terjadi sedikit perubahan nama pada riwayat itu.

 ، فقد أخرج الحديث أبو إسحاق الحربي في ” غريب الحديث ” هكذا : حدثنا عبد الله بن عمر حدثنا يونس بن بكير عن الهيثم عن عطية بن قيس عن الأزرق بن قيس به . و الحربي ثقة إمام حافظ ، فروايته مقدمة على رواية علي بن سعيد الرازي ، فإن هذا و إن وثقه مسلمة بن قاسم فقد قال الدارقطني : ليس بذاك

Hadis itu telah diriwayatkan oleh Abu Ishaq al-Harbiy dalam kitab Gharib al-Hadits demikian: Abdullah bin Umar telah menceritakan kepada kami. Yunus bin Bukair telah menceritakan kepada kami, dari al-Haitsam, dari ‘Athiyyah bin Qais, dari al-Azraq bin Qais, dari Ibnu Umar, dengan hadis itu. Al-Harbiy Tsiqah (kredibel), Imam, lagi hafizh. Maka riwayatnya lebih diutamakan daripada riwayat Ali bin Sa’id ar-Razi. Karena dia (Ali) meski dinilai  tsiqah oleh Maslamah bin Qasim, namun adh-Daraquthni menilainya, ‘Tidak kuat.’

فقوله في الإسناد : الهيثم بن علقمة بن قيس بن ثعلبة يكون من أوهامه إن كان محفوظا عنه ، و الصواب قول الحربي : الهيثم عن عطية بن قيس. و الهيثم هذا هو ابن عمران الدمشقي ، وثقه ابن حبان ، و قد روى عنه جمع من الثقات

Maka perkataanya (ath-Thabrani) dalam sanad itu: al-Haitsam bin ‘Alqamah bin Qais bin Tsa’labah bersumber dari wahamnya (keragu-raguan) jika sanad itu terpelihara darinya. Yang benar adalah perkataan al-Harbiy: ‘Al-Haitsam, dari ‘Athiyyah bin Qais.’ Al-Haitsam ini adalah Al-Haitsam bin Imran ad-Dimasyqi. Da telah dinilai tsiqah oleh Ibnu Hiban. Diriwayatkan dari al-Haitsam oleh sekelompok rawi tsiqah.” [5]

Penjelasan pihak yang menolak hadis ‘Ajin versi Ibnu Umar di atas akan disampaikan pada edisi selanjutnya.

 

By Amin Muchtar, sigabah.com

 

[1] Lihat, Gharib al-Hadits, Juz 2, hlm. 525.

[2] Lihat, Al-Mu’jam al-Awsath, Juz 3, hlm. 343, Hadis No. 3347; Al-Mu’jam al-Kabir, juz 11, hlm. 218, No. 410.

[3] Ibid., Juz 4, hlm. 213, No. 4007; Juz 9, hlm. 207, No. 4154; Al-Mu’jam al-Kabir, Juz 11 , hlm. 383, No. 902

[4] Lihat, Al-Mu’jam al-Awsath, Juz 9, hlm. 207, No. 4154; Al-Mu’jam al-Kabir, Juz 11 , hlm. 383, No. 902.

[5] Lihat, Silsilah al-Ahadits ash-Shahihah, Juz 6, hlm. 380.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *