MENGEPALKAN KEDUA TANGAN KETIKA AKAN BERDIRI (Bagian ke-1)

 

Terdapat perbedaan pendapat di kalangan ulama mengenai tata cara bangkit setelah sujud kedua atau setelah duduk untuk berdiri melanjutkan rakaat shalat berikutnya. Ulama Hanafiyah dan Hanabilah berpendapat bahwa yang paling utama bertumpu pada kedua lututnya bukan pada lantai kecuali dalam keadaan masyaqqah (berat/sulit). Sedangkan ulama Malikiyah dan Syafi’iyah berpendapat bahwa yang paling utama bertumpu pada lantai dengan kedua telapak tangan tanpa dikepalkan. Namun, saat ini terdapat fenomena bertumpu dengan kedua tangan dikepalkan.

 

Argumentasi bertumpu dengan kedua tangan dikepalkan

Mereka yang berpendapat bahwa, saat bangkit setelah sujud kedua atau setelah duduk untuk berdiri melanjutkan rakaat shalat berikutnya disyariatkan bertumpu pada lantai dengan kedua tangan dikepalkan, merujuk kepada hadis yang populer disebut ‘ajin, sebagai berikut:

Pertama, dari Abdullah bin ‘Abbas Ra., ia berkata:

أَنَّ رسَوُلْ َاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ إِذَا قَامَ فِي صَلاَتِهِ وَضَعَ يَدَيْهِ عَلَى الْأَرْضِ كَمَا يَضَعُ الْعَاجِنُ

Sesungguhnya Rasulullah saw. jika beliau (hendak) berdiri dalam sholatnya, beliau meletakkan kedua tangannya di atas bumi sebagaimana yang dilakukan oleh al-‘ajin (orang yang melakukan ‘ajn).”

Hadis ini tidak diketahui mukharrij (periwayat)nya, namun populer dalam bahasan para ulama seperti disebutkan oleh Imam ar-Rafi’I[1] (w. 623 H)  An-Nawawi[2] (w. 676), Sirajuddin Ibnu al-Mulaqqin[3] (w. 804 H),  Ibnu Hajar al-Asqalani[4] (w. 852 H), Syamsuddin ar-Ramli[5] (w. 1004), Muhammad al-Khatib asy-Syarbini[6], dan Syekh Nasiruddin al-Albani[7]

 

Kedua, dari Ibnu Umar Ra.

عَنِ الْأَزْرَق بنِ قَيْسٍ : رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ يَعْجِنُ فِي الصَّلَاةِ يَعْتَمِدُ عَلَى يَدَيْهِ إِذَا قَامَ. فَقُلْتُ لَهُ، فَقَالَ : رَأَيْتُ رَسُوْلَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ يَفْعَلُهُ.

Dari Al-Azraq bin Qais, “Aku melihat Ibnu Umar melakukan ‘ajn saat shalat ketika hendak berdiri. Aku bertanya kepadanya (mengenai hal tersebut), dan ia menjawab, ‘Aku melihat Rasulullah saw. melakukannya’.” HR. Abu Ishaq al-Harbi[8] (w. 285 H) dan at-Thabrani[9] (w. 360 H), dan redaksi di atas versi al-Harbi.

Hadis Al-Azraq bin Qais diriwayatkan pula oleh al-Baihaqi dengan redaksi sebagai berikut :

رَأَيْتُ ابْنَ عُمَرَ إِذَا قَامَ مِنَ الرَّكْعَتَيْنِ اعْتَمَدَ عَلَى الأَرْضِ بِيَدَيْهِ. فَقُلْتُ لِوَلَدِهِ وَلِجُلَسَائِهِ : لَعَلَّهُ يَفْعَلُ هَذَا مِنَ الْكِبَرِ؟ قَالُوا : لاَ وَلَكِنْ هَذَا يَكُونُ.

“Aku melihat Ibnu Umar jika berdiri dari dua raka’at bertelekan di bumi dengan dua tangannya. Aku bertanya kepada anaknya dan kawan-kawan duduknya, ‘Barangkali beliau (Ibnu Umar) melakukannya karena tua?’ Mereka menjawab, ‘Tidak, tetapi demikianlah keadaannya’.” [10]

Padanya tidak terdapat kata ‘ajn, namun dengan kata ‘bertelekan’. Dua kata ini tidak bertentangan, karena ‘bertelekan’ lebih umum daripada ‘ajn.

 

Pengertian ‘Ajn

Pengertian ‘ajn perlu diterangkan di sini karena digunakan di dalam hadis-hadis itu sebagai perbandingan sifat telapak tangan saat bangun dari sujud. Ibnul Atsiir berkata saat menjelaskan hadis Ibnu Umar tentang ‘ajn dalam shalat. Kata beliau:

أي : يَعْتَمِدُ عَلَى يَدَيْهِ إِذَا قَامَ كَمَا يَفْعَلُ الَّذِيْ يَعْجِنُ الْعَجِينَ.

“Yaitu bertelekan dengan kedua tangannya jika berdiri sebagaimana yang dilakukan oleh orang yang membuat adonan.” [11]

Ibnu Manzhur berkata :

وَالْعاجِنُ مِنَ الرِّجالِ : الْمُعْتَمِدُ عَلَى الأَرْضِ بِجِمْعِهِ إِذَا أَرادَ النُّهُوضَ مِنْ كِبَرٍ أَوْ بُدْنٍ.

“Seseorang yang melakukan ‘ajn adalah seorang yang bertelekan di atas bumi dengan mengepalkan (menggenggam telapak tangannya) saat hendak bangkit baik karena tua maupun gemuk.” [12]

Jadi, ‘ajn adalah cara seorang untuk berdiri dari satu rakaat ke rakaat lainnya, yaitu dia mengepalkan kedua tangannya lalu bertumpu di atas punggung kedua telapak tangannya ketika akan berdiri dalam shalat. Cara ini sebagaimana dilakukan oleh orang yang membuat adonan.

 

Derajat Hadis

Status hadis ‘ajn riwayat Abu Ishaq al-Harbi, menurut Syekh al-Albani derajatnya hasan. Sementara riwayat al-Baihaqi derajatnya shahih. [13]

Tanggapan pihak lain terhadap masalah ini, akan disampaikan pada edisi selanjutnya.

 

By Amin Muchtar, sigabah.com

 

[1] Lihat, Fath al-Aziz Syarh al-Wajiz, Juz 3, hlm. 491.

[2] Lihat, Khulashah al-Ahkam fi Muhimmat as-Sunan wa Qawa’id al-Islam, Juz 1, hl. 423-424; Al-Majmu’ Syarh al-Muhadzdzab, Juz 3, hlm. 442,

[3] Lihat, Khulashah al-Badr al-Munir, Juz 1, hlm. 137,

[4] Lihat, at-Talkhish al-Habir fi Takhrij Ahadits ar-Rafi’I al-Kabir, Juz 2, hlm. 11

[5] Lihat, Nihayah al-Muhtaj ila Syarh al-Minhaj, Juz 2, hlm. 99

[6] Lihat, Mughni al-Muhtaj ila Ma’rifah Ma’ani Alfazh al-Minhaj, Juz 1, hlm. 182

[7] Lihat, Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Mawdu’ah, Juz 2, hlm. 393

[8] Lihat, Gharib al-Hadits, Juz 2, hlm. 525.

[9] Lihat, Al-Mu’jam al-Awsath, Juz 3, hlm. 343, Hadis No. 3347; Juz 4, hlm. 213, No. 4007;  Juz 9, hlm. 207, No. 4154; Al-Mu’jam al-Kabir, juz 11, hlm. 218, No. 410; Juz 11 , hlm. 383, No. 902, dengan sedikit perbedaan redaksi.

[10] Lihat, As-Sunan al-Kubra, Juz 2, hlm. 135, Hadis No. 2632

[11] Lihat, As-Sunan al-Kubra, Juz 3, hlm. 193.

[12] Lihat, Lisaan al-‘Arab, Juz 13, hlm. 277.

[13] Lihat, Silsilah al-Ahadits adh-Dha’ifah wa al-Mawdu’ah, Juz 10, hlm. 55

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *