MENDENGAR PASCA BELAJAR

sdadaMemperhatikan perjalanan hidup kita sampai saat ini, sungguh banyak nasehat dan khutbah yang telah kita dengar. Namun, sebagian besar isi nasehat dan khutbah itu telah hilang dari ingatan.

Nasihat agama, khutbah id, dan khutbah Jumat hanya sampai pada telinga, tidak menembus kalbu, tidak menjadi amal, bila didengar tanpa perhatian, tanpa taffakkur dalam pikiran. Itulah sebabnya, mendengarkan sesuatu yang wajib didengar sama berat dengan membiarkan sesuatu yang haram didengarkan. Kedua-duanya memerlukan usaha yang sungguh-sungguh. Sebab, bila perhatian tercurahkan pada kemaksiatan, maka kemasiatanlah yang akan sering didengar dan tidak pernah lepas dari ingatan.

Mendengar adalah fitrah manusia dan terwujudnya fungsi pendengaran di luar usaha manusia. Namun, apakah pendengaran itu akan difungsikan atau tidak tergantung usaha manusia itu sendiri, karena manusia telah diberi kemampuan untuk mendengarkan sesuatu yang seharusnya didengarkan. Di dalam surat Al-Anfal ayat 20 – 23, Allah swt. berfirman:

يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْا أَطِيْعُوا اللهَ وَرَسُوْلَهُ وَلاَ تَوَلَّوْا عَنْهُ وَأَنْتُمْ تَسْمَعُوْنَ (20) وَلاَتَكُوْنُوْا كَالَّذِيْنَ قَالُوْا سَمِعْنَا وَهُمْ لاَيَسْمَعُوْنَ (21) إِنَّ شَرَّ الدَّوَابِ عِنْدَ اللهِ الصُّمُّ الْبُكْمُ الَّذِيْنَ لاَيَعْقِلُوْنَ (22) وَلَوْ عَلِمَ اللهُ فِيْهِمْ خَيْرًا لأَسْمَعَهُمْ وَلَوْ أَسْمَعَهُمْ لَتَوَلَّوْا وَهُمْ مُعْرِضُوْنَ (23)

“Wahai orang-orang yang beriman! Taatlah kamu kepada Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kamu berpaling padahal kamu mendengar. Dan janganlah kamu seperti orang-orang yang berkata, “Kami mendengarkan” padahal mereka tidak mendengarkan. sesungguhnya sejahat-jahat makhluk di sisi Allah adalah yang tuli, bisu yang tidak menggunakan akal (tidak mengerti apa-apa). Andaikan kiranya Allah Mengetahui ada kebaikan pada mereka, tentu Allah akan menjadikan mereka mendengar, dan andaikan Allah menjadikan mereka bisa mendengar tetap saja mereka berpaling, mereka berpaling (dari kebenaran yang mereka dengar).”     Q.s. Al-Anfal : 20-23

Pada firman Allah tersebut terdapat 4 aspek yang perlu kita perhatikan. Namun karena keterbatasan ruang dan, hanya 2 aspek saja yang hendak disampaikan.

Aspek Pertama, ayat-ayat tersebut di mulai dengan satu pendahuluan yang mendorong umat Islam untuk mencurahkan perhatiannya, yaitu panggilan yaa ayyuhal ladziina aamanuu, yang biasa kita terjemah dengan wahai orang-orang yang beriman. Panggilan yang sama digunakan pula oleh Allah ketika menguraikan tentang shaum Ramadhan dalam surat al-Baqarah:183. Model panggilan semacam ini digunakan Al-Quran sebanyak 89 kali.

Yaa ayyuhal ladziina aamanuu merupakan panggilan khusus, panggilan akidah, panggilan yang penuh dengan kasih sayang. Tidak sembarang manusia bisa merasakan betapa indah dan tingginya nilai panggilan itu. Walaupun panggilan itu disuarakan dengan suara yang keras agar bisa membangkitkan yang sedang tidur, atau dengan suara yang lembut agar menyentuh hati yang keras, namun bagi yang tuli dan bisu suara itu tidak ada artinya. Panggilan itu seakan angin lalu saja, tanpa makna tanpa hikmah untuk kemaslahatan dirinya dan dunia pada umumnya.

Dalam merasakan panggilan itu, orang-orang yang mengaku beriman pun tidak sama tingkatannya; Ada yang bisa merasakannya dengan sempurna, ada yang kurang sempurna, bahkan ada yang selintas saja. Hal itu menunjukkan kadar keimanan masing-masing. Karena itu, Allah dan Rasul-Nya berulang kali memerintahkan kepada orang yang beriman agar senantiasa memelihara keimanan yang ada. Allah Swt. berfirman:

يَاأَيُّهَاالَّذِيْنَ أَمَنُوْا أَمِنُوْا بِاللهِ وَرَسُوْلِهِ وَالْكِتَابِ الَّذِيْ نَزَّلَ عَلَى رَسُوْلهِ وَالْكِتَابِ الَّذِي أَنْزَلَ مِنْ قَبْلُ وَمَنْ يَكْفُرْ بِاللهِ وَمَلئِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ وَالْيَوْمِ الأَخِرِ فَقَدْ ضَلَّ ضَلاَلاً بَعِيْدًا

“Wahai orang-orang yang beriman ! Imanlah kamu kepada Allah dan kepada Rasul-Nya dan kepada kitab yang telah diturunkan kepada Rasul-Nya dan kepada kitab yang telah diturunkan sebelumnya. Dan barang siapa yang kufur kepada Allah dan kepada malaikat-Nya, dan kepada kitab-kitab-Nya dan kepada rasul-rasul-Nya dan kepada hari akhir, sungguh ia telah sesat dengan kesesatan yang jauh.” Q.s. An-Nisa : 136

Jika ayat ini kita perhatikan dengan seksama, maka akan timbul pertanyaan ‘Mengapa orang yang telah beriman diperintahkan beriman, bukankah tepatnya kepada orang yang belum beriman atau kafir’ ?

Ungkapan pada ayat tersebut bukan suatu kebetulan, bukan ketidaksengajaan, atau terjadi kesalahan redaksional. Justru dengan redaksi seperti itu Allah mendorong kita agar memperhatikan keimanan kita masing-masing agar (a) agar keimanan tetap terpelihara, jangan sampai hilang (lil istimraar), (b) agar keimanan itu tetap kuat jangan sampai lemah (lit taqriir), (c) agar keimanan tetap sempurna (lil istikmaal).

Dengan demikian, ayat itu mengandung makna: “Wahai orang-orang yang beriman peliharalah keimananmu, kuatkan dan tingkatkanlah sampai kepada tingkat kesempurnaan.”

Aspek Kedua, pada ayat-ayat tersebut kata “mendengar” disebut sebanyak lima kali. Berulangnya kata ‘mendengar’ bukan berarti penghamburan atau penghias kata semata, melainkan untuk memberikan pengertian betapa pentingnya pendengaran itu bagi kehidupan manusia. Bahkan bagi orang yang beriman, pendengaran bukan saja sebagai instrumen utama belajar melainkan sebagai instrumen ibadah, seperti seseorang yang mendengar azan, dan akan solat dengan adzan itu, ia harus mengucapkan sebagaimana yang diucapkan mu’azzin.

إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُوْلُوْا مِثْلَ مَا يَقُوْلُ الْمُؤَذِّنُ

“Jika kamu mendengar azan (panggilan), ucapkanlah seperti perkataan mu’azzin.” Muttafaq Alaih (al-Bukhari-Muslim)

Demikian pula seseorang yang bermakmum harus mendengarkan dengan perhatian bacaan imam di saat imam membaca dengan jahar pada rakaat pertama dan kedua dalam salat wajib, atau bacaan jahar dalam salat sunat.

وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْانُ فَاسْتَمِعُوْا لَهُ وَأَنْصِتُوْا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُوْنَ

“Jika dibacakan Alquran, maka dengarkanlah dan perhatikanlah, agar kamu mendapat rahmat.” Q.s. Al-A’raf : 204

Dengan demikian, pengulangan kata itu menunjukkan bahwa pendengaran bisa mengubah perasaan, pola pikir, niat, dan tindakan seseorang. Seseorang yang pada mulanya benci kepada Si Polan, berubah menjadi cinta karena di antaranya sering mendengar pujian orang lain kepada si polan itu, atau cinta bisa berubah menjadi benci setelah sering mendengar cacian orang lain kepada Si Polan tadi.

Demikian pula seseorang yang sedang nikmat makan bisa saja berubah menjadi tidak nikmat, karena mendengar suara yang mengagetkan atau suara yang menakutkan, atau karena mendengar berita duka yang jadi musibah bagi dirinya.

Begitu pula terhadap suatu paham atau ajaran, setelah seseorang sering mendengar penjelasan tentang suatu ajaran, bisa berubah dari penganut setia menjadi pembangkang, atau dari pembenci kepada pecinta dan jadi penganut yang setia terhadap ajaran itu. Karena itu, memanfaatkan pendengaran dijadikan salah satu strategi perang untuk membentuk opini publik, pendapat masyarakat melalui berita. Walaupun adakalanya harus merekayasa berita dengan berbagai kebohongan, agar masyarakat atau umat menjadi cinta dan membantu perjuangan suatu kelompok atau sebaliknya, yaitu menjadi benci dan menghalangi kepada perjuangan seseorang atau kelompok. Maka dalam situasi seperti ini tidak mengherankan apabila kawan menjadi lawan dan lawan menjadi kawan. Dari sini tampak jelas hikmahnya mengapa kata as-sam’a (mendengar) lebih didahulukan penyebutannya daripa kata al-bashar (melihat).

Sehubungan dengan hal itu, layak dan pantas bila kita cermati sebuah nasehat dari orang bijak

تَعَلَّمُوْا حُسْنَ الإِسْتِمَاعِ كَمَا تَعَلَّمُوْا حُسْنَ الْكَلاَمِ

“Belajarlah menyimak dengan baik, seperti belajarlah berbicara dengan baik”

Nasehat tersebut mengajarkan kepada kita bahwa mendengarkan dengan baik, penuh perhatian, disertai hati yang ikhlas, akan mampu menyimak dan memilah-milah, mana yang layak dipercaya dan mana yang tidak layak, mana yang cocok untuk dijadikan pegangan dan mana yang tidak.

 

Dan dalam konteks inilah, kita dapat memahami sekaligus mendapatkan nilai pendidikan yang terkandung dalam ibadah shaum sebagaimana dinyatakan oleh Nabi saw. juga diajarkan oleh para sahabat beliau, antara lain Jabir bin Abdullah:

إِذَا صُمْتَ فَلْيَصُمْ سَمْعُكَ

“Apabila anda saum, hendaklah pendengaranmu ikut shaum.” HR. Ibnu Abu Syaibah, al-Mushannaf, II:271, No. Hadis 8.880

Perkataan ini menunjukkan bahwa shaum itu bukan sekedar menahan diri dari lapar dan dahaga tetapi harus mampu menahan pendengaran kita dari segala ucapan dan informasi yang tidak akan menuntun kita kepada kemaslahatan, dan hal itu harus terwujud dalam kehidupan sehari-hari setelah usai Ramadhan.

Keterangan-keterangan yang baru saja kita dengar sangat besar faidahnya bila kita dengar dengan penuh perhatian, dan sangat tinggi dorongannya kepada kita untuk bertafakkur, apakah pendengaran kita telah mendorong kepada kemaslahatan ? Apakah pendengaran kita telah mampu menjadikan lawan sebagai kawan ? Sejak kapan pendengaran telah mengubah perasaan, pola pikir, niat, dan tindakan kita masing-masing

Mudah-mudahan saum Ramadhan yang telah kita laksanakan dapat menuntun pendengaran kita untuk mendengar sesuatu yang layak dijadikan pegangan, sehingga berbagai nasehat yang pernah kita dengar tetap melekat dalam ingatan dan terlihat dalam perbuatan.

 

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *