MENCETAK GURU BANGSA TANPA KENAL LELAH

Setiap tahun, 25 November diperingati sebagai Hari Guru Nasional. Hal itu ditetapkan oleh pemerintah Republik Indonesia berdasarkan Keputusan Presiden Nomor 78 Tahun 1994. Namun, ada sejarah panjang hingga akhirnya 25 November terpilih sebagai Hari Guru Nasional. Selain Hari Guru Nasional, 25 November 1945 juga ditetapkan sebagai hari lahir Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI).

Peran guru dalam perjalanan sejarah bangsa Indonesia sungguh besar dan sangat menentukan. Guru merupakan salah satu komponen yang strategis dalam menentukan keberhasilan pendidikan yang meletakkan dasar serta turut mempersiapkan pengembangan potensi peserta didik untuk mencapai tujuan nasional mencerdaskan bangsa. Sejak masa penjajahan hingga sekarang ini, guru selalu menanamkan kesadaran akan harga diri sebagai bangsa dan menanamkan semangat nasionalisme kepada peserta didik dan masyarakat.

Dedikasi, tekad, dan semangat dalam mencerdaskan bangsa itu tercemin pada beberapa tokoh pendidikan di tanah air, yang terlahir dari rahim organisasi Persatuan Islam (Persis), di antaranya KH.E.Abdurrahman.

I. Riwayat Hidup KH.E.Abdurrahman

A. Asal-usul Kelahiran dan Keturunannya

Foto KH E AbdurrahmanKH.E.Abdurrahman dilahirkan di kampung Pasarean desa Bojongherang kabupaten Cianjur pada tanggal 12 Juni 1912 M. Ayahnya bernama Ghazali, sedangkan ibunya bernama Hafsah, dengan jumlah saudara 11 orang dan KH.E.Abdurrahman merupakan putera yang paling cikal dari yang ada.[1]

KH.E.Abdurrahman dilahirkan dari keluarga yang sederhana, ayahnya bekerja sebagai penjahit pakaian dan ibunya berwiraswasta sebagai pengrajin batik. Namun demikian ketaatan dan kepatuhan pada ajaran agama benar-benar mewarnai kehidupan keluarga ini.[2]

Pembinaan agama yang diterima E.Abdurrahman pada waktu kecil langsung diberikan oleh kedua orang tuanya, terutama ibunya yang senantiasa membimbing di dalam membaca Al-Quran, sehingga pada usia 7-8 tahun E.Abdurrahman telah berhasil mengkhatam Al-Quran. Hal ini dikarenakan kecenderungan E.Abdurrahman yang tidak menghabiskan masa kecilnya dengan hanya bermain-main saja, sebagaimana kebanyakan teman-temannya pada waktu itu, akan tetapi waktunya lebih banyak digunakan untuk belajar dan membaca Al-Quran.[3] Dan sikap rajin, tekun serta menghargai waktu inilah yang terus mewarnai pribadi E.Abdurrahman di dalam hidupnya. Sehingga dari seluruh saudaranya hanya ia dan adiknya (KH.E.Abdullah) yang benar-benar mengarahkan hidupnya untuk menjadi ulama.[4]

B. Masa Pendidikan Hingga Bergabung dengan Persis

Sebenarnya tidak banyak jenjang pendidikan yang digeluti E Abdurrahman. Setelah khatam Al-Quran pada usia 7-8 tahun pendidikan dilanjutkan dengan memasuki Madrasah al-Ianah Cianjur (tahun 1919).[5] Suatu hal yang perlu diketahui bahwa pada masa itu masyarakat kampung Pasarean dan mungkin juga di kampung-kampung yang lain masih mempunyai anggapan haram menyekolahkan anak-anaknya ke sekolah umum, tidak boleh belajar di sekolah yang mempelajari bahasa latin. Oleh karena itu umumnya mereka menyekolahkan anak-anaknya ke Madrasah-madrasah atau hanya mendidiknya di surau-surau.[6]

Di Madrasah al-Ianah inilah E.Abdurrahman ditempa dan dibina dengan berbagai disiplin ilmu, terutama dalam kemampuannya berbahasa Arab. Apalagi Madrasah al-Ianah pada waktu itu telah menetapkan peraturan bahwa bagi setiap santri diwajibkan menggunakan Bahasa Arab di dalam percakapan sehari-hari, baik di dalam maupun di luar kelas. Dan bagi mereka yang melanggar ketentuan tersebut akan mendapat sanksi hukum.[7]

Lama pendidikan yang ditempuh E.Abdurrahman di Madrasah al-Ianah tersebut adalah 7 tahun (1919 – 1926).[8] Dalam waktu yang relatif cukup lama itu benar-benar dimanfaatkan oleh E.Abdurrahman untuk meraih ilmu yang sebanyak-banyaknya. Penguasaan bahasa Arab yang disertai dengan ilmu alatnya (Nahwu dan Sharaf) menjadikannya lebih menonjol dan unggul dari teman-teman sesama santri lainnya. Sampai-sampai ia disayangi oleh guru-gurunya, di antaranya gurunya yang bernama Ustadz Zaen, yang banyak memberikan bimbingan dan pengarahan serta dorongan ke arah kemajuan. Di samping itu ketekunan dan kemauannya yang keras juga merupakan faktor yang turut menentukan di dalam meraih keberhasilan dalam studinya itu.[9]

Setelah menamatkan sekolahnya di al-Ianah Cianjur, E.Abdurrahman berangkat ke Bandung atas permintaan Tuan Swarha (Hassan Wiratmana)—orang kaya di Bandung pada masa itu—untuk mengajar di Madrasah al-Ianah Bandung.[10]

Mengajar di Madrasah al-Ianah Bandung bagi E.Abdurrahman merupakan pengalaman yang sangat berharga, karena sebagaimana dijelaskan sebelumnya bahwa E.Abdurrahman pada waktu di al-Ianah Cianjur termasuk santri yang memiliki kecerdasan yang tinggi serta berpengetahuan agama yang cukup luas, sehingga dengan kelebihannya itu menarik perhatian Tuan Swarha, dan bahkan kemudian menjadikan E.Abdurrahman sebagai anak emasnya. Namun demikian keadaan yang seperti itu menjadikan iri hati para guru (ustadz) yang lain, yang beranggapan bahwa mereka seperti dianak-tirikan oleh Tuan Swarha, sementara mereka sudah lama dan banyak mencurahkan tenaga dan fikirannya di al-Ianah Bandung. Oleh karena itu mereka memperlihatkan sikap yang tidak senang terhadap E Abdurrahman, dan ketika Tuan Swarha pergi ke Jepang timbullah hal yang tidak diharapkan, yang membuat batinnya tidak betah untuk terus tinggal di sana. Sampai akhirnya dengan terpaksa dan atas permintaan beberapa orang muridnya (I Sudibja, Anshor, Abdullah Atim, Qosim, dan Aang Enceng) Ustadz E.Abdurrahman pindah ke sebuah rumah di Gg. Ence Aziz. Kemudian di rumah sewaan itu kurang lebih selama 1 tahun Ustadz E.Abdurrahman terus memberikan pelajaran (Bahasa Arab, Fiqih dan membaca Al-Quran) kepada murid-muridnya yang membelot dari al-Ianah.[11]

Pada tahun 1930, atas permintaan Tuan Alkatiri—orang kaya di Bandung pada masa itu dan keturunan Arab—Ustadz E.Abdurrahman diminta untuk memberikan bimbingan agama kepada putera-puteranya, di samping itu kemudian mendirikan Majelis Pendidikan Diniyah Islam (MPDI) di Gg. Ence Aziz No. 12/10 Kebon Jati.[12] Di Majelis Pendidikan Diniyah Islam ini diselenggarakan pendidikan bagi anak-anak pada pagi hari dan di malam harinya untuk orang tua.[13]

Di dalam menyelenggarakan pendidikan di MPDI ini Ustadz E.Abdurrahman dibantu oleh Ustadz O. Qomaruddin Saleh—sahabat  dekatnya yang sama-sama lulusan al-Ianah Cianjur—di mana pagi harinya Ustadz O. Qomaruddin Saleh mengajar di MPDI, sedangkan sore harinya memimpin Madrasahnya sendiri di Rancabali Padalarang, yaitu Madrasah al-Hikmah.[14] Selain itu, Ustadz E.Abdurrahman juga membagi waktunya sebagai tenaga pengajar di HIS, MULO dan Kweekschool untuk mata pelajaran Agama Islam dan Bahasa Arab.[15]

Hingga di sini, berdasarkan penulusuran kami, dari awal Ustadz E.Abdurrahman menerima pendidikan di Cianjur sampai kemudian pindah ke Bandung dan menimba pengalaman dengan mengajar di beberapa madrasah seperti yang diuraikan di atas, ternyata paham keagamaan Ustadz E.Abdurrahman masih diwarnai dengan pemahaman keagamaan yang tradisional, dengan kata lain masih bercampur dengan bidah, khurafat dan takhayul. Lantas bagaimana jalan ceritanya sehingga Ustadz E.Abdurrahman kemudian bergabung dengan Persatuan Islam (PERSIS) yang dikenal keras dan tegas di dalam memberantas bidah, khurafat dan takhayul?

Memang merupakan suatu hal yang jarang terjadi di mana seorang ulama yang pada mulanya mempunyai pemahaman keagamaan yang tradisional kemudian beralih menjadi ulama yang komitmen kepada ajaran Al-Quran dan sunah dan menentang habis-habisan bidah, khurafat dan takhayul. Dan gambaran tersebut ternyata dialami sendiri oleh Ustadz E Abdurrahman.

Hemat kami, terjadinya perubahan pemahaman keagamaan yang dialami oleh Ustadz E.Abdurrahman tidak jauh berbeda dengan gurunya sendiri, yakni Ustadz A.Hassan, di mana pada awalnya Ustadz A.Hassan masih berpegang kepada paham madzhab (Imam Syafi’i), namun setelah ia bergaul dengan orang-orang kaum muda, yang berpaham Al-Quran-sunah, seperti Faqih Hasyim, dan ditunjang dengan bacaan-bacaan golongan pembaharu, baik di dalam maupun luar negeri, akhirnya kesemuanya itu membawa Ustadz A.Hassan menjadi guru besar dan ulama Persatuan Islam yang paling radikal.[16]

Dijelaskan oleh KH. Eman Sar’an, bahwa gurunya yang bernama Ustadz E Sasmita[17] pernah menuturkan asal mula Ustadz E.Abdurrahman tertarik dengan paham Al-Quran–sunah yang pada waktu itu dicanangkan oleh Persatuan Islam. Jalan ceritanya sebagai berikut:

“Berawal dari adanya pengajian yang diselenggarakan oleh Persatuan Islam di Pangeran Sumedang Weg, yang dipimpin oleh A Hassan. Di dalam pengajian itu A.Hassan mengemukakan haramnya Tahlilan, Talqin, Marhaban, dan Usholi, karena kesemuanya itu adalah bid’ah. Ustadz E Sasmita yang mengetahui hal itu kemudian menyampaikan kepada teman-teman sepengajian di madrasah malam (MPDI), sehingga berita itu sampai juga kepada guru mereka, yaitu Ustadz E Abdurrahman.

Ustadz E.Abdurrahmanseorang guru agama yang menjadi kebanggaan mereka dan masyarakat sekitar demikian pula orang-orang pekaumanmendengar laporan itu langsung marah, karena merasa keyakinan dan pahamnya disinggung dan dihinakan, sampai dikatakan haram karena bidah.

Kemudian dengan keberaniannya, Ustadz E.Abdurrahmanyang pada waktu itu masih muda beliadengan diantar oleh beberapa orang muridnya mendatangi pengajian  Persis di Pangeran Sumedang Weg dan langsung terjadi perdebatan dengan Ustadz A Hassan. Perdebatan itu terjadi beberapa malam, karena Ustadz E.Abdurrahman pada awalnya belum merasa puas dengan jawaban-jawaban Ustadz A Hassan. Akan tetapi setelah hal itu berulang kali terjadi akhirnya Ustadz E.Abdurrahman dapat menerima semua keterangan dan dalil-dalil yang dikemukakan oleh Ustadz A Hassan. Sehingga pada setiap malam pengajian di Pangeran Sumedang Weg Ustadz E.Abdurrahman senantiasa hadir dan tidak pernah absen.

Sampai pada suatu waktu, di dalam pengajian yang disaksikan oleh orang banyak, Ustadz A.Hassan berkata, “Abdurrahman ! Anta akan menjadi murid saya yang pintar dan akan melebihi anak kandung saya sendiri.” Sambil dielus-elus kepalanya, tanda kasih sayang.

Mulai saat itulah Ustadz E.Abdurrahman menjadi murid A.Hassan yang paling akrab dan taat mendampingi gurunya dalam berbagai kegiatan.”[18]

Pada tahun 1934, Ustadz E.Abdurrahman mulai diperbantukan untuk mengajar di Pendidikan Islam (PENDIS) yang dipimpin oleh Mohammad Natsir. Di Pendidikan Islam ini diselenggarakan pendidikan mulai dari tingkat Taman Kanak-Kanak, HIS, MULO, dan Kweekschool. Dan Ustadz E.Abdurrahman diberi kepercayaan untuk memberikan pelajaran agama. Adapun untuk pelajaran umum dipegang oleh Mohammad Natsir, Umi Nur Nahar (isteri Moh. Natsir), Ir. Ibrahim, Ir. Inderacaya dan Fakhruddin al-Kahiri.[19]

Sehingga dengan demikian semakin lengkaplah pergaulan Ustadz E.Abdurrahman dengan tokoh-tokoh Persatuan Islam pada waktu itu; dengan Ustadz A.Hassan—ulama dan Guru Besar Persatuan Islam—dan Mohammad Natsir, anggota dan tokoh Persatuan Islam yang juga pimpinan dari Pendidikan Islam. Kemudian ditambah lagi dengan kecenderungannya untuk mulai menelaah kitab-kitab seperti, Subuulus Salaam[20], Shahiih Al-Bukhaariy[21], Shahiih Muslim[22], Al-Umm.[23] Maka dengan demikian ajaran Al-Quran dan sunah mulai mewarnai pemahaman keagamaannya.[24]

Selanjutnya Ustadz E Sasmita menuturkan, “Setelah faham Al-Quran dan As-Sunnah sudah menjadi keyakinan Ustadz E Abdurrahman, yang sudah tidak dapat ditawar-tawar lagi dan ia bersedia menerima segala resiko dari perubahan fahamnya itu, kemudian ia ajarkan pelajaran itu di madrasahnya (MPDI), yang ternyata menimbulkan reaksi di kalangan murid-muridnya, terlebih lagi ketika laporan itu sampai kepada Tuan Alkatiri—pemilik madrasah tersebut, yang fahamnya sangat kolot sekali dan sangat anti Wahabi—akhirnya Ustadz E.Abdurrahman hanya diberi tempo 3 hari untuk kemudian diusir dari madrasah dan dari rumah milik Tuan Alkatiri. Dan tidak hanya itu saja, Ustadz E.Abdurrahman juga dibebas-tugaskan dari kedudukannya sebagai Katib di Pekauman (Kepenghuluan) Bandung.

Mulai saat itulah Ustadz E.Abdurrahman mengalami perubahan dalam kehidupannya, yang tadinya hidup serba kecukupan, menjadi anak emasnya Tuan Alkatiri, akan tetapi setelah terjadi peristiwa tersebut hidupnya sedikit perihatin. Namun demikian kesemuanya itu diterimanya sebagai ujian dari Allah Swt.[25] 

Dengan disertai beberapa orang muridnya yang setia dan sefaham dengannya kemudian Ustadz E.Abdurrahman menempati sebuah rumah milik Pak Rais di Kampung Kompa (depan stasion Kereta Api Bandung). Di samping terus memberikan pelajaran kepada murid-muridnya di tempat ini Ustadz E.Abdurrahman juga diminta oleh Pak Rais untuk memberikan bimbingan keagamaan kepada anak-anaknya. Kemudian di tempat ini juga Ustadz E.Abdurrahman bertemu dengan Kiyai Azhari (seorang Muballigh Persatuan Islam) untuk selanjutnya mendirikan perkumpulan ikatan Ukhuwah “Al-Ishlah” yang langsung diketuai oleh Ustadz E Abdurrahman, dengan anggota-anggotanya antara lain: Ustadz Abdullah Kosim, Ustadz I Sudibja, Ustadz Anshor, Ustadz E Abdullah, dan Ustadz E Sasmita. Mereka bertabligh menyampaikan ajaran Al-Quran dan As-Sunnah hampir setiap malam. Sampai akhirnya pada tahun itu juga (tahun 1934) Ustadz E.Abdurrahman beserta murid-muridnya itu bergabung dan masuk menjadi anggota Persatuan Islam, kecuali Ustadz E Sasmita yang tetap aktif di PSII.[26]

II. Kiprah di Dunia Pendidikan

Tidaklah berlebihan kalau dikatakan bahwa KH.E.Abdurrahman sebelum bergabung dengan Persis sudah banyak makan asam garamnya dunia pendidikan, dalam usia yang relatif masih muda bakatnya sebagai seorang pendidik sudah menonjol. Diawali dengan menjadi guru di Madrasah al-Ianah Bandung (1928 – 1930), setelah itu menyelenggarakan Majelis Pendidikan Diniyah Islam (MPDI), di samping itu juga menjadi guru Bahasa Arab di HIS Kweekschool (1930 – 1934).

Setelah bergabung dengan Persis, KH.E.Abdurrahman mulai ikut mengajar di madrasah yang diselenggarakan oleh Bagian Pendidikan “Persatuan Islam” bersama-sama dengan Ustadz Hamid dan Ustadz Muhammad (1935), selain itu ia juga memberikan pelajaran agama Islam di Pendidikan Islam (PENDIS) yang dipimpin bapak Moh. Natsir. Sampai kemudian pada tahun 1936 Ustadz A. Hassan membuka pesantren besar, yang diselenggarakan pada pagi hari, dan KH.E.Abdurrahman diberi kepercayaan untuk memimpin pesantren kecil yang diselenggarakan pada sore hari. Baik pesantren besar maupun pesantren kecil pada waktu itu mengambil lokasi di jalan Pangeran Sumedang, adapun Sekolah Pendidikan Islam berpusat di jalan Lengkong Besar.[27]

Pada tahun 1940 Pesantren Besar pindah ke Bangil bersamaan dengan kepindahan Ustadz A. Hassan ke sana,[28] maka Pesantren Kecil yang dipimpin oleh KH.E.Abdurrahman kemudian menjadi Pesantren Persatuan Islam Bandung, dan yang di Bangil menjadi Pesantren Persatuan Islam Bangil, dan mulai saat itulah Pesantren Persatuan Islam berkembang ke daerah-daerah di mana jam’iyyah Persatuan Islam berada.

Waktu pemerintah kolonial Belanda jatuh dengan datangnya penjajah Jepang, Sekolah Pendidikan Islam (PENDIS) ditutup dan 80% muridnya menggabung ke Pesantren Persatuan Islam, dan mulai saat itulah para ustadz; KH.E.Abdullah, K.H.I. Sudibja, K.H.O. Qomaruddin Saleh dan K.H.M. Rusyad Nurdin membantu mengajar di Pesantren Persatuan Islam.[29]

Ujian demi ujian, musibah demi musibah yang menimpa Pesantren Persatuan Islam tidak menjadikan proses ajar mengajar menjadi terhenti, bahkan sehubungan dengan terjadinya Revolusi Kemerdekaan Republik Indonesia (1945), di mana kota Bandung menjadi lautan api, atas inisiatif KH.E.Abdurrahman Pesantren Persatuan Islam diungsikan ke daerah kampong Cidolog Gunung Cupu Kabupaten Ciamis. Dan secara kebetulan di tempat pengungsian terdapat ruang sekolah (darurat) yang masih dapat digunakan untuk tempat belajar para santri pesantren Persis, yang ikut mengungsi pada waktu itu + 20 orang. Ternyata frekwensi waktu untuk belajar di pengungsian justru semakin banyak, karena baik KH.E.Abdurrahman maupun K.H.O. Qomaruddin Saleh di tempat pengungsian itu tidak ada kegiatan lain selain daripada memberikan bimbingan dan pelajaran kepada para santri. Dan selama di pengungsian tersebut jumlah santrinya bertambah dengan murid-murid yang masuk dari kalangan penduduk sekitarnya, sehingga jumlah keseluruhan santri mencapai + 100 orang.[30]

Lain lagi yang dituturkan oleh K.H. Syarif Sukandi, digambarkan bagaimana keadaan di pengungsian yang serba memprihatinkan, karena senantiasa dikejar-kejar Belanda, dari tempat pertama kemudian mengungsi lagi sampai ke hutan. Apabila sedang terjadi pertempuran, terdengar tembakan, maka baik guru maupun santri lari berhamburan, tidak lama kemudian kembali lagi, jadi seperti kucing-kucingan. Namun di sinilah kegigihan, keteguhan dan kesabaran KH.E.Abdurrahman dan K.H.O. Qomaruddin Saleh di dalam terus melanjutkan pendidikan pesantren, terkadang sambil bersembunyi di bawah pohon sekalipun. Sampai akhirnya pada tahun 1948, setelah terjadi Perjanjian Renville, Pesantren Persatuan Islam kembali lagi ke Bandung dan menempati gedung Persistri di jalan Kalipah Apo, karena gedung pesantren yang lama oleh pemiliknya sudah dijadikan kantor percetakan Galunggung.[31]

Foto Pesantren PajagalanWalaupun pada saat itu para pendidik mengalami fase transisi di bidang pendidikan, dari masa penjajahan ke masa kemerdekaan, pada saat itu orang tabu mendengar “pesantren” karena ia memberikan citra jelek dan keterbelakangan, namun KH.E.Abdurrahman tetap mempertahankan nama pesantren yang terpampang pada tembok Pesantren Persatuan Islam, setelah pindah dari Kalipah Apo ke jalan Pajagalan. Dan merupakan satu-satunya papan nama sekolah di kota pada saat itu dengan nama pesantren. Dalam pada itu KH.E.Abdurrahman mulai meletakkan pembaharuan dalam kurikulum, di samping mata pelajaran agama yang pokok, juga diberi mata pelajaran umum sebagai penopang, seperti matematika, fisika, ilmu hayat dan ilmu bumi, serta bahasa inggris, ditambah lagi dengan diselenggarakannya tingkat Mu’allimin. KH.E.Abdurrahman menanam ‘Izzah al-nafs dengan ketinggian ajaran Islam, menanamkan sikap dan kepercayaan kepada diri sendiri, merubah citra pesantren, sehingga alumnusnya tidak merasa rendah diri di dalam pergaulan kota, yang lapisan sosialnya antara lain terdiri dari para intelek yang mendapat pendidikan sekolah Belanda dan sekolah umum setelah zaman kemerdekaan.[32]

Terbukti para alumnusnya banyak dibutuhkan, baik sebagai guru (ustadz) di pesantren-pesantren yang berada di cabang-cabang Persis, maupun guru-guru agama di sekolah-sekolah umum, bahkan banyak di antaranya yang melanjutkan studi mereka ke perguruan tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri, kini mereka sudah banyak yang menjadi sarjana dalam pelbagai disiplin ilmu.[33]

Dengan semakin berkembangnya cabang-cabang Persis, kebutuhan akan pesantren sebagai sarana pendidikan menjadi suatu hal yang pokok, dan sebagai tenaga penggerak berlangsungnya pendidikan di pesantren adalah tenaga pengajar. Di sinilah para lulusan pesantren “Persatuan Islam” dituntut pengabdiannya untuk mencurahkan ilmunya bagi pesantren-pesantren Persis yang ada. Dan yang penulis lihat sekarang ada beberapa pesantren yang tergolong besar (di Garut dan Tasikmalaya) yang dipimpin oleh murid-murid KH.E.Abdurrahman sendiri. Inilah yang menjadi cita-cita dan harapan KH.E.Abdurrahman, bahwa dari para muridnya itulah akan tampil para pelanjut dan bukan sekedar menjadi pengikut.

Kemudian sampai sejauh mana KH.E.Abdurrahman memberikan didikan dan bimbingan kepada para santrinya? Tentu saja sebagai pimpinan pesantren Persis ia mempunyai tanggung jawab besar terhadap maju mundurnya pendidikan di pesantren tersebut.

Banyak waktunya dicurahkan untuk memimpin sekaligus memberikan pelajaran di pesantren, setiap hari (kecuali hari Jumat) mulai dari pukul 07.00 — 11.00 WIB merupakan waktu yang digunakannya untuk memberikan pelajaran, ditanganinya langsung tingkat Mu’allimin I dan II. Hal ini dimaksudkan agar mudah mengkorelasikan antara ilmu-ilmu yang bersifat teori dan hapalan, yang didapat para santri di tingkat sebelumnya, dengan praktek dalam rangka memahami ayat-ayat Al-Quran dan Hadits Rasulullah saw.. Oleh karena itu mata pelajaran yang ia berikan meliputi: Bahasa Arab, Ushul Fiqh, Hadits, Tafsir. Dan untuk mata pelajaran Bahasa Arab digunakan buku “Nahwu wa Sharfu” karangan A. Syalabi. Untuk mata pelajaran Ushul Fiqh digunakan buku “al-Bayan” karangan Abd. Hamid Hakim. Untuk mata pelajaran hadits digunakan kitab Shahih Bukhari. Untuk mata pelajaran fikih digunakan Bulughul Maram. Sedangkan untuk mata pelajaran tafsir digunakan kitab Tafsir al-Maraghi dan Ibnu Katsir.[34]

Di dalam memberikan pelajaran bahasa Arab KH.E.Abdurrahman tidak terlalu mengorientasikan agar para santri mampu bermuhadatsah (percakapan) dengan menggunakan bahasa Arab, akan tetapi lebih ditekankan kepada menuntun agar para santri mampu membaca dan menelaah kitab-kitab (tafsir, hadits dan lain sebagainya).[35]

Dalam memberikan pelajaran tafsir, antara lain beliau menjelaskan:

  • Mengenai ilmu alat (Nahwu, Sharaf, Bayan, Badi’, Ma’ani)
  • Al-Kalimatul Gharibah; yaitu kalimat yang dianggap asing, yang banyak terdapat dalam Al-Quran.
  • Apabila membahas satu ayat, tidak langsung ayat itu saja yang dikupas, akan tetapi dibahas terlebih dahulu ayat-ayat yang lain yang ada kaitannya dengan masalah ayat yang dibahas.
  • Mengenai Asbabunnuzul, yaitu tentang sebab-sebab turunnya ayat, sehingga akan semakin memudahkan di dalam memahami makna dan kandungan suatu ayat.

Dan di dalam memberikan pelajaran di kelas jarang sekali KH.E.Abdurrahman duduk di kursi guru yang biasa disediakan di muka kelas, akan tetapi hampir 80% ia berbicara menyampaikan pelajaran sambil berjalan di ruang kelas, dan sekali-kali mentest (menguji) dengan memberikan pertanyaan kepada santri, dengan cara demikian diharapkan para santri dapat mengikuti pelajaran secara aktif.[36]

Sementara dalam membuat soal ujian (imtihan), beliau menetapkan pola sebagai berikut:

  • Tidak pernah memberikan soal ujian lebih dari 7 point, namun demikian untuk tiap-tiap point memerlukan jawaban yang luas cakupannya.
  • Tidak pernah memberikan soal yang jawabannya multiple choice. Hal ini dimaksudkan untuk menghindarkan jawaban yang cenderung spekulatif, dan itu dipandang sebagai kebiasaan yang tidak mendidik para santri untuk mempunyai wawasan analisa yang luas.
  • Ia membiarkan para santri ujian tanpa diawasi secara langsung di kelas, hanya sebelumnya ia berpesan: “Kalian tentu percaya bahwa di samping kalian semua ada malaikat”, sambil ia meletakan kopiah (peci)nya di atas meja, kemudian keluar.[37]

Pada kesempatan memberikan Syahadah (Ijazah), kepada para lulusan Mu’allimin KH.E.Abdurrahman sebagai pimpinan pesantren senantiasa mengamanatkan agar ilmu yang telah diperoleh di pesantren dapat dimanfaatkan dengan sebaik-baiknya. Dan ia pernah mengatakan: “Mudah-mudahan ijazah ini tidak berlaku semata-mata untuk mencari uang.”[38]

Hal ini dimaksudkan agar para lulusan ketika terjun di masyarakat tidak terlalu mengorientasikan hidupnya untuk mencari kesenangan materi belaka, jangan sampai terjadi dikarenakan mengejar pangkat, jabatan dan karier, ajaran Al-Quran dan As-Sunnah sudah tidak lagi mewarnai kehidupannya. Dan amanat KH.E.Abdurrahman ini memang sejalan dengan Mohammad Natsir yang pernah memberikan nasehat kepada para pengurus Rijalul Ghad dan Ummahatul Ghad.[39] Ketika ditanya oleh Mohammad Natsir: “Kenapa kalian memilih pesantren Persis sebagai tempat untuk menuntut ilmu, tidak belajar di sekolah umum saja ?” dijawab oleh salah seorang santri: “Kami ingin berguna untuk masyarakat.” Kemudian ditanya kembali oleh Mohammad Natsir: “Bagaimana kalau masyarakat ternyata tidak membutuhkan saudara ?” Pada waktu itu tidak ada satu pun yang menjawab, sampai kemudian Mohammad Natsir sendiri yang menjawab: “Dalam hal ini kita tidak harus menunggu untuk diminta oleh masyarakat, akan tetapi justru kita harus berusaha membawa masyarakat kepada ajaran Al-Quran dan As-Sunnah.”[40]

Dan merupakan suatu kebahagiaan bagi KH.E.Abdurrahman manakala di antara para lulusan Mu’allimin tidak hanya sekedar menjadi pengikut, akan tetapi lebih jauh lagi sebagai pelanjut perjuangannya. Oleh karena itu dengan himmah yang ia tanamkan membuahkan hasil yang diharapkan, banyak di antara muridnya (alumni pesantren Persis) yang kemudian tampil memimpin pesantren-pesantren Persis di daerahnya masing-masing. Di antaranya ada beberapa pesantren yang tercatat cukup besar dan mempunyai jenjang pendidikan hingga tingkat Mu’allimin, seperti pesantren Persis Benda di Tasikmalaya, pesantren Persis di Guntur Bentar, Rancabango Tarogong, dan Rancabango Garut, Cibegol Kabupaten Bandung, dan daerah-daerah lainnya.

Walaupun selama KH.E.Abdurrahman memimpin Pesantren Persatuan Islam No.1 di Bandung jenjang pendidikannya baru meliputi tingkat Ibtidaiyyah, tingkat Tajhiziyyah (persiapan) tingkat Tsanawiyyah dan tingkat Mu’allimin, namun sebelum wafat beliau telah meletakkan landasan dan cita-cita untuk menyelenggarakan tingkatan lanjutan, yang disebut Pesantren Luhur (الجامعة الاسلامية), yang dimaksudkan agar para lulusan Mu’allimin dapat melanjutkan dan memperdalam ilmunya ke taraf yang lebih tinggi lagi, sehingga diharapkan lulusan Pesantren Luhur tersebut nantinya akan menjadi ulama yang ahli dan siap pakai. Apa yang dicita-citakannya itu kemudian terwujud dengan didirikan Pondok Pesantren Tinggi (PPT) Persatuan Islam Bandung, dengan rektornya K.H.A. Latief Muchtar, MA.,  yang juga sebagai Ketua Umum PP Persis (Masa jihad 1983-1997).[41]

Saat itu, Pondok Pesantren Tinggi ini membuka tiga fakultas sebagai berikut:

  • Ushuluddin: Jurusan Tafsir Hadits
  • Syari’ah: Jurusan Peradilan Agama dan Jurusan Pidana-Perdata Islam
  • Tarbiyah: Jurusan Pendidikan Agama Islam dan Jurusan Bahasa Arab

Dalam rangka lebih menyemarakan syi’ar ajaran Al-Quran dan As-Sunnah, KH.E.Abdurrahman selain aktif di dunia pesantren juga melibatkan dirinya sebagai tenaga pengajar di Perguruan Tinggi. Sejak tahun 1959 ia diangkat sebagai dosen dan guru besar ilmu tafsir dan hadits di Universitas Islam Bandung. Walaupun dalam hal ini para mahasiswa harus datang ke rumahnya dikarenakan padat dan terbatasnya waktu, sementara beliau cenderung perhatiannya pada pesantren. Oleh karena itu KH.E.Abdurrahman kemudian mengangkat salah seorang mahasiswanya, yaitu Latifah Dachlan, alumni pesantren Persis yang melanjutkan kuliahnya di UNISBA, sebagai asisten beliau.[42] Di samping itu KH.E.Abdurrahman diangkat pula menjadi Dosen FKIT-IKIP Bandung (tahun 1957) untuk mata kuliah PAI. Di sana beliau mengangkat puteranya sendiri Ustadz Yunus Anis sebagai asistennya. Ternyata atsar (bekas) perjuangannya tersebut dapat membuka pikiran kalangan mahasiswa sehingga semangat Al-Quran dan Sunnah mulai memancar di berbagai kampus.[43]

Setelah kembali dari menunaikan ibadah haji yang kedua kali (1981) kondisi kesehatan KH.E.Abdurrahman mulai menurun, bahkan pada waktu di tanah suci pun sempat jatuh sakit. Menjelang usia 70 tahun kondisinya banyak terganggu dengan penyakit ashmanya yang kian kronis. Pada usia 71 tahun penyakitnya semakin serius, sehingga sempat diopname 2 kali di Rumah Sakit Hassan Sadikin Bandung. Akhirnya, guru yang tanpa kenal lelah mendidik itu, dipanggil Allah pada hari Kamis, 21 April 1983 di Rumah Sakit Hassan Sadikin Bandung.

Semoga saja dedikasi, tekad, dan semangat tokoh pendidikan, KH.E.Abdurrahman, ini dapat dipupuk, dipelihara dan dikembangkan oleh kita sebagai generasi pelanjut beliau, seiring dengan derasnya arus era globalisasi yang berdampak positif sekaligus negatif terhadap masa depan bangsa.

By KH.Drs Fauzi Nurwahid dan Amin Muchtar, sigabah.com/beta

 

 

 

 

[1]  Sekelumit Riwayat Hidup Kiyai. H. Endang Abdurrahman, Majalah Risalah, Juni, 1983, hal. 22.

[2]  Wawancara dengan KH.E.Abdullah di Bandung, pada tanggal 30 Januari 1988.

[3]  Ibid.

[4]  Perjuangan Seorang Ulama, Risalah, April, 1985, hal. 50.

[5]  Ibid.

[6]  Wawancara dengan KH.E. Abdullah di Bandung, pada tanggal 30 Januari 1988.

[7]  Ibid.

[8]  Loc. cit. (Risalah, April 1985)

[9]  Wawancara dengan KH.E. Abdullah di Bandung, pada tanggal 30 Januari 1988.

[10]  Loc. cit. (Risalah, April 1985)

[11]  Wawancara dengan K.H.E. Abdullah di Bandung, pada tanggal 30 Januari 1988.

[12]  Loc. cit. (Risalah, April 1985)

[13]  Wawancara dengan K.H.E. Abdullah di Bandung, pada tanggal 30 Januari 1988.

[14]  Sekelumit Perjuangan K.H.O. Qomaruddin Saleh, Risalah, Februari 1977.

[15]  Op. cit, (Risalah, Juni 1983) hal. 23.

[16]  Deliar Noer, Gerakan Modern Islam di Indonesia 1900 – 1942, LP3ES, Jakarta, 1960, hal. 98-99. Lihat juga Tamar Jaya, Riwayat Hidup A Hassan, Mutiara, Jakarta, 1980, hal. 21-22.

[17]  Seorang guru agama pada Perguruan Institut Islamiyah di Jl. Kebon Jukut Bandung yang dikelola oleh PSII. Ia pernah menjadi murid Ustadz E Abdurrahman pada madrasah malam (MPDI). Walaupun kemudian pahamnya sudah Al-Quran–Sunnah, akan tetapi ia tetap menjadi mubaligh PSII, dan sampai akhir hayatnya menjadi anggota DPRD Jawa Barat mewakili PSII.

[18]  Wawancara dengan K.H. Eman Sar’an di Jakarta, pada tanggal 22 Februari 1988.

[19]  Wawancara dengan bapak Mohammad Natsir di Jakarta, pada tanggal 7 Maret 1988. Lihat juga Yusuf Abdullah Puar, Mohammad Natsir 70 tahun kenang-kenangan kehidupan dan perjuangannya, Pustaka Antara, Jakarta, 1978, hal. 31-34.

[20] Kitab syarh (komentar) terhadap kitab Buluughul Maraam karya Ibnu Hajar al-Asqalaaniy. Subuulus Salaam ditulis oleh Muhammad bin Ismail bin Shalah Al-Amir Al-Kahlani Ash Shan’ani. Ia dilahirkan pada tahun 1059 H di daerah yang bernama Kahlan, dan kemudian ia pindah bersama ayahnya ke Kota Shan’a ibukota Yaman. Ia wafat pada hari ketiga bulan Sya’ban tahun 1182 H pada umur beliau 123 tahun. Subuulus Salaam itu sendiri merupakan ringkasan dari kitab Badrut Tamaam Syarh Buluughil Maraam, karya Syekh Al-Husen bin Muhammad al-Maghribi (w. 1119 H). (lihat, Muqaddamah Tahqiiq Subuulus Salaam, jilid 1, 2000:11; Al-Kittaniy, ar-Risaalatul Mustahrafh libayaani Masyhuur Kutubis Sunnatil Musyarrafah, juz 10, t.t.:12)

[21]  Judul selengkapnya adalah al-Jami’ as-Shahih al-Musnad al-Mukhtashar min Hadis Rasulillah saw. wa Sunanihi wa Ayyamihi, yang lazim disingkat dengan al-Jami’ al-Shahih, dan populer dengan sebutan Shahih al-Bukhari. Karya Muhamad bin Ismail atau yang lebih populer disebut Imam al-Bukhari (lahir 194 H/809 M dan wafat 256 H/869 M) (Lihat, Al-Asqalaaniy, Hady al-Sari Muqaddamah Fath al-Bari, H. 680; Abu Syahbah, Fi Rihab al-Sunnah al-Kutub al-Shihah al-Sittah,  H. 58)

[22]  Judul aslinya al-Jami’ al-Shahih, atau yang lebih populer dengan Shahih Muslim. Ditulis oleh Muslim bin al-Hajjaj bin Ward bin Kausyadz al-Qusyairi (lahir 204 H/819 M dan wafat 261 H/875 M) (Lihat, Metodologi Kritik Hadis, H. 148; Dirasat fi al-Jarh wa al-Ta’dil, H. 399-407; Tadzkirrah al-Huffazh, juz II, H. 588; Mauqif al-Imamain al-Bukhari wa Muslim, H. 35-41)

[23]  Karya Muhammad bin Idris atau yang lebih populer dengan sebutan Imam al-Syafi’i. lahir di Gaza Palestina tahun 150 H/767 M dan wafat di Mesir tahun 204 H/819 M. [23] Lihat, Tarikh al-Madzahib al-Islamiyyah, H. 407-681, al-Fiqhul Islami wa Adillatuhu, I: 35-38

[24]  Wawancara dengan Ustadz Deddy Rahman di Bandung, pada tanggal 24 September 1987.

[25]  Wawancara dengan K.H. Eman Sar’an di Jakarta, pada tanggal 22 Februari 1988.

[26]  Wawancara dengan K.H.E. Abdullah di Bandung, pada tanggal 30 Januari 1988.

[27]  Sejarah Pesantren Persatuan Islam, Dokumen Pimpinan Daerah Persis DKI Jakarta, (Januari 1972), Hal. 2.

[28]  Syafiq A Mughni, Hassan Bandung Pemikir Islam Radikal, Bina Ilmu, Surabaya, 1980, Hal. 69.

[29]  Dokumen Pimpinan Daerah Persis DKI Jakarta, (Januari 1972), loc cit.

[30]  Wawancara dengan Ustadz Yahya Wardi di Bandung, pada tanggal 24 Februari 1988.

[31]  Wawancara dengan KH. Syarif Sukandi di Bandung, pada tanggal 23 Februari 1988.

[32]  Wawancara dengan K.H.A. Latief Muchtar di Bandung, pada tanggal 24 Februari 1988.

[33]  Wawancara dengan K.H. Syarif Sukandi di Bandung, pada tanggal 23 Februari 1988. Dan sebagai lulusan pertama berjumlah 6 orang, yaitu: A. Latief Muchtar, Syarif Sukandi, Yahya Wardi, Yusuf Amir Faisal, Abd. Qodir Shodiq, Uca Djaelani.

[34]  Wawancara dengan Ustadz Ikin Shodiqin di Jakarta, pada tanggal 4 Maret 1988.

[35]  Wawancara dengan Ustadz Usman Sholehuddin di Bandung, pada tanggal 13 April 1988.

[36]  Wawancara dengan Ustadz Yahya Wardi di Bandung, pada tanggal 24 Februari 1988.

[37]  Wawancara dengan Ustadz Usman Sholehuddin di Bandung, pada tanggal 13 April 1988.

[38]  Wawancara dengan Ustadz Ikin Shodiqin di Jakarta, pada tanggal 4 Maret 1988.

[39]  Bagi para santri Pesantren Persatuan Islam dibentuk 2 ikatan semacam OSIS di sekolah umum. Bagi santri laki-laki disebut Rijalul Ghad (RG) sebagai tempat untuk melatih diri berorganisasi, bergaul dengan masyarakat dengan jalan mengadakan latihan-latihan dakwah, gerak badan, kesenian dan lain-lain, dan bagi santriwati disebut Ummahatul Ghad (UG) dengan usaha yang sama seperti RG, hanya ditambah dengan kewanitaan.

[40]  Wawancara dengan KH. Syarif Sukandi di Bandung, pada tanggal 23 Februari 1988.

[41]  Wawancara dengan Ustadz Yahya Wardi di Bandung, pada tanggal 24 Februari 1988; Risalah, (No.2 thn XXVI/1988) Hal. 11.

[42]  Wawancara dengan Latifah Dachlan di Bandung, pada tanggal 8 Maret 1988.

[43]  Sekelumit Riwayat Hidup Kiayi Haji Endang Abdurrahman, Risalah, (Juli 1983), Hal. 23.

2 thoughts on “MENCETAK GURU BANGSA TANPA KENAL LELAH

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *