MENATA DIRI DI HARI FITRI

Seorang muslim yang berqudwah kepada Al-Quran dan sunah Rasul-Nya akan senantiasa menyadari bahwa hakikat penciptaannya ke dunia ini tidak lain untuk beribadah kepada Allah swt. sebagai Penciptanya. Karena itu setiap desahan nafas dan amal perbuatannya tidak lain merupakan perwujudan amal ibadahnya kepada Allah Swt. Dan inti dari ibadah itu adalah ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Melaksanakan apa yang tidak disyariatkan oleh Allah dan Rasul-Nya bukanlah sesuatu yang dinamakan ibadah.

Bagi kaum muslimin, Rasulullah saw. sudah menetapkan dua hari raya yang layak untuk dirayakan. Ketika Rasulullah saw. tiba (hijrah) di Madinah, penduduk setempat masih merayakan dua hari raya yang biasa mereka rayakan di masa Jahiliah, maka Rasulullah saw. bertanya kepada mereka, “Dua hari apa ini?” Mereka menjawab, “Dua hari yang pada zaman jahiliyyah kami berpesta padanya.” Maka Rasulullah saw. bersabda:

قَدْ أَبْدَلَكُمُ اَللَّهُ بِهِمَا خَيْرًا مِنْهُمَا يَوْمَ اَلْأَضْحَى وَيَوْمَ اَلْفِطْرِ

 “Sungguh Allah telah mengganti (kedua hari itu) untuk kalian dengan dua hari raya yang lebih baik, yaitu hari raya Adha dan hari raya Fitri.” HR. Abu Dawud, An-Nasai, Ahmad, Abu Ya’la, Al-Baihaqi, Al-Hakim, dan Abd bin Humaid, dengan sedikit perbedaan redaksi.

Agar kebahagiaan dalam perayaan Iedul Fitri dan Iedul Adha itu senantiasa berada dalam “lingkaran” keridaan Allah (Mardhatillah), maka terdapat pedoman Rasulullah saw. yang mesti dipegang teguh oleh setiap muslim dalam merayakannya. Lacak pedoman seputar Ied itu di sini

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *