MEMBANGUN JAM’IYYAH YANG SOLID, KOKOH DAN KOMPAK

 

Alhamdulillah pelaksanaan Muktamar PERSIS ke XV dan PERSISTRI ke XII berjalan dengan tertib dan lancar, penuh ukhuwwah dan saling pengertian, walaupun masih banyak kekurangan dan ketidakpuasan, tetapi tidak mengurangi kesuksesan dan kelancaran Muktamar.

Demikian pula Tasykil Pimpinan Pusat Persatuan Islam (PP. Persis) masa jihad 2015-2020 telah diumumkan langsung dalam Muktamar dan telah diterima oleh semua pihak dengan sami’na wa atha’na (kami mendengar dan taat). Walaupun mungkin ada kekurangpuasan dan memang tidak akan membuat puas semua pihak, tetapi pada dasarnya telah dapat diterima. Kami merasa bangga dan bersyukur dan ini adalah wujud kesadaran

 إِتَّقِ اللهَ حَيْثُ مَا كُنْتَ

(Bertakwalah kepada Allah di manapun engkau berada)

Mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan perlindungan kepada kita dan memberikan:

 زَادَنَا اللهُ بَسْطَةً فِي الْعِلْمِ وَ الْجِسْمِ .

(Allah menganugerahi kita ilmu yang luas dan tubuh yang perkasa)

Kita adalah generasi pewaris yang harus melanjutkan perjuangan Rasulullah saw. untuk menegakkan kalimatullah hiya al-‘Ulya (ajaran Allah yang luhur) dengan mempedomani Alquran dan As-sunnah agar Islam menjadi rahmatan li al-‘Alamin. Tugas ini adalah:

 قَوْلًا ثَقِيْلَا

(beban dan tugas berat) yang harus kita perjuangkan.

Ada empat warisan Nabi saw. yang harus kita amalkan:

Pertama, Warisan ajaran dan pedoman hidup, yaitu Alquran dan As-sunnah.

Nabi saw. dengan tegas menyatakan:

تَرَكْتُ فِيْكُمْ أَمْرَيْنِ لَنْ تَضِلُّوْا مَا تَمَسَّكْتُمْ بِهِمَا; كِتَابَ اللهِ وَ سُنَّةَ نَبِيِّهِ

 “Aku telah tinggalkan padamu dua perkara (pusaka), dimana kamu tidak tersesat selama kamu berpegang teguh dengan keduanya; Kitabullah (Alquran) dan Sunnah Nabi-Nya.” HR. Malik

Wajar kita bertanya, sudahkah warisan ini kita lestarikan seutuhnya? Mungkin baru rubu’ (1/4) atau tsumun (1/8) saja yang dapat kita sampaikan kepada umat atau mungkin tsumun saja belum dapat kita realisasikan, padahal Persis telah berumur 92 tahun, sedangkan Nabi saw. selesai dalam waktu yang relatif singkat, yaitu 23 tahun.

Para shahabat telah mencatat pengamalan mereka, bahwa terdapat tiga ayat Alquran yang belum merata diamalkan oleh para shahabat Nabi:

ثَلَاثُ أَيَاتٍ لَمْ يَعْمَلْ بِهِنَّ أَصْحَابُ رَسٌوْلِ اللهِ.

“Tiga ayat (dari 6236 ayat) yang belum diamalkan (secara merata) oleh para shahabat Rasulullah,” yaitu:

(1) firman Allah Swt.:

إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ…

“…sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu…” (QS. al-Hujurat: 13)

(2) firman Allah Swt.:

يَاأَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا لِيَسْتَأْذِنْكُمُ الَّذِينَ مَلَكَتْ أَيْمَانُكُمْ وَالَّذِينَ لَمْ يَبْلُغُوا الْحُلُمَ مِنْكُمْ ثَلَاثَ مَرَّاتٍ…

“Hai orang-orang yang beriman, hendaklah budak-budak (lelaki dan wanita) yang kamu miliki, dan orang-orang yang belum baligh di antara kamu, meminta izin kepada kamu tiga kali (dalam satu hari)…” (QS. An-Nur: 58)

(3) firman Allah Swt.:

وَإِذَا حَضَرَ الْقِسْمَةَ أُولُو الْقُرْبَى وَالْيَتَامَى وَالْمَسَاكِينُ فَارْزُقُوهُمْ مِنْهُ وَقُولُوا لَهُمْ قَوْلًا مَعْرُوفًا.

“Dan apabila sewaktu pembagian itu hadir kerabat, anak yatim dan orang miskin, maka berilah mereka dari harta itu (sekedarnya) dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang baik.” (QS. al-Nisa: 8)

Jika diukur dengan kategorisasi ulama, para ulama pun dibagi menjadi empat bagian, yaitu ulama yang (1) Meninggal, (2) Meninggalkan, (3) Ditinggalkan, atau (4) Ketinggalan.

Demikian juga jam’iyyah yang akan kita perjuangkan, apakah akan menjadi jam’iyyah yang (1) Meninggal, hilang ditelan zaman; (2) Meninggalkan, yaitu meninggalkan warisan pemikiran dan perjuangan seperti A. Hassan, M. Natsir, E. Abdurrahman dan lainnya; (3) Jam’iyyah yang ditinggalkan umat dan tidak mempunyai daya tarik dan daya tawar lagi; (4) Jam’iyyah yang ketinggalan dalam perkembangan zaman.

Kedua, Warisan jihad, yaitu kerja keras untuk memperjuangkan Alquran dan As-sunnah.

Pada dasarnya pekerjaan itu terbagai ke dalam tiga klasifikasi:

A. عَمِلَ – يَعْمَلُ

Bermakna, bekerja walau tidak serius dan tidak sungguh-sungguh (asal bekerja).

B. جَهَدَ – يَجْهَدُ

Bermakna, yaitu kerja keras dan sungguh-sungguh (jadda wa ta’iba)

C. جَاهَدَ – يُجَاهِدُ

Bermakna:

 إِسْتِفْرَاغُ الْوُسْعِ فِي مُدَافَعَةِ الْعَدُوِّ

(mencurahkan segala kekuatan untuk memenangkan pertandingan dan berupaya menangkis semua serangan lawan)

Nabi saw. berhasil memperjuangkan Islam dengan jihad, kerja keras dengan rela mengorbankan harta dan jiwanya. Demikian juga para shahabat Nabi, siap untuk memperjuangkan Islam walau harus meninggalkan kampung halamannya yang ia cintai dan siap menghadapi lawan di medan jihad walau dengan jumlah personil dan perbekalan yang minim, seperti di perang Badar.

Alhamdulillah dengan kerja keras Nabi dan para shahabat, Yahudi bisa ditekan bahkan di zaman Umar sampai diusir dari Madinah, tidak diperbolehkan tinggal di Madinah, Yahudi tidak berdaya menghadapi kekuatan ummat Islam. Dalam hal ini Allah Swt. berfirman:

ثُمَّ أَوْرَثْنَا الْكِتَابَ الَّذِينَ اصْطَفَيْنَا مِنْ عِبَادِنَا فَمِنْهُمْ ظَالِمٌ لِنَفْسِهِ وَمِنْهُمْ مُقْتَصِدٌ وَمِنْهُمْ سَابِقٌ بِالْخَيْرَاتِ بِإِذْنِ اللَّهِ ذَلِكَ هُوَ الْفَضْلُ الْكَبِيرُ

“Kemudian kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami, lalu di antara mereka ada yang menganiaya diri mereka sendiri dan di antara mereka ada yang pertengahan dan di antara mereka ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang amat besar.” (QS. Fathir: 32)

Dalam hal warisan ini, wajar kita bertanya, apakah kita termasuk Sabiqun bi al-Khairat, Muqtashid atau masih Zhalimun li Nafsihi. Maka, jika anda seorang pewaris, kira-kira termasuk kelompok yang mana anda, apakah termasuk Sabiqun bi al-Khairat, Muqtashid atau masih Zhalimun li Nafsihi ?

Ketiga, Warisan hidup berjam’iyyah, yaitu ada imamah dan ada ‘imarah, sebagaimana perkataan ‘Umar:

…لَا إِسْلَامَ إِلَّا بِالْجَمَاعَةِ, وَلَا جَمَاعَةَ إِلَّا بِالْإِمَارَةِ, وَلَا إِمَارَةَ إِلَّا بِالطَّاعَةِ

“…sesungguhnya tiada Islam kecuali dengan Jama’ah, dan tiada jama’ah kecuali dengan ‘imarah, dan tiada ‘imarah kecuali dengan ketaatan.” HR. Ad-Darimi

Dengan hidup berjam’iyyah, beban berat pun dapat dipikul bersama dan potensi yang ada tidak akan berceceran. Dengan hidup berjama’ah dapat diwujudkan:

يَشُدُّ بَعْضُهَا بَعْضًا

(satu sama lain saling menguatkan).

Saya sering menyampaikan ungkapan:

 كُوْنُوْا كَالْيَدَيْنِ وَلَا تَكُوْنُوْا كَا لْأُذُنَيْنِ

(jadilah kamu seperti kedua tangan dan jangan seperti kedua telinga).

Dua tangan, yaitu tangan kanan dan kiri, ternyata ada kerjasama dan saling pengertian di antara keduanya. Saat tangan kanan berbuat dalam wujud menulis surat, menandatangani, dan menerima uang, tangan kiri menggunakan jam tangan dan cincin. Meski demikian, di antara keduanya tidak saling protes apalagi menggugat.

Demikian pula jika mau makan hanya mengandalkan satu jari, apa yang didapat? Paling cuma kecap. Dengan dua jari paling bisa dapat tahu dan tempe, tetapi dengan semua jari bisa mengambil semua apa yang diinginkan. Itulah hikmah berjama’ah.

Keempat, Warisan uswah hasanah, yaitu keteladanan dan akhlaq mulia yang ada pada pribadi Nabi saw.

Inilah warisan yang harus kita warisi dalam upaya memperjuangkan Alquran dan As-sunnah. Perjuangan yang tidak didukung dengan akhlaq mulia akan gagal, bahkan menimbulkan konflik di dalam jam’iyyah itu sendiri. Ada sebuah ungkapan:

إِنَّمَا الأُمَمُ اَلأَخْلَاقُ مَا بَقِيَتْ, فَإِنْ هَمُوْا قَدْ ذَهَبَتْ أَخْلَاقُهُمْ ذَهَبُوْا.

“Sesungguhnya nilai umat itu adalah akhlaqnya selama akhlaq itu melekat dan jika akhlaq itu hilang maka umat itupun akan lenyap.”

Al-Ghazali membagi kriteria ulama kepada tiga kelompok:

Pertama,

إمَّا مُهْلِكٌ نَفْسَهُ وَغَيْرَهُ, وَهُمْ اَلْمُصَرِّحُوْنَ بِطَلَبِ الدُّنْيَا اَلْمُقْبِلُوْنَ عَلَيْهَا.

“Ada ulama yang mencelakakan dirinya dan orang lain, yaitu ulama yang terang-terangan mencari dunia dengan ilmu dan jabatannya.”

Kedua,

وَإمَّا مُسْعِدٌ نَفْسَهُ وَغَيْرَهُ, وَهُمْ اَلدَّاعُوْنَ إلَى اللهِ سُبْحَانَهُ وَتَعَالَى ظَاهِرًا وَ بَاطِنًا.

“Ulama yang membahagiakan dirinya dan orang lain, yaitu ulama yang mengajak ummat ke jalan Allah, baik lahir ataupun batin.”

Ketiga,

وَإمَّا مُهْلِكٌ نَفْسَهُ مُسْعِدٌ غَيْرَهُ, وَهُوَ الَّذِي يَدْعُوْ إلَى الأَخِرَةِ وَقَدْ رَفَضَ الدُّنْيَا فِي ظَاهِرِهِ وَقَصْدُهُ فِي البَاطِنِ قَبُوْلُ الْخَلْقِ وَإقَامَةُ الْجَاهِ.

“Ada ulama yang mencelakakan dirinya tetapi dapat membahagiakan yang lain, yaitu ulama yang mengajak kepada akhirat dan pada lahiriyahnya ia menolak dunia, tetapi tujuan bathinnya adalah diterima oleh semua makhluk (mendapatkan penghargaan dari mereka) dan mendapatkan sajungan dan kemuliaan di sisi mereka.”

فَانْظُرْ مِنْ أيِّ أقْسَامٍ أَنْتَ ؟

Oleh karena itu, jika anda seorang ulama, dari kelompok mana anda berada? Demikian klasifikasi ulama menurut al-Ghazali dalam kitabnya, Ihya Ulumiddin.

Ketika Nabi kedatangan utusan Najran dari Yaman untuk meminta guru yang mengajarkan Alquran dan As-sunnah, Nabi langsung menjawab permintaan mereka;

لَأَبْعَثَنَّ مَعَكُمْ رَجُلًا أمِيْنًا حَقَّ أمِيْنٍ حَقَّ أمِيْنٍ حَقَّ أمِيْنٍ.

“Akan saya utus bersama kalian, seseorang yang amanah, betul-betul amanah, betul-betul amanah, betul-betul amanah.”

Mendengar jawaban Nabi, para shahabat pun ge-er. Nabi sampai tiga kali menyebut ‘betul-betul amanah’. Bahkan Umar pun ketika Nabi hendak mengumumkan siapa yang akan diutus selesai shalat zuhur, sempat mencari muka supaya diutus oleh Nabi. Kata Umar: “Saya tidak pernah berangan-angan menjadi amir, tetapi ketika itu saya tertarik oleh ucapan Nabi dan mengharapkan yang dimaksud oleh Nabi itu adalah saya.”

Kemudian Nabi pun menjelaskan orang yang dimaksud:

إنَّ لِكُلِّ أُمَّةٍ أمِيْنًا وَأمِيْنُ هَذِهِ الأُمَّةِ أَبُوْ عُبَيْدَةَ بْنُ الْجَرَّاحِ.

“Sesungguhnya setiap ummat mempunyai orang kepercayaan, dan sesungguhnya kepercayaan ummat ini adalah Abu Ubaidah bin al-Jarrah.”

Begitu pula dengan Tasykil PP Persis ini, semoga mereka adalah para:

 رَجُلًا أمِيْنًا

(seorang yang amanah)

yang bisa mewakili jam’iyyah Persis ke depan dengan penuh amanah dan tanggungjawab. Tinggal dibuktikan apakah anda adalah:

حَقَّ أمِيْنٍ حَقَّ أمِيْنٍ حَقَّ أمِيْنٍ

(betul-betul amanah, betul-betul amanah, betul-betul amanah)

Ingat, bahwa jabatan di jam’iyyah adalah jabatan amanah, bukan jabatan kehormatan. Saya selaku Ketua Umum, tidak segan dan ragu untuk mengganti tasykil yang hanya sekedar ‘amila (asal bekerja), atau muqtashid (penuh perhitungan untung dan rugi) atau zhalimun li nafsihi (merugikan jam’iyyah Persis).

Dalam menghadapi umat, kita wajib terapkan:

 قَوْلًا مَعْرُوْفًا

(ucapan yang baik),

 قَوْلًا لَيِّنًا

(ucapan yang lemah lembut) dan

 قَوْلًا مَيْسُوْرًا

(penuh pengertian). Umat sangat merindukan kehadiran kita semua.

Dan ketika kita berhubungan dengan pihak lain, yang kita terapkan adalah:

 قَوْلًا بَلِيْغًا

(menyampaikan yang haq adalah haq yang bathil adalah bathil) dan

 قَوْلًا كَرِيْمًا

(harus saling menghormati).

Khusus dalam masalah politik, maka yang harus kita lakukan adalah:

 قَوْلًا سَدِيْدًا

(sikap yang tegas).

Istilah Ustadz Abdurrahman, “kita mencari kejelasan bukan kepuasan.” Kedudukan Persis sangat tegas dan jelas, bahwa Persis sebagai ormas Islam, dan bukan sebagai partai politik apalagi bagian dari parpol. Makanya, ungkapan:

 قَوْلًا سَدِيْدًا

didahului sebelumnya dengan perintah takwa kepada Allah.

Jabatan amanah saya sebagai Ketua Umum Persis, insya Allah menjadi yang pertama dan yang terakhir. Saya sangat berharap dalam periode ini, kita semua mampu merumuskan langkah-langkah Persis ke depan. Seperti kata pepatah Arab;

غَرَسَ السَّبِقُوْنَ فَأَكَلْنَا أَفَلَا نَغْرِسُ لِيَأْكُلَ اللَّاحِقُوْنَ؟

“Telah menanam orang-orang terdahulu dan kita telah menuainya, apakah kita tidak akan menanam agar orang yang akan datang menuainya.”

Persis sekarang adalah warisan generasi A. Hassan dan tokoh-tokoh lainnya. Kita semua sedang menikmati hasil cocok tanam mereka dahulu. Saat ini, kita sedang menanam dan menumbuhkembangkan Persis untuk generasi 25 tahun atau 50 tahun mendatang. Banyak hal yang harus kita perbaiki dalam diri kita. Yang paling utama adalah ketaatan dalam berimamah dan berimarah. Mari kita kembali kepada harapan dan cita-cita yang sesuai dengan kehendak dan cita-cita jam’iyyah, yaitu Persatuan pemikiran Islam, Persatuan rasa Islam, Persatuan suara Islam, dan Persatuan usaha Islam.

Saat ini, pembidangan Tasykil PP Persis ditambah menjadi 5 bidang. Adanya bidang yang baru, yaitu Bidang Hubungan Masyarakat dan Kelembagaan diharapkan lebih membuka lebar sayap-sayap Persis baik di dalam negeri maupun luar negeri. Demikian pula dengan bidang-bidang yang lain, juga dewan-dewan yang ada di PP. Persis bisa lebih mewarnai dan merespons berbagai kebutuhan umat.

Inilah tugas berat kita, mudah-mudahan Allah senantiasa memberikan kekuatan, ketabahan dan kemampuan untuk menyeru umat kepada ajaran Alquran dan As-sunnah lewat jam’iyyah Persatuan Islam.

Mari kita membangun jam’iyyah yang solid, kokoh dan kompak sebagaimana al-jasad al-wahid demi ‘izzu al-Islam wa al-Muslimin, menjadi jam’iyyah Persis yang disegani kawan maupun lawan.

اَللهُ يَأْ خُذُ بِأَيْدِيْنَا إِلَى مَا فِيْهِ خَيْرٌ لِلاِسْلَامِ وَالْمُسْلِمِيْنَ.

Taushiyyah KH.Aceng Zakaria, Ketua Umum PP Persis, yang disampaikan saat pelantikan Tasykil PP Persis Masa Jihad 2015-2020, Sabtu, 12 Desember 2015.

Editor, Amin Muchtar, Anggota Dewan Hisbah PP Persis Masa Jihad 2015-2020, sigabah.com/beta

1 thought on “MEMBANGUN JAM’IYYAH YANG SOLID, KOKOH DAN KOMPAK

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *