MEMANFAATKAN KELEMAHAN MANUSIA UNTUK BERKURBAN

Allah Swt. berfirman:

وَخُلِقَ الْإِنْسَانُ ضَعِيفًا

“dan manusia dijadikan bersifat lemah.” QS. An-Nisa:28

Alhamdulillah merupakan pujian yang paling pantas kita panjatkan kehadirat Allah swt, karena dengan Qudrah, iradah, dan inayah Allah, kita dapat menjalankan sekaligus merasakan nikmatnya iedul adha dalam suasana yang tentram dan aman, disertai dengan keyakinan yang kuat bahwa tidak ada suatu peristiwa dalam kehidupan manusia kecuali telah ditetapkan takdirnya oleh Allah swt. Di antara takdir itu, kita dapat merayakan hari Iedul Adha yang jatuh pada hari Jumat, 1 September 2017, sehingga hari ini terjadi pertemuan  dua hari raya (Iedain).

Peristiwa tersebut semakin mempertebal keyakinan kita bahwa apa pun  yang terjadi dalam kehidupan manusia, hal itu merupakan takdir Allah yang terbaik. Oleh sebab itu, sudah sepantasnya bila pada hari ini kita bertakbir, bertasbih, mengagungkan asma Allah.

ألله أكبر الله أكبر لا إله إلا الله هو الله أكبر الله أكبر ولله الحمد

‘Aidin wal ‘aidat rahimakumullah

Setiap manusia mempunyai kelemahan. Namun justru kelemahan inilah yang menyebabkan manusia berkembang dan berbahagia. Karena di balik kelemahan itu terdapat kemajuan, moderenisasi dalam bidang sosial, ekonomi, politik, dan teknologi, sehingga terjadi perubahan di pelbagai sektor kehidupan.

Sejak zaman Nabi Adam hingga sekarang ini, manusia senantiasa berusaha untuk menghilangkan kelemahan dirinya juga kelemahan orang lain, agar mendapatkan kehidupan yang lebih nikmat dan terhormat. Namun karena sadar terhadap kelemahannya itu, manusia bisa berubah menjadi “makhluk buas” yang berbahaya bagi sesamanya. Menjadikan orang lain sebagai korban hawa nafsunya.

Islam mengajarkan umatnya agar senantiasa memperhatikan kelemahan dirinya juga kelemahan orang lain. Suatu saat ketika Rasulullah saw. hendak menyembelih kambing, para sahabat sibuk mencari dan memperhatikan kelemahan kawannya. Seorang sahabat menghadap Rasul seraya berkata “ya Rasulallah alayya dzabhuha-wahai Rasulullah biarlah saya yang menyembelihnya”. Melihat hal ini, sahabat yang lain tidak tinggal diam, lalu ia berkata, “alayya salhuha-biarlah saya yang mengulitinya”. Demikian pula sahabat yang lain berkata, “alayya thabkhuha-biarlah saya yang memasaknya”. Memperhatikan sikap para sahabatnya ini, Rasulullah memandang masih ada satu kelemahan yang harus ditutupi, karena itu beliau segera menutupinya dengan mengatakan, “alayya jam’ul hathabi-biarlah saya yang mencari kayu bakarnya”.

Peristiwa ini menjadi ibrah bagi kita, bahwa sudah sepantasnya bila kaum muslimin memperhatikan kelemahan sesamanya. Setelah dipelajari, barulah ia menyingsingkan lengan baju untuk menutupi kelemahan itu menurut kemampuan masing-masing, baik dengan harta, tenaga, maupun pikiran. Dengan diketahuinya kelemahan orang lain, maka terbukalah lapangan yang luas untuk beramal salih, bertaqarrub kepada Allah dengan penuh ketakwaan.

Apabila jiwa qurbani seperti ini tertanam pada setiap manusia, maka tidak perlu ada si miskin menangis, si faqir meringis, orang yang merasa terasingkan hidup di daerah terpencil, dan merasa kesepian hidup di kota metropolitan.

Apabila jiwa qurbani seperti ini tetap segar dan mendarah daging pada diri tiap pemimpin, maka tidak akan ada pegawai negeri yang merasa kekurangan gaji, ibu rumah tangga berkeluh kesah, pemuda yang bejat moral dan kehilangan pegangan hidup serta masa depannya, sehingga masyarakat menjadi aman dan tentram.

Namun sebaliknya, apabila jiwa qurbani tidak ada pada diri manusia, maka kelemahan orang lain bukan dijadikan modal untuk beramal salih melainkan dijadikan kesempatan dalam kesempitan, dijadikan korban hawa nafsunya, sehingga kehidupan penuh dengan kemunkaran.

Aidin wal ‘aidat rahimakumullah

Ketika Rasulullah saw. mendapatkan tugas amar ma’ruf nahi munkar, kaum jahiliah merasa tertutup ruang geraknya untuk memanfaatkan kelemahan orang lain, menguras keuntungan. Maka diutuslah Utbah bin Rabi’ah membawa misi untuk membujuk Rasul agar berhenti berdakwah, dengan memberikan ganti rugi apabila Rasul merasa rugi dengan berhentinya tugas itu.

Mereka berani melakukan hal demikian, karena beranggapan bahwa bagaimana pun kuatnya manusia tak ubahnya seekor banteng tetap saja ada kelemahan, akan tunduk pada tuannya apabila dicocoki lubang hidungnya. Demikian pula halnya dengan Rasulullah. Maka Utbah membawa misi untuk menundukkan kelemahan Rasul, sehingga Rasul menuruti kehendak kaum jahiliah.

Datanglah Utbah ke hadapan Rasul, kemudian ia meminta agar beliau menutup kegiatan dakwahnya, mengakhiri perjuangan menegakkan keadilan dan kebenaran, dicari-cari titik kelemahan beliau seraya menawarkan ganti rugi,

“Inkunta innama bihadzal amri malan, jama’naka min amwalina hatta takuna aktsarana malan

Jika dengan kegiatanmu itu sesungguhnya engkau mengharapkan harta, maka akan kami kumpulkan seluruh harta kami untukmu sehingga engkau menjadi orang yang paling kaya di antara kami.”

Utbah berani menawarkan harta kepada rasul, karena ia memandang bahwa manusia lemah ketika berhadapan dengan harta. Karena kelemahan terhadap harta itu, manusia menjadi lupa akan kewajiban dan hakikat perjuangannya.

Di samping itu Utbah pun berusaha menawarkan yang lainnya, “wainkunta turidu tasyrifan, sawwadnaka ‘alaina (dan sekiranya engkau ingin mendapatkan kedudukan, akan kami angkat menjadi pemimpin kami).”

“wain kunta turidu mulkan, mallaknaka ‘alaina (dan jika engkau menghendaki jadi raja, kami angkat engkau menjadi raja.”)

Utbah berani menawarkan pangkat dan tahta sebab manusia lemah pula ketika menghadapi tahta. Demi tahta rela menyembunyikan kebenaran.

Demikian pula manusia lemah pada saat menghadapi wanita. Karena lemahnya menghadapi wanita, maka manusia diperas dan diumpan dengan aneka ragam penampilan wanita.

Tapi ternyata anggapan mereka keliru, sebab Rasul telah menjaga dirinya dengan perisai keimanan dan ketakwaan yang luar biasa, sehingga beliau tidak lemah lagi ketika berhadapan dengan harta, tahta, maupun wanita. Beliau menolak tawaran ganti-rugi dari Utbah dan tetap amar ma’ruf nahi munkar.

Aidin wal ‘aidat rahimakumullah

Hari ini kita menyaksikan kembali hewan kurban bergelimpangan. Darahnya mengalir memerahi bumi yang fana ini. Setelah menunaikan baktinya, mereka melepaskan nyawanya dengan memberi banyak manfaat kepada manusia.

Sebelum disembelih, mereka penarik bajak di sawah atau gerobak dijalan. Sesudah disembelih, dagingnya jadi makanan manusia, kulitnya jadi pelindung kaki manusia, tulangnya jadi kancing baju manusia, segalanya bermanfaat. Mereka banyak berqurban dan membantu manusia.

Kini rabalah diri kita, qurban apakah yang sudah dibaktikan kepada Allah? Qurban apakah yang sudah diberikan kepada sesama hamba Allah?

Mudah-mudahan dengan Idul Adha ini kita dapat mengembalikan semangat dan jiwa qurbani sehingga tetap segar dan mendarah daging pada diri kita masing-masing.

الله يأخذ بأيدينا إلى ما في خير للإسلام والمسلمين

أقول قولى هذا وأستغفر الله لي و لكم

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *