KONSEP WAHYU & NABI

Ajaran Islam yang kita terima dan kita amalkan hari ini merupakan ajaran peninggalan Nabi Muhammad saw.  yang beliau terima dari Allah Swt. melalui perantara malaikat Jibril untuk kemudian disampaikan kepada kita semua. Penting untuk kita bahas kembali mengenai konsep wahyu dan nabi ini, sebab selain sebagai bahan refleksi kita mengenai perjuangan beliau dalam menjalani risalah kenabian, sekarang ini rupanya ada upaya dari para orientalis untuk membiaskan pandangan kaum muslimin terhadap konsep wahyu dan nabi ini. Seperti apa? Nanti kita akan bahas.

Apa itu wahyu?

Wahyu secara bahasa punya beberapa arti :

  1. Ilham; seperti yang tercantum dalam Q.S. Al-Qasas ayat 7 : “Dan kami ilhamkan kepada ibu Musa; “Susuilah dia, dan apabila kamu khawatir terhadapnya maka jatuhkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah kamu khawatir dan janganlah (pula) bersedih hati, karena sesungguhnya Kami akan mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari para rasul.”
  2. Isyarat yang cepat; seperti yang tercantum dalam Q.S. Maryam ayat 11 : “Maka ia keluar dari mihrab menuju kaumnya, lalu ia memberi isyarat kepada mereka; hendaklah kamu bertasbih di waktu pagi dan petang.”
  3. Perintah Allah kepada malaikat; seperti yang tercantum dalam Q.S. Al-Anfal ayat 12: “(Ingatlah), ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat: “Sesungguhnya Aku bersama kamu, maka teguhkan (pendirian) orang-orang yang telah beriman”. Kelak akan Aku jatuhkan rasa ketakutan ke dalam hati orang-orang kafir, maka penggallah kepala mereka dan pancunglah tiap-tiap ujung jari mereka.”

Sementara secara istilah, wahyu dapat di definisikan sebagai: “Pemberitahuan Allah Swt. kepada seorang nabi tentang berita-berita gaib, syariat, dan hukum tertentu”

Berdasarkan definisi itu, perlu diingetin lagi, soal pentingnya kita sebagai seorang muslim buat paham Islamic worldview.  Kenapa? Sebab worldview atau cara pandang ini yang bakal nentuin sikap seseorang terhadap apa yang diliatnya.

Seseorang yang punya worldview, dia percaya “keberadaan” Tuhan, maka dia bakal cenderung percaya bahwa yang namanya wahyu itu ada, bukan khayalan atau omong kosong. Sebaliknya, kalau orang yang udah punya worldview engga percaya adanya Tuhan, bakalan susah banget dia mengakui adanya wahyu.

Sikap kita sebagai muslim, jelas. Bahwa wahyu itu bukan dari daya imajinasi atau khayalan nabi, melainkan dari Allah Swt. Jenis wahyu itu ada 2: (1) Al – Qur’an, (2) As–Sunnah (Hadits)

Sekarang, apa itu nabi?

Menurut bahasa, nabi artinya mengabarkan. Jadi nabi adalah yang memberitakan dari Allah dan beliau diberi kabar dari sisi-Nya. kalau menurut istilah, nabi ialah seorang laki-laki yang diberi kabar (wahyu) oleh Allah  berupa syari’at.

Kemudian muncul pertanyaan, apa bedanya Nabi sama Rasul?

Nabi adalah orang yang dapet wahyu, tapi engga wajib menyampaikan. Sementara Rasul adalah orang yang dapet wahyu dan berkewajiban menyampaikan.

Serangan Orientalis Terhadap Konsep Wahyu Dan Nabi

Soal konsep wahyu dan nabi ini sebenernya engga terlalu masalah.Yakin deh kalau temen-temen semua Insya Allah udah paham dan gaada keraguan soal konsep dasar ini, iya ga? Tapi…. yang namanya musuh, tetep aja selalu nyari celah buat nyerang kita… termasuk menyerang soal konsep ini.

Ada banyak bentuk “pengaburan” yang dilakukan sama orang-orang orientalis ke ajaran Islam. Dikesempatan ini bakal dibahas 2 contoh “penyerangan” itu, khususnya yang berkaitan langsung sama konsep wahyu dan nabi ini.

Yang pertama, serangan pada otentisitas Al-Qur’an

lampiran 26 mei '16

Dalih mereka adalah, pada mushaf abad pertama hijrah, Al-Qur’an itu engga punya syakal atau harakat, gimana satu huruf itu dibaca fathah, kasrah, atau dhammah. Kayak gambar di atas.“Gimana kalian yakin bahwa Qur’an yang kalian baca hari ini, sama dengan di zaman Rasul dulu? Sama dengan yang diturunkan oleh Allah?” kira-kira gitu deh, isu yang dilemparkan, biar kita jadi ragu.

Terus gimana tanggapan kita? sederhana aja sih. Sebagai seorang muslim kita pasti beriman terhadap Allah dan Rasul. Karena iman itu berangkatnya dari keyakinan otomatis kita kudu percaya. Kan di dalam Qur’an juga udah dijelasin bahwa keaslian Qur’an itu bakal “dijaga” langsung sama Allah? itu pertama. Kedua, ini alesan yang lebih logisnya, kita kan biasanya gitu, segala sesuatu itu pingin dijelasin logis, yang bisa diterima akal. Hehehe… Tradisi keilmuan masyarakat dulu emang belum terlalu “melek” terhadap tulis-menulis, dan media nya pun emang terbatas, makanya tulisan-tulisan yang ada memang terbatas. Tapi… kita jangan lupa, tradisi keilmuan masyarakat Arab dulu justru sangat kuat dalam menghafal. Jadi setiap ayat yang Rasul sampaikan bakal dihafal sama para sahabat terus dikasih tau lagi ke yang lain, terus kayak gitu. Makannya engga heran kalau sekarang gampang banget kita temukan orang-orang yang hafal Qur’an. Tradisi keilmuan menghafalnya sangat kuat, maka “keaslian” Qur’an itu pastilah terjaga.

Yang kedua, serangan kepada nabi

Serangan yang lainnya adalah terhadap pribadi nabi. Isu yang dilemparin sama para orientalis adalah mereka mengatakan bahwa Qur’an bukanlah wahyu melainkan hasil kreasi Muhammad. Alesannya karena di dalam Bibel dan Qur’an ada beberapa kesamaan isi. Sementara yang datang belakangan itu Qur’an, maka disimpulkan Qur’an itu menjiplak kitab mereka. Terus gimana sikap kita? ya balik lagi ke worldview. Karena kita udah beriman, percaya bahwa nabi Muhammad saw Itu adalah utusan Allah, maka worldview kita bakal bilang kalau Qur’an itu wahyu, bukan karangan nabi. Ketika ada persamaan isi, kita bakal bilang bahwa Qur’an lah yang benar.

Itulah sekilas pembahasan soal wahyu, nabi, dan juga upaya-upaya dari kelompok orientalis untuk “mengaburkan” pandangan kita terhadap Islam, dan bagaimana semestinya kita bersikap… sekian!

By Azmi Fathul Umam

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *