KONSEP MANUSIA: SEBAGAI KHALIFAH

Masih ngebahas soal konsep manusia, dan ini merupakan serial terakhir dari tulisan soal manusia, soal diri kita. untuk menyegarkan lagi ingatan kita, sebelum masuk topik terakhir, kita bakalan review dulu topik-topik yang udah pernah dibahas soal konsep manusia ini.

  1. Manusia dalam perspektif agama-agama

Pembicaraan soal manusia ini, kita buka sama topik manusia dalam perspektif agama-agama; Kristen, Hindu-Buddha, dan Islam.

Dalam ajaran kristen, dibangun sebuah dogma original sin alias dosa asal. Jadi manusia itu bahan bakunya adalah dosa. Makanya waktu dia mencuri misalnya, yaa bahan bakunya udah gitu, dosa.

Sementara Hindu-Buddha memandang, kehidupan dunia ini adalah pertempuran antara manusia dengan alam. Manusia kalah, dan alamlah yang menang. Makanya dalam ajaran mereka, ketika seseorang mau menang, mencapai kebahagiaan yang sejati (nirwana), dia harus bisa menyatu dengan alam.

Dalam agama Islam, manusia dipandang sebagai makhluk mulia. Tugasnya bukan sekedar cari makan, cari kerja, kawin, terus mati. Ada misi yang harus diemban yakni jadi khalifah dimuka bumi (soal khalifah, bakalan jadi topik utama di bahasan ini). Manusia juga terlahir dalam keadaan fitrah, tidak seperti ajaran Kristen yang membawa dosa.

  1. Manusia sebagai makhluk Bi-Dimensional

Jadi dalam diri manusia itu ada 2 dimensi; dimensi fisik/jasadi sama dimensi psikis/ruhani

Ketika kita mengejar dimensi fisik, sebetulnya kita sedang menuju kerendahan. Sebab hakikatnya, semua yang berkaitan sama fisik, jasadi, duniawi, itu fana. Maka kita harus mengejar dimensi yang ke 2. Yaitu dimensi psikis, ruhani. Ketika kita bisa mengupayakan, pada hakikatnyakita sedang menuju kemuliaan, dan jadi manusia yang optimal.

  1. Fithrah

Di pembahasan yang ketiga, kita bahas soal fithrah manusia menurut pendapatnya Ibnu Taimiyah. Menurut beliau manusia itu punya yang namanya Quwwah al-‘Aql (kekuatan akal), Quwwatus Syahwat ( dorongan dari dalam diri), dan Quwwatul Ghadhab (kekuatan untuk menghindari hal-hal yang membahayakan). Rumusnya adalah, kalau akal mampu menguasai syahwat dan ghadhab maka akan melahirkan nafs-al mutmainnah. Sebaliknya, kalau akal kalah sama syahwat dan ghadhab, akan melahirkan nafs al-amarah dalam diri kita.

  1. Qalbu

Last but not least…. kita bahas salah satu elemen dari dalam diri manusia yaitu qalbu alias hati. Didalam qalbu kita itu, terdapat 2 elemen; yaitu rasa dan rasio: perasaan dan penalaran. Kedua modal ini cuma dikasih ke manusia, hewan dan tumbuhan engga. Inilah yang kemudian bakalan bikin beda tugas manusia di muka bumi.

Sekarang kita masuk ke inti pembahasan di tulisan ini. Yaitu terkait sama fungsi diciptakannya manusia. Allah Swt. berfirman:

وَإِذْ قَالَ رَبُّكَ لِلْمَلَائِكَةِ إِنِّي جَاعِلٌ فِي الْأَرْضِ خَلِيفَةً قَالُوا أَتَجْعَلُ فِيهَا مَنْ يُفْسِدُ فِيهَا وَيَسْفِكُ الدِّمَاءَ وَنَحْنُ نُسَبِّحُ بِحَمْدِكَ وَنُقَدِّسُ لَكَ قَالَ إِنِّي أَعْلَمُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para Malaikat: “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”. Mereka berkata: “Mengapa Engkau hendak menjadikan (khalifah) di bumi itu orang yang akan membuat kerusakan padanya dan menumpahkan darah, padahal kami senantiasa bertasbih dengan memuji Engkau dan mensucikan Engkau?” Tuhan berfirman: “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui”. QS. Al-Baqarah: 30

Ngebahas soal fungsi manusia ini, kita bakal mengacu ke Qur’an surat Al-Baqarah ayat 30 diatas. Di sana Allah mengatakan “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di muka bumi”.  Jadi, manusia itu punya fungsi kekhalifahan.

Apa itu khalifah? Kalau kita cari makna khalifah, ternyata banyak banget. Ada yang berpendapat pengelolaan, ada yang pemberdayaan, dan ada juga yang lebih spesifik lagi; yang dimaksud khalifah itu adalah kepemimpinan. Karena emang fungsi kepemimpinan itu adalah fungsi pemberdayaan bukan fungsi “memperdayakan”. Jadi manusia dalam kapasitasnya sebagai khalifah, adalah fungsi-fungsi pemberdayaan. Kepemimpinan itu salah satunya. Dan perlu diingat, makna pemimpin disini bukan cuma makna politis aja loh….

Dalam ayat diatas kan malaikat bertanya, mengkonfirmasi keputusan Allah yang menunjuk manusia sebagai khalifah di muka bumi. “Fungsi khalifah kan pemberdayaan, kok kontradiktif dengan karakteristik manusia? Karakteristik manusia itu kan membuat kerusakan. Membuat ketidakdamaian” kurang lebih gitu…  Terus malaikat ini semacam promosi, mencalonkan diri untuk jadi khalifah. (Jadi sebetulnya kalo kita punya kapasitas, ternyata boleh loh mencalonkan diri, hehehe…. daripada nanti jatuh ke tangan orang yang salah?) Kata malaikat, kami yang biasa bertasbih, bertahmid kepadamu. (Boleh dibilang ini semacam kampanye malaikat, tapi kampanye nya elegan banget ya? bicarain soal kapasitas yang dimiliki, bukan kayak kampanye-kampanye yang kita liat hari ini yang cuma janji-janji).

Tapi… buat jadi khalifah itu engga cukup hanya dengan tasbih atau tahmid aja, tapi juga dengan ilmu. Dan ilmu, rupanya engga Allah kasih ke yang lain, cuma Allah kasih ke  Adam (manusia). Berarti, kunci  buat memberdayakan semesta ini, adalah dengan ilmu. Ketika manusia jauh daripada ilmu dia engga akan bisa melaksanakan fungsi-fungsi tersebut.

Fakta yang ada sekarang nunjukin bangsa-bangsa yang ilmunya dibawah rata-rata bangsa lain, dia engga bisa menguasai. Contoh terbaik, yaa bisa kita liat di negara kita tercinta; Indonesia. Sebenernya kurang apa sih dari sumber daya negeri kita ini?

Kesimpulannya, kunci untuk menjadi khalifah itu adalah optimalisasi Aql. Sejauh mana kita bisa mengoptimalkan anugerah sifat-sifat ilahiyyah yang ada dalam diri kita untuk mencapai kemuliaan diri, untuk bekal mengemban tugas sebagai khalifah di muka bumi.

Demikian akhir dari serial pembahasan mengenai konsep manusia yang cukup panjang ini. Perlu ditekankan sekali lagi, bicara soal manusia bukanlah sesuatu yang mudah. Sebab bicara mengenai diri kita sendiri yang tentu penuh dengan keterbatasan untuk mengungkap esensi diri, walaupun memang bukan juga sebuah kemustahilan. Mungkin yang udah kita bahas ini belum tentu esensi, tapi mudah-mudahan bisa membantu kita semua untuk lebih mengenal diri sendiri. Aaamiin….

By Azmi Fathul Umam

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *