KETIKA PEGIAT HAM MULAI TIDAK BER-HAM

 

Masyarakat muslim Indonesia beberapa bulan terakhir ini sempat dibuat tertawa oleh akrobatik para aktivis Syiah yang tidak lucu, saat mereka melakonkan suatu drama kehidupan beragama di Indonesia dengan judul “Kebebasan Beragama Atas Nama HAM.” Misalnya, aktivis Syiah dari OASE (Organization of Ahlulbayt for Social Support and Education), Emilia Renita Az mendesak Komnas HAM untuk segera menyelesaikan kasus-kasus yang dinilai intimidasi terhadap pengikut Syiah. Emilia menuturkan contoh kasus, seperti kasus Sampang dan penyebaran buku MUI tentang kesesatan Syiah yang dilakukan secara massif, juga deklarasi-deklarasi yang digelar oleh Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS).

Selanjutnya, salah satu tokoh Syiah, Abdillah Toha, protes keras kepada “Bogor 1” (Walikota Bogor), Bapak Bima Arya, yang mengeluarkan Surat Edaran larangan perayaan Asyuro yang digelar oleh kelompok Syiah. Larangan perayaan Asyura versi “Bogor 1” itu tertuang dalam Surat Edaran Nomor 300/1321-Kesbangpol. Takut ketinggalan, Komnas Hak Asasi Manusia (Komnas HAM) buru-buru melayangkan surat teguran, bernomor 007/TIM-KBB/X/2015 tertanggal 27 Oktober 2015. Protes lainnya muncul dari para penggiat HAM dan pengusung liberalism, yang kebaran jenggotnya terlalu kentara, seperti pendiri Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Denny JA dan Akhmad Sahal.

Baru-baru ini, beberapa komunitas pegiat HAM yang beraliansi di bawah payung “INDONESIA RUMAH BERSAMA,” melayangkan pernyataan sikap kepada Pemerintah Indonesia dan kepada Ahmad Heryawan Gubernur Jawa Barat. Dalam 14 pernyataan sikap aliansi itu, terselip  5 pernyataan sikap “titipan” dari ormas Syiah IJABI, Tentang Jaminan Melaksanakan Ibadah Berdasarkan Keyakinan, sebagai berikut:

  • Kaum beriman diperintahkan menerima pluralitas masyarakat sebagai kenyataan.
  • Perbedaan sesama manusia, etnis, ras, dan bahasa, disadari sebagai ketentuan Tuhan, karena Tuhan tak menghendaki adanya susunan masyarakat yg monolitik.
  • Para tokoh agama memainkan peran besar dalam menciptakan kerukunan yang saling mengakui jatidiri dan kekhasan masing-masing. Kita harus saling menerima dalam keberlainan dan perbedaan, sebagaimana diamanatkan Pancasila dan UUD 1945.
  • Dalam fakta sejarah masuknya Islam ke Indonesia, unsur Syiah turut berperan membangun kultur Islam Indonesia yang khas melalui budaya tiap daerah yang sudah menyatu menjadi budaya nasional.
  • Republik Indonesia lahir atas kontribusi beragam orang dengan berbagai latar belakang etnis, suku, dan agama.
  • IJABI menolak pandangan pemurnia agama sebagai sumber kekerasan, seperti yang dipaksakan oleh Aliansi Nasional Anti Syiah (ANNAS) dan ormas radikal yang mengatasnamakan agama.
  • IJABI mendesak pemerintah dan aparat penegak hukum, agar hadir menangani praktik intoleransi kekerasan, dan menindak tegas para penyebar Ujaran Kebencian.

Takut ketinggalan kereta, tokoh Syiah lainnya Agus Abubakar Arsal mengajak warga dunia maya menggalang petisi dengan dalih semakin merebaknya hate speech (ujaran kebencian) dengan menggunakan isu SARA di Indonesia.

Dalam drama kehidupan beragama itu selalu saja dipertontonkan Label ‘in-toleran’ terhadap pengikut Islam karena penentangan terhadap ajaran syiah. Sangat disayangkan bahwa pegiat HAM tidak peduli untuk coba memahami apalagi mendalami ajaran syiah sebenarnya. Mereka termakan oleh ‘taqiyyah’ kaum syiah.

Sebagaimana telah kita ketahui bersama bahwa salah satu prinsip HAM adalah menghormati dan mengakui adanya kepercayaan agama lain. Tetapi para pegiat HAM jangan pura-pura lupa bahwa issue HAM tetap harus masuk dalam bingkai kebudayaan dan landasan dasar suatu negara. Apakah kita biarkan demi alasan HAM mereka yg bertelanjang dada berjalan bebas di kota maupun desa diseluruh indonesia ? Apakah akan kita hormati mereka yang mengatakan bahwa pemimpin tertingginya Ali Khameini, bukannya presiden tercinta Joko Widodo.

Coba para pegiat HAM baca bagaimana syiah menistakan para sahabat Nabi Muhammad, yang mereka itu dihormati dan dijunjung tinggi oleh umat Islam atas peran besar mereka dalam mengukir sejarah kegemilangan Islam, silahkan dicek di http://www.sigabah.com/beta/menimbang-syiah-bagian-ke-40/

Jelas dan sangat terang benderang hujatan dan penghinaan terhadap sahabat Nabi tersebut adalah bagian dari aqidah utama ajaran syiah.  Kalau kita toleran dengan ajaran ‘penghujatan’ tersebut maka sebagai konsekuensinya kita harus membuka tangan terhadap mereka yg menghujat paus sebagai pemimpin utama umat katolik. Jelas umat Islam sebagai pencinta damai akan menentang hal tersebut.

Apakah para pegiat HAM mulai kehilangan logika dalam berpikir? Mungkinkah seorang yang meyakini ‘kebencian’ menjadi toleran terhadap mereka yang ‘dibenci’. Bagaimana mungkin orang syiah (yang meyakini ‘kebencian) tiba-tiba menjadi sosok yang toleran kalau bukan sekedar ‘lips service’ dengan bantuan taqiyyahnya. Memang ada sebagian muslim yang ‘keras’ terhadap syiah tapi mayoritas muslim pencinta damai. Sebaliknya, meski ada sebagian penganut Syiah yang ‘lembut’ terhadap muslim tapi tetap saja melahirkan sikap intoleran karena aqidah syiah jelas terlihat bukan ajaran pencinta damai.

Mudah-mudahan pegiat HAM masih punya pikiran jernih bahwa ajaran (believe) Syiahlah yang menjadi pemicu in-toleransi.

By M. Arif Hidajat, Penggagas Komunitas Ahlu Bayt, Cipete-Jakarta Selatan

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *