KETIKA NURANI MATI DI IBU PERTIWI

Air mata saya mengalir saat menulis judul ini, karena sedih melihat orang yang saya banggakan, “Sang Presiden Merakyat”, tak berdaya untuk menemui jutaan rakyatnya yang sengaja datang ke Istana Negara dari seantero nusantara demi meminta ketegasan sikap dari pemimpinnya.

Padahal, banyak di antara peserta AKSI DAMAI—karena keikhlasan untuk turut serta Bela Islam—mereka berangkat ke Jakarta dengan ongkos pas-pasan. Tak peduli apakah bisa pulang kembali ke kampung halamannya atau tidak, yang penting sudah turut bagian dalam menegakkan kemuliaan agama dan kehormatan negara, NKRI, yang mereka cintai.

Andaikan saja “Presiden Merakyat” itu mau menyempatkan diri menengok sejenak “lautan manusia” sebagai rakyatnya dari “langit pake Helikopter Canggihnya” boleh jadi beliau akan terketuk hatinya, lalu segera turun mendarat untuk turut bersama-sama dengan rakyatnya, yang datang dari berbagai pelosok daerah untuk bertemu dengan Presidennya.

foto-1

Andaikan saja “Presiden Merakyat” itu mau menyempatkan diri menengok sejenak ke halaman Masjid Istiqlal Jumat (4/11/2016) dini hari atau Jumat malam hari pasca Aksi Damai yang ternodai oknum para aparat “petugas Sang Presiden”, boleh jadi beliau akan terketuk hatinya, dan merasa menyesal saat beliau enggan menemui rakyatnya, yang hendak berjumpa dengan beliau di Istana Negara, lepas shalat Jumat hingga jelang Maghrib itu.

Betapa tidak, para peserta Aksi Damai dan Beradab itu terlihat berkumpul di halaman Masjid Istiqlal untuk beristirahat setelah melakukan perjalanan jauh. Bahkan tidak sedikit dari mereka yang tidur-tiduran di lantai luar masjid, hingga tidur beneran di pinggir kali kawasan parkir Masjid Istiqlal hanya dengan beralaskan dus air kemasan, atau bendera Organisasi Massa (Ormas) Islam yang dibawa oleh masing-masing.

foto-2

Namun tampaknya ketulusan rakyat itu tidak bernilai apa-apa di mata “Sang Presiden Merakyat” dibanding  nilai bisnis transportasi di bandara Soetta (Soekarno-Hatta) Tangerang. Alih-alih meminta maaf kepada rakyat, atas absennya beliau dalam menjamu mereka di Istana Negara, beliau malahan berdalih dengan beragam alasan “kerakyatan” yang ingin dimaklumi oleh rakyat, seperti “Akses ke Istana Negara susah.”

foto-3

“Jokowi saat di bandara telah meminta untuk kembali ke Istana Merdeka. Bahkan ia meminta hingga tiga atau empat kali. Tapi aksesnya susah,” ujar Sekretaris Kabinet Pramono Anung usai Jokowi menyampaikan hasil rapat koordinasi terbatas, Sabtu (5/11).

Dengan dalih begitu, seakan-akan hendak menunjukkan bahwa Sang Presiden sederajat dengan rakyat dari sisi “sama-sama mengalami kesulitan akses”, baik karena terjadi blockade di sepanjang jalan menuju Istana Negara atau karena membludaknya peserta Aksi Damai.

Namun dalih ini tentu saja tidak masuk akal bagi rakyat Indonesia, karena rakyat tahu bahwa Sang Presiden punya fasilitas VVIP “anti macet dan anti mampet akses” yang dibiayai oleh rakyat. Lihat saja ketika beliau “mau blusukan” meninjau lokasi banjir di Cimacan Haurpanggung Tarogong Kidul, Kab. Garut. Dengan mudahnya beliau mendarat di lapang Makorem 062 Tarumanegara, Kamis (29/9/2016), sekitar pukul 09.15 WIB. Padahal rakyat dari Garut jika ingin berkunjung ke Istana Negara, ia harus menempuh sejauh + 287.7 km dalam waktu sekitar 6 jam via darat (Tol Jakarta—Cikampek), itu pun jika tidak muaaacet.

foto-4

Atau dapat pula kita bandingkan dengan “blusukan beliau” ke Kabupaten Kayong Utara, Kalimantan Barat, yang berjarak sekira 684 km dari Istana Negara. Dengan “kecanggihan helikopter” atas biaya rakyat, beliau tiba dengan mudah di Heliped di kawasan Pantai Pulau Datok Kayong Utara pada Jumat (14/10) sore.

Lalu mengapa “kecanggihan helikopter” dengan fasilitas VVIP “anti macet dan anti mampet akses” itu tiba-tiba menjadi macet dan mampet untuk digunakan ke Istana Negara atau sebaliknya pada Jumat petang (4/11/2016). Padahal jarak bandara Soetta ke Istana Negara hanya sejauh + 27 km dalam waktu sekitar 33 menit via darat (Tol Airport Prof. Sedyatmo). Atau via Jakarta Outer Ring Road sekitar 30 menit dengan jarak tempuh sekitar 29.2 km. Bahkan, hanya dalam waktu sekitar 29 menit via darat (Tol Prof. Sedyatmo dan Tol Airport Prof. Sedyatmo) dengan jarak tempuh + 25 km. Dengan catatan, tidak muaaacet dan dilakukan rakyat biasa (tanpa patroli pengawalan/Patwal)

foto-5

Jadi apa alasan yang masuk akal, sehingga beliau enggan bertemu dengan rakyatnya di Istana Negara, yang dengan sabar dan santun telah menunggu beliau, meski mereka mendapatkan sambutan berupa kawat berduri dan aparat kepolisian dengan “persenjataan lengkap”, yang juga dibiayai oleh rakyat beliau.

Boleh jadi benar apa yang dikatakan Ketua Watim MUI Din Syamsudin bahwa sedari awal beliau tak berniat bertemu, padahal tuntutan peserta aksi substantif dan proporsional.

“Beliau justru pergi, dan terkesan mengabaikan demonstrasi. Itu tak bijak,” terang Din, dikutip dari Republika, Sabtu (5/11/2016).

Ia pun melanjutkan, jika rupanya begitu sikap presiden, maka blusukan yang dilakukan selama ini sarat pencitraan saja. “Seharusnya presiden dapat memanfaatkan kesempatan aksi damai untuk dapat blusukan, dan berdialog dengan demonstran,” katanya.

Din menilai, sikap Jokowi ini akan menimbulkan ketidakadilan dan kekecewaan bagi umat Islam. “Sebenarnya jika beliau datang akan selesai dan bagus untuk masalah ini. Tapi kan ini sudah lewat dan jangan pula beralibi dengan argumen-argumen yang nggak bisa kita percayai,” pungkas Din.

foto-6

Sikap “Presiden Merakyat” yang enggan menemui rakyatnya itu dipandang tidak elok oleh berbagai pihak. Ketua PP Muhammadiyah, Prof Yunahar Ilyas menyayangkan sikap Presiden Joko Widodo (Jokowi) yang tidak menemui perwakilan peserta aksi, Jumat (4/11).

Menurut Yunahar,  alangkah eloknya kalau presiden bisa menerima  beberapa orang perwakilan massa. Presiden Jokowi bisa mendengar langsung tuntutan rakyat sendiri.

“Saya tidak tahu apa pertimbangan presiden tidak mau menerima perwakilan demo damai. Alangkah eloknya kalau presiden bisa menerima beberapa orang perwakilan dari massa dan mendengar langsung tuntutan rakyat sendiri,” kata Yunahar Ilyas yang juga Wakil Ketua Umum MUI, dikutip dari suaramuhammadiyah.id, Sabtu (5/11/2016)

Dalih Presiden Jokowi yang ingin datang ke Istana menerima perwakilan demonstrasi Aksi Bela Islam II, tapi terkendala massa yang banyak dinilai tidaklah tepat.

“Menurut saya, itu tidak terlalu tepat sebagai alasan,” ujar Direktur Eksekutif Indobarometer M Qodari saat diskusi ‘Rivalitas Elit Pilkada DKI’ di Cikini, Jakarta Pusat, Sabtu (5/11).

Menurut Qodari, jika presiden terhalang lewat darat dan benar-benar berniat menemui perwakilan demonstran, itu bisa dilalukan melalui jalur udara menggunakan helikoter. “Kan banyak helikopter,” cetusnya, dikutip dari jpnn.

foto-7

Sang Presiden tak usah “takut berlebihan” terhadap upaya dari sebagian pihak yang hendak melengserkannya, jika Sang Presiden berkenan duduk bersama rakyat. Karena rakyat yang menyayangi presidennya, pasti akan turun membelanya meski yang dihadapi tank dan senapan, seperti dialami oleh rakyat dalam tragedi kelam di Istana Negara tempo hari (4/11).

Dari peristiwa ini rakyat cuma dapat berharap, semoga “Presiden Merakyat” itu tidak kehilangan nurani ketika rakyat ingin melihat pemimpinnya berdiri bersama rakyat.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *