KETENTUAN ZAKAT TIJARAH (PERDAGANGAN DAN INDUSTRI) Bagian Ke-3 (Tamat)

Kedudukan Hadis Zakat Tijarah Dihitung dari Modal

Topik ini penting dibahas secara khusus mengingat terdapat pandangan dari sebagian ustadz bahwa hadis tentang zakat dagang dari modal itu dha’if, sehingga zakat dagang 2,5 % dapat dihitung dari laba. Benarkah demikian? Semoga tulisan sederhana ini dapat menjadi jawaban yang memadai.

Hadis tentang zakat tijarah 2.5 % diambil atau diperhitungkan dari harga beli bahan baku atau modal beli komoditi (barang dagangan) bersumber dari sahabat Nabi saw. bernama Samurah bin Jundab/Jundub dengan variasi redaksi sebagai berikut:

 

Pertama, menggunakan kata raqiq dan dengan kalimat yu’addu lil bai’

عَنْ سَمُرَةَ: أَنّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُ بِرَقِيقِ الرَّجُلِ، وَالْمَرْأَةِ الَّذِي هُمْ تِلادُهُ وَهُمْ عَمَلَتُهُ لا يُرِيدُ بَيْعَهُمْ، فَكَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ لا نُخْرِجَ عَنْهُمْ مِنَ الصَّدَقَةِ شَيْئًا، وَكَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنَ الرَّقِيقِ الَّذِي يُعَدُّ لِلْبَيْعِ

Dari Samurah bin Jundab, “Sesungguhnya Rasulullah saw. memerintahkan agar hamba sahaya laki-laki dan perempuan, yang mereka dikuasainya sejak dahulu (sebagai harta pusaka) dan sebagai pekerja, dan ia tidak bermaksud menjual mereka, maka beliau (Nabi) memerintahkan kita untuk tidak mengeluarkan zakat sedikitpun dari mereka, dan memerintahkan kita untuk mengeluarkan zakat dari hamba sahaya yang disediakan untuk jual-beli.” H.r. At-Thabrani, al-Mu’jamul Kabier, VI:403, No. 6884; VI:408, No. 6902; VII:253, No. 7029; ad-Daraquthni, Sunan ad-Daraquthni, juz II:97, No. 2008; Ibnu Abdul Barr, at-Tamhid, XVII:131; al-Baihaqi, as-Sunan as-Shagier, III:151. Redaksi di atas menurut riwayat at-Thabrani.

Adapun pada riwayat ad-Daraquthni dengan redaksi

بِسْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيمِ مِنْ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدُبٍ إِلَى بَنِيهِ سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- كَانَ يَأْمُرُنَا بِرَقِيقِ الرَّجُلِ أَوِ الْمَرْأَةِ الَّذِينَ هُمْ تِلاَدٌ لَهُ وَهُمْ عَمَلَةٌ لاَ يُرِيدُ بَيْعَهُمْ فَكَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ لاَ نُخْرِجَ عَنْهُمْ مِنَ الصَّدَقَةِ شَيْئًا وَكَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ مِنَ الرَّقِيقِ الَّذِى يُعَدُّ لِلْبَيْعِ »

Bismillahirrahmanirrahim. Dari Samurah bin Jundub kepada anak keturunanya. Salamun ‘alaikum. Adapun sesudahnya, maka sesungguhnya Rasulullah saw. memerintah kita…

 

Kedua, tanpa kata raqiq, dan dengan kalimat minal/minil ladzi nu’iddu lil bai’

عَنْ سَمُرَةَ بن جُنْدُبٍ قَالَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ كَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنِ الَّذِي نُعِدُّ لِلْبَيْعِ

Dari Samurah bin Jundub, ia berkata, “Adapun sesudahnya, maka sesungguhnya Rasulullah saw. memerintah kita untuk mengeluarkan zakat dari barang-barang yang kita sediakan untuk jual-beli.” H.r. Abu Dawud, Sunan Abu Daud, II:95, No. 1562; Ibnu Abdul Barr, at-Tamhid, XVII:130; dan al-Baihaqi, as-Sunan al-Kubra, IV:146. Redaksi di atas menurut riwayat Abu Dawud.

 

Ketiga, tanpa kata raqiq, dan dengan kalimat yu’addu lil bai’

عَنْ سَمُرَةَ بن جُنْدُبٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنَ الَّذِي يُعَدُّ لِلْبَيْعِ

Dari Samurah bin Jundub, ia berkata, “Rasulullah saw. memerintah kita untuk mengeluarkan zakat dari barang-barang yang disediakan untuk jual-beli.” H.r. Ibnul Jauzi, at-Tahqiq fi Ahadis al-Khilaf, II:47, No. 933.

 

Keempat, tanpa kata raqiq, dan dengan kalimat nu’idduhu/na’audduhu lil bai’

عَنْ سَمُرَةَ بن جُنْدُبٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنَ الَّذِي نَعُدُّهُ لِلْبَيْعِ

Dari Samurah bin Jundub, ia berkata, Rasulullah saw. memerintah kita untuk mengeluarkan zakat dari barang-barang yang kita siapkan untuk jual-beli.”

Hadis dengan redaksi di atas kami kutip dari kitab-kitab fiqih madzhab khas (khusus) dan ‘am (umum), antara lain

  • Asna al-Mathalib Syarh Raudhah at-Thalib (madzhab Syafi’i), V:109
  • Al-Furu’ karya Ibnu Muflih, IV:166
  • Syarah al-Bahjah al-Waradiyyah, VI:288
  • Bulughul Maram karya Ibnu Hajar (madzhab umum), 177, No. 642
  • Irwaul Ghalil karya Syekh Nashiruddin al-Albani (madzhab umum), III:310.

Para ulama tersebut menyatakan bahwa hadis tersebut riwayat Abu Dawud. Namun dalam kitab fiqih lainnya dengan redaksi

عَنْ سَمُرَةَ بن جُنْدُبٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِمَّا نَعُدُّهُ لِلْبَيْعِ

Misalnya tercantum dalam Kasysyaf al-Qina ‘anil Iqtina, V:228; Mathalib Ula an-Nuha Syarh Ghayah al-Muntaha karya Musthafa as-Suyuthi (madzhab Hanbali), V:188

Sedangkan dalam kitab fiqih lainnya dengan redaksi

عَنْ سَمُرَةَ بن جُنْدُبٍ قَالَ كَانَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الزَّكَاةَ مِمَّا نَعُدُّهُ لِلْبَيْعِ

Misalnya tercantum dalam Al-Mughni karya Syekh Islam Ibnu Qudamah (madzhab Hanbali), V:414; As-Syarhul Kabir karya Syamsuddin Ibnu Qudamah (madzhab Hanbali), II:622

Para ulama tersebut menyatakan bahwa hadis tersebut riwayat Abu Dawud. Namun dalam kitab lainnya, antara lain Bidayatul Mujtahid wa Nihayatul Muqtashid karya Ibnu Rusyd (madzhab Maliki), V:109; Fathul ‘Aziz syarah al-Wajiz karya ar-Rafi’i (madzhab Syafi’i), VI:40, tidak disebut periwayat/mukharrijnya.

Sedangkan dalam kitab Bada’I as-Shana’I fi Taratib as-Syara’I karya al-Kasani (madzhab Hanafi) dengan redaksi

كَانَ يَأْمُرُنَا بِإِخْرَاجِ الزَّكَاةِ مِنَ الرَّقِيقِ الَّذِى كُنَّا نَعُدُّهُ لِلْبَيْعِ

Tanpa disebut periwayat/mukharrijnya

Sejauh pengetahuan kami berbagai redaksi di atas belum kami temukan dalam kitab-kitab hadis dan siapa mukharrijnya. Sedangkan redaksi Abu Dawud yang kami dapatkan sebagaimana telah disebutkan di atas, yaitu

كَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنِ الَّذِي نُعِدُّ لِلْبَيْعِ

 

Kedudukan Hadis

Hadis di atas, yang tercantum dalam kitab-kitab hadis dan sebagian kitab fiqih, semuanya diriwayatkan melalui sanad yang sama, yaitu Ja’far bin Sa’ad bin Samurah, dari Khubeb bin Sulaiman bin Samurah, dari Sulaiman bin Samurah, dari Samurah bin Jundub.

Para ulama berbeda pendapat dalam menilai status hadis tersebut. Sebagian menyatakan hasan (derajat hadis di bawah shahih dan di atas Dha’if). Sebagian lagi menyatakan daif. Yang menyatakan hasan, antara lain:

  • Imam an-Nawawi berkata, “Dan pada sanadnya terdapat jama’ah (beberapa rawi) yang tidak aku ketahui keadaannya, tetapi Abu Daud tidak mendaifkannya. Dan telah kami jelaskan terdahulu bahwa sesungguhnya hadis yang tidak didaifkannya maka hadis itu hasan menurutnya” (Lihat, al-Majmu’ Syarah al-Muhadzdzab, VI:48).
  • Ibnu Abdul Barr berkata, “Sanadnya hasan” (Lihat, ‘Aunul Ma’bud, III:483)
  • al-Kamal bin al-Hammam berkata, “Abu Daud dan al-Mundziri tidak berkomentar atas hadis itu. Dan ini adalah penilaian hasan dari mereka berdua” (Lihat, Fathul Qadier, IV:97).
  • Abdul Ghani al-Maqdisi berkata, “Sanadnya hasan gharib” (Lihat, Taudhihul Ahkam, III:363) Dalam Kasyaful Qina (V:228) dengan redaksi: “Isnaduhu muqaribun.”

Yang menyatakan daif, antara lain:

Ibnu Hazm berkata:

هُمَا مَجْهُوْلاَنِ

“Mereka berdua (Ja’far bin Sa’ad dan Khubeb) majhul (tidak dikenal)” (Lihat, Mizanul I’tidal, II:135)

Kata Ibnu Hajar, sanadnya layyin. (Lihat, Bulughul Maram, hal. 177, No. 642).

Kata Imam as-Shan’ani:

( رَوَاهُ أَبُو دَاوُد وَإِسْنَادُهُ لَيِّنٌ ) ؛ لِأَنَّهُ مِنْ رِوَايَةِ سُلَيْمَانَ بْنِ سَمُرَةَ وَهُوَ مَجْهُولٌ وَأَخْرَجَهُ الدَّارَقُطْنِيُّ وَالْبَزَّارُ مِنْ حَدِيثِهِ أَيْضًا

“(Sanadnya dinyatakan layyin) karena dari riwayat Sulaiman bin Samurah, dan dia itu majhu.l” (Lihat, Subulus Salam, III:238)

Syekh al-Albani menyatakan:

قُلْتُ : بَلْ هُوَ ضَعِيْفٌ جَعْفَرُ بْنُ سَعْدٍ وَخَبِيْبُ بْنُ سُلَيْمَانَ وَأَبُوْهُ كُلُّهُمْ مَجْهُوْلُوْنَ

Menurut saya, “Bahkan hadis itu daif (karena) Ja’far bin Sa’ad, Khubeb bin Sulaiman, dan ayahnya (Sulaiman) semuanya majhul.” (Lihat, Irwaul Ghalil, III:311)

Menurut kami, hadis tersebut diriwayatkan pula oleh Marwan bin Ja’far (cucu Samurah bin Jundab) dari Samurah bin Jundab melalui shahifah (lembaran kertas) yang ditulis Samurah sebagai surat wasiat kepada para putra dan turunannya sebagai berikut:

بِسْمِ اللهِ الرَّحْمنِ الرَّحِيْمِ . مِنْ سَمُرَةَ إِلَى بَنِيْهِ سَلاَمٌ عَلَيْكُمْ . فَإِنِّي أَحْمَدُ إِلَيْكُمُ اللهَ الَّذِيْ لاَ إِلهَ إِلاَّ هُوَ أَمَّا بَعْدُ فَإِنِّي أُوْصِيْكُمْ أَنْ تَتَّقَوْا اللهَ وَتُقِيْمُوْا الصَّلاَةَ وَتُؤْتُوْا الزَّكَاةَ وَتَجْتَنِبُوْا الْخَبَائِثَ الَّتِي حَرَّمَ اللهُ وَتَسْمَعُوْا وَتُطِيْعُوْا للهِ وَلِرَسُوْلِهِ وَكُتُبِهِ وَلِلْخَلِيْفَةِ الَّذِيْ يَقُوْمُ عَلَى أَمْرِ اللهِ وَجَمِيْعِ الْمُسْلِمِيْنَ أَمَّا بَعْدُ … وَإِنَّهُ كَانَ يَأْمُرُنَا بِرَقِيقِ الرَّجُلِ أَوِ الْمَرْأَةِ الَّذِي هُوَ تِلاَدُهُ وَهُوَ عَمَلُهُ وَلاَ يُرِيدُ عِتْقَهُمْ فَكَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ لاَ نُخْرِجَ عَنْهُمْ مِنَ الصَّدَقَةِ شَيْئًا وَكَانَ يَأْمُرُنَا أَنْ نُخْرِجَ الصَّدَقَةَ مِنَ الرَّقِيقِ الَّذِى يُعَدُّ لِلْبَيْعِ

Wasiat Samurah itu diriwayatkan oleh Ibnu Asakir melalui Ahmad bin Sulaiman Abu Bakar az-Zanbaqi as-Shuri, dari Marwan bin Ja’far bin Sa’ad bin Samurah, dari Samurah bin Jundab. (Lihat, Mukhtashar Tarikh Dimasyqa/Tarikh Ibnu Asakir, I:342-343)

 

Kata Ibnu Sirin:

عَلَيْكُمْ بِرِسَالَةِ سَمُرَةَ بْنِ جُنْدَبٍ إِلَى بَنِيْهِ فَإِنَّ فِيْهَا عِلْمًا جَمًّا

“Hendaklah kalian memperhatikan risalah (surat) Samurah bin Jundab kepada para putra dan turunannya, karena di dalamnya terdapat ilmu yang melimpah.” (Lihat, Tarikh Ibnu Asakir, VII:50-51

 

Penilaian Para Ulama Terhadap Marwan

Marwan bin Ja’far wafat tahun 232 H. Kata Ibnu Abu Hatim, “Ia periwayat shahifah Samurah. Dia meriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy. Diriwayatkan darinya oleh ayahku (Abu Hatim) dan Abu Zur’ah. Demikian yang aku dengar dari ayahku. Dan aku bertanya kepada beliau tentang Marwan, maka beliau menjawab. ‘Dia shaduq, shalihul hadis’.” (Lihat, al-Jarh wat Ta’dil, VIII:276)

Kata Ibnu Sa’ad, “Dia Marwan bin Ja’far bin Sa’ad bin Samurah bin Jundab al-Fazari. Dia meriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy. Dan ia memiliki (surat) washiyat Samurah kepada para putra dan turunannya” (Lihat, at-Thabaqatul Kubra, VI:417)

Kata adz-Dzahabi, “Dia Marwan bin Ja’far bin Sa’ad bin Samurah bin Jundab al-Fazari. Dia meriwayatkan dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy, ‘Atsam bin Ali, Muhamad bin Ibrahim bin Habib, Daud bin al-Muhabbir, dan jama’ah. Darinya diterima oleh Abu Bakar as-Shaghai, Abu Zur’ah, Abu Hatim, Ahmad bin Ali al-Abar, Mathien, dan Muhamad bin Abu Syaibah. Ibnu Abu Hatim telah menyebutkannya, dan ia berkata, ‘Shaduq, Shalihul hadis’. Dan Abul Fath al-Azdi berkata, ‘Mereka memperbincangkannya’. Menurut saya, ‘ini (jarah) tidak dijelaskan (sebabnya), maka tidak berpengaruh’. Mathien berkata, ‘Ia wafat tahun 232 H’.” (Lihat, Tarikhul Islam, IV:332)

Kata Syekh al-Albani, “Karena sesungguhnya al-Azdi sendiri yang memperbincangkannya Karena itu ucapannya (al-Azdi) tidak dianggap, di samping ia menyalahi penilaian Abu Hatim dan anaknya.” (Lihat, Silsilah ad-Dha’iefah, III:441)

 

Penilaian Para Ulama Terhadap Ahmad az-Zanbaqi

Kata Abu Nashr bin Makula, “Ahmad bin Sulaiman az-Zanbaqi, di antara penduduk ‘Irqah, negeri dekat Tharabulus Syam. Dia meriwayatkan dari Sa’id bin Manshur, Mahdi bin Ja’far, Yazid bin Mauhab, Marwan bin Ja’far as-Samuri, Abu Taqi Hisyam bin Abdul Malik, dan lain-lain. Darinya diriwayatkan oleh Muhamad bin Yusuf bin Bisyr al-Harawi, dan lain-lain” (Lihat, al-Ikmal, I:335; Mukhtashar Tarikh Dimasyqa/Tarikh Ibnu Asakir, I:343. Bandingkan dengan Tarikhul Islam karya adz-Dzahabi, V:104)

 

Setelah memperhatikan berbagai argumentasi dari kedua belah pihak, baik yang menilai hasan maupun yang menilai dh’aif, kami cenderung mengikuti penilaian hasan. Dengan demikian, hadis itu dapat dijadikan hujah (bukti, alasan) bahwa zakat tijarah 2.5 % itu dihitung dari harga bahan baku atau modal beli komoditas (barang dagangan).

 

By Amin Muchtar, sigabah.com

 

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *