Kaleidoskop 2018: Panas Bursa Capres Cawapres

Isu politik bisa dibilang merupakan pembahasan yang paling ramai dibicarakan selama 2018. Kiblat.net pun mencoba menghimpun beberapa peristiwa penting terkait isu politik khususnya Bursa Capres dan Cawapres di 2018.

Kelompok yang menjadi bagian Gerakan 212 turut mengambil momentum, dengan menggelar Ijtima’ Ulama 1 yang mulai digelar oleh Gerakan Nasional Pengwal Fatwa (GNPF) Ulama pada 27 Juli 2018. Forum itu dihadiri oleh ratusan Ulama dari berbagai daerah. Dalam putusannya, Ijtima Ulama 1 merekomendasikan 3 nama untuk Maju di Pilpres 2019 yaitu, Letjen TNI Purn. Prabowo Subianto, Habib Dr. Salim Segaf Al-Jufri dan Ust. Abdul Somad Batubara.

Hal ini berlanjut dengan pembentukan ‘koalisi keummatan’ untuk menantang Presiden Jokowi di Pilpres 2019 oleh 3 partai, Partai Gerindra, PKS, dan PAN yang diumumkan oleh Prabowo pada 31 Juli yang kemudian disusul oleh Partai Demokrat dan Berkarya. Di sisi lain, koalisi untuk mendukung Jokowi 2 juga berkumpul utuk mebentuk Koalisi Indonesia Kerja. Koalisi yang diumumkan pada 9 Agustus tersebut berisikan 9 parpol yaitu PDI Perjuangan, PSI, Partai NasDem, Hanura, PPP, PKB, PKPI, Perindo dan Golkar.

Munculnya nama Prabowo-UAS di bursa capres dan cawapres mendapat sorotan khusus oleh masyarakat muslim Indonesia. UAS digadang-gadang sebagai calon terkuat untuk mendampingi Prabowo dalam Pilpres 2019 nanti. Namun kemudian, muncul penolakan dari UAS, ia beralasan ingin lebih berfokus pada bidang dakwah dan pendidikan.

“Saya tentu lebih mengerti dengan diri saya. Saya tentu lebih tahu tentang diri saya. Dan saya berazam sampai mati untuk (jadi) ustad saja,”tegas UAS dalam ceramahnya di lapangan Pamedan Tanjungpinang pada 7 Agustus.

Selain nama yang direkomendasikan sebagai Cawapres dalam Ijtima Ulama, ada juga nama lain yang muncul dalam bursa cawapres Prabowo, yaitu Agus Harimurti Yudohono putra dari pemimpin Partai Demokrat, Susilo Bambang Yudhoyono, Ketua Umum PAN Zulkifli Hasan, Ketua Majeis Syuro PKS, Habib Salim Segaff dan beberapa nama lain.

Meski begitu, nama-nama tersebut dinilai memiliki elektabilitas yang kurang. Bahkan, pencalonan AHY juga mendapat penolakan serius dari anggota koalisi pendukung Prabowo. Tak mengerucut, pemilihan cawapres di kubu Prabowo kian ruwet.

Berbeda di kubu Jokowi, nama cawapres Jokowi mengerucut hingga 10 nama. Muncul juga isu bahwa cawapres Jokowi berinisial M. Hal ini juga sempat dibenarkan oleh Ketua Umum PPP, Romahurmuziy dalam cuitannya.

“Btw tuips, sejak bbrp saat yg lalu beredar bahwa cawapres @jokowi berawalan M. Itu betul. Makruf Amin, Muhaimin, Mahfud MD, Moeldoko, Mulyani, Mbak Susi, Mas Airlangga, bahkan M. Romahurmuziy bisa juga hehehe. Mas dan Mbak lainnya sudah pasti juga. Nah, awalannya M kan,”canda Romy dalam kicauannya.

Meski bernada candaan, namun nama Mahfud MD disebut-sebut sebagai kandidat terkuat untuk mendampingi Jokowi di Pilpres 2019.

Simpang siur siapa cawapres dari 2 kubu kemudian terjawab pada 9 Agustus. Dimana pada sore hari kubu Jokowi mengumumkan Ma’ruf Amin sebagai wakilnya, kemudian disusul kubu Prabowo yang mendaklarasikan Sandiaga Shalahuddin Uno sebagai pendampingnya. Padahal sebelumnya, telah kencang berhembus kabar Jokowi memilih Mahfud MD sebagai wakilnya. Namun, keputusan tersebut berubah hanya beberapa menit sebelum pengunguman.

Tak berhenti disitu, drama cawapres masih berlanjut. Salah satunya cuitan Wasekjen Partai Demokrat, Andi Arief yang mengatakan melalui cuitanya bahwa Sandiaga Uno memberikan 500 miliar kepada PAN, Gerindra dan PKS untuk membeli kursi cawapres. Baik Sandiaga maupun partai yang dituduh pun sama-sama menyangkal hal tersebut.

Pemilihan Sandiaga sebagai cawapres pun menuai kontra dari beberapa pendukung basis pendukung Prabowo terutama dari kalangan Ijtima’ Ulama karena dinilai tak taat pada Ulama denga tak mematuhi putusan Ijtima Ulama 1. Bahkan, kalangan Ulama hampir memutuskan untuk abstain dalam pilpres mendatang. Ijtima’ Ulama 2 pun kemudan digelar.

Dalam Ijtima’ Ulama 2, ternyata dukungan kepada Prabowo tak begitu saja pudar. Dalam putusannya, Ijtima menerima Sandiaga sebagai wakil Prabowo usai mendapatkan restu dari Habib Rizieq Syihab yang berada di Arab Saudi.

Ijtima’ Ulama 2 juga diwarnai penandatanganan kontrak politik oleh Prabowo, yang disyaratkan oleh kalangan ulama yang berisi 17 poin. Diantaranya harus berpihak kepada rakyat, hingga memulangkan Habib Rizieq.

Itulah beberapa peristiwa penting yang terjadi dalam pentas politik, khususnya dalam Bursa Capres dan Cawapres di 2018.

Penulis: Qoid

sigabah.com | kiblat.net

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *