Kala Strategi “Tiko” Tak Lagi Ampuh…

Ambisi berkuasa kadangkala membuat manusia menjadi gelap mata. Segala cara bisa mereka lakukan demi nafsu merengkuh kekuasaan. Termasuk menjalankan strategi playing victim, seolah-olah menjadi pihak yang terzalimi, meski sebenarnya dia sendiri yang mengkhianati kelompoknya. Inilah cara-cara yang ditempuh salah satu elite politik kita, Tuan Guru Bajang (TGB), Zainul Madji.

Saat hiruk-pikuk kontestasi demokrasi di Ibu Kota, mantan gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB) ini sempat mencuri perhatian publik. Pangkal soal karena ia mengaku dilecehkan dan diperlakukan secara rasisme oleh seorang warga keturunan di Bandara Changi Singapura. “Dasar Indo, dasar Indonesia, dasar pribumi, tiko,” begitu hinaan yang diterima berdasarkan pengakuannya.

Sontak saja publik menaruh simpati yang tinggi terhadap TGB. Ia berasal dari kalangan ulama, dan ketika dilecehkan, ia pun memberi maaf dengan lapang dada. Apalagi, kala itu sentimen agama tengah memanas akibat penodaan agama yang dilakukan salah satu kandidat Pilkada DKI Jakarta, Basuki Tjahaja Purnama (Ahok), yang kebetulan juga merupakan warga keturunan.

Jadilah TGB sebagai idola baru bagi segelintir kalangan pendukung oposisi pemerintah. Ia lantas membentuk kelompok pendukung, yang diinisiasi oleh konsultan politiknya, Iwan Piliang. Orang yang dulu juga meng-endorse Joko Widodo (Jokowi) sejak menjabat wali kota Solo, kemudian menjadi gubernur DKI Jakarta, hingga akhirnya terpilih jadi Kepala Negara.

Kelompok pendukungnya ini menggadang-gadang TGB sebagai kandidat yang dianggap layak untuk maju dalam kontestasi nasional. Namun sayang, cara-cara yang mereka tempuh sedikit kurang beretika. Di media sosial mereka gemar mengkritik Partai Demokrat yang menaungi TGB.

Mereka menuding, parpol besutan Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) ini lebih memprioritaskan Agus Harimurti Yudhoyono (AHY), dibanding TGB. Mereka membangun narasi seolah-olah TGB dianak-tirikan, tidak diberi tempat, bahkan merasa diri dizalimi. Padahal, nyatanya tidak begitu juga. Parpol ini sama sekali belum memutuskan siapa kandidatnya. Sementara TGB juga diberi posisi terhormat sebagai anggota Dewan Majelis Tinggi Partai Demokrat.

Tak berhenti di situ, para buzzer bayaran TGB ini juga tak sungkan mencampuri urusan partai lain, terutama kalangan oposisi pemerintah, seperti Partai Gerindra. Hampir setiap hari mereka nyinyir meminta Prabowo Subianto untuk legowo agar tidak maju lagi dalam Pilpres 2019. Tentu saja, harapan mereka supaya tiket pencalonan bisa diserahkan kepada TGB.

Inilah strategi playing victim kedua, setelah peristiwa “Tiko” (pribumi/tikus kotor) di Singapura. Cara ini juga berjalan cukup baik. TGB kembali mendapat atensi, sehingga tak sedikit publik yang termakan narasi untuk menyalahkan Demokrat. Apalagi, dengan terus mendekatkan diri kepada kelompok agama, terutama alumni masa aksi 212, pemimpin umat akhirnya menjadikan TGB sebagai salah satu tokoh yang direkomendasikan untuk memimpin bangsa ini ke depan.

Tetapi, jelang masa pendaftaran calon presiden dan wakil presiden untuk Pilpres 2019, TGB membuka sendiri topeng yang selama ini menyelubungi wajahnya. Ia menyatakan dukungan terhadap Jokowi, petahana yang selama ini dianggap berseberangan dengan kalangan agama. Sikap TGB ini semakin dianggap tak beretika, karena tidak meminta izin kepada Demokrat, parpol yang baru saja mendukung kakak kandungnya, Siti Rohmi Djalilah, sebagai calon wakil gubernur di Pilkada NTB.

TGB tak hanya mengkhianati Demokrat, tetapi juga menyia-nyiakan kepercayaan ulama yang telah merekomendasikannya. Ibarat susu yang dibalas air tuba.

Mungkin karena ia merasa frustasi, tak ada satupun parpol yang melirik untuk dijadikan kandidat. Atau bisa pula lantaran ia memang berharap dijadikan pendamping oleh Jokowi. Rumor ini sebenarnya sudah tersiar sejak lama. Usai namanya melambung di pentas nasional, TGB sudah berkali-kali bertemu dengan Jokowi. Kabarnya ia dijanjikan suatu jabatan, entah itu cawapres atau posisi menteri jika Jokowi terpilih lagi.

Setelah menyatakan dukungan pada Jokowi, TGB kembali memainkan strategi lamanya untuk kali ketiga. Ia menyebut sudah sejak lama ingin bertemu SBY tapi tak diakomodasi. Bahkan kala Presiden RI ke-6 itu terbaring di rumah sakit akibat kelelahan, ia masih saja berkoar mencari pembenaran. Terlihat sekali alasan ini dibuat-buat. Sebagai petinggi partai, seharusnya ia bisa dengan mudah menjumpai ketua umumnya.

Bahkan jika memang ingin bertemu, ia juga bisa datang membesuk. Kecuali niatnya memang sengaja untuk playing victim, wajar saja TGB tak menampakkan batang hidungnya di rumah sakit.

Sayang, kali ini strategi TGB ini tak cukup berhasil. Bahkan ia kena getah akibat ulahnya sendiri. Berdasarkan survei terbaru dari Lembaga Median, elektabilitas TGB turun drastis sejak mendukung Jokowi. Itu diyakini karena pendukung oposisi sudah tidak menaruh simpati terhadapnya, sementara pendukung penguasa juga tidak mempercayai dia sepenuhnya.

TGB yang kini memilih mengundurkan diri dari Demokrat, akhirnya menjadi korban dari manuvernya sendiri. Strategi playing victim, strategi “Tiko”, tidak lagi ampuh meraup simpati, karena publik tak mau lagi terjebak dengan topeng kepura-puraannya.

By Patrick Wilson

sigabah.com | politiktoday.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *