ISTIQOMAH DI JALUR LURUS (Tafsir Al-An’am: 153)

Allah Swt. berfirman:

وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

Artinya: “dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa..” (QS.Al-An’am:153)

Tafsir “Jalan Lurus” (Sirath mustaqiim)

Tentang makna “jalan lurus” (Sirath mustaqiim), Rasulullah telah menjelaskan maksudnya, sebagaimana diriwayatkan Imam Ahmad, sebagai berikut:

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ بْنُ حَنْبَلٍ: حَدَّثَنَا الْأَسْوَدُ بْنُ عَامِرٍ: شَاذَانُ، حَدَّثَنَا أَبُو بَكْرٍ -هُوَ ابْنُ عَيَّاشٍ -عَنْ عَاصِمٍ -هُوَ ابْنُ أَبِي النُّجُودِ -عَنْ أَبِي وَائِلٍ، عَنْ عَبْدِ اللَّهِ -هُوَ ابْنُ مَسْعُودٍ، رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ -قَالَ: خَطَّ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا بِيَدِهِ، ثُمَّ قَالَ: “هَذَا سَبِيل اللَّهِ مُسْتَقِيمًا”. وَخَطَّ عَلَى يَمِينِهِ وَشِمَالِهِ، ثُمَّ قَالَ: “هَذِهِ السُّبُل لَيْسَ مِنْهَا سَبِيلٌ إِلَّا عَلَيْهِ شَيْطَانٌ يَدْعُو إِلَيْهِ”. ثُمَّ قَرَأَ: {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ}

Imam Ahmad bin Hanbal mengatakan, “Al-Aswad bin Amir Syadzan telah menceritakan kepada kami.” Abu Bakar, yaitu Ibnu Ayyasy, telah menceritakan kepada kami, dari Asim, yaitu Ibnu Abun Nujud, dari Abu Wail, dari Abdullah bin Mas’ud Ra., berkata, “Rasulullah Saw, membuat sebuah garis dengan tangannya (di tanah), kemudian bersabda, ‘Ini jalan Allah yang lurus.’ Lalu beliau saw. membuat garis di sebelah kanan dan kirinya, kemudian bersabda, ‘Ini jalan-jalan lain, tiada suatu jalan pun darinya melainkan terdapat setan yang menyerukan kepadanya.’ Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: ‘dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan­Nya’.” (QS. Al-An’am: 153)

Hal yang sama diriwayatkan oleh Imam Al-Hakim, dari Al-Asam, dari Ahmad bin Abdul Jabbar, dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy dengan sanad yang sama. Selanjutnya Imam Al-Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih, tetapi Al-Bukhari dan Muslim tidak meriwayatkannya.

Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Abu Ja’far Ar-Razi, Warqa, dan Amr bin Abu Qais, dari Asim, dari Abu Wail, yaitu Syaqiq bin Salamah, dari Ibnu Mas’ud secara marfu’ dengan lafal yang semisal. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Yazid bin Harun dan Musaddad serta An-Nasai, dari Yahya bin Habib bin ‘Arabi, dan Ibnu Hibban melalui hadis Ibnu Wahb, keempatnya meriwayatkan dari Hammad bin Zaid, dari Asim, dari Abu Wail, dari Ibnu Mas’ud dengan lafal yang semisal. Hal yang sama telah diriwayatkan oleh Ibnu Jarir, dari Al-Musanna, dari Al-Himmani, dari Hammad bin Zaid dengan lafal yang semisal. Imam Al-Hakim meriwayatkannya dari Abu Bakar bin Ishaq, dari Ismail bin Ishaq Al-Qadhi, dari Sulaiman bin Harb, dari Hammad bin Zaid dengan lafal yang sama pula; dan Imam Al-Hakim mengatakan bahwa hadis ini sahih, tetapi keduanya tidak meriwayatkannya.

Imam An-Nasai dan Imam Al-Hakim telah meriwayatkan hadis ini melalui hadis Ahmad bin Abdullah bin Yunus, dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy, dari Ashim, dari Zirr, dari Abdullah bin Mas’ud dengan lafal yang sama secara marfu.

Hal yang sama diriwayatkan oleh Al-Hafizh Abu Bakar bin Mardawaih melalui hadis Yahya Al-Himmani, dari Abu Bakar bin ‘Ayyasy, dari Asim, dari Zirr dengan lafal yang semisal. Imam Al-Hakim menilainya sahih, seperti yang Anda ketahui melalui dua jalur. Barangkali hadis ini bersumberkan dari Ashim bin Abun Nujud, dari Zirr, juga dari Abu Wail Syaqiq bin Salamah; kedua-duanya dari Ibnu Mas’ud dengan lafal yang sama.Wallaahu A’lam. Imam Al-Hakim mengatakan bahwa syahid (bukti) dari hadis ini diperkuat oleh hadis Asy-Sya’bi, dari Jabir melalui jalur yang tidak dikukuhkan. Imam Hakim seakan-akan mengisyaratkan kepada hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad dan Abdu bin Humaid, sedangkan redaksinya berdasarkan Imam Ahmad.

حَدَّثَنَا عَبْدُ اللهِ بْنُ مُحَمَّدٍ -وَهُوَ أَبُوْ بَكْرِ بْنُ أَبِي شَيْبَةَ -أَنْبَأَنَا أَبُو خَالِدٍ الْأَحْمَرُ، عَنْ مُجَالِدٍ، عَنِ الشَّعْبِيِّ، عَنْ جَابِرٍ قَالَ: كُنَّا جُلُوسًا عِنْدَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَخَطَّ خَطًّا هَكَذَا أَمَامَهُ، فَقَالَ: “هَذَا سَبِيلُ اللَّهِ”. وَخَطَّيْنِ عَنْ يَمِينِهِ، وَخَطَّيْنِ عَنْ شِمَالِهِ، وَقَالَ: “هَذِهِ سَبِيلُ الشَّيْطَانِ”. ثُمَّ وَضَعَ يَدَهُ فِي الْخَطِّ الْأَوْسَطِ، ثُمَّ تَلَا هَذِهِ الْآيَةَ: {وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيلِهِ ذَلِكُمْ وَصَّاكُمْ بِهِ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ}

Abdullah bin Muhammad, yaitu Abu Bakar bin Abu Syaibah, telah menceritakan kepada kami. Abu Khalid Al-Ahmar telah menceritakan kepada kami, dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Jabir, ia berkata, “Ketika kami sedang duduk di dekat Nabi saw., maka beliau membuat suatu garis seperti ini di hadapannya, lalu bersabda, ‘Ini adalah jalan Allah,’ lalu membuat dua garis di sebelah kanan dan dua garis lagi di sebelah kiri garis pertama, lalu bersabda, ‘Ini jalan-jalan setan.’ Sesudah itu Nabi Saw. meletakkan tangannya pada garis yang paling tengah seraya membacakan firman-Nya: ‘dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia; dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan Allah kepada kalian agar kalian bertakwa’.” (QS. Al-An’am: 153).”

Hadis itu diriwayatkan pula oleh Imam Ahmad dan Imam Ibnu Majah di dalam kitab Sunnah dari Sunan-nya, begitu juga Imam Al-Bazzar, semuanya dari Abu Sa’id, yaitu Abdullah bin Sa’id, dari Abu Khalid Al-Ahmar dengan lafal yang sama.

Menurut kami, Al-Hafizh Ibnu Mardawaih telah meriwayatkannya melalui dua jalur, dari Abu Sa’id Al-Kindi, telah menceritakan kepada kami Abu Khalid, dari Mujalid, dari Asy-Sya’bi, dari Jabir, ia berkata:

خَطَّ رَسُول اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ خَطًّا وَخَطَّ عَنْ يَمِينه خَطًّا وَخَطَّ عَنْ يَسَاره خَطًّا وَوَضَعَ يَده عَلَى الْخَطّ الْأَوْسَط وَتَلَا هَذِهِ الْآيَة ” وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ ”

“Rasulullah saw. membuat suatu garis, lalu membuat garis lagi di sebelah kanan dan sebelah kirinya masing-masing satu garis. Kemudian beliau meletakkan tangan (tongkat)nya pada garis yang pa­ling tengah, dan membacakan firman-Nya: ‘dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia.’ (QS. Al-An’am: 153)

Tetapi yang dijadikan pegangan adalah hadis Ibnu Mas’ud, sekalipun di dalamnya ada hal yang diperselisihkan, jika dianggap sebagai asar, dan memang telah diriwayatkan secara mauquf hanya sampai pada dia.

Ibnu Jarir mengatakan:

حَدَّثَنَا مُحَمَّد بْن عَبْد الْأَعْلَى حَدَّثَنَا مُحَمَّد بْن ثَوْر عَنْ مَعْمَر عَنْ أَبَان بْن عُثْمَان أَنَّ رَجُلًا قَالَ لِابْنِ مَسْعُودٍ مَا الصِّرَاطُ الْمُسْتَقِيْمُ ؟ قَالَ : تَرَكَنَا مُحَمَّدٌ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي أَدْنَاهُ وَطَرَفُهُ فِي الْجَنَّةِ وَعَنْ يَمِيْنِهِ جَوَادٌ وَعَنْ يَسَارِهِ جَوَادٌ ثُمَّ رِجَالٌ يَدْعُونَ مَنْ مَرَّ بِهِمْ فَمَنْ أَخَذَ فِي تِلْكَ الْجَوَادِ اِنْتَهَتْ بِهِ إِلَى النَّارِ وَمَنْ أَخَذَ عَلَى الصِّرَاطِ اِنْتَهَى بِهِ إِلَى الْجَنَّةِ ثُمَّ قَرَأَ اِبْنُ مَسْعُودٍ “وَأَنَّ هَذَا صِرَاطِي مُسْتَقِيمًا فَاتَّبِعُوهُ وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيله”

Muhammad bin Abdul A’la telah menceritakan kepada kami. Muhammad bin Tsaur, dari Ma’mar, dari Aban bin Usman, bahwa seorang lelaki berkata kepada Ibnu Mas’ud, “Apakah siratul mustaqim (jalan yang lurus) itu?” Ibnu Mas’ud menjawab, “Nabi Muhammad saw. meninggal­kan kami di bawahnya, sedangkan di ujung jalan yang lurus itu terdapat surga. Tetapi di sebelah kanannya terdapat jembatan dan di sebelah kirinya terdapat jembatan lagi. Kemudian dipanggillah semua orang yang harus melewatinya. Barang siapa mengambil jalan jembatan tersebut, maka jembatan itu mengantarkannya ke neraka. Tetapi barang siapa mengambil jalan yang lurus itu, maka jalan yang lurus itu menghantarkannya ke surga.” Kemudian Ibnu Mas’ud membacakan firman-Nya: ‘dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah dia: dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya’.” (QS. Al-An’am: 153)

وَقَالَ اِبْن مَرْدُوَيْهِ : حَدَّثَنَا مُحَمَّد بْن عَبْد الْوَهَّاب حَدَّثَنَا آدَم حَدَّثَنَا إِسْمَاعِيل بْن عَيَّاش حَدَّثَنَا أَبَان بْن عَيَّاش عَنْ مُسْلِم بْن أَبِي عِمْرَان عَنْ عَبْد اللَّه بْن عُمَر سَأَلَ عَبْد اللَّه عَنْ الصِّرَاطِ الْمُسْتَقِيْمِ فَقَالَ اِبْنُ مَسْعُودٍ تَرَكَنَا مُحَمَّدٌ فِي أَدْنَاهُ وَطَرَفُهُ فِي الْجَنَّةِ وَذَكَرَ تَمَامَ الْحَدِيْثِ كَمَا تَقَدَّمَ وَاَللَّه أَعْلَم .

Ibnu Mardawaih mengatakan, “Muhammad bin Abdul Wahab telah menceritakan kepada kami. Adam telah menceritakan kepada kami. Aban bin Ayyasy telah menceritakan kepada kami, dari Muslim bin Abu Imran, dari Abdullah bin Umar, bahwa ia pernah bertanya kepada Ibnu Mas’ud mengenai makna jalan yang lurus. Maka Ibnu Mas’ud menjawab, “Nabi Muhammad Saw. meninggalkan kita di bawahnya yang ujungnya berakhir sampai ke surga,” hingga akhir hadis, sama dengan sebelumnya.Walaahu A’lam.

Imam Ahmad telah diriwayatkan melalui hadis An-Nawwas bin Sam’an hal yang semisal sebagai berikut:

قَالَ الْإِمَامُ أَحْمَدُ: حَدَّثَنَا الْحَسَنُ بْنُ سَوَّار أَبُو الْعَلَاءِ، حَدَّثَنَا لَيْث -يَعْنِي ابْنَ سَعْدٍ -عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ صَالِحٍ؛ أَنَّ عَبْدَ الرَّحْمَنِ بْنَ جُبَيْر بْنِ نُفَيْرٍ حَدَّثَهُ، عَنْ أَبِيهِ، عَنِ النَّوَّاسِ بْنِ سَمْعَانَ، عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: “ضَرَبَ اللَّهُ مَثَلًا صِراطًا مُسْتَقِيمًا، وَعَنْ جَنْبتَي الصِّرَاطِ سُورَانِ فِيهِمَا أَبْوَابٌ مُفَتَّحَةٌ، وَعَلَى الْأَبْوَابِ سُتُورٌ مُرْخَاةٌ، وَعَلَى بَابِ الصِّرَاطِ دَاعٍ يَقُولُ: أَيُّهَا النَّاسُ، ادْخُلُوا الصِّرَاطَ الْمُسْتَقِيمَ جَمِيعًا، وَلَا تَتَفَرَّجُوا وَدَاعٍ يَدْعُو مَنْ جَوْفِ الصِّرَاطِ، فَإِذَا أَرَادَ الْإِنْسَانُ أَنْ يَفْتَحَ شَيْئًا مِنْ تِلْكَ الْأَبْوَابِ قَالَ: وَيْحَكَ. لَا تَفْتَحْهُ، فَإِنَّكَ إِنْ تَفْتَحْهُ تَلِجْهُ، فَالصِّرَاطُ الْإِسْلَامُ، وَالسُّورَانِ حُدُودُ اللَّهِ، وَالْأَبْوَابُ الْمُفَتَّحَةُ مَحَارِمُ اللَّهِ، وَذَلِكَ الدَّاعِي عَلَى رَأْسِ الصِّرَاطِ كِتَابُ اللَّهِ، وَالدَّاعِي مِنْ فَوْقِ الصِّرَاطِ وَاعِظُ اللَّهِ فِي قَلْبِ كُلِّ مُسْلِمٍ”.

Imam Ahmad mengatakan, “Al-Hasan bin Sawwar Abul Ala telah menceritakan kepada kami. Lais, yakni Ibnu Sa’d, telah menceritakan kepada kami, dari Mu’awiyah bin Shaleh, bahwa Abdur Rahman bin Jubair bin Nufair telah menceritakan kepadanya, dari ayahnya, dari An-Nawwas bin Sam’an, dari Rasulullah Saw. beliau bersabda: Allah membuat suatu perumpamaan, jalan yang lurus, pada kedua sisi jalan yang lurus terdapat dua buah tembok, yang pada kedua tembok itu terdapat banyak pintu yang terbuka dalam keadaan tertutup oleh penutup yang dijuraikan. Pada pintu jalan terdapat juru seru yang mengatakan. ‘Hai manusia, marilah kalian semua masuki jalan yang lurus ini, dan janganlah kalian bercerai berai!’ Dan ada juru penyeru lagi dari atas jalan itu: maka apabila seseorang hendak membuka salah satu dari pintu-pintu itu, juru seru tersebut berkata.”Celakalah kamu. jangan kamu buka. Jika kamu membukanya, kamu pasti memasukinya (yakni neraka).’ ‘Jalan tersebut adalah perumpamaan agama Islam, sedangkan kedua tembok itu perumpamaan batasan-batasan Allah, dan pintu-pintu yang terbuka itu perumpamaan hal-hal yang diharamkan Allah. Juru penyeru yang ada di pintu jalan adalah perumpamaan Kitabullah, sedangkan juru penyeru yang dari atas jalan adalah nasihat Allah yang ada di dalam kalbu setiap orang muslim’.”

Imam At-Tirmidzi dan Imam An-Nasai meriwayatkannya dari Ali bin Hujr, Imam An-Nasai menambahkan dari Amr bin Usman; kedua-duanya menerima dari Baqiyyah bin Al-Walid, dari Yahya bin Sa’ad, dari Khalid bin Ma’dan, dari Jubair bin Nufair, dari An-Nawwas bin Sam’an dengan lafal yang semisal. Imam At-Tirmidzi mengatakan bahwa hadis ini hasan garib.

Tafsir “Jalan-jalan lain” (as-subul)

Firman Allah Swt.:

{فَاتَّبِعُوهُ وَلا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ }

“maka ikutilah dia, dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan yang lain.” (QS. Al-An’am: 153)

Ibnu Katsir berkata:

إِنَّمَا وَحَّدَ سَبِيْلَهُ لِأَنَّ الْحَقَّ وَاحِدٌ وَلِهَذَا جَمَعَ السُّبُلَ لِتَفَرُّقِهَا وَتَشَعُّبِهَا

“Sesungguhnya lafal sirat (jalan-Nya) dikemukakan dalam bentuk tunggal karena perkara yang hak itu hanyalah satu. Mengingat hal itu, maka lafal sabil dikemukakan dalam bentuk jamak (subul) karena berbeda-beda dan bercabang-cabang, seperti yang disebutkan di dalam firman-Nya:

{اللَّهُ وَلِيُّ الَّذِينَ آمَنُوا يُخْرِجُهُمْ مِنَ الظُّلُمَاتِ إِلَى النُّورِ وَالَّذِينَ كَفَرُوا أَوْلِيَاؤُهُمُ الطَّاغُوتُ يُخْرِجُونَهُمْ مِنَ النُّورِ إِلَى الظُّلُمَاتِ أُولَئِكَ أَصْحَابُ النَّارِ هُمْ فِيهَا خَالِدُونَ}

‘Allah Pelindung orang-orang yang beriman; Dia mengeluarkan mereka dari kegelapan (kekafiran) kepada cahaya (iman). Dan orang-orang yang kafir, pelindung-pelindungnya ialah setan, yang mengeluarkan mereka dari cahaya kepada kegelapan (kekafiran). Mereka itu adalah penghuni neraka; mereka kekal di dalamnya’.” (QS. Al-Baqarah: 257)

Ibnu Abu Hatim meriwayatkan, dari Ubadah bin Shamit yang menceritakan bahwa Rasulullah Saw. pernah bersabda:

أَيُّكُمْ يُبَايِعُنِي عَلَى هَذِهِ الْآيَاتِ الثَّلَاثِ؟”. ثُمَّ تَلَا {قُلْ تَعَالَوْا أَتْلُ مَا حَرَّمَ رَبُّكُمْ عَلَيْكُمْ} حَتَّى فَرَغَ مِنْ ثَلَاثِ الْآيَاتِ، ثُمَّ قَالَ: “وَمَنْ وَفَّى بِهِنَّ أَجْرُهُ عَلَى اللَّهِ، وَمَنِ انْتَقَصَ مِنْهُنَّ شَيْئًا أَدْرَكَهُ اللَّهُ فِي الدُّنْيَا كَانَتْ عُقُوبَتَهُ، وَمَنْ أخَّرَه إِلَى الْآخِرَةِ كَانَ أَمْرُهُ إِلَى اللَّهِ إِنْ شَاءَ أَخَذَهُ، وَإِنْ شَاءَ عَفَا عَنْهُ”

“Siapakah di antara kalian yang mau berbaiat (berjanji setia) kepadaku untuk berpegang teguh kepada ketiga ayat ini?” Kemudian Rasulullah Saw. membacakan firman-Nya: Katakanlah, “Marilah kubacakan apa yang diharamkan atas kalian oleh Tuhan kalian.” (QS. Al-An’am: 151) hingga selesai sampai akhir ketiga ayat berikutnya. Setelah itu Rasulullah Saw. bersabda: Barangsiapa menunaikan ketiganya, maka pahalanya ada pada Allah. Dan barang siapa mengurangi sesuatu darinya, lalu Allah menimpakan musibah di dunia, maka hal itu adalah hukumannya. Barang siapa menangguhkannya sampai hari akhirat, maka urusannya terserah kepada Allah. Jika Allah berke­hendak menyiksanya, niscaya Dia menyiksanya; dan jika Dia berkehendak memaafkannya, niscaya Dia memaafkannya.”

Ali bin Abu Talhah telah meriwayatkan dari Ibnu Abbas sehubungan dengan firman-Nya:

وَلَا تَتَّبِعُوا السُّبُلَ فَتَفَرَّقَ بِكُمْ عَنْ سَبِيْلِهِ وَفِي قَوْله: أَنْ أَقِيمُوا الدِّيْنَ وَلَا تَتَفَرَّقُوا فِيهِ وَنَحْو هَذَا فِي الْقُرْآن قَالَ أَمَرَ اللَّه الْمُؤْمِنِينَ بِالْجَمَاعَةِ وَنَهَاهُمْ عَنْ الِاخْتِلَاف وَالتَّفْرِقَة وَأَخْبَرَهُمْ أَنَّهُ إِنَّمَا هَلَكَ مَنْ كَانَ قَبْلهمْ بِالْمِرَاءِ وَالْخُصُومَات فِي دِين اللَّه

“dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya.” (QS. Al-An’am: 153) Juga mengenai firman-Nya: “Tegakkanlah agama dan janganlah kalian berpecah belah tentangnya.” (QS. Asy-Syura: 13) dan ayat lainnya yang semakna dalam Al-Qur’an, Ibnu Abbas berkata bahwa Allah memerintahkan kepada kaum mukmin untuk berjamaah (bersatu) dan melarang mereka berselisih pendapat dan bercerai-berai. Kemudian Allah memberitahukan kepada mereka, sesungguhnya telah binasa orang-orang sebelum mereka tiada lain karena pertikaian dan permusuhan mereka dalam agama Allah.

Kesimpulan

  1. As-Shirathal mustaqim itu adalah agama Islam yang bersumber dari Al-Quran dan Sunnah
  2. Istiqamah berarti berpegang teguh dengan ajaran Al-Quran dan Sunnah
  3. Istiqamah tidak bisa dengan sendirinya, tetapi memerlukan perjuangan, karena senantiasa akan dihadang oleh berbagai rintangan, apakah tetap berpegang teguh dengan kebenaran itu atau terkecoh, terpedaya, serta tertipu dengan ajaran-ajaran lain yang mungkin saja secara lahiriah lebih menarik, memiliki nilai jual, dan tipuan-tipuan lainnya.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Diadaptasi dari kitab Tafsir al-Qur’aan al-‘Azhiem (Tafsir Ibnu Katsir), Juz 6, hlm. 217-223

 

1 thought on “ISTIQOMAH DI JALUR LURUS (Tafsir Al-An’am: 153)

  1. Tulisannya bagus. Alhamdulilah. Syukron. Usul.. Akan lebih baik kalau template website diubah shg tulisan tdk terlalu kecil kalau dibaca di smartphone. Tks. Wassalamualaikum wr wb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *