Inflasi Maret-April tersundul pertalite

(sigabah.com) – JAKARTA. PT Pertamina kembali mengerek harga bahan bakar minyak (BBM) khusus. Mulai Sabtu (24/3), harga Pertalite naik menjadi Rp 8.900 per liter dari sebelumnya Rp 8.600 untuk wilayah distribusi Jawa dan Bali. Kenaikan harga yang sama juga terjadi di daerah lain. Alhasil, kenaikan harga tersebut berpotensi mendorong laju inflasi Maret dan April 2018.

Soalnya, ketergantungan masyarakat terhadap Pertalite semakin besar. Penggunaan Pertalite termasuk Pertamax sudah lebih dari 60% dari total konsumsi BBM. Apalagi, distribusi Premium terus ditekan seiring harga minyak mentah yang mahal. “Penggunaan Pertalite sudah banyak, pengaruh ke inflasi juga besar,” kata Mohammad Faisal, Direktur Penelitian Center of Reform on Economic (CORE) Indonesia, Minggu (25/3).

Dampak kenaikan harga Pertalite, Faisal memperkirakan, akan terasa pada Maret dan April. Sebab, kenaikan BBM oktan 90 itu berlangsung di akhir bulan ini. “Transportasi akan mengalami inflasi sekitar 1,5%. Sedangkan dampak ke inflasi secara keseluruhan bertambah 0,2%, tapi itu akan terbagi sebagian kecil pada Maret dan lebih banyak pada April,” terangnya.

Selain itu, efek tidak langsung juga akan terjadi pada harga bahan pangan termasuk makanan jadi. “Inflasi bahan makanan juga ikut naik. Inflasi bahan makanan tanpa kenaikan harga BBM sebesar 100%, saat harga BBM naik jadi 120%,” imbuh Faisal.

Walhasil, Faisal memastikan, pada Maret dan April akan terjadi inflasi. Tahun-tahun sebelumnya, bulan ketiga dan keempat lebih sering mengalami deflasi karena penurunan harga pangan akibat panen raya padi. Ini akan berdampak pada inflasi sepanjang tahun ini, bisa di atas 4%. Tahun lalu hanya 3,5%.

Ekonom BCA David Sumual sependapat, kenaikan harga Pertalite akan memicu inflasi Maret dan April. Biasanya, kenaikan harga BBM sebesar 10% memacu inflasi 0,3%. Itu kajian kenaikan harga Premium. Sekarang dengan Pertalite, mungkin lebih kecil, karena saat harga Premium naik, harga-harga ikut naik. “Itu adalah faktor ekspektasi sehingga memicu inflasi lebih besar. Sedang untuk Pertalite, tampaknya belum ada faktor ekspektasi,” sebut dia.

Menurut David, inflasi akibat kenaikan harga BBM tahun ini hanyalah salah satu dari tiga faktor yang perlu pemerintah waspadai. Faktor lainnya adalah inflasi di sektor pangan dan bahan makanan. Menjelang Lebaran, biasanya inflasi pangan melonjak karena permintaan naik dan distribusi yang tersendat.

Lalu, inflasi akibat kurs rupiah yang melemah terhadap dollar Amerika Serikat (AS). Setiap 10% pelemahan rupiah berkontribusi 0,2%–0,3% ke inflasi. “Tapi jika rupiah melemah pada level tertentu, inflasi bisa liar,” ujar David.

sigabah.com | kontan.co.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *