IBNU HAJAR “JARING” SANTRI DALAM 2 LEVEL

Sigabah.com – (Bandung). Sebagaimana telah diberitakan sebelumnya, bahwa Pesantren Ibnu Hajar berhasil menyeleksi 57 calon santri yang akan mengikuti program kaderisasi ulama.

Tahapan seleksi akademik ini merupakan tahapan akhir dari serangkaian proses seleksi yang ditetapkan pihak Pesantren Ibnu Hajar. Sebelumnya, calon santri diwajibkan mengikuti wawancara untuk menggali motivasi dan komitmen mereka dalam mengikuti seluruh program pendidikan dan menaati setiap peraturan yang ditetapkan lembaga.

Hari ini, Senin (31/8/2015), mereka yang lolos seleksi tengah berdebar menunggu pengumuman, pada level/tingkat mana nama-nama mereka akan terjaring. Informasi dari Dewan asatidz pesantren Ibnu Hajar diketahui bahwa ke-57 santri itu terjaring dalam 2 level: Level dasar atau tingkat 1 (al-mustawa al-awwal) sebanyak 47 orang: ikhwan (laki-laki) 30 orang dan akhwat (perempuan) 17 orang. Sementara untuk level menengah atau tingkat 2 (al-mustawa al-tsani) terjaring 10 orang, semuanya ikhwan (laki-laki).

76

Perlu diinformasikan di sini, bahwa level al-mustawa al-awwal (Dasar/Tingkat I),  diselenggarakan pada pagi hingga siang hari selama 2 tahun. Tahun pertama mengutamakan mata pelajaran bahasa Arab tingkat dasar agar setiap santri dapat mengenal kosa kata dan grammar bahasa Arab dengan benar dan menjadi terbiasa membaca al-kutub al-arabiyyah sesuai kaidah. Tahun kedua santri diwajibkan mengambil bidang studi pilihan.

Sedangkan level al-mustawa al-tsani (Menengah/Tingkat II) juga selama 2 tahun, hanya saja di tahun pertama mengutamakan mata pelajaran bahasa Arab tingkat menengah agar santri dapat membaca al-kutub al-arabiyyah dengan benar dan menjadi terbiasa membaca al-kutub al-arabiyyah sesuai kaidah. Tahun kedua santri diwajibkan mengambil bidang studi pilihan.

Bidang studi pilihan meliputi Tafsir-ilmu tafsir, Hadis-Ilmu Hadis, Fiqih-Ushul Fiqih,  Ilmu Hisab-Rukyat, dan Wordview (pandangan hidup).

Adapun sistem pengajaran, Pesantren Ibnu Hajar menggunakan dua sistem, yaitu sistem sorogan dan sistem bandongan atau wetonan yang sering disebut kolektif. Metode utama sistem pengajaran di lingkungan pesantren Ibnu Hajar ialah sistem bandongan atau wetonan. Dalam sistem ini, sekelompok murid mendengarkan seorang guru yang membaca, menerjemahkan, dan menerangkan kitab-kitab tertentu. Kelompok kelas dari sistem bandongan ini disebut halaqah yang artinya sekelompok santri yang belajar dibawah bimbingan seorang guru. Meski demikian, untuk mempertajam dan mengasah kemampuan santri, Pesantren Ibnu Hajar juga menggunakan sistem sorogan, yaitu setiap murid mendapat kesempatan untuk belajar secara langsung dari asatidzah atau musa’id (asisten). Sistem ini diberikan dalam kegiatan ko-ekstra kurikuler dan sistem ini menuntut kesabaran, kerajinan, ketaatan dan disiplin pribadi dari murid.

Kegiatan belajar mengajar (KBM), program kaderisasi di Pesantren Ibnu Hajar itu akan dilaksanakan mulai hari Selasa (1/9/2015), besok, pukul 09.00-zuhur.

Semoga saja, mereka dapat menjadi generasi pelanjut dan penyambung estafeta perjuangan para ulama dalam seruan untuk berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunah, memelihara akidah dari berbagai virus menyesatkan, memurnikan pemahaman tentang Islam serta penerapannya dalam segala aspek kehidupan.

Reporter Tim Sigabah Publika

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

 

Pada level mana Anda berada? Cek di sini

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *