HARTA KITA BUKAN MILIK KITA (Bagian Ke-13)

 

Jenis-jenis Akad (Tamat)

Pada pembahasan sebelumnya telah disampaikan dua jenis akad: (1) dilihat dari aspek sah dan tidaknya menurut syariat, (2) dilihat dari aspek penamaan dan tidaknya. Pada edisi ini akan dibahas jenis akad ketiga, dilihat dari aspek tujuan dan objek akad.

Ketiga, ‘Aqad ‘Ayn dan Ghair ‘Ayn

Tujuan akad (Maudhu’ ‘Aqd) dibedakan dengan objek akad (Mahall ‘Aqd). Objek akad merupakan sasaran terjadinya akibat hukum, sedangkan tujuan akad adalah maksud para pihak yang bila terealisasi timbul akibat hukum pada objek itu.

Adapun syarat-syarat yang harus dipenuhi dalam objek akad meliputi: (1) Objek akad harus ada ketika akad diselenggarakan, (2) Objek akad dibenarkan oleh syari’ah, (3) Objek akad harus jelas dan dikenali, (3) Objek akad dapat diserahterimakan.

Namun, apabila para pihak bermaksud melakukan akad terhadap objek yang tidak harus ada pada waktu dibuatnya akad, melainkan dapat diserahkan kemudian, maka objek itu tidak mesti ada pada waktu terselenggaranya akad, hanya saja disyaratkan mesti dapat dipastikan bahwa objek itu benar-benar bisa diserahkan pada tanggal yang ditentukan.

Sementara tentang tujuan akad, Islam telah menetapkan bahwa tujuan akad harus benar dan sesuai dengan ketentuan syara’. Pada akad jual-beli misalnya, tujuan akad adalah pemindahan hak milik atas barang dari penjual kepada pembeli, sedangkan dalam sewa menyewa adalah pemindahan dan mengambil manfaat, keduanya disertai kompensasi (imbalan). Ini merupakan manifestasi syar’i (yuridis) dari tujuan akad itu, kemudian di dalamnya terdapat lagi manifestasi rill, yaitu pertukaran yang timbal-balik. Manifestasi pertama merupakan dasar keterikatan pembeli untuk membayar sejumlah uang sebagai harga dan manifestasi kedua merupakan dasar penolakan (ketidakterikatan) pembeli untuk membayar harga dalam hal barang objek akad mengalami kerusakan atau hancur sebelum diserahkan, karena dasar keterikatannya untuk membayar adalah pertukaran timbal balik ini tidak terjadi, keterikatan para pihak menjadi gugur. Lebih lanjut, tujuan akad merupakan sumber kekuatan mengikat bagi tindakan hukum bersangkutan, yaitu dasar pemberian perlindungan hukum terhadapnya oleh pembeli atau tuntutan pembeli terhadap penyerahan barang oleh penjual.

Dilihat dari aspek tujuan dan objek perikatan ini, akad dapat dikategorikan menjadi dua macam: (1) ‘Ainiy dan (2) Ghair ‘Ainiy.

 

Pertama, Akad ‘Ainiy (Akad Tunai)

Akad ‘Ainiy adalah akad yang mengharuskan adanya penyerahan tunai objek akad pada waktu dilaksanakannya pernyataan ijab-qabul oleh para pihak. Apabila objek akad belum ditunaikan atau diserahterimakan, maka dianggap tidak terjadi perikatan apapun antar para pihak dan tidak menimbulkan akibat hukum, seperti pemindahan hak milik atas barang. Dalam konteks akad ini, semata-mata niat atau baru sebatas pernyataan ijab-qabul tidak menyebabkan terjadinya akad itu dan tidak pula menimbulkan akibat hukum apapun. Akad dalam kategori ini meliputi hibah, pinjam pakai (ijaarah), penitipan (wadi’ah), kredit utang (qardh), dan akad gadai (rahn).

Pada akad hibah misalnya, seorang ayah bermaksud menghibahkan sebidang tanah kepada anaknya, lalu sang ayah wafat sebelum tanah itu diserahkan, maka hibah itu dianggap belum terjadi dan tanah itu tetap menjadi hak milik ayahnya. Hibah dikategorikan akad ‘Ainiy (akad riil) berdasarkan hadis-hadis berikut:

عَنْ أُمِّ كُلْثُومٍ بِنْتِ أَبِي سَلَمَةَ قَالَتْ: لَمَّا تَزَوَّجَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أُمَّ سَلَمَةَ قَالَ لَهَا: (إِنِّي قَدْ أَهْدَيْتُ إِلَى النَّجَاشِيِّ حُلَّةً وَأَوَاقِيَّ مِنْ مِسْكٍ، وَلَا أَرَى النَّجَاشِيَّ إِلَّا قَدْ مَاتَ، وَلَا أَرَى إِلَّا هَدِيَّتِي مَرْدُودَةً عَلَيَّ، فَإِنْ رُدَّتْ عَلَيَّ فَهِيَ لَكِ

Dari Ummu Kultsum putri Abu Salamah, ia berkata, “ketika Rasulullah baru menikah dengan Ummu Salamah, beliau berkata kepadanya, ‘Sesungguhnya aku telah mengantar hadiah kepada An-Najasyi berupa pakaian berharga dan beberapa botol minyak wangi. Aku tidak tahu ternyata An-Najasyi sudah meninggal dunia, dan aku tidak tahu ternyata hadiah itu dikembalikan kepadaku. Sekiranya hadiah itu dikembalikan kepadaku, maka hadiah itu adalah milik kamu’.” HR. Ahmad, Musnad Ahmad, Jilid 45, hlm. 246

وعن عَائِشَةَ زَوْجِ النَّبِيِّ صلى الله عليه وسلم أَنَّهَا قَالَتْ: (إِنَّ أَبَا بَكْرٍ الصِّدِّيقَ كَانَ نَحَلَهَا جَادَّ عِشْرِينَ وَسْقاً مِنْ مَالِهِ بِالْغَابَةِ. فَلَمَّا حَضَرَتْهُ الْوَفَاةُ، قَالَ: وَاللهِ يَا بُنَيَّةُ مَا مِنَ النَّاسِ أَحَدٌ أَحَبُّ إِلَيَّ غِنًى بَعْدِي مِنْكِ. وَلاَ أَعَزُّ عَلَيَّ فَقْراً بَعْدِي مِنْكِ. وَإِنِّي كُنْتُ نَحَلْتُكِ جَادَّ عِشْرِينَ وَسْقاً. فَلَوْ كُنْتِ جَدَدْتِيهِ وَاحْتَزْتِيهِ كَانَ لَكِ. وَإِنَّمَا هُوَ الْيَوْمَ مَالُ وَارِثٍ. وَإِنَّمَا هُمَا أَخَوَاكِ وَأُخْتَاكِ، فَاقْتَسِمُوهُ عَلَى كِتَابِ اللهِ)

Dari ‘Aisyah, istri Nabi saw., ia berkata, “Sesungguhnya Abu Bakar Ash-Shiddiq pernah memiliki dua puluh gantang buah kurma yang diberikan kepadanya (Aisyah). Ketika kematian beliau (hampir) tiba, maka berkata, ‘Wahai putriku, tidak seorang pun yang lebih kucintai dan lebih aku takuti kesusahannya darimu, dulu aku pernah berikan kepadamu dua puluh gantang buah kurma, jikalau dahulu telah engkau pergunakan, tentunya aku tak akan mempersoalkannya, tetapi pada hari ini harta itu akan jadi harta waris setelah aku tiada. Harta itu boleh engkau bagi dengan kedua saudara lelakimu dan kedua saudara perempuanmu, bagilah (harta waris itu) menurut hukum Kitabullaah’.” HR. Malik, Bustan al-Ahbar Mukhtashar Nail al-Authar, IV:214

Pada kedua hadis di atas terdapat petunjuk bahwa tidak terjadi perpindahan hak milik dengan akad hibah, meski telah dilaksanakan ijab-qabul, selama objek hibah belum dikuasai sepenuhnya oleh si penerima (Mauhub).

Dalam kaitan dengan hibah terdapat kaidah hukum yang menyatakan:

الْهِبَةُ لاَ تُلْزَمُ إِلاَّ بِالْقَبْضِ

“Hibah tidak terjadi kecuali dengan penguasaan objeknya.” (Lihat, Asnaa al-Mathalib, IV:391) atau dalam bahasa lain:

الْهِبَةُ لَا تَصِحُّ إِلَّا بِالْقَبْضِ

“Hibah tidak saha kecuali dengan penguasaan objeknya.” (Lihat, Fath al-Bari, VIII:85)

Sementara dalam kaitan dengan akad tunai (‘aqd ‘ainiy) secara umum terdapat kaidah hukum Islam yang menyatakan:

لاَ يَتِمُّ التَّبَرُّعُ إِلَّا بِالْقَبْضِ

Tabarru’ (donasi) tidak akan terjadi kecuali dengan penguasaan objeknya.” (Lihat, Qawa’id al-Fiqh, hlm. 108; Syarh al-qawa’id al-Fiqhiyyah, hlm. 299)

 

Kedua, Akad Ghair ‘Ainiy (Akad Tertunda)

Akad Ghair ‘Ainiy adalah akad yang tidak mengharuskan adanya penyerahan tunai objek akad pada waktu dilaksanakannya pernyataan ijab-qabul oleh para pihak. Dalam akad ini, perikatan antar para pihak dipandang telah terjadi dan menimbulkan akibat hukum meskipun barangnya belum diserahterimakan. Akad dalam kategori ini meliputi seluruh jenis akad selain lima akad yang telah disebutkan di atas.

Sebagai penutup pembahasan berbagai jenis akad perlu disampaikan bahwa pada dasarnya Islam memberikan kebebasan penuh kepada kaum muslimin untuk melakukan perikatan dengan jenis skim transaksi (akad) apapun, meski jenis akad itu mungkin tidak disebutkan oleh ulama fiqh. Akad boleh digunakan sepanjang dibutuhkan dan dapat menimbulkan kemaslahatan bagi para pihak yang bertransaksi, namun dengan catatan, akad tersebut tidak bertentangan dengan dasar-dasar syariat dan kaidah-kaidah umum serta dapat mencegah terjadinya perselisihan. Sehubungan dengan itu, Nabi saw. bersabda:

الْمُسْلِمُونَ عَلَى شُرُوطِهِمْ إِلاَّ شَرْطًا حَرَّمَ حَلالًا أَوْ أَحَلَّ حَرَامًا

“Kaum muslim wajib menunaikan persyaratan yang telah disepakati kecuali persyaratan yang mengharamkan perkara halal atau menghalalkan perkara haram.” HR. At-Tirmidzi, Bustan al-Ahbar Mukhtashar Nail al-Authar, IV:118

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *