HAKIKAT PENURUNAN AL-QURAN (Bagian Ke-5-Tamat)

Sikap Nabi saw. Terhadap Nuzulul Quran: Periode Madinah

Periode kedua, ketika hidup di Madinah setelah hijrah selama 9 tahun 9 bulan 9 hari, terhitung semenjak hijrah ke Madinah sampai tanggal 9 Dzulhijjah tahun ke-63 dari tahun kelahirannya. Dalam hal ini, Ibnu Abbas menjelaskan:

بُعِثَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ لِأَرْبَعِينَ سَنَةً فَمَكُثَ بِمَكَّةَ ثَلَاثَ عَشْرَةَ سَنَةً يُوحَى إِلَيْهِ ثُمَّ أُمِرَ بِالْهِجْرَةِ فَهَاجَرَ عَشْرَ سِنِينَ وَمَاتَ وَهُوَ ابْنُ ثَلَاثٍ وَسِتِّينَ

“Rasulullah saw. diutus sebagai Rasul saat beliau berusia empat puluh tahun, beliau tinggal di Makkah selama tiga belas tahun menerima wahyu, kemudian beliau diperintahkan untuk berhijrah, Maka beliau berhijrah dan (menetap di Madinah) selama sepuluh tahun hingga beliau wafat ketika berusia enam puluh tiga tahun.” HR. Al-Bukhari. [1]

Pada periode ini turun 28 surat atau sekitar 1.456 ayat, dan turunnya bukan hanya dibulan Ramadhan. Ibnu Abas berkata:

ثُمَّ أُنْزِلَ بِالْمَدِيْنَةِ سُوْرَةُ الْبَقَرَةِ ، ثُمَّ الأَنْفَالِ ، ثُمَّ آلِ عِمْرَانَ… ثُمَّ التَّوْبَةِ،

“Kemudian di turunkan di Madinah (No. 1) surat al-Baqarah, kemudian (No.2) surat al-Anfal, lalu (No.3) surat Ali Imran… (Ibnu Abas menyebutkan satu persatu sebanyak 24 surat lain). Kemudian terakhir (No. 28) surat at-Tawbah.” Setelah itu Ibnu Abas berkata:

فَذلِكَ ثَمَانٌ وَعِشْرُوْنَ سُوْرَةً

“Itulah dua puluh delapan surat.” [2]

 

Al-Baqarah Surat Pertama Periode Madinah

Surat Al-Baqarah merupakan surat terpanjang di antara surat-surat Al-Quran. Di dalamnya terdapat ayat terpanjang (ayat 282). Mengandung 15 perumpamaan (matsaal), 500 hikmah, dan 360 rahmat. Surat ini terdiri atas 286 ayat menurut ulama Kufah, 287 ayat menurut ulama Bashrah. Memuat 6.121 kata dan 25.500 huruf. [3]

Dilihat dari tartiib an-Nuzuul (urutan turun), surat ini berada diurutan ke-87 dari total surat yang diturunkan atau urutan ke-1 yang diturunkan pada periode Madinah (setelah hijrah). Namun secara tartiib as-Suwar (urutan surat dalam mushaf), surat ini berada pada urutan ke-2 dari 114 surat dalam Al-Qur’an.

Dilihat dari aspek kronologis penurunannya surat ini memiliki “nilai keagungan tersendiri”, karena jumlah ayat sebanyak itu (286 ayat) diturunkan pada waktu yang berbeda-beda, sebagai berikut:

 

Tahap Pertama: 2 ayat terakhir (285-286)

Surat al-Baqarah meski secara umum diturunkan pada periode Madinah (setelah hijrah), namun yang pertama diterima oleh Nabi saw. justru 2 ayat terakhir (285-286). Kedua ayat ini diterima oleh Nabi saw. pada periode Mekah atau 3 tahun sebelum hijrah, yaitu saat Nabi melakukan Isra-Mikraj sebagaimana diterangkan dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ قَالَ لَمَّا أُسْرِىَ بِرَسُولِ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- انْتُهِىَ بِهِ إِلَى سِدْرَةِ الْمُنْتَهَى وَهِىَ فِى السَّمَاءِ السَّادِسَةِ إِلَيْهَا يَنْتَهِى مَا يُعْرَجُ بِهِ مِنَ الأَرْضِ فَيُقْبَضُ مِنْهَا وَإِلَيْهَا يَنْتَهِى مَا يُهْبَطُ بِهِ مِنْ فَوْقِهَا فَيُقْبَضُ مِنْهَا قَالَ (إِذْ يَغْشَى السِّدْرَةَ مَا يَغْشَى) قَالَ فَرَاشٌ مِنْ ذَهَبٍ. قَالَ فَأُعْطِىَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- ثَلاَثًا أُعْطِىَ الصَّلَوَاتِ الْخَمْسَ وَأُعْطِىَ خَوَاتِيمَ سُورَةِ الْبَقَرَةِ وَغُفِرَ لِمَنْ لَمْ يُشْرِكْ بِاللَّهِ مِنْ أُمَّتِهِ شَيْئًا الْمُقْحِمَاتُ.

Dari Abdullah bin Ma’ud, dia berkata, “Ketika Rasulullah saw. diisrakan, beliau dihentikan di Sidrah al-Muntaha, yaitu (tempat) yang berada di langit keenam. Sesuatu yang naik dari bumi akan bermuara di sana dan ditahan padanya. Dan sesuatu dari atasnya berhenti padanya, lalu ditahan padanya.” Allah berfirman: (artinya) ‘Muhammad melihat Jibril ketika Sidratil Muntaha diliputi oleh sesuatu yang meliputinya’ (Qs. An Najm: 16). Ibnu Mas’ud berkata lagi, “Yaitu hamparan dari emas.” Dia berkata lagi, “Lalu Rasulullah saw. diberi tiga hal: shalat lima waktu, ayat-ayat penutup surat al-Baqarah, dan diampuni dosa-dosa besar bagi orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun dari kalangan umat beliau.” HR. Muslim. [4]

Menurut Imam al-Mubarakafuri, “Ayat-ayat penutup surat al-Baqarah (khawaatiim suurah al-Baqarah) maksudnya ayat Aamanarrasuulu…(al-Baqarah: 285) hingga akhir surat (al-Baqarah: 286).”[5]

Penurunan dua ayat terakhir (285 & 286) surat al-Baqarah ini merupakan peristiwa paling unik karena diterima langsung oleh Nabi saw. tanpa perantaraan malaikat Jibril. Sementara seluruh wahyu Qurani (semua surat dan ayat-ayatnya) diterima oleh Nabi saw. melalui perantaraan malaikat Jibril, sebagaimana firman Allah Swt.:

وَإِنَّهُ لَتَنْزِيلُ رَبِّ الْعَالَمِينَ . نَزَلَ بِهِ الرُّوحُ الأَمِينُ . عَلَى قَلْبِكَ لِتَكُونَ مِنَ الْمُنذِرِينَ

“Dan sesungguhnya Al Quran ini benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, dia dibawa turun oleh Ar-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar kamu menjadi salah seorang di antara orang-orang yang memberi peringatan.” (lihat, QS. Asy-Syu’ara: 192-194)

Karena itu, menurut sebagian ulama, penerimaan kedua ayat ini pada peristiwa Isra-Mikraj tidak termasuk ke dalam peristiwa nuzul Quran. [6] Namun dimungkinkan pula bahwa kedua ayat ini turun kedua kalinya melalui perantaraan malaikat Jibril untuk menguatkan dan mengukuhkan peristiwa pertama. [7]

Tahap kedua, sebagian besar ayat-ayat permulaan dan pertengahan surat Al-Baqarah (ayat 1 hingga 182) yang diturunkan pada tahun ke-1 Hijrah. Hal itu diketahui dengan merujuk kepada keterangan Aisyah sebagai berikut:

مَا نَزَلَتْ سُورَة الْبَقَرَة وَالنِّسَاء إِلَّا وَأَنَا عِنْده صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

“Tidaklah turun surat Al-Baqarah dan an-Nisa kecuali saya berada di dekat Nabi saw.” HR. Al-Bukhari.

Kata Ibnu Hajar, “Tidaklah Nabi saw. menggauli Aisyah kecuali di Madinah.”[8] Sebagaimana dimaklumi bahwa Aisyah memulai hidup bersama Nabi saw. pada bulan Syawwal tahun ke-1 hijrah.

Tahap ketiga, ayat-ayat shaum (183-187) yang diturunkan pada tahun ke-2 hijrah. Ayat 183-184 turun pada hari Kamis tanggal 28 Sya’ban tahun ke-2 H yang bertepatan dengan tanggal 23 Pebruari 624 M”[9] Bila kita hitung sejak saat itu hingga akhir hayat Nabi tinggal di Madinah, berarti beliau sempat melaksanakan ibadah shaum Ramadhan sebanyak sembilan kali, sebelum beliau wafat pada Senin/Sabtu 12 Rabi’ al-Awwal 11 H/6 Juni 632 M. Menurut keterangan Ibnu Mas’ud dan Aisyah, bahwa Rasulullah saw. semasa hidupnya lebih banyak shaum Ramadhan 29 hari daripada 30 hari.

Shaum Ramadhan perdana Nabi jatuh pada hari Ahad, 26 Februari 624, dan Idul Fithri perdana jatuh pada hari Senin, 26 Maret 624. Hal ini menunjukkan bahwa Nabi saw. melaksanakan shaum Ramadhan perdana sebanyak 29 hari.

Tahap keempat, ayat-ayat haji dan umrah serta perang (189-197) turun pada tahun ke-5 hingga ke-8.

Tahap kelima:

  • Turun ayat-ayat tentang Riba (275-280). Maksudnya sebagai penutup hukum Riba, karena hukum riba telah ditetapkan sebelumnya melalui 3 tahapan dengan turunnya ayat-ayat lain sebelum surat al-Baqarah, yaitu tahap I: turun ayat 39 surat ar-Rum. Tahap II: turun ayat 160-161, surat an-Nisa. Tahap III: turun ayat 130 surat Ali ‘Imran. Selanjutnya pada tahap IV (Akhir) turun ayat 278-279 surat al-Baqarah.
  • Tak jauh dari ayat-ayat tentang Riba, turun ayat tentang hutang-piutang (282-283).

Setelah turun ayat tentang Riba dan hutang-piutang, diturunkan ayat 281. Bahkan dimungkinkan pula bahwa ayat 281 ini turun hampir bersamaan dengan atau tak lama setelah ayat tentang Riba.

Pertimbangan ayat 281 turun setelah ayat-ayat tentang Riba dan hutang-piutang merujuk kepada riwayat sebagai berikut:

عَنِ ابْنِ عَبَّاسٍ قَالَ : آخِرُ شَيْءٍ نَزَلَ مِنَ الْقُرْآنِ : {وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللهِ}

Dari Ibnu Abbas, ia berkata, “Akhir ayat Al-Quran yang turun wattaquu yawman turja’uuna fiihi ilallaah (QS.Al-Baqarah: 281).” HR. An-Nasai. [10]

Imam al-Baghawi meriwayatkan dari Ibnu Abbas:

هذه آخر آية نزلت على رسول الله – صلى الله عليه وسلم – فقال جبريل ضعها على رأس مائتين وثمانين آية من سورة البقرة، وعاش بعدها رسول الله – صلى الله عليه وسلم – أحداً وعشرين يوما

“Ini ayat terakhir yang turun kepada Rasulullah saw. Maka Jibril berkata, ‘Tempatkanlah ayat itu di penghujung ayat 280 surah al-Baqarah, dan Rasulullah saw. hidup 21 hari setelah turun ayat itu.”[11]

Dalam riwayat lain dengan redaksi:

جاءني جبريل فقال اجعلوها على رأس مائتين وثمانين آية من سورة البقرة.

“Jibril telah datang kepadaku, lalu ia berkata, ‘Tempatkanlah ayat itu di penghujung ayat 280 surah al-Baqarah.”

Sementara al-Alusi menyebutkan sebuah riwayat dari Nabi saw.

اجعلوها بين آية الربا وآية الدين.

“Tempatkanlah ayat itu di antara ayat riba dan ayat hutang.”[12]

Sementara pertimbangan ayat 281 turun hampir bersamaan dengan ayat tentang Riba merujuk kepada riwayat sebagai berikut:

Imam al-Bukhari membuat bab dengan judul:

باب {وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ}

Bab Firman Allah: “(artinya) Dan peliharalah dirimu dari (azab yang terjadi pada) hari yang pada waktu itu kamu semua dikembalikan kepada Allah.” (QS. Al-Baqarah: 281)

Pada bab ini, Imam al-Bukhari mencantumkan perkataan Ibnu Abbas sebagai berikut:

آخِرُ آيَةٍ نَزَلَتْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ آيَةُ الرِّبَا

“Akhir ayat Al-Quran yang turun kepada Nabi saw. adalah ayat riba.” HR. Al-Bukhari. [13]

Sepintas terlihat tidak nyambung antara judul bab dengan kandungan hadis. Padahal sebenarnya Imam al-Bukhari bermaksud menggabungkan dua pendapat Ibnu Abas tentang turunnya ayat Riba (278) dan ayat 281, karena pada riwayat lain Ibnu Abbas menyatakan:

آخِرُ آيَةٍ نَزَلَتْ عَلَى النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ {وَاتَّقُوا يَوْمًا تُرْجَعُونَ فِيهِ إِلَى اللَّهِ}

“Ayat terakhir yang turun kepada Nabi saw. wattaquu yawman turja’uuna fiihi ilallaah (QS.Al-Baqarah: 281).” Hadis ini diriwayatkan oleh ath-Thabari melalui beberapa jalan dari Ibnu Abbas. [14]

Dengan demikian, Imam al-Bukhari bermaksud menerangkan bahwa ayat 278 dan ayat 281 turun pada waktu yang hampir bersamaan.

Dalam hal ini Imam as-Suyuthi berpendapat bahwa tidak ada pertentangan riwayat tentang ayat terakhir yang turun kepada Nabi saw. antara ayat 278 (riba), ayat 281, dan ayat 282 (hutang-piutang), karena secara lahiriah berbagai riwayat itu menunjukkan bahwa ketiga ayat itu diturunkan sekaligus seperti terurut dalam mushaf. [15]

Merujuk kepada pendapat bahwa ayat 281 sebagai ayat terakhir yang turun kepada Nabi saw. maka kita dapatkan tarikh ayat itu diturunkan di Mina pada Haji wada’ tanggal 10 Dzulhijjah (Yawm Nahar) tahun 10 H. [16] 81 hari setelah ayat 281 ini turun, Nabi saw. meninggal dunia. Sehubungan dengan itu Ibnu Abbas menjelaskan:

واتقوا يوما ترجعون فيه إلى الله نزلت وبينها وبين موت رسول الله واحد وثمانون يوما

“Ayat wattaquu yawman turja’uuna fiihi ilallaah (QS.Al-Baqarah: 281) telah turun, interval waktu antara turunnya ayat itu dan wafat Rasulullah 81 hari.” HR. Al-Baihaqi. [17]

Sebagai penutup kajian topik ini, kami ketengahkan “nilai agung” dibalik penurunan dua ayat terakhir surat al-Baqarah (285-286) pada peristiwa Isra-Mikraj saat Nabi saw. berada di Sidratul Muntaha.

 

Nilai Agung Dua Ayat Terakhir

Pengkhususkan dua ayat terakhir ini mengandung beberapa faidah:

Pertama, sebagai pujian terhadap Nabi saw. dan orang-orang beriman (ayat 285):

آمَنَ الرَّسُولُ بِمَا أُنْزِلَ إِلَيْهِ مِنْ رَبِّهِ وَالْمُؤْمِنُونَ كُلٌّ آمَنَ بِاللَّهِ وَمَلَائِكَتِهِ وَكُتُبِهِ وَرُسُلِهِ لَا نُفَرِّقُ بَيْنَ أَحَدٍ مِنْ رُسُلِهِ وَقَالُوا سَمِعْنَا وَأَطَعْنَا غُفْرَانَكَ رَبَّنَا وَإِلَيْكَ الْمَصِيرُ

“Rasul telah beriman kepada Al Quran yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semuanya beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya dan rasul-rasul-Nya. (Mereka mengatakan): “Kami tidak membeda-bedakan antara seseorangpun (dengan yang lain) dari rasul-rasul-Nya”, dan mereka mengatakan: “Kami dengar dan kami taat.” (Mereka berdoa): “Ampunilah kami ya Tuhan kami dan kepada Engkaulah tempat kembali.”

Kedua, sebagai takhfiif (keringanan) bagi orang-orang beriman (ayat 286):

لَا يُكَلِّفُ اللَّهُ نَفْسًا إِلَّا وُسْعَهَا لَهَا مَا كَسَبَتْ وَعَلَيْهَا مَا اكْتَسَبَتْ

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebajikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya.”

Ketiga, ijabah doa mereka dan datangnya pertolongan terhadap mereka (ayat 286):

رَبَّنَا لَا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلَا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْرًا كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلَا تُحَمِّلْنَا مَا لَا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلَانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ

(Mereka berdoa): “Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami tersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tak sanggup kami memikulnya. Beri ma’aflah kami; ampunilah kami; dan rahmatilah kami. Engkaulah Penolong kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.”

Merujuk kepada sejarah penurunan Al-Quran (Nuzul al-Quran), baik periode Mekah maupun Madinah (setelah hijrah), sebagaimana telah disajikan sejak edisi pertama hingga akhir, kita dapati beragam skenario Ilahi di balik penurunannya serta beragam peristiwa yang menyertai turunnya ayat-ayat kitab suci tersebut, sehingga dapat dikatakan bahwa kemukjizatan Al-Qur’an tidak terletak pada ayat dan kandungannya semata, namun terdapat pula pada proses penurunannya. Proses demikian itu telah membuktikan bahwa Al-Quran merupakan induk semua mukjizat (ummul mu’jizat) bila dibandingkan dengan mukjizat para nabi sebelumnya

Karena itu memperingati peristiwa turunnya Al-Quran tidaklah menempatkan Al-Quran pada kedudukan yang tinggi serta derajat yang mulia, sebab selain hal itu tidak dicontohkan oleh Rasulullah, tidak pula para sahabat dan para tabi’in, Al-Quran diturunkan bukanlah untuk diperingati tetapi untuk memperingatkan kita.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1]Lihat, Shahih Al-Bukhari, III:1416, No. hadis 3689.

[2]Lihat, Fadha’il al-Qur’an, II:200, No. 813; Al-Itqan fii Ulum al-Qur’an, I:26; Al-Mausu’ah al-Qur’aniyyah, II:8.

[3]Lihat, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, XVIII: 82.

[4] Lihat, Shahih Muslim, I: 157, No. Hadis 173, dalam kitaab al-Iimaan, bab fii Dzikri Sidratil Muntahaa.

[5] Lihat, Tuhfah al-Ahwadzi Syarh Sunan at-Tirmidzi, 17: 164.

[6] Lihat, Bayaan al-Ma’ani, karya Ali Ghazi Abdul Qadir, II: 295.

[7] Lihat, Al-Kasyf wa al-Bayan ‘An Tafsir al-Qur’an, karya ats-Tsa’labi, II:304. Imam ath-Thabari menyebutkan sebagian pendapat bahwa ayat 286 turun setelah ayat 285 (Lihat, Tafsir ath-Thabari, V: 148)

[8]Lihat, Fath al-Bari, XII: 288

[9] Lihat, Fiqh as-Sunah, I : 366

[10]Lihat, As-Sunan al-Kubra, X: 39

[11]Lihat, Tafsir al-Baghawi, I: 347

[12]Lihat, Tafsir al-Alusi, II: 55

[13]Lihat, Shahih al-Bukhari, IV: 1652, No. Hadis 4270

[14]Lihat, Fath al-Bari, VIII: 259

[15]Lihat, Al-Itqan fii ‘Ulum al-Qur’an, I: 78

[16]Lihat, Umdah al-Qari Syarh Shahih al-Bukhari, XVIII: 82; Al-Burhan fii ‘Ulum al-Qur’an, I: 187

[17]Lihat, Dalaa’il an-ubuwwah, VIII: 137

1 thought on “HAKIKAT PENURUNAN AL-QURAN (Bagian Ke-5-Tamat)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *