HAKIKAT PENURUNAN AL-QURAN (Bagian Ke-3)

Nuzulul Quran Tanggal 21 Ramadhan

Ada yang berpendapat bahwa Nuzulul Quran itu terjadi pada tanggal 21 Ramadhan. Pendapat “21 Ramadhan” menurut sebagian kalangan dipilih oleh Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuriy. Beliau menjelaskan bahwa memang ada perbedaan pendapat di antara pakar sejarah tentang kapan awal mula turunnya wahyu, yaitu turunnya surat Al-Alaq: 1-5, dan beliau menguatkan pendapat yang menyatakan pada tanggal 21 Ramadhan. Beliau mengatakan:

وَإِنَّمَا رَجَّحْنَا أَنَّهُ الْيَوْمُ الْحَادِي وَالْعِشْرُوْنَ مَعَ أَنَّا لَمْ نَرَ مَنْ قَالَ بِهِ لأَنَّ أَهْلَ السِّيْرَةِ كُلَّهُمْ أَوْ أَكْثَرَهُمْ مُتَّفَقُوْنَ عَلَى أَنَّ مَبْعَثَهُ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَوْمَ الإِثْنَيْنِ وَيُؤَيِّدُهُمْ مَارَوَاهُ أَئِمَّةُ الْحَدِيْثِ عَنْ أَبِى قَتَادَةَ رضى الله عنه أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صلى الله عليه وسلم سُئِلَ عَنْ صَوْمِ يَوْمِ الاِثْنَيْنِ فَقَال فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنزِلَ عَلَيَّ وفي لفظ ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ (صحيح مسلم 1\368 , أحمد 5\297 , 299 , البيهقي 4\286 , 300 , الحاكم 2\602 وَيَوْمُ الاِثْنَيْنِ فِيْ رَمَضَانَ مِنْ تِلْكَ السَّنَةِ لاَ يُوَافِقُ إِلاَّ الْيَوْمَ السَّابِعَ وَالرَّابِعَ عَشَرَ وَالْحَادِي وَالْعِشْرِيْنَ وَالثَّامِنَ وَالْعِشْرِيْنَ وَقَدْ دَلَّتِ الرِّوَايَاتُ الصَّحِيْحَةُ أَنَّ لَيْلَةَ الْقَدْرِ لاَ تَقَعُ إِلاَّ فِي وِتْرٍ مِنْ لَيَالِي الْعَشْرِ الأَوَاخِرِ مِنْ رَمَضَانَ وَأَنَّهَا تَنْتَقِلُ فِيْمَا بَيْنَ هذِهِ اللَّيَالِي فَإِذَا قَارَنَّا بَيْنَ قَوْلِهِ تَعَالَى (إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ) وَ بَيْنَ رِوَايَةِ أَبِى قَتَادَةَ أَنَّ مَبْعَثَهُ صلى الله عليه وسلم كَانَ يَوْمَ الإِثْنَيْنِ وَبَيْنَ حِسَابِ التَّقْوِيْمِ الْعِلْمِيِّ فِي وُقُوْعِ يَوْمِ الإِثْنَيْنِ فِي رَمَضَانَ مِنْ تِلْكَ السَّنَةِ تَعَيَّنَ لَنَا أَنَّ مَبْعَثَهُ صلى الله عليه وسلم كَانَ فِيْ الْيَوْمِ الْحَادِي وَالْعِشْرِيْنَ مِنْ رَمَضَانَ لَيْلاً

Artinya: “Kami memilih pendapat yang menyatakan pada tanggal 21, sekalipun kami tidak melihat orang yang menguatkan pendapat ini. Sebab semua pakar tarikh atau setidak-tidaknya mayoritas di antara mereka sepakat bahwa beliau diangkat menjadi Rasul pada hari senin, dan pendapat mereka diperkuat oleh riwayat para imam hadis, dari Abu Qatadah Ra., bahwa Rasulullah Saw. pernah ditanya tentang shaum hari senin. Maka beliau menjawab,

فِيْهِ وُلِدْتُ وَفِيْهِ أُنزِلَ عَلَيَّ

“Pada hari inilah aku dilahirkan dan pada hari ini pula turun wahyu kepadaku.”

Dan dalam redaksi lain:

ذَاكَ يَوْمٌ وُلِدْتُ فِيهِ وَيَوْمٌ بُعِثْتُ أَوْ أُنْزِلَ عَلَىَّ فِيهِ

“Itu adalah hari dimana aku dilahirkan dan hari dimana aku diutus atau diturunkan (wahyu) atasku. (HR. Muslim, 1/368; Ahmad, 5/297; Al-Baihaqi, 4/286, 300; dan Al-Hakim 2/602).

Dan hari senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu adalah jatuh pada tanggal 7, 14, 21, dan 28. Beberapa riwayat yang shahih telah menunjukkan bahwa Lailatul Qadar tidak jatuh kecuali pada malam-malam ganjil di sepuluh hari terakhir di bulan Ramadhan, dan berpindah di antara malam-malam itu. Jadi jika kita membandingkan antara firman Allah, “Sesungguhnya Kami menurunkannya (Al-Quran) pada Lailatul Qadar (QS. Al-Qadar:1)” dengan riwayat Abu Qotadah, bahwa diutusnya beliau sebagai rasul jatuh pada hari senin, serta berdasarkan hisab almanac ilmiah tentang jatuhnya hari senin dari bulan Ramadhan pada tahun itu, maka jelaslah bagi kita bahwa diutusnya beliau sebagai rasul jatuh pada malam tanggal 21 dari bulan Ramadhan.” [1]

Hemat kami, bila penjelasan Syekh Shafiyyurrahman Al-Mubarakfuriy dianggap sebagai pendapat tentang Nuzulul Quran, maka yang dimaksud adalah turunnya ayat Al-Quran untuk pertama kali kepada Nabi saw. Ini berarti dapat dikategorikan Nuzulul Quran pada tahap ketiga, yaitu ketika Al-Quran turun kepada Nabi saw. secara berangsur-angsur.

Nuzulul Quran Tanggal 24 Ramadhan atau Malam ke- 25

Terdapat ulama lain yang berpendapat bahwa Nuzulul Quran itu terjadi pada tanggal 24 Ramadhan atau malam ke-25. Pendapat ini didasarkan kepada hadis-hadis yang dengan tegas menyatakan tanggal itu. Adapun hadis yang dimaksud adalah sebagai berikut:

Pertama, hadis dari Watsilah bin al-Asqa bahwa Rasulullah saw. bersabda:

أُنْزِلَتْ صُحُفُ إِبْرَاهِيمَ عَلَيْهِ السَّلَام فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَتْ التَّوْرَاةُ لِسِتٍّ مَضَيْنَ مِنْ رَمَضَانَ وَالْإِنْجِيلُ لِثَلَاثَ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ وَأُنْزِلَ الْفُرْقَانُ لِأَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

“Lembaran-lembaran Ibrahim diturunkan pada hari pertama bulan Ramadhan. Taurat diturunkan pada hari keenam bulan Ramadhan, Injil diturunkan pada hari ketiga belas bulan Ramadhan. Sedangkan Al-Quran diturunkan pada hari kedua puluh empat bulan Ramadhan.” HR. Ahmad. [2]

Hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam Al-Baihaqi, Ath-Thabrani, Ibnu Abu Hatim, Al-Mundziri, dan Al-Waahidiy, namun dengan penambahan redaksi:

وَأُنْزِلَ الزَّبُورُ لِثَمَانِ عَشْرَةَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

Zabur diturunkan pada hari delapan belas bulan Ramadhan. [3]

Kedua, penjelasan Jabir bin Abdullah yang diriwayatkan oleh Abu Ya’la, sebagai berikut:

أَنْزَلَ اللَّهُ صُحُفَ إِبْرَاهِيمَ فِي أَوَّلِ لَيْلَةٍ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَتِ التَّوْرَاةُ عَلَى مُوسَى لِسِتٍّ خَلَوْنَ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَ الزَّبُورُ عَلَى دَاوُدَ فِي إِحْدَى عَشْرَةَ لَيْلَةً خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ ، وَأُنْزِلَ الْقُرْآنُ عَلَى مُحَمَّدٍ صلى الله عليه وسلم فِي أَرْبَعٍ وَعِشْرِينَ خَلَتْ مِنْ رَمَضَانَ

Allah menurunkan lembaran-lembaran Ibrahim pada hari pertama bulan Ramadhan. Taurat diturunkan kepada Musa pada hari keenam bulan Ramadhan, Zabur diturunkan pada Dawud di hari ketiga belas bulan Ramadhan, dan Al-Quran diturunkan pada Muhammad saw. di hari kedua puluh empat bulan Ramadhan.” HR. Abu Ya’la. [4]

 

Penjelasan Para Ahli Hadis

 

(a) Hadis Watsilah bin al-Asqa

Seluruh jalur periwayatan hadis Watsilah bin al-Asqa melalui rawi ‘Imran Abul ‘Awwaam, dari Abu Qatadah, dari Abul Maliih, dari Watsilah bin al-Asqa, dari Raslullah Saw.

Kata Imam Al-Haitsami:

رَوَاهُ أَحْمَدُ وَالطَّبَرَانِيُّ فِي الْكَبِيرِ وَالْأَوْسَطِ، وَفِيهِ عِمْرَانُ بْنُ دَاوُدَ الْقَطَّانُ، ضَعَّفَهُ يَحْيَى، وَوَثَّقَهُ ابْنُ حِبَّانَ، وَقَالَ أَحْمَدُ: أَرْجُو أَنْ يَكُونَ صَالِحَ الْحَدِيثِ. وَبَقِيَّةُ رِجَالِهِ ثِقَاتٌ

“Hadis itu diriwayatkan oleh Ahmad dan Ath-Thabari dalam Al-Mu’jam Al-Kabir dan Al-Mu’jam Al-Awsath dan di dalam sanadnya terdapat rawi ‘Imran bin Dawud Al-Qaththan. Ia dinyatakan dha’if oleh Yahya bin Ma’in dan dinyatakan tsiqah (kredibel) oleh Ibnu Hibban. Dan Ahmad berkata, ‘Aku berharap ia shalih al-hadits.’ Dan para rawi lainnya tsiqat (kredibel).” [5]

Menurut Syekh Al-Albaniy, “Hadis ini hasan.” [6]

 

(b) hadis Jabir bin Abdullah

Hadis Jabir diriwayatkan oleh Abu Ya’la melalui rawi Sufyan bin Wakii’, dari Wakii’, dari Ubaidullah, dari Abu Maliih, dari Jabir bin Abdullah.

Kata Imam Al-Haitsami:

رَوَاهُ أَبُو يَعْلَى، وَفِيهِ سُفْيَانُ بْنُ وَكِيعٍ، وَهُوَ ضَعِيفٌ

“Hadis itu diriwayatkan oleh Abu Ya’la dan di dalam sanadnya terdapat rawi Sufyan bin Wakii’, dan ia rawi yang dha’if.” [7]

Kata Ibnu Hajar Al-Asqalani, “(Susunan sanad dari Abul Maliih, dari Jabir bin Abdullah) ini terbalik, seharusnya dari Watsilah Ra.” [8]

Berdasarkan penjelasan para ahli hadis di atas, maka hadis Mauquf (ucapan shahabat) Jabir bin Abdullah di atas statusnya dha’if (lemah). Meski demikian, yang jadi acuan atau dipergunakan sebagai hujjah bahwa Al-Quran itu diturunkan kepada Nabi pada “24 Ramadhan” adalah sabda Nabi sendiri, riwayat Watsilah bin al-Asqa, bukan ucapan Jabir bin Abdullah. Dan yang dimaksud “24 Ramadhan” itu malam ke-25 Ramadhan, karena penurunan Al-Qur’an waktu itu terjadi di malam hari. Dalam hal ini Imam Al-Halimi menyatakan:

يُرِيدُ بِهِ لَيْلَةَ خَمْسٍ وَعِشْرِينَ

“Yang dimaksud ialah malam ke-25.” [9]

Para ulama yang sepakat menetapkan tanggal 24 Ramadhan berbeda pendapat dalam menetapkan tahapan atau fase Nuzulul Quran yang dimaksud pada hadis ini. Sebagian menyatakan bahwa turun yang dimaksud adalah ke Lawh al-Mahfuzh, bukan turun kepada Nabi Muhammad saw. Imam al-Munawi berkata:

ثُمَّ إِنَّ مَا ذَكَرَ مِنْ إِنْزَالِهِ فِي تِلْكَ اللَّيْلَةِ أَرَادَ بِهِ إِنْزَالَهُ إِلَى اللَّوْحِ الْمَحْفُوْظِ فَإِنَّهُ نُزِّلَ عَلَيْهِ فِيْهَا جُمْلَةً ثُمَّ أُنْزِلَ مِنْهُ مُنَجَّمًا فِيْ نِيْفٍ وَ عِشْرِينَ سَنَةً

“Kemudian apa yang dia sebutkan tentang penurunan Al-Quran di malam itu, maksudnya penurunannya ke al-Lawh al-Mahfuzh, karena pada malam itu Al-Quran diturunkan ke sana sekaligus. Lalu diturunkan darinya secara bertahap selama 20 tahun lebih.” [10]

Berdasarkan pendapat ini, maka Nuzulul Quran tanggal 24 Ramadhan atau malam ke-25 dapat dikategorikan Nuzulul Quran pada tahap pertama, yaitu ketika Al-Quran diturunkan ke al-Lawh al-Mahfuzh.

Ulama lain menyatakan bahwa turun yang dimaksud adalah turun kepada Nabi Muhammad saw. Hal itu sebagaimana dinyatakan oleh Ibnu Hajar al-Asqalani:

وَهَذَا كُلُّهُ مُطَابِقٌ لِقَوْلِهِ تَعَالَى ( شَهْرُ رَمَضَانَ الَّذِي أُنْزِلَ فِيهِ الْقُرْآنُ ) وَلِقَوْلِهِ تَعَالَى ( إِنَّا أَنْزَلْنَاهُ فِي لَيْلَةِ الْقَدْرِ ) فَيَحْتَمِلُ أَنْ تَكُوْنَ لَيْلَةُ الْقَدْرِ فِي تِلْكَ السَّنَةِ كَانَتْ تِلْكَ اللَّيْلَةَ ، فَأُنْزِلَ فِيْهَا جُمْلَةً إِلَى سَمَاءِ الدُّنْيَا ، ثُمَّ أُنْزِلَ فِي الْيَوْمِ الرَّابِعِ وَالْعِشْرِيْنَ إِلَى الْأَرْضِ أَوَّلُ ( اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّك )

“Dan semua ini selaras dengan firman Allah Ta’ala, ‘Bulan Ramadhan yang Al-Quran diturunkan padanya.’ (QS. Al-Baqarah:185) dan firman-Nya, ‘Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Quran pada Lailatul Qadar.’ (QS. Al-Qadr:1). Maka dimungkinkan Lailatul Qadar pada tahun itu terjadi pada malam tersebut, lalu pada malam itu Al-Quran diturunkan ke langit dunia secara sekaligus. Kemudian diturunkan yang pertama ke bumi ayat ‘Iqra’ bismirrabbika..’ pada hari atau tanggal 24 Ramadhan.” [11]

Merujuk kepada pendapat Ibnu Hajar di atas, kita dapat mengambil satu kesimpulan bahwa Nuzulul Quran tanggal 24 Ramadhan atau malam ke-25 itu dapat dikategorikan sebagai Nuzulul Quran pada tahap ketiga, yaitu diturunkan kepada Nabi saw. secara berangsur-angsur, diawali dengan surat al-‘Alaq ayat 1-5 ketika Nabi Muhammad saw. sedang berkhalwat di gua Hira. Peristiwa turunya surat pertama (al-‘Alaq) ini diterangkan dalam hadis sebagai berikut:

عَنْ يُونُسَ بْنِ يَزِيدَ قَالَ أَخْبَرَنِي ابْنُ شِهَابٍ أَنَّ عُرْوَةَ بْنَ الزُّبَيْرِ أَخْبَرَهُ أَنَّ عَائِشَةَ زَوْجَ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَتْ كَانَ أَوَّلَ مَا بُدِئَ بِهِ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الرُّؤْيَا الصَّادِقَةُ فِي النَّوْمِ فَكَانَ لَا يَرَى رُؤْيَا إِلَّا جَاءَتْ مِثْلَ فَلَقِ الصُّبْحِ ثُمَّ حُبِّبَ إِلَيْهِ الْخَلَاءُ فَكَانَ يَلْحَقُ بِغَارِ حِرَاءٍ فَيَتَحَنَّثُ فِيهِ قَالَ وَالتَّحَنُّثُ التَّعَبُّدُ اللَّيَالِيَ ذَوَاتِ الْعَدَدِ قَبْلَ أَنْ يَرْجِعَ إِلَى أَهْلِهِ وَيَتَزَوَّدُ لِذَلِكَ ثُمَّ يَرْجِعُ إِلَى خَدِيجَةَ فَيَتَزَوَّدُ بِمِثْلِهَا حَتَّى فَجِئَهُ الْحَقُّ وَهُوَ فِي غَارِ حِرَاءٍ فَجَاءَهُ الْمَلَكُ فَقَالَ اقْرَأْ فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ مَا أَنَا بِقَارِئٍ قَالَ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجُهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّانِيَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجُهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ اقْرَأْ قُلْتُ مَا أَنَا بِقَارِئٍ فَأَخَذَنِي فَغَطَّنِي الثَّالِثَةَ حَتَّى بَلَغَ مِنِّي الْجُهْدَ ثُمَّ أَرْسَلَنِي فَقَالَ { اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ خَلَقَ الْإِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ الْآيَاتِ إِلَى قَوْلِهِ عَلَّمَ الْإِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ } فَرَجَعَ بِهَا رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ تَرْجُفُ بَوَادِرُهُ حَتَّى دَخَلَ عَلَى خَدِيجَةَ فَقَالَ زَمِّلُونِي زَمِّلُونِي فَزَمَّلُوهُ حَتَّى ذَهَبَ عَنْهُ الرَّوْعُ

Dari Yunus bin Yazid, ia berkata, “Ibnu Syihab telah mengabarkan kepadaku bahwa Urwah bin Zubair telah mengabarkan kepadanya, bahwa Aisyah Ra isteri Nabi saw. berkata, ‘Peristiwa awal turunnya wahyu kepada Rasulullah saw. adalah diawali dengan Ar-Ru`yah Ash-Shadiqah (mimpi yang benar) di dalam tidur. Tidaklah beliau bermimpi, kecuali yang beliau lihat adalah sesuatu yang menyerupai belahan cahaya subuh. Dan di dalam dirinya terdapat perasaan untuk selalu ingin menyendiri. Maka beliau pun memutuskan untuk berdiam diri di dalam gua Hira, beribadah di dalamnya pada malam hari selama beberapa hari dan untuk itu, beliau membawa bekal. Setelah perbekalannya habis, maka beliau kembali dan mengambil bekal. Begitulah seterusnya sehingga kebenaran pun datang pada beliau, yakni saat beliau berada di dalam gua Hira. Malaikat mendatanginya seraya berkata, ‘Bacalah.’ Maka Rasulullah saw. menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Beliau menjelaskan, ‘Lalu Malaikat itu pun menarik dan menutupiku, hingga aku pun merasa kesusahan. Kemudian Malaikat itu kembali lagi padaku dan berkata, ‘Bacalah.’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Malaikat itu menarikku kembali dan mendekapku hingga aku merasa kesulitan, lalu memerintahkan kepadaku untuk kedua kalinya seraya berkata, ‘Bacalah.’ Aku menjawab, ‘Aku tidak bisa membaca.’ Ia menarik lagi dan mendekapku ketiga kalinya hingga aku merasa kesusahan. Kemudian Malaikat itu menyuruhku kembali seraya membaca, ‘iqra` bismikal ladzii khalaq, khalaqal insaana min ‘alaq iqra` wa rabbukal akram alladzii ‘allamal bil qalam.. hingga ‘Allamal Insaana Maa Lam Ya’lam.’ (QS. Al-Alaq:1-5) Maka dengan badan yang menggigil, akhirnya Rasulullah saw. kembali kepada Khadijah seraya berkata, ‘Selimutilah aku, selimutilah aku.’ Hingga perasaan takut beliau pun hilang…” HR. Al-Bukhari, Muslim, Ahmad, Al-Baihaqi, Ibnu Hiban, Abdurrazaq, dan Al-Hakim, dengan sedikit perbedaan redaksi. [12]

 

Dengan demikian, menurut pendapat yang kuat bahwa Nuzulul Quran kepada Nabi saw. secara berangsur-angsur diawali pada tanggal 24 atau malam ke-25 Ramadhan.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1]Lihat, Ar-Rahiiq Al-Makhtuum, Bahs fii As-Siirah An-Nabawiyyah ‘alaa Shaahibihaa Afdhal As-Shalaatu was Salaam, hlm. 66-67.

[2]Lihat, Musnad Ahmad, XXXIV:346, No. 16.370.

[3]Lihat, Al-Baihaqi, As-Sunan Al-Kubra, IX:188, No. hadis 18.429 dan Syu’abul Iimaan, V:263; No. hadis 1671; Ath-Thabrani, Al-Mu’jam Al-Kabir, XXII:75, No. hadis 185 dan Al-Mu’jam Al-Awsath, VIII:435, No. hadis 3882; Ibnu Abu Hatim, Tafsir Ibnu Abu Hatim, VI:273, No. hadis 1671; Al-Mundziri, At-Targhiib wat Tarhiib, II:378, No. Hadis 1818; Al-Waahidiy, Asbaabun Nuzuul: 13.

[4]Lihat, Musnad Abu Ya’la, juz 4, hlm. 137. No. 2190

[5]Lihat, Majma’uz Zawaa`id wa Manba’ul Fawaa`id, I:407.

[6]Lihat, Silsilah Al-Ahaadits Ash-Shahiihah, IV:104. Hadis hasan termasuk hadis yang diterima sebagai hujjah akan kebenaran petunjuk yang terkandung di dalamnya bersumber dari Nabi saw., meski derajatnya di bawah hadis shahih.

[7]Lihat, Majma’uz Zawaa`id wa Manba’ul Fawaa`id, I:408.

[8]Lihat, Al-Mathaalib Al-‘Aaliyyah Bi Zawaa`id Al-Masaaniid Ats-Tsamaaniyyah, IV:350.

[9]Pendapat ini dikukuhkan pula oleh Imam al-Baihaqi. Lihat, Syu’ab al-Iman, III:521.

[10]Lihat, Faidh al-Qadir, XI:144.

[11]Lihat, Fath al-Bari, XIV:184.

[12]Lihat, HR. Al-Bukhari, Shahih al-Bukhari, I:4, No. 3; IV:1894, No. 4670; Muslim, Shahih Muslim, I:139, No. 160; Ahmad, Musnad Ahmad, VI:232, No. 26.001; Al-Baihaqi, As-Sunan al-Kubra, IX:5, No. 17.499; Ibnu Hiban, Shahih Ibnu Hiban, I:216, No. 33; Abdurrazaq, al-Mushannaf, V:321, No. 9719; Al-Hakim, al-Mustadrak ‘ala ash-Shahihain, III:202, No. 4843.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *