GENERASI MUDA HARAPAN AGAMA

Indonesia adalah negara dengan jumlah penduduk muslim terbanyak di dunia lohh… Sekarang ini jumlahnya ada 199.959.285 jiwa atau 85,2% dari jumlah total penduduk  (sumber: wikipedia). Dengan jumlah sebanyak itu, mestinya kehidupan sehari-hari masyarakatnya kental sama nilai-nilai Islam. Tapi kenyataan yang kita liat hari ini, justru malah sebaliknya. Kehidupan masyarakat, terutama anak mudanya, jauh dari nilai-nilai keislaman. Coba kita jujur, lebih sering mana baca Qur’an atau baca timeline twitter? Lebih paham mana sejarah perkembangan k-pop atau sejarah perkembangan Islam? Lebih tau mana biografi Zayn Malik atau biografi Nabi Muhammad saw?

Jangan-jangan Islam kita cuma sekedar jadi kata” pengisi” kolom agama di KTP, bukan jadi identitas yang diaplikasikan kedalam kehidupan sehari-hari? Lebih bangga sama segala sesuatu yang asalnya dari barat, kesannya kece, modern, kekinian. Sementara kalau yang asalnya dari Islam itu kesannya kuno, engga relevan sama kehidupan sekarang. Belajar Islam cukup di mesjid-mesjid, engga perlu di bawa di kehidupan sehari-hari.  Astagfirullaah… ini adalah  bentuk nyata sekularisme udah mengakar di kehidupan kita; sadar atau tidak. Agama dipisahin sama hidup keseharian. Agama bukan lagi jadi panglima dalam memandu kehidupan.

Di permukaan, negeri kita ini kaya engga ada apa-apa, stagnan; maju engga, mundur engga. Tapi kalau kita lebih peka lagi, coba menyelam ke kedalaman, ada satu aspek di kehidupan masyarakat, khususnya muslim yang kondisinya udah mengkhawatirkan, bisa dibilang darurat. Yaitu aspek aqidah (keyakinan). Ya, Indonesia darurat aqidah!

Gimana engga? Virus-virus aqidah udah mulai mengisi ruang-ruang peradaban dan sayangnya banyak dari kita yang engga sadar. Hari ini, virus-virus ini makin masif disebarluaskan; Liberalisme, sekulerisme, pluralisme, humanisme, relativisme, dan lainnya.

Yang bikin ya siapa lagi kalau bukan musuh-musuh Islam?  Segala upaya mereka lakukan untuk menghancurkan Islam baik dari dalam atau dari luar, dan sekarang mereka semakin berani. Sasaran utamanya adalah anak muda. Kenapa? Sebab anak muda  lah yang akan mengelola bumi ini di masa depan. Kalau dari muda sudah bisa “dibentuk” maka saat dewasa nanti bakal mudah “dimainkan”.  Virus-virus  ini cepat sekali menyebar, berita-berita di media mainstream yang sering kali memojokkan Islam pun kita telan mentah-mentah tanpa ada filter yang baik, karena kurangnya pemahaman terhadap agama sendiri. Dan ini bukti nyata, jika musuh-musuh Islam berhasil “menjajah”.

Yaps, konteks perang di era modern bukan lagi soal ekspansi militer atau menodongkan senjata, tapi lebih kepada perang pemikiran “Ghazwul Fikri”. Kita dijajah secara halus, engga kerasa. Dibentuk pemikiran biar jauh dari nilai keislaman. Tiba-tiba Islam udah di tepi jurang keruntuhan, bingung deh mau gimana? Mau maju musuh udah terlalu kuat, mau mundur ya kita jatuh.  Ga kebayang kan, kalo nanti bumi ini dikelola sama orang-orang yang kayak gini? Makannya kita lah yang harus ngisi tempat-tempat strategis itu nanti. Jangan mau diperbudak sama perubahan. Kitalah yang harus jadi aktor perubahan itu!

Dan karena kita masih banyak banget keterbatasan, sekarang kita maksimalkan saja 2 hal yang dimiliki generasi muda; tenaga & semangat. Kita optimalkan 2 potensi itu sebaik mungkin. Mulai kembali belajar Islam secara Kaffah atau menyeluruh, ciptakan kembali tardisi keilmuan, terus aktualisasi diri kita menjadi manusia yang optimal, dan sebagainya. Sampai kesempatan itu udah bener-bener datang sama kita, kita engga gagap. Kita tau mesti bertindak gimana, sebab ilmu dan agama lah yang bakal nuntun kita.

Karena perjuangan Islam hari ini, kitalah yang akan meneruskannya esok lusa. Tegaknya Islam di masa depan tidak akan lahir dari generasi muda yang berleha-leha. Ada atau tidaknya keterlibatan kita, perjuangan kejayaan Islam akan tetap diteruskan. Mari, bersama-sama meraih keutamaan.  Bergerak atau tergantikan! Kalau bukan sekarang kapan lagi? Kalau bukan kita siapa lagi?

“Siapkanlah dirimu untuk menggantikan angkatan tua, mereka akan pulang tak lama lagi. Janganlah engkau menjadi pemuda kecapi suling, yang bersenandung meratapi tepian yang sudah runtuh, mengenangkan masa silam yang telah pergi jauh. Janganlah engkau membuat kekeliruan lagi seperti pernah dilakukan oleh angkatan yang engkau gantikan. Teruskan perjalanan ini dengan tenaga dan kakimu sendiri” Hasan al Banna

By Azmi Fathul Umam

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *