FISIKNYA BANYAK, TAPI ISINYA…

Oh, segarnya. Seperti biasa, udara pesawahan kembali melegakan dada. Kali ini aku menghirupnya sembari menutup mata dengan penuh penghayatan. Apakah Allah menciptakan alam ini hanya sekedar untuk dirasakan saja? Heummm, hidungku kembali terasa segar. Saat mata terbuka, nampak beberapa pohon kelapa menyandar menaungi hamparan padi. Semilir angin rihlah ke sana ke mari menanti senja tiba.

 Namun, saat ini aku merasa amat lelah. Beberapa tumpukkan padi yang berhasil aku tumbuk hari ini tidak seperti yang kuharapkan. Terlebih, tangan sebelah kananku terasa agak nyeri, tampak melebam. Tapi tak perlu berlama-lama dipikirkan, esok hari aku harus lebih giat lagi. Terik mentari bukanlah sebuah alasan bagiku untuk diam memilu meskipun terasa menyengat pundak kasarku.

 Beberapa menit lagi aku harus sudah berdandan rapi. Lantas aku singkapkan seluruh pakaian yang aku kenakan, namun bukan karena alasan kotor tercepreti lumpur pesawahan, tetapi lebih karena harus. Air berlumut di bak kamar mandiku hampir saja menyegarkan badanku. Namun, rasa gerah sore ini begitu membakar. Kembali aku guyurkan air ke seluruh badan. Ahh, kali ini kesegarannya terasa. Baju koko putih dan celana panjang hitam yang sebelumnya telah aku persiapkan, kini aku kenakan. Dan sepertinya aku sudah terlihat cukup rapi.

 Den, hayu!” seruan ayahku masuk melintasi ruangan menuju kamar.

Tidak diasingkan lagi, setiap senja tiba, ayahku tidak pernah lupa mengatakan kata-kata seperti itu, setidaknya, dalam sehari sampai lima kali. Keseringannya membuatku berpikir, apa maksud ayahku selalu saja menyeru meskipun kesiapanku sudah nampak. Mungkin saja lantaran cemburu dengan ibu yang selalu menyayangiku terlalu rutin. Itu masih dimungkinkan.

“Iya, pak!”

Senja kali ini, seperti senja-senja sebelumnya, bangunan tua di sebelah kanan rumah ustad Rahman mesti aku kunjungi. Cat berwarna coklat muda dan dindingnya yang rapuh sudah menjadi identitas Al-Washiyyah, sebuah masjid berukuran sebelas kali sepuluh meter di tengah-tengah lokasi yang cukup ramai untuk wilayah pedesaan. Ruang jendelanya hanya terdapat empat buah.

Agar sampai di sana, aku harus melewati pematangan sawah. Berjalan di atasnya, tentunya tidak akan membuatku sulit. Sepertinya hal itu sudah menjadi kewajibanku. Begitupun dengan ayah yang saat ini berjalan di depanku, pematang sawah sudah masuk dalam kehidupannya, dengan alasan ia sebagai seorang petani. Ditambah jarak antara rumah dan masjid hanya seratus meter, kurang lebih.

“Allahu akbar Allahu akbar.”

Merdu suara adzan mendahului tiba kami di masjid, itupun tinggal beberapa langkah lagi. Di muka masjid, kami berbelok ke sebelah kiri menuju pancuran, bukan hendak berwudu, tetapi sekadar membersihkan kaki dan sandal. Ayah terlebih dulu selesai.

Masuk ke masjid, dua saf shalat sudah bersiap menghadap kiblat. Tentunya, hal tersebut sudah menjadi kebanggaan bagi kami, meskipun satu saf maksudnya saf imam. Hanya aku, ustad Yanto, dan temanku, Sandi, muadzin maghrib tadi, yang mengarahkan pandangannya ke tempat sujud di belakang ayahku sebagai imam di masjid Al-Washiyyah saat ini. Biasanya, ustad Rahman-lah yang menjadi imam. Namun karena harus mengisi ceramah di luar kampung, ia berpesan agar ketua DKM yang menggantikannya. Kemudian imam bertakbir, lantas kami mengikutinya bertakbir, tidak memandang bahwa ia seorang petani. “Allahu akbar.”

***

Alhamdulillah pak Asep masih di masjid!” Tanpa salam dan sapa, pak Irwan tiba-tiba duduk di samping ketua DKM. “Ada yang mau diobrolin, pak asep.”

“Oh, mangga.

Aku, ustad Yanto, dan Sandi hanya mendengarkan sembari wirid, sedangkan ayah melakoni obrolan pak Irwan.

“Begini, waktu pagi tadi, sebenarnya saya sudah ngobrol-ngobrol sama jama’ah masjid Al-Washiyyah, menyoal renovasi. Kebetulan saya lagi punya rezeki. Masjid Al-Washiyyah ini kan bangunannya sudah terlalu tua, bagaimana kalau rezeki saya digunakan buat amal jariyah.”

Ayahku hanya membisu.

“Nah, kalau pak Asep ngasih izin masjid Al-Washiyyah ini direnovasi, insya Allah beberapa hari ke depan saya akan merencanakan pembangunan.” lanjut pak Irwan.

Alhamdulillah, pak Irwan. Saya selaku pengurus masjid Al-Washiyyah ini tentunya bangga jika ada yang berkenan merenovasi. Izin juga pasti saya kasih. Mudah-mudahan dengan direnovasinya masjid ini bisa menarik masyarakat agar shalat berjama’ah di masjid.”

Pak Irwan tersenyum mengangguk.

“Tapi, tidak cukup hanya izin dari saya saja. Sebetulnya ustad Rahman-lah yang lebih berhak memberi izin apapun menyoal masjid ini.”

“Pastinya saya minta izin terlebih dulu sama ustad Rahman. Gimana kalau kita ngobrol langsung sekarang di rumah ustad Rahman?”

Ustad Yanto melangsungkan shalat rawatibnya, sedangkan Sandi pamit pulang. Aku tetap mendengarkan percakapan ayahku dengan pak Irwan sembari merebahkan tubuh di hamparan sajadah Al-Washiyyah. Meskipun agak kasar, setidaknya serasa tiduran beralaskan tikar di rumah.

“Kebetulan, ustad Rahman sedang ada undangan ceramah ke luar kampung. Bagaimana kalau besok?”

“Duhh, kebetulan besok saya harus pergi ke desa.” ungkap pak Irwan.

“Pak Irwan bisanya kapan, atuh?” tanya ayah.

“Hari-hari ke depan saya ada undangan dari desa, juga ada acara ke kampung-kampung lain. Kalau pak Asep yang bilang langsung ke ustad Rahman, bisa?”

“Insya Allah bisa. Paling juga waktu sore.” sedia ayah nampak dari matanya.

“Soal waktu, ya terserah pak Asep. Yang penting dapat izin dari ustad Rahman.”

“Iya, besok diusahakan.” ungkap ayah. “Ehh, sekalian pengumuman, besok ba’da Isya ada pengajian bulanan. Kebetulan ustad Rahman yang jadi penceramahnya.”

“Pengennya hadir, tapi, besok kan ada undangan.”

“Ohh, iya gak apa-apa.”

Hatur nuhun atuh, pak Asep. Nanti kalau udah ngobrol sama ustad Rahman, minta informasinya, ya.”

“Iya, pak Irwan.”

“Mangga atuh, assalamu’alaikum.”

Wa’alaikum salam.”

Aku bangkit dari tiduranku. Meregangkan badan dan tangan. Aku berjalan menuju pintu masjid, mengenakan sandal lalu pulang. Sedangkan ayah menunggu adzan Isya dikumandangkan.

***

“Minum sama makan dulu, pak, den!” ibu datang mendekati kami membawa bekal dua botol air teh dan makanan. Di Sunda terkenal dengan sebutan nganteuran.

Pameng, mah, sedikit lagi.” kataku sambil memukul-mukul padi di penumbuk.

“Iya. Jangan lupa nanti dimakan ya!” Ibu menyimpan bekal tadi lalu berjalan ke arah pulang.

“Iya.”

Beberapa menit setelah kepulangan ibu, tumpukkan padi sudah habis tertumbuk. Kami memasukkannya ke dalam karung besar. Kemudian, sembari beristirahat sejenak, kami membuka botol air teh di atas pematang sawah kemudian meneguknya sampai dahaga hilang. Perut pun tergerogoti. Makanan yang tadi ibu bekalkan, akhirnya dapat mengganjal perut kami. Alhamdulillah.

Dua karung besar yang telah terisi padi akhirnya kami bawa pulang, ayah membawa sekarung padi yang terisi penuh, sedangkan sisanya aku pikul, hanya sepertiga karung saja. Kami simpan keduanya di ruangan belakang rumah.

Tidak lupa terhadap janjinya dengan pak Irwan, setelah satu jam beristirahat dan membersihkan badan, ayah pergi ke rumah ustad Rahman. “Assalamu’alaikum,” ayah pergi pamit. Sedangkan aku? Karena masih merasa letih, kubaringkan kembali badanku di hamparan tikar, namun kali ini mesti kututup mataku sebagai persiapan menghadapi pengajian nanti malam.

***

“Kepada para hadirin yang masih berada di luar masjid, harap masuk, karena pengajian bulanan akan segera dimulai.” ustad Yanto terulang kembali menjadi moderator.

Tidak seperti biasanya, pengajian bulanan kali ini terbilang sangat penuh. Kaum bapak dan pemuda duduk di depan ruangan masjid, sedangkan kaum ibu dan pemudi mendengarkan di ruang belakang, bahkan terisi sampai teras. Selain itu, anak-anak bermain ria di sekitaran masjid seolah sebentar lagi akan digelar pertunjukan wayang.

Ketika jarum jam menunjukkan pukul 07.30, ustad Yanto membuka acara. “Kepada al-ustad Rahman, dipersilahkan.”

Semua jama’ah meluruskan pandangannya kepada perawakan ustad Rahman yang sudah begitu tua. Di arah depan, terlihat ayah sedang menundukkan kepala. Kemudian ustad Rahman mengucapkan hamdallah, diteruskan kepada isi paparan.

“Para hadirin yang dimuliakan Allah, seluruh jama’ah Al-Washiyyah tentunya memiliki rumah masing-masing. Andai saja kita ditakdirkan Allah untuk tinggal di bawah jembatan, siapa yang mau?” pengucapannya tidaklah cepat, seperti biasanya, ustad Rahman selalu pelan. Nada suaranya datar tapi keras. Kepalanya menoleh ke sana ke mari. Kedua matanya tajam serta tangannya tidak bisa diam, digerakkan seolah sedang melukiskan pemaparan. Namun, kerut di dahinya nampak membutuhkan batuan.

“Karena nilai kasih sayang, kemudian Allah tunjukkan rahmat-Nya membangun sebuah rumah bagi kita atas wasilah keluarga. Siapa yang berketetapan hati ingin tinggal di bawah jembatan? Takkan ada yang mau!” Seluruh jama’ah saat itu tidak ada seorang pun yang tidak mengarahkan pandangannya kepada ustad Rahman.

“Kita berdoa serta berusaha sekuat tenaga membangun sebuah rumah, setelah terwujud, siapa yang masih ingin tinggal di bawah jembatan?” kulihat ayah dari tadi hanya tertunduk.

“Lantas, seorang pemuda yang kegiatan setiap harinya mengambil hak orang lain, katakan saja seorang pencuri, berbuat demikian demi mengabulkan doa kita untuk membangun sebuah rumah, setelah rumah itu dibangun, lantas kita tidak menjadikannya sebagai tempat tinggal, siapa yang salah? Coba renungkan, apa yang akan kita persiapkan bilamana di akhirat nanti kita ditanya tentang masjid Al-Washiyyah ini. Jawab dalam diri masing-masing, siapa yang ikut andil dalam pembangunan masjid ini? Andai kita ikut andil, lalu siapa yang mengisi ruang dan kegiatan di masjid Al-Washiyyah ini?” Dilihat dari raut wajahnya, seluruh jama’ah seperti tersalahkan, atau mungkin karena memang seperti itu.

“Bukannya kami tidak ingin membangun masjid dengan begitu mewah, bukan pula karena tidak ada dana, tapi, lebih karena pengisinya. Coba siapa pengisinya?”

“Seorang anggota dewan mendatangi kita untuk meminta bantuan, tentunya harus kita bantu. Seorang kepala desa datang ke kampung kita dengan tujuan yang sama, kita bantu pula. Namun bila seseorang yang sedang mencalonkan untuk sebuah jabatan memberikan bantuan, periksa dulu, apa tujuannya, cari apa penyebabnya.” Seluruh jama’ah menatap ustad Rahman tanpa keberanian, seolah mengerti apa maksud pemaparan ustad Rahman.

Sampai saat ini, ayah tidak berani menengadahkan kepala menatap mata ustad Rahman. Mungkin, amanah dari pak Irwan kemarin yang menjadi penyebabnya. Tapi entah.

“Mudah-mudahan ikut andil kita dalam membangun masjid ini menjadi pendorong bagi kita dalam mempertanggungjawabkan bangunan Al-Washiyyah ini. Semoga dalam setiap gerak dan langkah, kita mampu mengendalikan segala desakan dan keinginan dalam meluruskan jarum hati.”

***

Sekitar dua minggu setelah ustad Rahman memberikan ceramah, setidaknya setiap shalat maghrib, empat saf makmum terpenuhi, belum ditambah dengan saf imam. Menyoal renovasi, akhirnya dibatalkan. Ayahku menyampaikannya kepada pak Irwan dengan alasan, jama’ah merasa cukup dengan bangunan Al-Washiyyah saat ini. Sebagaimana dalam ceramah ustad Rahman, “Bangunan masjid, sekarang sudah banyak. Yang mesti kita perhatikan adalah bagaimana kita membangun isinya. Membangun sosok hati yang ikhlas mengisi ruang kosongnya.”

By Ikhwan Fahmi, MADRASAH PENA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *