Faisal Basri Sebut Kebijakan Ekonomi Jokowi Seperti Parkir Bus

Ekonom senior Faisal Basri menilai kebijakan ekonomi yang diterapkan Jokowi bak strategi ‘parkir bus’ ala pelatih berkebangsaan Portugal Jose Mourinho. Kebijakan ekonomi pemerintah lebih cenderung bertahan dan tidak menyerang.

Strategi pemerintah ini dinilai Faisal Basri salah di tengah defisit transaksi berjalan yang kian melebar. Sementara itu, strategi menyerang yang disiapkan melalui upaya peningkatan ekspor pun dinilai mentah.

“Defense (pertahanan) yang jelek adalah seperti strategi Mourinho, parkir bus. Padahal, seharusnya defense harus dengan counter attack (serangan balik) yang bagus,” katanya, Rabu (29/8).

Fasri memprediksi defisit akan terus melebar jika pemerintah tetap menggunakan strategi bertahan. Apalagi menurutnya tingkat kebobolan ekonomi tanah air sudah kian membesar.

Baca juga  Golkar Tolak Sikap Represif Aparat Terhadap Penggiat Aksi #2019GantiPresiden

“Tidak ada klub sepak bola yang juara kalau kebobolannya paling banyak. Liga Spanyol, yang juara bukan Atletico Madrid, tapi Barcelona. Liga Inggris, juaranya bukan Tottenham Hotspurs, tapi Manchester City. Jadi tidak akan menang kalau difense terus,” kata Faisal mengibaratkannya.

Lebih lanjut, ekonom dari Institute for Development of Economics and Finance (INDEF) ini menilai langkah jor-joran meningkatkan ekspor jauh lebih berdampak daripada pembatasan impor. Jika pembtasan impor hanya mengurangi devisa yang dibutuhkan untuk pembayaran, maka ekspor efektif karena mendatangkan devisa baru bagi Tanah Air.

Selain itu, Faisal juga berharap pemerintah harus lembih ambisius menggenggam pasar ekspor baru, misalnya negara-negara traditional seperti Afrika dan Asia. Fasri juga mengingatkan pemerintah dalam konteks ekspor agar tidak terlalu terpaku kepada pandangan untuk menjual.

Baca juga  Diduga Melanggar Lagi, Bawaslu DKI Panggil PSI soal Spanduk Asian Games

Ekonom ini mencontohkan Kamboja yang kerap menyerap hasil produksi farmasi dari Indonesia. Setelah itu, Kamboja melakukan penetrasi dengan menjual ke negara lain.

“Misalnya mereka punya apa, itu bisa diambil. Kalau pun Indonesia tidak butuh produk itu, tinggal instruksikan PT Perusahaan Perdagangan Indonesia (PPI)untuk ambil alih dan jual lagi ke negara lain,” katanya.

sigabah.com | politiktoday.com

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *