EKONOMI SEBAGAI PENUNJANG DAkWAH NABI

Sebagaimana yang kita tau, Nabi Muhammad saw. baru menjalani risalah kenabian di usia 40 tahun. Diawali dengan turunnya surat Al-Alaq ayat 1-5 melalui malaikat Jibril, yang diturunkan saat Nabi lagi tahannuts di Gua Hira. Waktu itu Nabi kaget bukan main. Nabi sama sekali engga tau kalau yang datang kepada beliau itu adalah malaikat Jibril, Nabi juga engga tau kalau apa yang dialami beliau waktu di Gua Hira itu adalah sebagai proses “wisuda”. Yaitu sebuah proses dimana beliau resmi diangkat jadi nabi dan diberikan amanah untuk menjalankan misi besar membawa manusia ke jalan keselamatan. Sebab kita tau, waktu itu Nabi hidup di sebuah lingkungan masyarakat yang kita kenal dengan sebutan masyarakat Jahiliyyah.
Gimana hasilnya? dalam kurun waktu yang engga lebih dari 23 tahun, beliau bisa menciptakan tatanan kehidupan masyarakat yang ideal dan unggul dari segala aspek yang sesuai sama nilai Islam. Beliau mampu merubah masyarakat yang tadinya sangat cinta khamr jadi benci khamr. Beliau mampu menciptakan tradisi masyarakat yang cinta pada ilmu pengetahuan dan beliau juga sukses dalam mendidik para sahabatnya untuk menjadi manusia-manusia unggul, yang kelak bakal jadi penerus estafet kepemimpinan beliau. Nabi udah berhasil menciptakan satu peradaban baru.
Dengan kesuksesan yang luar biasa itu, pastinya Nabi Muhammad engga berjuang sendirian melainkan ada beberapa faktor yang menunjang kesuksesan da’wahnya itu. Dalam penglihatan sejarawan dan para pakar ekonomi, ada 3 kunci sukses dakwah Nabi dan para sahabat, yaitu: (1) Kekuatan aqidah, (2) Kekhusyuan ibadah, (3) Kekuatan ekonomi.
Khusus buat faktor yang ke-3 ini, jarang sekali dibahas apalagi dianalisis. Makannya jadi menarik untuk kita bahas, sebab kita tau, para sahabat Nabi juga bukan orang sembarangan. Banyak di antara mereka yang Allah kasih kelebihan dalam hal harta kekayaan, dan yang paling penting mereka mau meng-infaq-kan kekayaannya untuk membantu perjuangan dakwah Nabi.
Seperti apa kekuatan ekonomi Nabi dan para sahabat selama dakwahnya? Dr. Muslih Abdul Karim mengatakan atau menyebutkan angka yang spektakuler. Dari Siti Khadijah saja, istrinya, Nabi mendapatkan bantuan dana dakwah selama risalah kenabian, engga kurang dari 20 triliun.
Contoh lain, seperti yang diuraikan oleh Ibnu Hajar Al Asqalani dalam Fathul Bari, pada suatu waktu, Nabi bertanya kepada para sahabat “Siapa yang akan membantu saya untuk perluasan masjid Nabawi?’’ Gak perlu nunggu lama, sahabat Utsman bin Affan langsung bersedia ngasih 40 ribu dinar. Kalau dikonversi ke uang sekarang itu kurang lebih 80 miliar. Itu buat sekali infaq. Sedangkan untuk kelas para sahabat, yang namanya infaq itu hobby. Jadi terbayang kan sama kita, akumulasi infaq, shadaqah kelas para sahabat itu berapa banyak.
Di lain waktu, setelah peristiwa Futuh Makkah (penaklukan kota Makkah ke tangan kaum Muslimin) Nabi mau memperluas area Masjidil Haram, tapi waktu itu ada rumah yang nempel ke masjid dan otomatis harus dibeli buat ngebebasin lahan, maka disampaikanlah ke para sahabat siapa yang bersedia membeli rumah ini. Abu Bakar as-Siddiq langsung ngacung. Keluar lah 20 ribu dinar atau setara dengan 40 miliar.
Contoh terakhir, adalah temuannya  Dr. Syafii Antonio, berkaitan sama peninggalan aset Abdurrahman bin Auf, seorang sahabat Nabi yang kaya raya dan pinter dagang. Setelah Abdurrahman bin Auf meninggal, ternyata harta yang ditinggalkan oleh beliau engga kurang dari 30 triliun.  Waktu itu, gak ada orang yang punya kekayaan sebanyak itu. Dengan bahasa lain, Nabi dan para sahabat dalam upaya dakwahnya didukung oleh orang terkaya saat itu.
Dari kesemua contoh-contoh itu, kita bisa ambil kesimpulan secara sederhana bahwa sukses dakwah itu berbanding lurus sama kekuatan ekonomi. Ini engga bisa dipungkiri karena ini fakta sejarah, hasil kajian dari para ahli ekonomi. Semoga kita dapat ambil bagian dalam hal ini.
By Azmi Fathul Umam

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

2 thoughts on “EKONOMI SEBAGAI PENUNJANG DAkWAH NABI

  1. Sangat bagus pemaparannya – dalam kondisi kini apa yang harus kita lakukan dimana semua sumber ekonomi dikuasi oleh mafia. Saya ingin berbagi ilmu waktu masih di sumatra dulu bahwa kita kembangkan ekonomi lewat masjid. Dari ummat untuk ummat. Bisa kah kita diskusikan. Salam Mudzakkir

    1. Insyaa Allah selalu bisa didiskusikan. Untuk lebih lanjut acara tersebut, bisa kontak admin Sigabah: 0896-8374-6759 (Akhi Ibad)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *