DONGENG KAPAL TUA

Semenjak nakhoda kapal bernama Kuharto terjatuh di tengah lautan, para awak bebas melakukan apa pun di dalam kapal. Kuharto terjatuh karena ia sering salah membelokan arah pelayaran. Dan ketika kapal menepi di salah satu pulau, ia adalah orang yang paling rakus mengambil semua yang berharga di pulau tersebut. Sehingga ketika membawa kapal, ia sering sekali lepas kendali. Wajar saja, karena perutnya sudah terisi banyak makanan. Yang paling parah, ia pernah beberapa kali sengaja akan menabrakan kapalnya dengan sebuah tebing. Benar-benar tidak terkendali.

Kini, awak kapal merasa merdeka. Mereka bisa melakukan apa yang mereka inginkan. Namun karena masing-masing di antara mereka memiliki arah pelarayan yang berbeda, maka pergantian nakhoda berlangsung lebih cepat dibandingkan semasa Kuharto, yang menjadi nakhoda selama 33 minggu.

Kata Kakek, ketika Kuharto terjatuh, semua menyambut gembira. Padahal mereka lupa apa yang harus mereka lakukan berikutnya. Dan sebenarnya jika mau diperjuangkan, kapal itu akan berlabuh di pulau terindah yang selama ini diimpikan. Namun karena bingung, akhirnya kapal itu terus melakukan pelayaran tanpa tahu mau ke mana. Akhirnya, kini di antara mereka berebut setir kapal. Mereka sama-sama berambisi melabuhkan kapal di pulau yang telah mereka siapkan. Kelompok berbaju merah ingin membawa kapal berlabuh di pulau orang-orang sipit. Kelompok berbusana hitam ingin membawa kapal berlabuh di pulau yang terdapat banyak wanita kontrakan. Kemudian kelompok bermata biru ingin bawa kapal berlabuh di tatanan pulau baru. Belum lagi, kelompok berjubah hitam yang telah lama ingin bawa kapal ke pelabuhan penuh merpati. Dan jangan lupakan, masih ada kelompok-kelompok lain yang juga menambah kacau suasana kapal.

Ada yang dengan santai memahat dinding kapal yang terbuat dari emas. Ada pula yang asyik membolongi bagian bawah kapal. Parahnya lagi, ada yang setiap harinya melemparkan bahan bakar ke laut. Katanya di dalam ada binatang penguasa yang menginginkan bahan bakar. Sungguh, alasan yang mengada-ada, yang merugikan!

Kini kapal dinakhodai oleh Owi. Konon, ia mewakili semua kelompok yang ada di kapal itu. Ya, ia sangat baik pada semua kelompok. Owi dikenal santun ketika berhadapan dengan kelompok berjubah hitam, ramah dengan kelompok berbaju merah. Pun kepada kelompok lainnya, ia tidak pernah membeda-bedakan. Ia mempersilakan mereka melakukan apa yang diinginkan. Yang memahat dinding kapal, yang membuang-buang bahan bakar, hingga yang berusaha mencabut bendera kapal, ia biarkan. Owi menganggap, itu hak mereka, dan ia wajib membiarkan. Bahkan menyokong.

Kata Kakek, kejadian perusakan di dalam kapal terus terjadi. Bahan bakar terus dibuang, dinding kapal semakin menipis. Sedang si Nakhoda malah tertawa menanggapi semua itu. Katanya, “itu bukan urusan saya”. Kakek dengan lucunya, mencoba mencontohkan bagaimana ketawa si nakhoda.

Masih kata Kakek, katanya kini kapal telah dimasuki banyak air. Banyak anak yang sudah tenggelam di dalamnya.

“Lalu apa yang akan terjadi, Kek?”

Kakek terdiam.

Tiba-tiba matanya mengembun.

Seketika kepalanya tertunduk lesu.

“Kapal itu sebentar lagi karam,” lirih kakek dengan suara parau.

 

By Hilman Indrawan, Pelopor Komunitas Madrasah Pena

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

 

One thought on “DONGENG KAPAL TUA

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *