DI UJUNG BELATI

Tak ada suara, kecuali isakan tangis seorang pemuda yang lirih terdengar menggema ke seluruh ruangan kamarnya. Di kepalanya muncul bayangan sebuah memori, bukan masa lalu, tapi kini yang sedang ia hadapi. Pertengkaran hebat dua kubu antara Ayah dan Ibunya terus terngiang menghantui batin dan pikiran. Dia memegang sebuah gagang, terlihat mengkilat sebuah besi yang runcing di ujung, ia tempatkan di atas pergelangan tangan kirinya, mencari garis urat nadi yang empuk untuk diputus. Air matanya perlahan jatuh mendarat di ubin kamar dimana ia tengah duduk di tepi kasur kesayangannya. Tak ada siapapun, rumahnya sepi. Ia pikir, mungkin inilah saatnya untuk mengucapkan salam perpisahan kepada bumi yang ia pijak.

*****

“Dar Dar..!! Drrrttt.. Drrtttt.. BOOOMMM!!”. Suara yang menguap dari speaker itu terdengar bising seakan menjadi melodi merdu untuk si gamers. Teriakan kekalahan dan kemenangan silih bersahutan di area komputer-komputer itu. Ketika jiwa yang Mu’min tengah mengadu dan merindu terhadap sang Pencipta-nya, lain halnya sekumpulan anak Sekolah Menengah Kejuruan ini yang tengah asyik bercumbu dengan mouse dan keyboard yang mereka sewa di dalam sebuah gubuk bernamakan Warnet.

“Eh, Ka. Pagi ini bukannya kamu UAS ya?” tiba-tiba Ragil melontarkan pertanyaan kepada Azka ditengah jarinya yang masih bermain dengan peralatan elektronik itu.

“Udah belajar dikit sih, tadi sebelum kesini. Males aku kalau di rumah. Hasil UAS mah gimana nanti saja, toh gak ada orang yang perduli.” Ujar Azka yang berada di samping Ragil tanpa melihat satu sama lain, karena mereka telah bertemu di dalam sebuah layar permainannya.

“Wah.. Sayang padahal, harusnya kamu bersyukur. Pakai kesempatan itu untuk belajar, bukannya main game. Kalau aku bisa sekolah seperti kamu, aku bakalan pakai kesempatan itu baik-baik. Sambil main game tapi, hahahaha yah yah yaaaahhhh mati deh!! gua kena tembak Ka!”

“Yaahhh payah lu Gil mainnya. Lu kan Operator, yang jaga ini warnet sih lu harusnya lebih jago..”

Semua tenggelam dalam asiknya sebuah layar yang dimanjakan oleh game yang mereka gemari.

Fajar pun menjemput embun, kepak sayap nyanyian burung mulai rimbun. Azka dengan mata pandanya pergi menuju sekolah. Sungguh, dia merasa sangat kelelahan karena sudah 10 jam sebelumnya bergadang di Warnet. Bagi Azka, itu satu-satunya cara untuk menghibur batinnya yang lebur. Mengingat pertengkaran kedua orangtuanya selalu menjadi tontonan utama ketika dia pergi dan pulang dari sekolah. Ia takut jika pertengkaran itu terus berlanjut, akan mengakibatkan putusnya ikatan keluarga yang dulu hangat telah mengarungi waktu 18 tahun lamanya.

Dulu, sebelum pertengkaran orangtuanya dimulai, Azka adalah anak yang memiliki akhlak baik, terdidik oleh pengajian yang rutin diikutinya tiap minggu, terutama Azka selalu mendapat wejangan-wejangan religi dari seseorang yang Azka kenal sebagai Mbah. Ilmu-ilmu keagamaan banyak yang ia resapi dari sang Mbah tersebut. Beliau adalah seorang Kyai bagi Azka yang senantiasa mendidik Azka dengan penuh kesabaran, Mbah selalu ada ketika Azka tengah membutuhkan nasihatnya. Sehingga masih beruntung Azka ditengah kesemerawutan hatinya masih bisa menjaga jati dirinya sebagai seorang Muslim karena pepatah sang Mbah, dengan bukti shalat lima waktu yang tak pernah putus. Meski kini dia mulai meninggalkan ibadah sunnah dan pengajian yang dulu ia minati.

*****

“PprraaaakkkKK..!!” terdengar suara gelas pecah di dalam rumah sederhana di pedesaan sore itu.

Terlihat Azka tengah membuka sepatunya hendak memasuki rumah yang kini sedang menjadi sorotan mata para tetangga di balik tirai rumah mereka masing-masing. Gema teriak tak terbendung, langit seakan gelap di harinya yang cerah, burung-burung enggan singgah di atap rumah yang sedang dilanda amukan jiwa-jiwa haus keramaian.

“Assalamu’allaikum..” Azka memasuki rumah dengan tertunduk. Tak ada yang menjawab, hanya terdengar gonggongan dari suara kedua orangtua yang berusaha mengacuhkan salamnya.

Berjinjit melewati pecahan-pecahan gelas itu, Azka berusaha memasuki area aman, yakni kamarnya itu sendiri. Mengunci, Azka kini duduk tertunduk dengan wajah mulai memerah. Rapatnya pintu kamar Azka tidak mampu meredam berisiknya mulut tetua yang saling mengoceh berbalas hancur asa. Azka menutup kedua telinga “Berisik..!!” gumamnya. “Brraaaggggkkkk…!!” Suara gebrakan meja mulai ikut meramaikan suasana senja. Kini kedua matanya tertutup, dengan tangan yang masih menutup telinga, berharap bahwa ini semua hanyalah mimpi. Kemudian, lagi air mata Azka untuk yang kesekian kalinya mengalir deras tanpa ada yang memperdulikannya. Azka mengganti posisi duduknya dengan berbaring. Tak ada yang bisa mengobati hatinya yang luka, kecuali dengan tidur ia bisa melupakan semuanya, walaupun hanya sesaat.

*****

Hari-hari Azka lalui masih dengan kehancuran yang sama, hatinya gundah, sesekali ia sebut asma Allah. Mungkin saat ini Allah tengah melihat, sejauh mana Azka mampu melewati cobaan dari-Nya. Batinnya percaya, bahwa Allah selalu ada, Dia memiliki sebuah rencana indah untuk Azka.

Azka bertemu lagi dengan malam. Ia diam-diam pergi dari rumah, mengunci kembali pintu rumahnya perlahan, kemudian melangkahlah kakinya menuju satu tujuan. Berjalan perlahan, ia tengadahkan kepalanya, melihat bintang-bintang silih ganti berkedip mesra, ia cemburu. Membantingkan pandangannya kearah seberang, ia melihat kunang-kunang terbang berarak, ia cemburu. Ia cemburu dengan damainya bintang, ia cemburu dengan ramahnya kunang-kunang, dan ia cemburu akan heningnya malam. Azka masih terus berjalan, angin malam membelai lembut rambut gondrongnya. Kedua tangannya yang berada di dalam saku celana, hanya berisikan uang sisanya. Sejauh perjalanan,tak terlalu banyak lalu lalang kendaraan, pukul 20:30 PM, akhirnya Azka pun sampai di gubuk Warnet itu lagi.

“Gil, hari ini pasang paket bergadang lagi yahh..” seru Azka sambil melepas kedua alasnya.

“Okeehhh, siap Ka. Kita main bareng lagi yah Ka?” Ragilpun memasang waktu di bilik yang biasa Azka tempati. Ya, PC di samping Operator Ragil.

“Loohh Gil, hari ini lumayan sepi yah, gak seperti biasanya. Cuman ada empat orang” Azka mulai memakai earphone, bersiap tenggelam dalam serunya deburan game peperangan.

Tak ada yang istimewa malam itu, yang paling terpenting permainan tersebut bisa membuat Azka senang, mengubur sejenak kenangan kelam di rumahnya. Hingga ketika waktu menunjukan pukul dua pagi tepat. Segerombolan orang masuk kedalam Warnet lengkap dengan botol arak yang mereka bawa.

“Itu yang Mbah sebut khamer, astagfirullah.. Jangan sampai aku seperti mereka, menyentuhnya saja pun aku tidak sudi!” pikir Azka.

Lima orang pembawa minuman keras itu terus meracau di dalam Warnet, berpidato bahasa kebun binatang, numpang gratis berselancar di layar komputer. Cangkang kacang dan sampah lainnya berserakan tanpa mereka indahkan. Kemudian, aksi gila merekapun dimulai. Mereka berhasil mencekok dua orang penyewa Warnet, terus beralih menuju meja Operator tempat Ragil terduduk. Dalam hati Azka geram, karena sahabatnya mereka sakiti. Namun apa daya, mereka berlima jauh lebih kuat, Azka takkan mampu menghabisi mereka. Sial! Dugaan Azka ternyata benar, mereka melirik meja Azka, kemudian mulai beralih. Disodorkannya sebotol penuh bau alkohol, lima pasang mata tengah mengerubuni diri Azka. Jantungnya berdebar keras, darahnya mulai memanas, dan air peluh mengucur dari keningnya deras. Azka sudah berjanji kepada Mbah tidak akan pernah menyentuh sedikitpun barang-barang haram. Dan janjinya itu kini harus ia tepati!.

“Wooyyy!! Buruan minum, atau kalau gak lu mati di sini!” suara itu keluar dari mulut yang Azka kira sebagai ketua dari gerombolan iblis itu.

“GAK!” jawab Azka tegas.

“Ngeyel lu ya! Mau mati di sini hah???”

“Bbrrruuuaaakkk..!!” suara meja dipukul keras hingga menggetarkan layar LCD itu.

Azka terperanjat, tapi itu tidak membuat ia gentar, karena ia pikir saudara-saudaranya di Palestina bisa mendapat gertakan yang lebih keras dari itu, bahkan para Syuhada masih tegap kokoh berdiri membela keimanan dan ketauhidan mereka dalam pendirian hingga menemui ajalnya. Azka melihat sosok Mbah di kejauhan, terdengar samar membisik: “Jangan sampai iblis dan syetan membeli keimananmu dengan segala tipu muslihat mereka”.

“Bbraaakkk..!!” Azka berdiri sambil membalas pukulan pada meja itu.

“Gue gak takut! Demi Allah..!! Sekalipun gue harus mati di sini, gue gak akan pernah menyentuh sedikit pun minuman najis seperti itu!!” Azka mengerahkan seluruh otot yang ada di lehernya untuk bertirak lantang memecah keheningan malam. Kelima orang itupun mengikuti berdirinya Azka.

Suasana mulai gerah, kini semua mata tertuju kearah Azka. Tangan-tangan mulai mengepal menunjukan urat-urat otot yang timbul kepermukaan isyarat kemarahan mereka berlima, hendak bersiap menyerang Azka yang kini tengah dalam posisi kuda-kudanya. Sementara di dalam hati Azka, seakan ratusan kali berdo’a meminta pertolongan dari Allah Swt.

“Hhheeii, Hheeii tunggu..!!” suara Ragil mengganggu konsentrasi mereka berenam.

“Dia anaknya Lurah desa ini, biarkan saja dia. Kalau nanti sampe Pak Lurah tahu di Warnet ini suka ada pesta miras, bisa-bisa Warnet ini ditutup dan kalian tidak bisa lagi main gratis di sini” lontar Ragil dengan mata yang sudah rada teler.

“Serius Lu?!” Teriak iblis berwujud manusia itu ke arah Ragil.

“Iya bang, gua serius” Rintih Ragil.

“Awas lu yah, kalau macem-macem bisa gue bunuh!” iblis itu memegang erat kerah kemeja Azka dan berlalu begitu saja meninggalkan seisi Warnet.

*****

Akhirnya, Azka merasa begitu sangat rapuh ketika mendengar kabar perceraian kedua orangtuanya. Sulit dibayangkan, keluarga yang sangat iya cintai kini harus berbelah-belah. Dunia sekan gelap, tak ada cahaya sedikitpun untuknya. Seringkali mempertanyakan di manakah keberadaan Allah? Apakah Allah sudah mulai meninggalkannya? Merasa hampa, kelam, hancur! Tak ada puing-puing yang bisa ia pungut dan pasang kembali seperti puzzle. Hari-harinya penuh dengan keputusasaan, seakan tak ada lagi gunanya untuk ia terus hidup.

Diterpa angin cilik langkahnya terkulai, suara merdu senandung rindu pun membuat ia menjerit rintih lara hati. Ia bantingkan pintu, ia pecahkan gelas, ia pukul batinnya yang payah, dan ia tenggelam dalam pesakitan ironi. Sekujur tubuhnya menggigil, bulir mata kini seperti terkail. Menangis darah, menganak dan mendanau luas hingga keringlah sumbernya.

Azka malang mulai memusuhi dunia, bahkan ia memusuhi dirinya sendiri. Sang Mbah hanya menggeleng kepayahan, melihat jiwanya sendiri berusaha melepaskan diri dari raganya. Akhirnya Mbah terjatuh, ia diinjak-injak habis oleh Azka. Azka benar-benar menderita stadium akhir, Mbah prihatin dengan kondisinya. Mbah mengusap dadanya, membelai ubun-ubunnya, menyuruhnya mengucapkan kalimat tauhid. Tapi lagi Mbah dibanting, sedangkan Azka masih dengan jeritan kesakitannya.

Jeritan kini beralih tangis sendu bernyaring pilu, Azka membawa sebilah pisau dapur menuju kamarnya. Ia pikir ia ingin istirahat, ia sudah ngantuk, ini sudah saatnya tidur. Mungkin kini keimanannya pun sudah padam.

Niat Azka kiat membulat, menghela nafas dengan satu kali tarikan lalu akan berakhir dengan kematian, pikirnya. Tapi, Mbah di sampingnya berbisik:

Kau pikir Rasulullah saw. akan menyambutmu di sana? Apa kau pikir Allah akan memasukanmu ke dalam surga? Azka.. Kau pikir dengan begitu semua masalah akan selesai? Tidak sayang.. Masalah yang sebenarnya yang akan kau temui adalah setelah kematianmu. Beruntunglah orang-orang yang bersahabat dengan aku, setelah merasakan manisnya iman, mereka akan menikmati indahnya surga. Celakalah kamu! Ayo teruskan, tuntaskan! Dan berakhirlah di neraka! Jangan harap akan mencicipi bau surga sekalipun. Kembalilah nak, peluklah aku, tanam kembali aku di dalam jiwamu. Ucap kembali kalimat Tauhid yang sering kau perjuangkan, beristigfarlah memohon ampun pada-Nya. Yakinlah ia dengan segala rencana indah-Nya, bersabarlah wahai diri.. Kau tidak sendiri selama kau memiliki aku, Imanmu!”

Azka menangis sejadi-jadinya, kali ini bukan karena perceraian kedua orangtuanya, tapi karena ia merasa dalam kubangan dosa, berharap Allah mengampuninya. Terjatuhlah pisau itu, masih bersih tanpa mencicipi darah si pendosa.

“Astagfirullaaahhhhh….!!” Berulang-ulang kali Azka menyebut nama Sang Esa, memohon ampunan, memohon perlindungan, dan memohon kasih sayang-Nya. Ia sadar Allah mempunyai satu rencana untuknya, dan semua rencana-Nya adalah indah, karena sejatinya Ia maha adil. Azka berpikir mungkin semua ini sebetulnya adalah ladang pahala baginya, jika ia bisa sabar. Dan Azka sadar ia hanya melihat dirinya sendiri, tanpa melihat keluar jendela sana. Mungkin saja di belahan tanah lain sana, ada seseorang yang lebih menderita daripadanya, karena di dunia ini tidak ada yang bisa lepas dari cobaan-Nya.

Perlahan tangisan Azka berhenti, ia tersenyum ikhlas dengan semua ini. beruntunglah Azka tidak terjerumus dengan bisikan setan yang menyesatkan, hampir saja Azka mati dan bermukim di neraka. Azka percaya, suatu saat nanti orangtuanya akan bersatu kembali, seandainyapun tidak, berarti itu ketetapan Allah yang terbaik. Dan satu hal yang tidak ingin ia lupakan lagi, Allah menyayanginya, dengan menghadirkan, menguatkan Mbah di kehidupannya. Ia pikir ia beruntung karena masih memiliki Mbah, keimanannya!.

“Dan Sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, ke­kurangan harta, jiwa dan buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar.” (QS. Al-Baqarah, 2: 155)

Azka pun yakin, sesuai dengan Firman Allah Swt. yang tertera abadi di dalam Al-Qur’an, surat Al-Baqarah ayat 286 : “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..” sampai detik ini ia tegar, menanti keindahan di sebaliknya.

By Muslim Nugraha, Penulis MADRASAH PENA

Editor, Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *