Di Akhir Amanah Kepemimpinan, Ketua Umum Himi Persis Sampaikan Pidato Pamitan

Ketua umum Himi Persis Lida Maulida, S.Kom.I telah genap menjalankan amanah kepemimpinan sejak 2016 hingga puncaknya September 2019 ini. Dalam Muktamar IX Himi Persis itu, Lida menyampaikan pidato pamitannya.

Sebagai organisasi kemahasiswaan selama 23 tahun berdiri, menurut Lida, Himi Persis senantiasa berkomitmen untuk menjadi gerakan keperempuanan yang terdepan dalam membangun tradisi intelektual, responsif terhadap problematika sosial dan terlibat aktif dalam wacana-wacana keislaman dan kebangsaan. Dari satu periode ke periode berikutnya, Himi Persis senantiasa mengelaborasi diri untuk semakin dewasa menghadapi tantangan zaman.

“Saya menyadari betul bahwa Himi Persis hari ini merupakan karya akumulatif antar generasi, hasil kerja keras para founding mother, generasi awal dan generasi-generasi selanjutnya hingga hari ini sampai pada periode kedelapan kepemimpinannya”, ungkap Lida, Sabtu (31/08/2019).

Ia kembali menuturkan, Himi Persis akan semakin meneguhkan identitasnya sebagai living organization, Himi Persis akan terus tumbuh, belajar dan menyesuaikan diri dengan tantangan zaman.

“Izinkan saya pada Muktamar ke IX ini untuk menegaskan bahwa ini adalah momentum yang tepat untuk kembali mengkontekstualisasikan arah perjuangan organisasi dengan merefleksikan segenap pencapaian yang kita raih sejauh ini”, ucap Lida.

Tema besar Muktamar Himi Persis IX yang diangkat tentang elaborasi perempuan, Islam dan Indonesia. Menurut Lida, secara substansial berbicara tentang spirit membangun pikiran-pikiran perempuan tentang Islam dan Indonesia. Sederhananya, Himi Persis ingin menghadirkan peran keummatan dan kebangsaan perempuan Indonesia untuk peradaban dunia.

Salah satu upaya fundamental dari Islam adalah keputusannya untuk menyangkal pandangan diskriminatif terhadap manusia berdasarkan jenis kelamin, di mana kaum perempuan sepanjang sejarah kemanusiaan dipandang tidak berharga dibanding laki-laki. Kaum perempuan diposisikan tak lebih dari sekedar mesin reproduksi manusia. Tak jarang mereka hanya dimanfaatkan sebagai alat pemuas kebutuhan biologis laki-laki semata. Mereka seringkali distereotipkan sebagai makhluk yang lemah, baik fisik, mental dan nalar.

Dalam kondisi seperti itu, Islam datang mengubah paradigma hegemonik-tiranik menjadi paradigma humanis-egaliter. Islam memandang laki-laki dan perempuan memiliki posisi dan peran yang sama. Laki-laki dan perempuan sama-sama sebagai hamba Allah SWT. Laki-laki dan perempuan sama kedudukannya sebagai khalifah. Laki-laki dan perempuan sama-sama menerima perjanjian primordial Allah SWT, sama-sama terlibat aktif dalam drama kosmis kehidupan, serta sama-sama berpotensi meraih prestasi di dunia dan akhirat.

Al-Qur’an pun sejak dini telah menggarisbawahi hal tersebut. Allah berfirman: ”Dan orang-orang mukmin lelaki dan orang-orang mukminah perempuan, sebagian mereka menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh yang makruf, mencegah yang mungkar, melaksanakan shalat, menunaikan zakat, dan mereka taat kepada Allah dan Rasul-Nya. Mereka itu akan dirahmati Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana” (QS. At-Taubah:71).

Ayat tersebut menjadi landasan teologis bahwa Islam telah menunjukan laki-laki dan perempuan sama martabatnya sebagai manusia, baik pada peringkat etika religius maupun pada peringkat fungsi sosial. Artinya, mengabaikan perempuan berarti mengabaikan setengah dari potensi masyarakat.

Berangkat dari landasan teologis tersebut, pada hari ini kami ingin menyampaikan bahwa Himi Persis memiliki semangat pertanggungjawaban untuk menghadirkan Islam yang ramah perempuan, Islam yang memajukan perempuan dan Islam yang memuliakan perempuan. Sehingga, semakin menguatkan peran perempuan terutama dalam konteks keummatan dan kebangsaan. Hamka pernah mengatakan, jika perempuannya baik, baiklah negara, dan jika mereka bobrok, bobrok pulalah negara. Mereka adalah tiang kata Hamka; dan biasanya tiang rumah tidak begitu kelihatan. Namun jika rumah sudah condong, periksalah tiangnya. Tandanya tiang nya yang lapuk. Semoga kita bisa menjadi tiang yang kuat dan mampu menopang Indonesia ke depan.

Ada Malahayati yang merupakan salah seorang perempuan pejuang yang berasal dari Kesultanan Aceh. Malahayati memimpin 2000 orang pasukan Inong Balee (janda-janda pahlawan yang telah tewas), mereka berperang melawan kapal-kapal dan benteng Belanda. Dia adalah laksamana perempuan pertama di dunia dan seorang petarung garis depan. Ada Dewi Sartika yang berjuang melalui jalur pendidikan. Mendirikan Sakola Istri dan ikut serta memajukan ribuan perempuan Indonesia pada masanya. Serta masih banyak perempuan dalam sejarah yang mengambil peran berjuang untuk Indonesia.

Berangkat dari kesadaran sejarah tersebut, di forum yang bersejarah itu, Lida menegaskan bahwa Himi Persis berkomitmen untuk melahirkan perempuan-perempuan pejuang. Bahwa Himi Persis berkomitmen untuk melahirkan perempuan-perempuan bangsa. Bahwa Himi Persis berkomitmen untuk melahirkan perempuan-perempuan peradaban.

“Perkenankan saya di bagian akhir ini yang mungkin juga adalah pidato pamitan saya sebagai ketua umum Pimpinan Pusat Himi Persis Masa Jihad 2016-2019 sekaligus juga pamit sebagai kader Himi Persis, tapi insha Allah tetap menjadi warga jamiyyah Persis,”

“Saya ingin menyampaikan terima kasih dengan sangat kepada seluruh kader Himi Persis. Sekaligus saya ingin mengajak seluruh kader untuk mari kembali ke khittah perjuangan dengan senantiasa menjadikan Islam sebagai sumber nilai, motivasi dan inspirasi demi menyongsong seabad Persatuan Islam untuk Indonesia yang lebih baik”, pungkas Lida Maulida. (*)

Sebarkan Tulisan ini

sigabah.com | persis.or.id

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *