DEBAT CAPRES DAN NARASI TERORISME RADIKALISME

Saya tidak nonton acara depat capres, kecuali hanya 5 menit saat mampir di warung makan, sepulang dari mangajar di kampus. Tapi sebelumnya saya sempat menulis catatan untuk debat capres berjudul Membangun Perdebatan Politik yang Ideologis dan Paradigmatik. Saya hanya dapat moment sebentar saat debat dengan sub tema terorisme dan radikalisme.

Ma’ruf Amin mengatakan bahwa jihad bukanlah terorisme. Itu haram dilakukan. orang yang melakukan kerusakan di bumi harus dihukum berat. Sementara Prabowo lebih melihat terorisme sebagai sebuah rekayasa dari luar Islam. Dia menolak jika istilah terorisme disematkan kepada Islam dan muslim.

Jihad adalah ajaran Islam, sementara terorisme bukanlah ajaran Islam. Jihad adalah kemuliaan, sementara terorisme kejahatan. Jihad adalah perintah Allah, sementara terorisme adalah perintah setan. Istilah jihad berasal dari epistemologi al Qur’an, sementara terorisme dari epistemologi Barat.

Karena itu keduanya harus berani melawan hegemoni Barat yang terus membangun narasi jahat terhadap Islam dan kaum muslimin. Jangan justru mendukung segala bentuk kriminalisasi dan persekusi dakwah Islam. Sebab membubarkan ormas Islam adalah bentuk kezoliman kepada Islam dan kaum muslimin.

Ada yang perlu diketahui oleh kedua capres dan pasangannya, bahwa Al Qur’an tidak pernah mengajarkan terorisme. Istilah terorisme sendiri berasal dari istilah Barat, dimana Barat juga punya ukuran sendiri untuk menyatakan tindakan sebagai aksi terorisme atau aksi kriminal biasa.

Penting juga diketahui bahwa Barat punya kepentingan ideologis terkait dengan istilah terorisme ini. Terorisme bagi Barat hanya disematkan kepada Islam, bukan kepada yang lain. Framing jahat Barat atas kaum muslim inilah yang semestinya dipahami dengan baik oleh kedua capres tersebut.

Istilah-istilah buatan Barat seperti moderatisme, terorisme, radikalisme, sekulerisme, liberalisme dan pluralisme yang disematkan kepada Islam hanyalah cara Barat untuk membangun polarisasi di antara kaum muslimin. Akibatnya diantara kaum muslimin terjadi pecah-belah dan permusuhan.

Yang harus disayangkan adalah jika ada seorang muslim termakan pancingan Barat untuk ikut membangun narasi terorisme sama dengan Islam atau muslim. Manusia jahat selamanya akan jahat, jika tak bertobat. Jika penyakit hati telah menghitam dan berkarat hingga ke otak, maka libido kebencian terus berkobar.

Yang jadi persoalan adalah ketika seorang muslim menuduh saudaranya yang ingin memperjuangkan Islam sebagai radikalisme. Yang lebih parah adalah jika ada seorang muslim yang mengatakan bahwa panji tauhid adalah bendera teroris.

Mereka adalah gerombolan manusia munafik yang mengisi perutnya dari hasil menfitnah Islam. Pada saat terjadi aksi terorisme yang menelan banyak korban, semua agama mengutuk dan mengecam aksi barbar tersebut.

Bahkan saat ormas-ormas keagamaan mengutuknya aksi terorisme, mereka justru sibuk membuat framing jahat dan fitnah busuk terhadap Islam dan kaum muslim. Mereke hobby memancing di air keruh.

Framing busuk terhadap gerakan dakwah Islam terus mereka lontarkan sebusuk hati dan otak mereka. Disaat manusia berduka atas tragedi kemanusiaan dari teroris tak bertuhan, mereka justru pesta pora menebar fitnah.

Dari lontaran fitnah, nampak kebodohan dan kejahatan mereka, begitulah karakter kemunafikan sejak zaman Nabi. Kepada gerombolan munafik menebar fitnah kepada Islam dan kaum muslim, telah diperingatkan Allah dalam Al Qur’an bahwa tujuan mereka adalah menghalangi dakwah tegaknya Islam.

Abdullah bin Ubay, gembong munafik telah membangun narasi jahat terkait perang Uhud yang mengakibatkan 300 tentara muslim lari dari peperangan mengkhianati Rasulullah.

Apakah kamu tidak memperhatikan orang-orang yang mengaku dirinya telah beriman kepada apa yang diturunkan kepadamu dan kepada apa yang diturunkan sebelum kamu? Mereka hendak berhakim kepada thaghut, padahal mereka telah diperintah mengingkari thaghut itu. Dan setan bermaksud menyesatkan mereka (dengan) penyesatan yang sejauh-jauhnya [QS An Nisaa : 60]

Apabila dikatakan kepada mereka: “Marilah kamu (tunduk) kepada hukum yang Allah telah turunkan dan kepada hukum Rasul”, niscaya kamu lihat orang-orang munafik menghalangi (manusia) dengan sekuat-kuatnya dari (mendekati) kamu [QS An Nisaa : 61].

Terorisme adalah perilaku keji dan biadab, namun framing jahat terhadap Islam lebih keji dan biadab. Sebab fitnah lebih kejam dari pembunuhan.

Dalam Islam, sifat kemunafikan ditempatkan sebagai perilaku yang lebih keji dari kekufuran. Sebab musuh dalam selimut lebih berbahaya dibanding musuh di luar selimut.

Kesibukan mereka menfitnah Islam dan kaum muslimin akan membawa mereka kepada kesengsaraan dan kehinaan. Sebab Islam ya Islam yang akan dijaga oleh Allah dan para pejuangNya.

Fitnah terhadap Islam adalah kondisi permanen hingga ujung masa. Sebab musuh-musuh Allah tak akan pernah rela terhadap Islam, hingga kaum muslimin masuk dalam perangkap mereka.

Sejak zaman Rasulullah, dakwah dan perjuangan beliau juga mendapatkan fitnah keji, ancaman dan persekusi hingga upaya boikot. Hal ini bukan karena Rasulullah salah, tapi justru karena Rasulullah berjalan di atas jalan yang benar.

Hanya saja manusia jahat yang berjalan di jalan yang salah merasa terganggu dengan kebaikan, sebab mereka terbiasa hidup dalam kubangan kebusukan. Mereka takut kehilangan tahta dan dunia, jika Islam tegak di bumi Allah.

Maka, biarkan mereka berbuat jahat sepuasnya menfitnah Islam, lempar batu sembunyi tangan. Sampai kapan ?. Sampai tanah menyumpal mulut mereka di alam kubur.

Sebab Islam tetap akan dimenangkan oleh Allah dan kebatilan akan tetap terjungkal, tersungkur dan terhina. Semoga kita berada dalam barisan pejuang-pejuang agama Allah dengan gelora dakwah dan jihad, hingga Islam tegak di muka bumi, atau kita mati di jalan perjuangan ini.

By Ahmad Sastra

*[AhmadSastra,KotaHujan,17/01/19 : 22.50 WIB]*.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *