DALAM PEMULIAAN SYA’BAN, SYI’I MEMBEDAI NABI

Bulan Sya’ban dipandang sebagai “Bulan Suci” bagi umat Syiah, karena pada bulan itu terjadi peristiwa yang dianggap istimewa untuk mengukuhkan keyakinan dan eksistensi mereka. Peristiwa dimaksud adalah kelahiran dua Imam dari rangkaian 12 Imam yang diklaim maksum oleh mereka. Pertama, Husen Ra., yang diklaim Imam ke-3. Ia dilahirkan di Madinah hari Kamis 3 Sya’ban tahun 4 H., sebagaimana dinyatakan Sayyid Ibnu Thawis al-Hasaniy (Iqbaal al-A’maal, V:466), serta dikukuhkan oleh Ath-Thabarsi (I’lam al-Waraa bi A’laam al-Hudaa, hlm. 215) dan Syekh Abbas al-Qummiy (Mafaatiih al-Jinaan, III:295); Kedua, Muhammad bin al-Hasan al-‘Askari, yang diklaim Imam ke-12. Ia dilahirkan di Samara Irak, malam Jumat 15 Sya’ban 255/256 H. sebagaimana dinyatakan oleh Muhaddits Syiah, Muhammad bin Ali ash-Shaduq (Kamaal ad-Diin wa Tamaam an-Ni’mah, hlm. 424), serta dikukuhkan oleh Syekh Salim ash-Shafar an-Najafi (Mawsu’ah al-Imam al-Mahdi min al-Mahd ilaa Yawm al-Qiyaamah, hlm. 16). Imam ke-12 ini digelari dengan al-Mahdi, al-Khaatam, al-Muntazhar, al-Hujjah, al-Qaa’im, ash-Shaahib.

Motivasi primer umat Syi’ah dalam pemuliaan Sya’ban itu tampak jelas terbaca dalam beragam ritual dan untaian doa yang dipanjatkan kaum Syiah di bulan ini, khususnya di hari ketiga dan malam nisfu Sya’ban. Misalnya, pada hari ketiga Sya’ban, sehubungan dengan kelahiran Husen Ra., Radio Iran Indonesia (IRIB) menuturkan propaganda berikut ini:

“Oleh karena itu, kaum Muslim dan para pecinta Ahlul Bait as memilih berpuasa pada hari itu sebagai rasa syukur atas kelahiran Imam Husein as, dan mereka membaca doa ini;

اَللّهُمَّ اِنّى اَسْئَلُکَ بِحَقِّ الْمَوْلُودِ فى هذَا الْیَوْمِ… اَللّهُمَّ فَصَلِّ عَلى مُحَمَّدٍ وَ عِتْرَتِهِ وَ احْشُرْنا فى زُمْرَتِهِ وَ بَوِّئْنا مَعَهُ دارَ الْکَرامَةِ وَ مَحَلَّ الاِقامَةِ. اَللّهُمَّ وَ کَما اَکْرَمْتَنا بِمَعْرِفَتِهِ فَاَکْرِمْنا بِزُلْفَتِهِ وَ ارْزُقْنا مُرافَقَتَهُ وَسابِقَتَهُ وَ اجْعَلْنا مِمَّنْ یُسَلِّمُ لاِمْرِهِ وَیُکْثِرُ الصَّلوةَ عَلَیْهِ عِنْدَ ذِکْرِهِ وَ عَلى جَمیعِ اَوْصِیاَّئِهِ وَ اَهْلِ اَصْفِیاَّئِهِ… اَللّهُمَّ وَهَبْ لَنا فى هذَا الْیَوْمِ خَیْرَ مَوْهِبَةٍ وَاَنْجِحْ لَنا فیهِ کُلَّ طَلِبَةٍ کَما وَهَبْتَ الْحُسَیْنَ لِمُحَمَّدٍ جَدِّهِ…”

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu dengan kebenaran bayi yang lahir pada hari ini… Ya Allah, sampaikanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarganya serta kumpulkanlah kami dengan golongannya dan berilah tempat kepada kami bersamanya di surga dan rumah abadi. Ya Allah, sebagaimana Engkau telah memuliakan kami dengan pengetahuannya, maka muliakanlah kami dengan kedekatan dengannya dan karuniakanlah kami persahabatan dengannya. Dan jadikanlah kami sebagai orang-orang yang tunduk pada perintahnya dan orang-orang yang memperbanyak shalawat kepadanya dan kepada para aulianya ketika mendengar namanya… Ya Allah, berikanlah kepada kami pada hari ini pemberian terbaik dan penuhilah setiap permintaah kami di dalamnya sebagaimana Engkau memberikan Husein kepada Muhammad, kakeknya…”

Sementara pada malam nisfu Sya’ban, sehubungan dengan kelahiran Imam Mahdi versi mereka, IRIB membuat propaganda berikut ini:

“Tidak diragukan lagi bahwa sebagian waktu lebih utama dari sebagian yang lain. Semua detik-detik di sepanjang bulan Ramadhan, malam Lailatul Qadar, malam Bitsat (pengutusan) Nabi Saw, Hari Raya Ghadir dan… adalah termasuk momen-momen yang sarat keutamaan. Akan tetapi, terlepas dari kemuliaan inheren yang dimiliki oleh sebagian hari, ada peristiwa-peristiwa penting yang turut menambah keagungan hari-hari tersebut. Pertengahan bulan Sya’ban juga termasuk di antara hari-hari yang paling mulia dan diagungkan dalam Islam, dan kemuliaan itu semakin lengkap dengan peristiwa kelahiran Imam Mahdi as. Masyarakat akan memperoleh keberkahan terbesar dengan kelahiran seorang wali Allah Swt, sebab ia adalah manusia terbaik di muka bumi dan kehadirannya akan menebarkan berkah bagi semua penduduk planet ini.” Silahkan cek di sini

Propaganda Syiah tampak jelas ketika kita telusuri jejak pelaksanaan ritual dan untaian doa mereka sejatinya tidak merujuk kepada petunjuk Rasulullah saw., sebagai “penghulu Ahlul Bait”, namun berdasarkan beberapa riwayat yang dinisbatan kepada para imam mereka yang diklaim maksum, khususnya Ali Zaenal Abidin, diklaim Imam ke-4, dan Ja’far ash-Shadiq, diklaim Imam ke-6. Menurut riwayat para imam mereka, amal-amal di bulan Sya’ban meliputi istigfar, shadaqah, berdoa, dan shaum.

Misalnya tokoh hadis Syiah, Syekh Abbas al-Qummi  (Lahir 1294 H dan wafat 1359 H), dalam kitabnya Mafaatiih al-Jinaan, dengan merujuk kepada sejumlah riwayat imam Syiah, membagi amal pemuliaan di bulan Sya’ban menjadi dua jenis: (1) amal-amal umum yang dilakukan pada semua hari bulan Sya’ban, (2) amal-amal khusus pada hari-hari dan malam-malam tertentu bulan itu. Amal umum, menurut Syekh Abbas, meliputi 8 bentuk:

Pertama, setiap hari, mengucapkan:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ وَ أَسْأَلُهُ التَّوْبَةَ

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah dan bertaubat kepada-Nya), sebanyak 70 kali.”

Kedua, setiap hari beristigfar sebanyak 70 kali dengan mengucapkan:

أَسْتَغْفِرُ اللَّهَ الَّذِي لا إِلَهَ إِلا هُوَ الرَّحْمَنُ الرَّحِيمُ الْحَيُّ الْقَيُّومُ وَ أَتُوبُ إِلَيْهِ.

Artinya: “Aku memohon ampun kepada Allah yang tiada tuhan selain Dia. Yang Maha Pengasih. Maha Penyayang. Yang Mahahidup dan Maha Berdiri Sendiri dan aku bertaubat kepada-Nya.”

Menurut Syekh Abbas, tentang keutamaan berdoa dan berzikir di bulan Sya’ban disebutkan dalam beberapa riwayat, antara lain: “Barangsiapa istighfar tujuh puluh kali setiap hari pada bulan ini, ia seperti orang yang istighfar tujuh puluh ribu kali di bulan yang lain.”

Tampaknya keutamaan ini bersumber riwayatkan yang dinisbatkan kepada Ja’far Ash-Shadiq, antara lain diriwayatkan Syekh Shaduq (lihat, Fadhaa’il al-Asyhur ats-Tsalaatsah, hlm. 82, No. 34)

Ketiga, bersedekah sekalipun dengan separuh biji kurma, agar Allah menyelamatkan jasadnya dari api neraka. Ritual sedekah Sya’ban ini, menurut Syekh Abbas merujuk kepada petunjuk Ja’far Ash-Shadiq

Keempat, membaca zikir berikut ini sebanyak 1000 kali:

لا إِلهَ إِلاّ الله وَلا نَعْبُدُ إِلاّ إِيَّاهُ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ وَلَوْ كَرِهَ المُشْرِكُونَ

Artinya: “Tiada Tuhan kecuali Allah, kami tidak menyembah kecuali kepada-Nya dengan ikhlas menjalankan agama-Nya walaupun orang-orang musyrik membenci.”

Menurut Syekh Abbas, amalan yang mulia ini memiliki pahala yang sangat besar, dan pahalanya seperti pahala orang yang beribadah 1000 tahun.

Kelima, melakukan shalat dua rakaat setiap hari Kamis bulan Sya’ban. Caranya, setiap rakaat membaca surat Fatihah dan surat Al-Ikhlash sebanyak 100 kali. Kemudian setelah salam membaca shalawat kepada Nabi dan keluarganya sebanyak 100 kali. Orang yang mengamalkan amalan ini Allah akan memperkenankan hajatnya yang berkaitan dengan agama dan dunia. Selain itu, disunnahkan juga berpuasa sebagaimana disebutkan di dalam hadis: “Pada setiap hari Kamis bulan Sya’ban langit dihias dan para Malaikat berdoa, ‘wahai Tuhanku, ampunilah orang yang berpuasa pada hari ini dan perkenankan doanya’.”

Keenam, memperbanyak baca shalawat kepada Nabi dan keluarganya.

Ketujuh, setiap hari di bulan Sya’ban begitu masuk waktu Zhuhur dan pada pertengahan malam (Nisfu Sya’ban) membaca shalawat sebagaimana dicontohkan oleh Ali Zainal Abidin as Sajjad, diklaim Imam ke-4, dengan redaksi antara lain sebagai berikut:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ شَجَرَةِ النُّبُوَّةِ وَ مَوْضِعِ الرِّسَالَةِ وَ مُخْتَلَفِ الْمَلائِكَةِ وَ مَعْدِنِ الْعِلْمِ وَ أَهْلِ بَيْتِ الْوَحْيِ…

Artinya: “Ya Allah, curahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, pohon kenabian, tempat kelahiran risalah, tempat para malaikat datang silih berganti, sumber-sumber ilmu, dan keluarga wahyu….”

Kedelapan, membaca Munajat Sya’baniyah, yang diklaim sebagai munajat Ali bin Abi Thalib dan para imam sesudahnya, dengan redaksi antara lain sebagai berikut:

اَللَّهُمَّ صَلِّ عَلَى مُحَمَّدٍ وَ آلِ مُحَمَّدٍ، وَ اسْمَعْ دُعَائِيْ إِذَا دَعَوْتُكَ، وَ اسْمَعْ نِدَائِيْ إِذَا نَادَيْتُكَ، وَ أَقْبِلْ عَلَيَّ إِذَا نَاجَيْتُكَ، فَقَدْ هَرَبْتُ إِلَيْكَ وَ وَقَفْتُ بَيْنَ يَدَيْكَ مُسْتَكِيْنًا لَكَ مُتَضَرِّعًا إِلَيْكَ رَاجِيًا لِمَا لَدَيْكَ ثَوَابِيْ

Artinya: “Ya Allah, Curahkanlah shalawat atas Muhammad dan keluarga Muhammad, dengarkanlah doaku ketika aku berdoa kepada-Mu, dengarkanlah seruanku ketika aku menyeru-Mu, dan menghadaplah kepadaku ketika aku memanggil-Mu. Aku telah lari ke (haribaan)-Mu dan berdiri di hadapan-Mu dengan merendahkan diri kepada-Mu dan mengharap pahalaku karena rahmat luas yang ada di sisi-Mu…”

Selanjutnya, Syekh Abbas al-Qummi menyebutkan bentuk-bentuk amal khusus pada hari-hari dan malam-malam tertentu bulan Sya’ban, antara lain (1) pada hari ketiga, yang disebut “Hari Berkah” oleh kaum Syiah, sebagai hari kelahiran Husen Ra. Karena itu dianjurkan shaum dan membaca doa dengan redaksi yang telah disebutkan di atas; (2) pada malam Nisfu Sya’ban, sebagai “malam super mulia (Baalighah asy-Syarf)” dan “Super Berkah (‘Azhiim Barakaat”), karena kelahiran “penguasa waktu” dan “Imam Zaman”, Imam Mahdi. Karena itu dianjurkan pada malam itu untuk melakukan amal khusus dalam 15 bentuk, antara lain menziarahi Husen dan Imam Ghaib al-Mahdi dengan doa khusus. Uraian lebih lengkap Syekh Abbas silahkan cek dalam kitabnya Mafaatiih al-Jinan di sini

dan cek ringkasan terjemahnya di sini

Dari uraian di atas tampak jelas perbedaan motif dan bentuk ritual kaum Syiah dalam pemuliaan Sya’ban dengan Nabi saw. Silahkan cek kembali di sini, Begitu pula dengan sikap para sahabat umumnya dan Ahlul Bait Nabi khususnya. Bahkan, jika merujuk kepada Ali dan kedua anaknya, Hasan dan Husen, sosok yang dianggap suci oleh kaum Syiah yang mengklaim pecinta Ahlul Bait, kita tidak pernah mendapatkan keterangan bahwa mereka menghubungkan kemuliaan bulan Sya’ban dengan hari kelahirannya.

Jadi, pemuliaan Sya’ban dengan beragam ritual dan doa di dalamnya atas nama kelahiran Husen dan Imam Mahdi mereka, juga atas nama kemulian Ahlul Bait sejatinya tidak memiliki pijakan yang kokoh dari kacamata Ahlul Bait itu sendiri. Atas dasar itu, tak berlebihan kiranya untuk dikatakan bahwa di balik pemuliaan bulan Sya’ban itu tentu saja kaum syiah memiliki motif tersendiri: “promosi ajaran Syiah dan eksistensi imamah Syiah.” Wallaahu A’lam.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *