BERKOMUNIKASI SESUAI PETUNJUK ILAHI

Kemampuan untuk berkomunikasi secara efektif diperlukan untuk menyampaikan pikiran dan visi kepada orang lain. Tanpa komunikasi, tidak ada cara untuk mengungkapkan pikiran, gagasan dan perasaan. Fungsi komunikasi menjadi lebih penting ketika kita berada pada sebuah misi untuk mencapai tujuan mulia.

Jika kita “berkomunikasi” dengan sîrah (perjalanan hidup) Nabi saw., pada dasarnya sîrah itu menyampaikan pesan kepada kita bahwa keberhasilan dakwah Nabi saw. tidak lepas dari ke­mam­puan beliau dalam mengomunikasikan ajaran-ajaran Ilahi dengan baik, yang ditopang dengan keteguhan iman dan keluhuran budi pekerti. Di situ pula akan dijumpai bahwa keberhasilan itu karena beliau menerapkan seluruh prinsip-prinsip komunikasi dalam al-Qur’an secara konsisten.

al-Qur’an tidak memberikan uraian secara spesifik tentang komunikasi. Kata ‘komunikasi’ berasal dari bahasa Latin, communicatio, dan bersumber dari kata cummunis yang ber­arti sama, maksudnya sama makna. Artinya, suatu komunikasi dikatakan komunikatif jika antara masing-masing pihak mengerti bahasa yang digunakan, dan paham terhadap apa yang diperbincangkan.

Meskipun al-Qur’an secara spesifik tidak membi­ca­rakan masalah komunikasi, namun jika diteliti (ada) banyak ayat yang memberikan gambaran umum prinsip-prinsip komunikasi. Prinsip-prinsip itu dapat disarikan menjadi enam konsep: (1) qaulan balîghan, (2) qaulan maisûran, (3) qaulan karîman, (4) qaulan ma’rûfan, (5) qaulan layyinan, (6) qaulan sadîdan

 

  1. Prinsip Qaul Balîgh ( an-Nisâ’: 62-63)

Kata balīgh, oleh para ahli bahasa dipahami sampainya sesuatu kepada sesuatu yang lain. Juga bisa dimaknai dengan “cukup” (al-kifāyah). Sehingga perkataan yang balīgh adalah perkataan yang merasuk dan membekas dalam jiwa. Sementara menurut ar-Raghib al-Ashfahani, bahwa perkataan tersebut me­ngan­dung tiga unsur utama: (1) bahasanya tepat, (2) sesuai dengan yang dikehendaki, dan (3) isi perkataannya adalah suatu kebenaran.

 

  1. Prinsip Qaul Karîm (QS al-Isrâ’: 23)

Qaul karīm adalah suatu perkataan yang menjadikan pihak lain tetap dalam kemuliaan, atau perkataan yang membawa manfaat bagi pihak lain tanpa bermaksud merendahkan.

Qaul karīm dalam konteks hubungan dengan kedua orang tua, pada hakikatnya adalah tingkatan yang tertinggi yang harus dilakukan oleh seorang anak. Yakni, bagaimana ia berkata kepadanya, namun keduanya tetap merasa dimuliakan dan dihormati.

 

  1. Prinsip Qaul Maisūr (QS. al-Isra’: 28)

Qaul maisūr adalah segala bentuk perka­taan yang baik, lembut, dan melegakan. Seperti saat kita tidak bisa memberi atau mengabulkan permintaan karena memang tidak ada, maka sampaikan dengan perkataan yang baik dan alasan-alasan yang dimengerti.

 

  1. Prinsip Qaul Ma’ruf

Disebutkan sebanyak empat kali: QS. al-Baqarah: 235, an-Nisâ’: 5 dan 8, al-Ahzâb: 32.

Imam Fakhruddin ar-Razi menjelaskan, qaul ma’rûf, dalam beberapa konteks berbeda, dapat dimaknai:

  • perkataan yang baik, yang menancap ke dalam jiwa, sehingga yang diajak bicara tidak merasa dianggap bodoh (safîh);
  • perkataan yang mengandung penyesalan ketika tidak bisa memberi atau membantu;
  • Perkataan yang tidak menyakitkan dan yang sudah dikenal sebagai perkataan yang baik.

 

  1. Prinsip Qaul Layyin (QS. Thâhâ: 44)

Qaul layyin adalah perkataan yang mengan­dung anjuran, ajakan, pemberian contoh, di mana si pembi­cara berusaha meyakinkan pihak lain bahwa apa yang disampaikan adalah benar, dengan tidak bermaksud merendahkan pendapat atau pandangan orang yang diajak bicara tersebut.

 

  1. Prinsip Qaul Sadîd (QS an-Nisa’/4: 9; QS. al-Ahzâb: 70)

Qaul sadīd menduduki posisi yang cukup penting dalam konteks kualitas keimanan dan ketaqwaan seseorang. Qaul sadid dapat digunakan dalam beragam makna, antara lain perkataan yang memiliki kesesuaian antara yang diucapkan dengan apa yang ada di dalam hatinya.

Dalam berkomunikasi, selain menganjurkan agar memperhatikan enam prinsip di atas, Al-Qur’an juga mengingatkan agar menghindari bentuk komunikasi yang disebut dengan qaul zûr (QS. al-Hajj: 30)

Qaul zūr dimaknai kizb (dusta), karena menyimpang atau melen­ceng dari yang semestinya. Qaul zūr juga dimaknai mengharamkan yang  halal atau sebaliknya; serta saksi palsu.

Agar komunikasi dapat digunakan secara efektif atau adanya perubahan (effect) baik pengetahuan, perilaku, atau sikap, maka secara praktik Nabi saw. telah memberikan panduan:

مَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِالله وَالْيَوْمِ الآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ لِيَصْمُتْ

“Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari kemudian, hendaklah berbicara secara efektif atau diam.” HR. Al-Bukhari

Saat komunikasi sudah sesuai dengan prinsip-prinsip Ilahi, maka hakikatnya komunikasi kita telah bernilai surgawi, meski suatu saat pesan yang hendak disampaikan belum diterima dan dipahami dengan baik oleh orang lain.

 

Sumber: Buletin Humaira, Edisi 4 Juni 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *