BERDOA PADA LAILATUL QADAR

Dalam Al-Quran, Allah Swt berfirman :

وَإِذَا سَأَلَكَ عِبَادِي عَنِّي فَإِنِّي قَرِيبٌ أُجِيبُ دَعْوَةَ الدَّاعِ إِذَا دَعَانِ فَلْيَسْتَجِيبُوا لِي وَلْيُؤْمِنُوا بِي لَعَلَّهُمْ يَرْشُدُونَ

“Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (jawablah) bahwa Aku ini Maha Dekat. Aku akan mengabulkan permohonan orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku, maka hendaklah mereka memenuhi segala perintah-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk.” QS. Al-Baqarah: 186

Ayat tersebut ditempatkan di antara ayat-ayat shaum, namun ia tidak berbicara tentang shaum. Penempatan atau penyisipan ayat itu pada pembahasan tentang shaum tentu bukan suatu kebetulan ataupun ketidaksengajaan, namun mempunyai rahasia atau maksud tersendiri. Sehubungan dengan itu, Imam al-Baidhawi menjelaskan mengenai aspek hubungan ayat ini dengan ayat-ayat shaum sebelumnya, sebagai berikut:

وَاعْلَمْ أَنَّهُ – تَعَالَى – لَمَّا أَمَرَهُمْ بِصَوْمِ الشَّهْرِ وَمُرَاعَاةِ الْعِدَّةِ وَحَثَّهُمْ عَلَى الْقِيَامِ بِوَظَائِفِ التَّكْبِيْرِ وَالشُّكْرِ عَقَبَهَ بِهَذِهِ الآيَةِ الدَّالَّةِ عَلَى أَنَّهُ خَبِيْرٌ بِأَحْوَالِهِمْ سَمِيْعٌ لِأَقْوَالِهِمْ، مُجِيْبٌ لِدُعَائِهِمْ، مُجَازٌ عَلَى أَعْمَالِهِمْ تَأْكِيْدًا لَهُ وَحَثًّا عَلَيْهِ

“Dan ketahuilah bahwa Allah Swt. tatkala memerintahkan mereka untuk shaum pada bulan itu, memperhatikan bilangannya, menganjurkan mereka untuk menunaikan fungsi-fungsi takbir dan syukur, lalu Allah mendatangkan ayat ini yang menunjukkan bahwa Allah Maha Mengetahui keadaan mereka, Maha Mendengar perkataan mereka, Maha Mengabulkan doa mereka, Maha Membalas atas amal mereka, sebagai penguat dan anjuran atasnya.”[1]

Sementara dalam penjelasan Imam Ibnu Katsir:

وَفِي ذِكْرِهِ تَعَالَى هَذِهِ الْآيَةَ الْبَاعِثَةَ عَلَى الدُّعَاءِ مُتَخَلَّلَةً بَيْنَ أَحْكَامِ الصِّيَامِ إِرْشَادٌ إِلَى الِاجْتِهَادِ فِي الدُّعَاءِ عِنْدَ إِكْمَالِ الْعِدَّةِ بَلْ وَعِنْدَ كُلِّ فِطْرٍ

“Dan pada penyebutan-Nya ayat ini, yang menganjuran untuk berdoa, di sela-sela hukum-hukum shaum mengandung petunjuk agar berdoa dengan sungguh-sungguh di saat menyempurnakan bilangan Ramadhan, dan bahkan di setiap berbuka.”

Selanjutnya, Imam Ibnu Katsir menyebutkan beberapa dalil, antara lain:

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّه صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: لِلصَّائِمِ عِنْدَ إِفْطَارِهِ دَعْوَةٌ مُسْتَجَابَةٌ. فَكَانَ عَبْدُ اللَّهِ بْنُ عَمْرٍو إِذَا أَفْطَرَ دَعَا أَهْله وَوَلَده

Dari Abdullah bin Amr, ia berkata, ‘Saya pernah mendengar Nabi Saw. Bersabda, ‘Bagi orang yang shaum terdapat doa yang dikabulkan saat berbukanya.” Maka Abdullah bin Amr apabila berbuka shaum beliau berdoa untuk keluarga dan anaknya.

 عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ عَمْرٍو قَالَ : قَالَ النَّبِيّ صَلَّى اللَّه عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: إِنَّ لِلصَّائِمِ عِنْدَ فِطْرِهِ دَعْوَةً مَا تُرَدُّ

“Dari Abdullah bin Amr, ia berkata, ‘Nabi saw. Bersabda, ‘Sesungguhnya bagi orang shaum di saat berbuka terdapat doa yang tidak ditolak (diijabah)’.”[2]

Penjelasan di atas menunjukkan bahwa pada bulan Ramadhan terdapat waktu dikabulkannya doa (saa’atul ijaabah), yakni saat berbuka shaum.

Selanjutnya, Imam Ibnu Katsir juga menjelaskan tentang waktu berdoa di bulan Ramadhan sehubungan dengan Lailatul Qadar. Beliau menyatakan:

الْإِكْثَارُ مِنَ الدُّعَاءِ فِي جَمِيْعِ الْأَوْقَاتِ وَفِي شَهْرِ رَمَضَانَ أَكْثَرُ وَفِي الْعَشْرِ الْأَخِيْرِ مِنْهُ ثُمَّ فِي أَوْتَارِهِ أَكْثَرُ وَالْمُسْتَحَبُّ أَنْ يُكْثِرَ مِنْ هَذَا الدُّعَاءِ

“Dianjurkan memperbanyak doa pada semua waktu, dan pada bulan Ramadhan lebih diperbanyak lagi, dan sepuluh terakhir dari Ramadhan lebih diperbanyak lagi, kemudian pada malam-malam ganjilnya lebih diperbanyak lagi. Dan disunatkan seseorang memperbanyak doa berikut:

اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf suka memberi maaf, maka maafkanlah daku.

Sebagaimana diriwayatkan oleh Imam Ahmad, lalu Imam Ibnu Katsir menyebutkan jalur periwayatannya secara lengkap hingga  Abdullah bin Buraidah.

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ : يَا رَسُوْلَ اللَّهِ إِنْ وَافَقْتُ لَيْلَةَ الْقَدْرِ فَمَا أَدْعُوْ ؟ قَالَ قُوْلِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Dari Abdullah bin Buraidah, bahwa Aisyah pernah bertanya, “Wahai Rasulullah, jika aku menjumpai malam kemuliaan, apakah yang harus aku ucapkan?” Rasulullah Saw. menjawab: Ucapkanlah olehmu, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf dan suka memaafkan, maka maafkanlah daku.”

Imam Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa hadis ini diriwayatkan pula oleh Imam at-Tirmizdi, Imam an-Nasai, dan Imam Ibnu Majah

عَنْ عَبْدِ اللَّهِ بْنِ بُرَيْدَةَ أَنَّ عَائِشَةَ قَالَتْ : قُلْتُ يَا رَسُوْلَ اللَّهِ أَرَأَيْت إِنْ عَلِمْت أَيَّ لَيْلَةٍ لَيْلَةَ الْقَدْر مَا أَقُول فِيهَا ؟ قَالَ قُولِي اللَّهُمَّ إِنَّكَ عَفُوٌّ تُحِبُّ الْعَفْوَ فَاعْفُ عَنِّي

Dari Abdullah bin Buraidah, dari Aisyah, ia berkata, “Saya bertanya, ‘Wahai Rasulullah, bagaimanakah pendapatmu jika aku mengetahui malam kemuliaan, lalu apakah yang harus aku ucapkan padanya?” Rasulullah Saw. menjawab: Ucapkanlah, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, suka memaaf, maka maafkanlah daku.” [3]

Dari penjelasan Imam Ibnu Katsir di atas dapat disimpulkan bahwa dianjurkan untuk membanyak doa pada malam-malam ganjil sebagai malam yang dimungkinkan terjadinya Lailatul Qadar. Doa apa saja yang mengandung kebaikan dunia dan akhirat dianjurkan untuk dimunajatkan kepada Allah di malam itu, karena ia termasuk waktu mustajab. Dan di antara doa khusus yang disyariatkan untuk dibaca di dalamnya apa yang diajarkan Nabi saw. kepada Aisyah sebagaimana disebutkan di atas.

By Amin Muchtar, sigabah.com/beta

[1] Lihat, at-Tafsir al-Wasith li al-Qur’an al-Karim, jilid 1, hlm. 390.

[2] Lihat, Tafsir al-Qur’an al-‘Azhim (Tafsir Ibnu Katsir), jilid 2, hlm. 193.

[3] Lihat, Tafsir Ibnu Katsir, jilid 4, hlm. 282.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *