Asupan Ilahi Otak manusia

 

Otak adalah pusat pengendali dari keseluruhan aktifitas manusia, ibarat CPU (Central Processing Unit) dalam komputer. Ia memainkan peranan yang sangat penting dalam kehidupan manusia. Hebatnya, saat para ahli belum berhasil “memotret” misteri otak, Alquran lebih dahulu telah memotretnya, antara lain, kulit otak (sebagai pusat kepribadian dan intelektual tertinggi manusia), cerebrum (otak besar), terutama daerah yang disebut lobus frontal yang bertanggung jawab untuk membuat keputusan (judgement), bahkan untuk fungsi-fungsi yang dikontrol otak, seperti pendengaran, penglihatan, dan pembicaraan.

Isyarat tentang otak besar kita temukan dalam firman Allah saat membicarakan salah satu dari orang kafir, yaitu Abu Jahal, yang melarang Nabi Muhammad Saw. melaksanakan shalat di Ka’bah:

كَلَّا لَئِنْ لَمْ يَنْتَهِ لَنَسْفَعَنْ بِالنَّاصِيَةِ # نَاصِيَةٍ كَاذِبَةٍ خَاطِئَةٍ

“Ketahuilah, sungguh jika dia tidak berhenti (berbuat demikian) niscaya Kami tarik ‘naashiyah’ (yaitu) ‘naashiyah’ orang yang mendustakan lagi durhaka.” Q.s. Al-‘Alaq:15-16

Naashiyah secara hakiki berarti kepala bagian depan atau ubun-ubun. Menyandarkan kata dusta dan durhaka kepada ubun-ubun menunjukkan kiasan, karena yang berdusta dan durhaka itu si Pemilik kepala (orangnya), bukan ubun-ubunya. Jadi maksud ayat itu, pemilik ubun-ubun tersebut berdusta lagi durhaka.

Pemilik ubun-ubun yang dimaksud dalam ayat tersebut ialah Abu Jahal. Ia berdusta dalam ucapan dan durhaka dalam perbuatannya. Ia pernah sesumbar berucap, “Jika aku melihat Muhammad shalat di Ka’bah, maka aku benar-benar akan mencekik lehernya.” Saat ucapan itu sampai kepada Nabi saw., maka beliau bersabda, “Kalau dia benar melakukannya, maka niscaya Malaikat akan menarik ubun-ubunnya.

Dengan demikian ayat itu menunjukkan bahwa Allah pasti memasukkan Abu Jahal ke dalam neraka dengan menarik kepalanya.

Jika kita renungkan secara mendalam, padahal jasad manusia bukan hanya kepala bagian depan. Tapi mengapa saat Alquran mendeskripsikan kedurhakaan Abu Jahal hanya diwakili oleh kepala bagian depan, tidak anggota badan lainnya? Mengapa Alquran menghubungkan dusta dan durhaka hanya kepada kepala bagian depan? Adakah hubungan antara bagian depan kepala dengan dusta dan durhaka?

Jika kita melihat ke dalam tengkorak pada bagian depan kepala, kita akan menemukan daerah bagian depan (prefrontal) dari otak besar. Apa yang dikatakan ilmu kejiwaan (physiology) tentang fungsi dari daerah ini? Jawabannya, motifasi dan keinginan untuk merencanakan dan menginisiasikan gerakan berlangsung di bagian sebelah dalam dari bagian depan otak itu. Begitu pula daerah bagian luar  turut serta dalam memotifasi, bahkan sebagai pusat fungsi untuk menyerang

Jadi, daerah otak besar ini bertanggung jawab dalam merencanakan, memotivasi dan menginisiasi kelakuan baik dan buruk, dan bertanggung jawab dalam menyatakan kedustaan dan mengatakan yang benar. Dengan demikian, dapat dipahami jika Alquran menghubungkan dusta dan durhaka dengan kepala bagian depan, karena bagian depan dari otaklah yang berdusta dan durhaka ketika seseorang mengatakan dusta atau melakukan dosa. Maha Benar Allah dengan segala firman-Nya.

 

Otak menurut ilmu Biologi dan Parenting

Otak manusia  adalah struktur pusat pengaturan yang memiliki volume sekitar 1350 cc dan terdiri atas 100 juta sel saraf (neuron). Otak terdiri dari tiga bagian utama: otak depan, otak tengah, dan otak belakang.

Otak depan terdiri dari cerebrum, thalamus, dan hypothalamus. Otak tengah ini terdiri dari tectum dan tegmentum. Otak belakang terdiri dari otak kecil, pons dan medula. Seringkali otak tengah, pons, dan medula disebut bersama-sama sebagai batang otak.

Dalam konteks pembicaraan ini, dua di antara bagian-bagian otak itu yang perlu diperinci:

Cerebrum adalah bagian otak paling besar yang bentuknya seperti helm. Umumnya disebut otak kiri dan otak kanan. Cerebrum merupakan otak pusat berpikir dan tempat menyimpan ingatan jangka pendek. Ingatan jangka pendek adalah pengalaman harian, yang pada waktu tidur dangkal akan ditransfer ke otak pusat ingatan jangka panjang (limbic). Otak pusat berpikir akan menganalisa semua informasi yang masuk dari lima indera kita dan selanjutnya membangun satu atau lebih pengertian.

Limbic memiliki banyak fungsi, menyimpan memori jangka panjang seluruh pengalaman hidup, dan apa yang disimpan di dalam limbic akan memimpin cara dan arah bekerja otak pusat berpikir. Bila pengalaman hidup yang disimpan di limbic ini banyak hal yang positif maka kerja otak pusat berpikir akan selalu ke arah positif. Sebaliknya bila yang disimpan banyak yang negatif maka kerja otak pusat berpikir ini juga akan ke arah negatif.

Pada saat bayi lahir, otak berpikir (cerebrum) bayi berjumlah lebih 100 milyar, namun belum ada sambungannya. Allah memberi kesempatan pada orangtua untuk membuat sambungan antar sel-sel otak anaknya. Bayangkan, setiap satu sel otak dapat berhubungan dengan sel otak lainya sebanyak 15.000 sampai 20.000 sambungan. Pada usia 0-2 tahun, terjadi proses awal penyambungan sel otak sampai anak berusia 2 tahun. Para orang tua diberi kesempatan untuk membuat sambungan sel otak anaknya jika dibagi rata sekitar 1,83 juta sambungan per detik.

Apa yang disampaikan di atas merupakan potret kecil kehebatan otak yang berhasil diteliti para ahli saat ini. Potret besar dan detil keistimewaan otak hakikatnya hanya Allah, Pencipta otak, yang lebih tahu. Karena itu untuk “mengistimewakan” otak dengan sebenarnya manusia tidak dapat mengandalkan teknik dan ilmunya semata, tetapi harus mengikuti petunjuk agama Allah (Asupan Ilahi). Asupan Ilahi yang utama membangun pola fikir: “Bahwa akhirat lebih baik daripada dunia”.

Pola fikir ini akan terbangun jika informasi yang dikumpulkan saraf sensorik bersumber dari Ilahi, baik Qurani maupun Kauni.  Informasi tersebut dikirim oleh saraf sensorik ke sumsum tulang belakang, yang kemudian mempercepat pesan ke otak. Otak kemudian menerima pesan tersebut dan memberikan respon. Neuron motorik memberikan instruksi dari otak ke seluruh tubuh. Jika input dan proses berupa asupan Ilahi tentu saja output yang dihasilkan (pikiran, perasaan, ucapan, dan perbuatan) akan sesuai dengan petunjuk Ilahi. Sehubungan dengan instrumen (alat) sensorik itu, Al-Quran telah mengingatkan:

إِنَّ السَّمْعَ وَالْبَصَرَ وَالْفُؤَادَ كُلُّ أُولَئِكَ كَانَ عَنْهُ مَسْئُولًا

Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati, semuanya itu akan diminta pertanggungan jawabnya.” QS. Al-Isra: 36

 

Sumber: Buletin Humaira Edisi 3, Mei 2015

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *