ANTARA CEBONG, KAMPRET DAN BUBBLE EFFECT

*Dilema Algoritma Media Sosial*

Dewasa ini, teknologi informasi khususnya media sosial telah menjadi instrumen penting dalam kehidupan kita. Hampir sama pentingnya dengan sandang, pangan dan papan.

Sayangnya media sosial kini menjadi semacam bubble (gelembung) yang mempunyai effect negatif bagi kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kenapa disebut bubble? Tidak lain akibat dari sistem algoritma yang dikembangkan pengembang aplikasi media sosial.

Misal seorang pro pemerintah dalam instagramnya, algoritma tertentu bekerja menghadirkan konten yang paling relevan baginya; .di explore akan muncul foto-foto dari akun-akun sesama pro pemerintah. Begitupun sebaliknya yang kontra pemerintah. Sehingga semacam terjebak dalam gelembung yang itu-itu saja, dan menerima informasi yang tidak seimbang. Efek bubble inilah yang kemudian menjadikan setiap informasi menjadi BIAS dan sulit OBJEKTIF.

Desember tahun lalu, Obama, mantan Presiden AS menangapi masalah bubble effect. Menurutnya media sosial harus mempromosikan pendapat yang beragam dan tidak membuat adanya Balkanisasi dalam masyarakat. Ia menyerukan kepada para pemimpin dunia memastikan bahwa internet tidak membuat penggunanya terperangkap dalam bias mereka masing-masing. Internet harus menjadi “ruang bersama”. Obama menambahkan, salah satu bahaya internet adalah pemakainya bisa memiliki realitas yang berbeda, mereka bisa mendapat atau mengikuti informasi yang membuat mereka semakin terperangkap dalam bias yang sudah ada. Alhasil pengguna medsos bisa membuat penilaian cepat atas masalah yang sebenarnya rumit.

Padahal, dalam Islam kita diharuskan untuk berhati-hati menerima setiap informasi. Apalagi yang datangnya dari kaum kafir dan fasiq. Tidak mudah percaya dan memvonis. Mengenedepankan tabayyun; menyeleksi suatu berita, tidak secara tergesa-gesa dalam memutuskan suatu permasalahan baik dalam perkara hukum, kebijakan dan sebaginya hingga sampai jelas benar permasalahannya, sehingga tidak ada pihak yang merasa terdzolimi atau tersakiti.

*Menjaga Kesehatan Nalar Kita*

Kita yang hidup di zaman teknologi informasi yang maju ini malah menjadi terisolasi secara intelektual akibat terpaku pada media sosial. Sehingga, menghadirkan sikap yang cenderung tidak adil dan menghakimi. Dan inilah sebenarnya yang mengancam nalar kita. Bukankah, kata Pram, kita harus adil, bahkan sejak dalam pikiran?

Cebong dan Kampret, caci maki yang sangat populer di media sosial kita. Tanpa merasa bersalah, dan tanpa rasa tanggung jawab, sebagian masyarakat kita menghardik sebagiannya lagi. Sebutan cebong digunakan masyarakat kontra Jokowi untuk menyebut pendukung Jokowi. Sebutan kampret digunakan pendukung Jokowi untuk menyebut kontra Jokowi. Akhirnya, ruang internet bukan menjadi ruang bersama, hanya menjadi tempat yang riuh dengan caci-maki tanpa batas. Tentu ini mengancam persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia. Tak jarang malah perdebatan cebong-kampret berakhir dengan debat kusir yang tidak produktif.

Cara terbaik keluar dari “gelembung” yang mengisolasi intelektualitas kita adalah dengan menyeleksi informasi di media sosial, membacanya dengan utuh dan tidak sepenuhnya mempercayainya. Kemudian mulai menghadiri kembali diskusi-diskusi di dunia nyata, di mesjid, di kampus-kampus menjadi sangat penting. Agar, nalar tetap sehat. Dengan nalar sehat inilah kita akan dapat bersikap adil dan objektif.

Masyarakat kita harus menjadi masyarakat yang sehat nalar. Dengan nalar yang sehat ini, masyarakat akan paham mana informasi yang benar mana yang bohong. Dalam konteks demokrasi, nalar yang sehat akan objektif menilai mana calon pemimpin yang baik, mana calon pemimpin yang hanya bermodal janji-janji politik yang utopis.

Muhammad Ryan Alviana, M.Pd
Sekjen Hima Persis, Pegiat Medsos

Sumber: FB Hima Persis

sigabah.com | Hima Persis

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *