ANCAMAN TERHADAP TOLERANSI DAN PELANGGARAN HAM BERAT

Tulisan ini sebongkah kegelisahan hati terhadap kondisi kehidupan beragama di negeri ini, umumnya di dunia.  Sebuah kepantasan bagi siapapun yang hari ini merasa gelisah terhadap perilaku keberagamaan kita, ketika hari ini begitu marak penistaan, pelecehan dan cenderung provokasi untuk menciptakan konflik horizontal berbasis agama. Simak saja belakangan ini marak penistaan dan pelecehan terhadap agama Islam yang sudah keterlaluan, dari mulai lafal Allah dan Muhammad yang dibuat menjadi sandal, pembakaran Al-Quran di beberapa belahan dunia, penghancuran masjid dan yang terbaru adalah terompet yang terbuat dari kertas mushaf Al-Quran, jelang natal dan tahun baru 2015. Kesimpulan yang bisa diambil bagi mereka yang masih mengakui dirinya beragama adalah begitu nyata kebencian mereka terhadap Islam. Namun bagi muslim, perilaku penghinaan seperti ini adalah ujian kesabaran dan pasti Allah akan memberikan jawaban, dan Allah membuktikannya dengan semakin sering Islam dinista, Islam makin dicinta. Di belahan dunia Eropa, terjadi lonjakan jumlah umat Islam yang cukup signifikan, cahaya Ilahi menerangi hati sebagian manusia yang mendapatkan hidayah taufiq.

Yang membuat hati semakin gelisah dan miris adalah justru di saat pelanggaran itu terjadi aparat penegak hukum miskin responsibilitas. Para aktivis yang selama ini paling santer berteriak tentang pelanggaran HAM nyaris tak terdengar, mereka menjadi para aktivis yang tiba-tiba sakit gigi, termasuk media massa, media elektronik, radio dan televisi nyaris bungkam, televisi lebih heboh memberitakan kepornoan, gossip artis dan berita-berita tak bermutu lainnya yang tidak mendidik anak bangsa untuk menjadi seorang patriot bangsa dan nasionalis sejati.

Seolah muncul persepsi yang sudah membiasa, kalau Islam dihina, dilecehkan, maka itulah yang seharusnya terjadi dan tak mesti mendapat pembelaan dari siapapun, tapi jika agama yang lain bernasib sama dengan penistaan terhadap Islam, semua orang teriak, berita dibuat heboh bahkan hingga mendunia dan aparat penegak hukum mendadak digjaya, para aktivis HAM sekonyong-konyong bersuara lantang, para pemburu berita sibuk setor liputan ke redaksi dan semua stasiun televisi heboh mencipta headline di primetime. Bahkan sontak membuat program khusus liputan hingga berujung di sudut yang sama bahwa pelakunya adalah Teroris (Islam). Lagi-lagi Islam menjadi kambing hitam, lagi-lagi Islam menjadi tertuduh dan lagi-lagi stigma muslim adalah teroris.

Dunia menangis atas peristiwa WTC pada 2001 silam, dunia hujan air mata atas peristiwa bom Bali 2002, dunia tersentak atas bom JW Marriot 2009, dan dunia histeris berteriak atas peristiwa Bom Paris 2015. Tapi dunia tertawa, saat jutaan nyawa manusia meregang di palestina, dunia terbahak saat jutaan manusia melayang di Afghanistan, dunia berpesta pora saat jutaan nyawa terhempas di Iraq, tumpukan mayat di Somalia, pembunuhan dan pembantaian muslim Rohingya, penistaan muslim Angola, perlakuan keji junta militer Mesir Al-Sisi, hingga perlakuan tak terpuji di Irian. Muslim dunia gelisah dengan nasib HAM-nya yang tak tersuarakan oleh yang mulia para aktivis HAM. Muslim Indonesia berduka, sebagai bangsa mayoritas, tetapi pelecehan dan penistaan terhadap Islam tanpa tindakan antisipatif dan tindakan hukum yang konkret. Padahal negeri ini diperjuangkan oleh para Syuhada melawan para penjajah Kafir yang membawa misi 3G+R (Gold, Glory dan Gospel) serta Reqonquesta.

Ancaman terhadap toleransi begitu nyata di depan mata, pelanggaran HAM berat sudah nampak dengan jelas. Maka jika dibiarkan tanpa tindakan nyata, khawatir negeri ini menjadi porak poranda karena membiarkan orang-orang yang mengganggu keamanan, orang-orang yang melanggar HAM dibiarkan bebas membongkar anyaman NKRI yang sudah diperjuangkan oleh anak negeri (muslim) dengan toleransi tinggi.

Yang mulia para aktivis HAM, yang terhormat aparat penegak hukum, jikalah engkau seorang muslim tak hadirkah rasa Islam dalam hatimu? Jikalah engkau seorang anak bangsa tak adakah jiwa patriotisme dan nasionalisme dalam dadamu?

Indonesia tak boleh membiarkan hidup para penghina Islam, karena akan menjadi ancaman bagi toleransi yang sudah dibangun negeri ini dengan susah payah. Jika mereka menista dan melecehkan Islam maka dipastikan mereka menjadi bagian dari penjajah negeri ini, mereka adalah para pengacau, mereka adalah Teroris yang sebenarnya. Wallahu A’lam

By Dadang A. Fahmi, S.Pd, Sekretaris PW Persis Jawa Barat

Editor: Amin Muchtar, sigabah.com/beta

Lampiran Pernyataan Sikap PP Persis

 

pernyataan sikap

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *